Anindirra

Anindirra
Chapter 68



"Aku membutuhkan minuman itu. Tolong berikan padaku."


Malam ini, Ratna melampiaskan isi hatinya dengan minuman, sebagai bentuk penyesalannya. Benar, wanita itu sangat menyesali perbuatannya di masa lalu.


Selama menjadi istri Dirga, ia berlimpahan materi, sebelum kecelakaan itu terjadi dan membongkar aibnya. Apa saja yang di mintanya tidak sekalipun Dirga menolaknya.


Ia di perlakukan seperti ratu. Mulai dari barang-barang branded, perawatan mahal, hingga berlibur ke luar negri setiap bulannya. Belum lagi kartu kredit yang membuat ia mampu menyombongkan diri ketika sedang berkumpul bersama taman-teman sosialitanya.


Bahkan setelah perselingkuhannya terbongkar. Dirga tetap mengisi rekeningnya sebagai nafkah bulanan.


Berbeda ketika ia bersama Soni. Ia yang harus banyak mengeluarkan uang. Karna rasa cintanya, ia selalu memberikan berapapun nominal yang Soni butuhkan dengan alasan untuk memperluas bisnisnya.


Tanpa sepengetahuan Dirga, uang bulanan yang ia dapatkan, separuhnya ia transfer ke rekening Soni. Dan, saat Dirga pergi ke luar kota ia pun akan pergi menemui Soni di bandung.


Sampai di hari naas itu terjadi. Tepat kelima tahun pernikahan, ia dengan suka cita melajukan mobilnya dengan kencang. Ingin mengabari kehamilannya. Karna asik berkirim pesan, mobil yang di kendarainya menabrak pembatas jalan dan berahir di rumah sakit.


Ia kehilangan kepercayaan Dirga, ia kehilangan janin yang masih hitungan minggu. Dan hari ini, ia telah kehilangan segalanya.


Ia sudah berjuang, untuk bisa mendapatkan belas kasihan dan cinta suaminya kembali dengan cara berpura-pura belum pulih dari kelumpuhan. Tapi itu semua sia-sia. Ia tetap tidak bisa mengembalikan keharmonisan hubungannya dengan Dirga.


Berteriak, memohon, meminta maaf, tetapi tak mampu mendapatkan lagi kehangatan hati seorang Dirga.


Johan mengangkat tubuh Ratna ke pundaknya seperti mengangkat karung beras. Wanita itu tidak bisa di ajak keluar dari dalam club dengan cara yang baik. Dia terus berteriak seperti kesetanan.


"Bedebah! Kurang ajar! Brengsek! Turunkan aku! Aku tidak mau pulang!" berulang kali ia memukul punggung Johan.


"Aku butuh minumanku! Lapaskan aku!"


Dengan di bantu tukang parkir membukakan pintu mobil, Johan mendudukkannya di kursi depan dengan mengikat tangannya dengan dasi.


Johan tidak mungkin memulangkan Ratna dalam keadaan mabuk ke rumahnya, ia memilih membawa Ratna pulang ke apartemennya. Selama dalam perjalanan Ratna terus meracau, mengumpat, mengeluarkan segala bentuk kesedihan dan penyesalan dari dalam hatinya dengan posisi tangan terikat.


*


*


*


Bruk!!


Johan melemparkan tubuh itu ke atas tempat tidur miliknya. Penampilanyanya sungguh kacau. Bau minuman menguar dari mulutnya. Ia akan membiarkan Ratna berada di dalam kamarnya malam ini.


"Diam disini. Aku berada di luar menjagamu." sambil membuka simpul ikatan. Tanpa di duga, tangannya di tarik oleh Ratna ketika ikatan itu terlepas. Tanpa persiapan tubuhnya terjatuh di atas tubuh Ratna.


"Please Dirga … aku mohon, jangan tinggalkan aku. Berikan aku kesempatan." Tangannya membelit, merangkul leher johan dengan kuat.


"Sadar Ratna, aku bukan Dirga." Johan berusaha melepaskan diri dari rangkulan Ratna. Ia sadar wanita itu sedang mabuk berat.


"Kenapa kamu menolakku honey?Bukankah dulu kamu begitu mencintaiku? Aku ratu di hatimu. Jangan tinggalkan aku honey … kamu selalu memujaku dengan kata-kata manismu."


"Aku Johan Ratna. Sadarlah! Jangan seperti ini. Jangan menghancurkan hidupmu. Aku tau, aku tidak pernah ada di hatimu. Tapi aku tidak bisa membiarkanmu seperti ini."


"Peluk aku honey, aku mohon. Peluk aku. Aku mencintaimu." wanita itu semakin mendekatkan wajahnya dan, ia mencium bibir Johan dengan rakusnya. Ia mengangap, pria yang sedang bersamanya adalah Dirga.


