Anindirra

Anindirra
Chapter 132



Dirga sesekali mengecup kening Anin dengan membisikkan kata-kata penyemangat, satu tangannya menggenggam tangan wanita yang sedang menahan rasa sakit.


Tak banyak keluhan yang keluar dari mulut Anin, hanya sesekali wanita itu mengucap kata sakit dan berusaha menahannya dengan mimik wajah yang berubah-ubah sebagai bentuk ungkapan dan pelampiasan rasa sakitnya.


Dirga masih setia mendampingi dengan berdiri di sisi pembaringan ruang penanganan untuk melahirkan. Pria itu terus memberikan kekuatan dan semangat kepada Anin yang tengah berjuang menahan rasa sakitnya.


Hatinya terasa di remas, ketika di hadapkan dengan keadaan yang ia sendiri tidak bisa berbuat banyak. Ia seakan tidak rela melihat Anin dalam keadaan seperti itu.


Sudah pukul 2 lewat 30 menit tengah malam, sudah satu jam Anin berada dalam ruangan menunggu pembukaan bertambah. Dokter Arum dengan di temani seorang bidan dan perawat, masuk ke dalam ruangan untuk melakukan VT, atau vaginal touche atau pemeriksaan dalam yang merupakan suatu metode dengan memasukkan dua jari pemeriksa ( telunjuk dan jari tengah ) ke dalam ( V ) Ibu untuk memeriksa pembukaan servik atau leher rahim apakah sudah bertambah atau belum.


"Rilex ya Nona Anin …saya akan mengecek kembali, dan tarik nafasnya melalui hidung dan hembuskan perlahan agar tidak terasa sakit." sang Bidan mulai memberi pengarahan. Sebelum dua jari itu masuk lagi ke dalam mulut rahim sang istri, Dirga langsung menghentikannya.


"Stop Dokter! Segera siapkan ruang operasi. Saya memutuskan istri saya akan melahirkan secara caesar." dengan tegas tanpa bisa di bantah pria itu bicara kepada Dokter Arum. Dirga sudah tidak tega melihat kesakitan yang di rasakan Anin dengan proses normal yang terbilang lama, walaupun wanita itu tidak banyak mengeluh, tetapi ia bisa melihat dan merasakannya melalui bahasa tubuhnya.


Tak mau membantah, Anin pun pasrah saat jalur operasi yang di pilih suaminya dan harus di lewatinya.. Karena memang rasa sakit yang di rasakan sungguh teramat berbeda dari saat dulu ia melahirkan Alea. kehamilan keduanya ini sungguh sakitnya luar biasa dan langkah bertambahnya pembukaan jalan lahir cukup lama. Membuat tenaganya semakin terkuras, hanya untuk menahan rasa sakit sebelum ia harus mengejan.


Dokter Arum dan para timnya segera mempersiapkan meja operasi sesuai perintah, dengan Dirga tetap berada di sisi Anin untuk mendampinginya. Pria itu segera memakai baju steril yang di siapkan dari rumah sakit saat Anin sudah di dorong, di pindahkan ke ruang operasi.


Para orang tua pun yang menunggu di luar ruangan hanya bisa pasrah dan mendukung apa yang sudah menjadi keputusan Dirga. Mereka hanya berharap dan terus berdoa supaya operasinya berjalan dengan lancar, baik Ibu dan bayinya dalam keadaan sehat dan selamat.


Anin mulai merasa lebih tenang saat Dokter sudah memberikan suntikan anastesi epidural, pembiusan yang tidak mengakibatkan sang ibu tertidur melainkan hanya membuat Anin tidak merasakan sakit mulai dari area pusar hingga ke kaki bagian atas saat pembedahan berlangsung.


Saat sudah di mulai, meski tidak merasakan sakit, Anin tetap bisa merasakan tekanan di bagian tertentu saat Dokter melakukan gerakan yang di lakukan pada perutnya.


Dirga sudah mulai mengajak istrinya bicara, mengingat kembali awal pertemuan, perjalanan kisah mereka berdua agar wanita itu tidak tertidur. Mengulas kembali saat perjalanan di eropa selama dua bulan, dengan banyak mengelilingi kota-kota indah yang mereka kunjungi.


Dokter Arum dengan para tim lainnya, mereka ikut tersenyum dan salut dengan kedua pasangan itu. Cinta besar yang pria itu tunjukan membuat para tim ikut terbawa perasaan, mereka jadi ikut terharu mendengar untaian kata demi kata yang keluar dari mulut dirga saat menyanjung sang istri tercinta.


"Sudah cukup, Sayang.. Dua saja, kita sudah memiliki Alea dan adiknya …aku tidak mau melihatmu kesakitan lagi."


