
"Apa kamu yakin?" Andre bertanya setelah mendengarkan ide dari Ratna.
"Seratus persen yakin! Aku sangat mengenal suamiku. Laki-laki itu sangat pencemburu, dia tidak akan memaafkan siapapun yang membohonginya apa lagi berselingkuh di belakangnya. Kamu bisa mengambil kelemahannya untuk memisahkan mereka. Aku hanya butuh fotonya saja. Selanjutnya biarkan aku yang mengurus suamiku"
"Aku tidak mau menyakitinya." Andre sedikit ragu, ia masih tidak percaya dengan apa yang di sampaikan oleh wanita yang baru di kenalnya.
"Aku tau kamu tidak mempercayaiku." Ratna dengan cepat dapat membaca pikiran Andre yang belum bisa di pengaruhinya.
"Kita memang baru mengenal. Tapi kita di hadapkan oleh masalah yang sama. Aku hanya ingin kembali dengan suamiku, begitupun sebaliknya. Apa kamu tidak mau berjuang untuk kebahagiaanmu?"
"Tapi tidak dengan cara seperti ini." Hati Andre masih di liputi kebimbangan.
"Tidak ada perjuangan yang berhasil tanpa mengorbankan sesuatu, bukan?Kamu jangan naif Ndre.!
"Kamu harus bisa memilikinya kembali. Bukankah kamu masih mencintai wanita itu? Apa lagi kamu belum menggugatnya di pengadilan. Jadi mudah untukmu untuk rujuk. Ingat Ndre! Anakmu membutuhkanmu. Apa kalian tidak ingin bersatu?"
"Kalau aku tidak bisa membuatmu kembali Siapapun tidak akan ku biarkan memilikimu Dirga. Dan aku harus bisa meyakinkanmu Andre."
"Aku tidak percaya Anin merayu suamimu. Aku mengenalnya. Dia wanita baik-baik." Andre terus menolak walau hatinya sedikit mulai goyah.
"Mungkin, saat bersamamu dia wanita baik-baik. Tapi berjalannya waktu apa yang tidak bisa berubah. Apa lagi yang aku tau, anakmu habis menjalani operasi jantung. Darimana dia mendapatkan uang sebanyak itu ?"
"Apa ! Operasi !?" Andre sangat terkejut mengetahui anaknya memiliki penyakit yang sama dengan Mamanya.
"Kamu boleh cek ke rumah sakit. Dimana tempat anakmu di rawat. Dan, ini."
Ratna menyodorkan ponsel miliknya, memperlihatkan gambar Anin dan Dirga saat masuk hotel.
"Apa foto ini belum membuktikan seperti apa wanita itu ? Apa kamu rela wanitamu selamanya akan menjadi simpanan pria beristri ?"
Dengan wajah yang merah padam Andre melihat foto Anin saat masuk hotel dengan seorang laki-laki berjalan dengan menggenggam jarinya. Dan penampilan Anin yang sangat terlihat cantik.
Foto itu di ambil oleh orang suruhan Ratna saat Dirga menjemput Anin, saat berada di pesta ulang tahun Mira. Pesta itu di rayakan di cafe ini. cafe tempat mereka mengobrol saat ini.
"Aku ingin mempertahankan rumah tanggaku Ndre." Ratna menunjukkan wajah yang terlihat menyedihkan. Ia sedikit mendramatisir keadaan.
"Pernikahanku sudah berjalan 12 tahun. Kamu bisa bayangkan bagaiman hancurnya aku?" Ia mulai meneteskan airmata.
"Aku sangat mencitai suamiku Ndre. Aku tidak rela kehilangan dia."
Andre terdiam dengan pikiran kacau. Pikiran dan hatinya sedang tidak sejalan. Matanya memerah menandakan ia sedang tersulut emosi dan juga kecewa. Ia tidak menyangka wanita polos dan lugu yang ia kenal mau melakukan perbuatan hina. Dan ia juga merasa sedih mengetahui kondisi anaknya.
Ucapan Ratna sangat mempengaruhi pikirannya.
"Apa aku salah mempertahankan rumah tanggaku?" Ratna terus menyiram bensin di atas bara api.
"Baiklah, kabari aku kalau kamu sudah mengambil keputusan." Ratna mencatat nomor kontaknya di secarik kertas.
"Simpan nomorku." ia melenggang pergi meninggalkan Andre yang masih duduk terdiam di kursi.
Andre masih syok dengan apa yang baru di dengarnya. Hasutan Ratna sudah tertanam di otaknya. Apalagi dengan bukti yang Ratna perlihatkan.
Ratna keluar dari cafe dengan senyum kemenangan. Ia merasa hari ini keberuntungan berpihak kepadanya. Ia bisa bertemu dengan Andre yang tak lain mantan suami dari wanita yang di cintai Dirga.
*
*
*
Siska mengorder makanan tidak jauh dari sekitar alamat yang di berikan oleh Bosnya. Ia bingung harus memilih yang mana ? Bosnya itu hanya memintanya memesankan makanan yang higienis dan bergizi.