Johan berusaha untuk tidak membalas ciuman itu. Tetapi, ia laki-laki normal yang lama kelamaan akan terpancing juga, apa lagi ada rasa suka di hatinya.


"Sentuh aku, aku mohon honey... aku merindukanmu, aku kesepian honey. Sudah tujuh tahun lamanya kamu tidak menyentuhku."


Ratna terus memaksanya, Ia bahkan membuka seluruh pakaiannya tanpa penutup apapun. Harus di akui, tubuh moleknya membuat pertahanan Johan runtuh.


"Jangan menyesalinya Ratna, kalau aku berbuat lebih. ini keinginanmu."


"Oh, ****!!" ia langsung bangun dari atas tubuh Ratna. Memunguti pakaiannya yang bercecer. Ia lebih memilih masuk ke dalam kamar mandi untuk meredam hasratnya.


Dengan mata sayu Ratna tidak bisa mencegah ketika Johan, meninggalkannya dalam keadaan sudah berada di puncaknya.


Cukup lama Johan berada di dalam kamar mandi menyesali yang hampir terjadi. Mengguyur kepalanya di bawah shower dengan air dingin. Dan ia keluar sudah dalam keadaan segar.


Ia menutup tubuh tela**jang Ratna yang sudah tertidur dengan selimut. Mengambil satu bantal dan selimut dari dalam lemari. Ia keluar merebahkan tubuhnya di atas sofa.


*


*


*


Silaunya sinar matahar yang masuk menembus ke dalam kamar membangunkan Ratna. Perlahan matanya mulai terbuka. Kepala terasa berat, efek dari minuman yang ia tenggak semalam.


Kesadarannya sedikit demi sedikit mulai kembali. Ia memperhatikan ruangan yang ia tebak bukan kamar miliknya. Menyadari tak menggunakan pakaian sehelai benang pun. Ia mengulung tubuhnya dengan selimut yang ada.


Duduk bersandar di headboard tempat tidur. Ia mengingat-ngingat kejadian semalam. Saat ia mendatangi club dan memesan tiga botol minuman dan berahir di kamar ini.


Terdengar suara pintu terbuka. Johan masuk membawa nampan berisikan makanan dan minuman hangat.


"Lo udah bangun?" Johan bertanya. Pria itu datang dengan penampilan kerjanya.


"Kenapa bawa gua ke apartemen lo?"


"Semalam lo mabuk berat. Gua gak mau ambil resiko nganterin lo pulang ke tempat tinggal lo. Di rumah, lo sendirian."


Tidak lama dari menonton berita wawancara Dirga. Emosinya semakin bertambah ketika para pekerja yang bekerja di rumahnya mengundurkan diri meninggalkannya.


"Minum dulu, gua buatin air rebusan jahe. Buat menetralisir alkohol di dalam tubuh lo." Johan menaruh nampan itu di atas tempat tidur. Ia menyerahkan gelas berisikan air rebusan jahe hangat itu kepada Ratna.


"Udah itu lo sarapan. Baju lo kotor, bau minuman. Lo pake ini, mudah-mudahan pas." menjelang makan siang Johan yang tengah berada di kantornya, teringat Ratna yang ia tinggalkan tadi pagi.


Wanita itu masih tertidur nyenyak saat ia berangkat ke kerja. Ia menyempatkan pulang untuk membawakan makanaan dan membuatkan rebusan jahe. Ia bahkan menyempatkan mampir ke mall untuk membelikan baju ganti untuk Ratna.


"Lo yang lepasin pakaian gua?" Ratna menyembunyikan tubuhnya di dalam selimut sampai batas leher.


Selama ini, ia memakai pakaian yang yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Tapi saat di hadapkan dengan tubuh tel*njangnya di hadapan Johan sahabatnya, entah mengapa ia merasa malu.


"Bukan, lo sendiri yang buka. Semalem lo mabuk parah dan gak sadar."


Ratna menunduk terdiam. Ia sedikit mengingat kejadian semalam. Ia mengingat saat ia menarik Johan dan memaksanya untuk melakukan, ia juga ingat saat ia memulai mencium Johan duluan. Dan memintanya untuk melakukannya.


Menyadari apa yang sedang di pikirkan oleh Ratna. Johan menarik napas, menggaruk hidungnya yang tak gatal. ia duduk di ujung tempat tidur.


"Jangan khawatir, tidak terjadi apa-apa semalam. Yaahhh … walaupun sedikit hampir kebablasan."


"Sorry... gua minta maaf, abisin makanannya. Udah gitu lo mandi gih, gua tunggu di luar." Johan beranjak pergi meninggalkan Ratna yang masih terdiam.


*****


Bersambung ❤️


Tinggalkan jejak likenya ya 🤗


Mohon segala bentuk dukungan like komen hadiah dan votenya 🙏


Terimakasih... Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat 😘