Dirga bicara sambil tak henti-hentinya mengecup seluruh wajah sang istri..


"Mas pernah bilang, mau terus berproduksi dan memiliki anak yang banyak?" wanita yang tengah terbaring dengan keadaan perut yang sedang di bedah itu menjawab ucapan suaminya.


"Produksinya akan terus berjalan, Sayang.. Tapi tidak perlu menghasilkan."


Dirga bicara sambil membungkukkan punggungnya menatap wajah Anin.


"Mana ada produksi tapi tidak menghasilkan?"


"Ada, Sayang.. Nanti akan aku peraktekkan.."


"Ya, Mas …tetapi harus menunggu selama dua bulan."


"Kamu tidak boleh korupsi waktu, Sayang. Hukumnya itu dosa."


"Korupsi?" Anin tertawa pelan, melihat kelakuan suaminya, pria itu tak malu membahas sesuatu di depan para tim Dokter. Sedangkan para tim yang sedang bekerja merapatkan bibirnya menahan tawa, mendengarkan obrolan suami istri yang membahas ranjangnya


"Kenapa harus malu? Biarkan saja …apa yang aku katakan benar kan? 40 hari kenapa bertambah menjadi 60 hari? Apa coba kalau bukan korupsi? Dan kamu tidak bisa menipuku."


"Itu bukan korupsi, Tuan. Aku juga tidak menipumu, aku hanya meminta tenggang waktu sampai situasi aman terkendali."


"Kamu sudah pintar menjawab, yaa." Dirga meggigit pipi sang istri dengan gemas. Hingga obrolan keduanya terhenti saat kedua sisi telinganya mendengar tangisan bayi yang begitu kencang memenuhi setiap sudut ruangan.


Ucapan syukur dari semua tim yang menangani terucap bersamaan.


"Alhamdulilllah.." tepat pukul 3 lewat 45 menit bayi tampan itu terlahir ke dunia.


"Selamat datang, putraku." ucap Dirga dengan menitikkan airmata haru saat mendengar tangisan dan menyaksikan putranya sudah terlahir, dengan masih berselimut darah saat kakinya di angkat sedikit tinggi oleh Dokter Arum sebelum di serahkan ke seoarang perawat yang akan membersihkan tubuhnya.


"BabyBoy.. Tuan Dirga, dan dalam kondisis normal, sehat, tidak ada cacat di tubuhnya." Dokter Arum menyampaikan


"Alhamdulillah.." untuk kesekian kalinya pasangan itu mengucap syukur dengan perasaan yang tidak mampu di ungkapkan dengan kata-kata.


Para orang tua yang berada di luar, mendengar dengan jelas suara tangisan bayi dari dalam. Mereka mengucap syukur dan bisa bernapas dengan lega.


"Selamat datang penerus Wijaya.. Cucuku." Bastian berkata dengan suara bergetar penuh haru dan bahagia. Harapan dan keinginan-nya telah Tuhan kabulkan. Mendapatkan keturunan, penerus dari sang putra. Lengkap sudah rasanya kebahagiaan hidupnya.


"Dad, cucu kita.." Alyne bicara menatap Bastian dengan bibir tersenyum dan mata yang berkaca-kaca.


"Ya, cucu kita Lyne.." pasangan senja itu saling menggenggam tangan menumpahkan luapan bahagia.


"Oh, Tuhan.. Terimaksaih, aku sudah tidak sabar ingin segera melihatnya."


Begitupun dengan Bu Rahma, ucapan penuh syukur tak henti-hentinya ia panjatkan kepada sang maha pencipta. Kehadiran cucunya menambah kelengkapan seluruh keluarga.


Di dalam ruangan, saat Anin masih harus menyelasikan jahitannya. Dirga menerima sang bayi yang sudah dalam keadaan bersih dengan kedua tangannya untuk segera di adzankan. Bayi laki-laki dengan wajah yang sangat mirip dengannya. Sosok pria kecil yang akan menjadi penerus dan menggantikannya kelak.


Anin terharu, saat mendengar suara merdu milik suaminya. Mengikuti tata cara yang ada, Dirga menghadap kiblat saat mengumandangkan suara adzan di telinga kanan sang putra.


Selamat datang putraku, semoga kelak tumbuh besar, kamu akan menjadi anak yang sehat, kuat, cerdas, dan tangguh.


Selamat datang ' Boy Mehrdad Wijaya '


TAMAT ❤️❤️❤️❤️


Mehrdad yang memiliki arti :


'hadiah dari matahari' sebagai pengganti sebuah kata 'YANG' pemberian dari sepasang suami istri yang di temuinya di rumah terapi Liam, pasangan senja yang banyak mengajarkan arti hidup yang sebenarnya.


Tungggu bonus Chapter berikutnya ya