"Makanan apa ya? Kalo salah gimana? Habis libur, Tuan Dirga kenapa semakin aneh? Lagi rapat sempat-sempatnya menyuruhku memesan makanan."
Dirga menjeda rapat hanya untuk memerintah sekertarisnya memesan banyak makanan. Lebuh tepatnya memotong ucapan bawahannya yang sedang berargumentasi.
Siska mulai mencari menu. Jarinya mulai men-scroll sampai ke bawah, hingga pilihannya jatuh di rumah makan yang meyediakan maknan asli Indonesia.
Tiga lauk berbeda jenis. Dua sayuran hijau. Tidak lupa minuman kekinian 3 cup dengan berbagai variant ia pesankan juga.
Klik. Pesanannya langsung di terima dan di proses.
"Buat siapa ya ? Si Bos memesan makanan sebanyak ini ? Dan alamat siapa ini ? Siska benar-benar penasaran alias kepo. "Ah, sudahlah." Tidak mau ambil pusing ia kembali ke ruang rapat.
Flashback di ruang rapat.
Saat tengah terjadi perdebatan dengan suara meninggi oleh kepala divisi dan perwakilan dari tembagapura.
Tiba-tiba. Suara mengelegar memenuhi ruangan.
"Kenapa makan mie! Buang ! jangan di makan ! Pesan makanan yang layak ! Atau, tunggu aku memesankan makanan untukmu !"
Seketika itu juga seluruh yang hadir di meja rapat tekesiap, terkejut hingga mulutnya menganga menatap Dirga.
"Siska pesankan makanan apa saja. Ke alamat ini." Dirga menyerahkan catatan alamat Anin di buku kecil miliknya.
"Makanan apa Tuan?"
"Apa saja. Yang penting higienis dan bergizi."
"Sekarang!"
"Cepat !"
"I... Iya Tuan."
"Ada apa ?" Tanpa dosa Dirga bertanya ke semua orang yang berada di ruangan.
Kenapa diam ? Lanjutkan !"
*
*
*
Anin harus merelakan makanan istimewa yang berada dalam mangkuk. Makanan itu sudah ia racik dengan sempurna. Mie dengan campuran telur, cabai, dan potonga sawi.
"Sayang kalau di buang. Tapi, kalau aku makan apa tidak membantah omongan suami ?"
"Ahh, Aku ijin dulu."
"Mas... Aku ijin makan mie ya... Sayang kalau harus di buang." Ia bertanya seolah-olah dirinya adalah Dirga.
"Ya. Sedikit saja jangan banyak-banyak!" Anin menirukan suara Dirga dengan terkikik geli.
Ia memasukkan satu sendok ke dalam mulutnya. "Ooh, nikmatnya..." lantas ia tersipu malu sendiri saat mengingat ucapan Dirga saat di kamar pesawat.
"Kepalaku terkontaminasi seraya." ia mengeleng-gelengkan kepalanya.
Saat suapan kedua, terdengar suara orang memanggil dari luar dengan di barengi ketukan pintu.
"Assalamuallaikum."
"Permisi."
Tok. Tok. Tok.
"Haloooo."
Seorang laki-laki dengan jaket hijau bertuliskan GOSREK. Mengucapkan salam dan memanggil pemilik rumah.
"Wa'alaikumsallam."
"Ya, tunggu."
Anin segera membukakan pintu.
"Dengan Bapak Dirga?" Sang driver bertanya.
"Bapak Dirga ?" Anin balik bertanya.
"Ya, sesuai pesanan Mbak. Di sini tertulis yang memesan Dirgantara." Sambil menyerahkan lima bungkusan pelastik.
Anin menerimanya dengan bingung.
"Ini tidak salah Pak?" Anin memastikan.
"Benar Mbak." dengan cepat driver tersebut menyebutkan satu persatu pesanan terorder.
Ikan gurame bakar
Ayam goreng
Cumi saos padang
Cak kangkung
Cah brokoli
Cheese tea
Manggo thai
Coffe milk boba.
Driver Gosrek itu menarik napas setelah membacanya.
"Sudah di bayarkan melalui gopay Mbak.
Jangan lupa kasih saya bintang ya Mbak. Bulan juga boleh." Driver itu sedikit bercanda dan memperlihatkan giginya kroposnya.
"I- iya Pak." Anin meringis membalasnya. Tidak lupa ia memberikan sesuatu sebagai tip.
"Alhamdulillah... Terimakasih, Mbak cantik..." Dengan wajah gembira berucap syukur driver itu segera memakai helmnya kembali, menghidupkan mesin motor dan pergi meninggalkan Anin yang masih terkesima berdiri di pintu.
"Ya ampuunnn!... Tadi itu siapa?"
****
Bersambung ❤️
Mohon dukungan like, komen, hadiah, dan votenya teman-teman 🤗 simpan dalam faporit ❤️
Kalau tidak sempat komen. Like-nya ya jungan lupa 👍
Terimakasih... Salam sayang 😘