
Sedangkan di room sebelah, ruangan yang tak kalah mewahnya. Seorang pria tengah menghentakkan pinggulnya di atas tubuh wanita hamil yang semakin hari semakin berisi, membuatnya semakin seksi dengan payu**ra yang semakin kencang dan membesar.
Di umur kehamilannya yang menginjak empat bulan, semakin membuat suaminya selalu meminta jatahnya karena ketagihan.
Menumpahkan rasa cemburu dengan mengauli wanita kesayangannya, pria itu seakan tak rela ketika pria luar itu menatap kagum seluruh tubuh dan wajah istrinya. Tetapi tak membuatnya lantas menyakiti tubuh istrinya, ia hanya meluapkan rasa cinta dan kepemilikan kepada wanita yang selalu mencuri mata pria di tengah pesta dan di mana-mana.
"Mas.... Nghh β¦pelan-pelan, Sayang." Anin sadar, suaminya itu masih kesal karena terbakar cemburu. Sebisa mungkin ia harus bisa meredam emosinya di hati suaminya.
"Aku milikmu Mas, dan akan selamanya menjadi milikmu. Lupakan kejadian tadi."
"Mmpph..." bibirnya kembali di lum*t oleh Dirga dengan nafsu yang memuncak, lidahnya mengabsen seluh rongga yang ada. Menyesap manisnya bibir merah yang membuatnya candu.
Kalau tidak menginggat ada janin di dalam perut Anin, mungkin sisi brutal pria itu akan keluar sepenuhnya.
Meraup tubuh di bawah kungkungannya, pria itu mengangkat dengan posisi Anin yang berada di pangkuannya. Wanita itu semakin mengairahkan dengan rambut berantakan dan perut buncitnya.
"Sshh.. Agghh..." Dirga mend*sah dan mengeram saat berada di bawah, sambil menenggadahkan wajah ke atas menatap sayu wajah Anin. "Ayo, Sayang.. Katakan lagi, katakan kalau kamu hanya mencintaiku. Hanya mencintaiku sampai aku menua."
Kedua tangan Dirga memegang pinggul sang wanita. Menatapnya penuh harap.. seolah ia sangat takut akan kehilangannya. Pelan tapi pasti wanita itu terus bergerak dengan mengalungkan kedua tangannya di leher Dirga.
"Apa yang harus aku buktikan Mas? Aku telah mengandung benihmu, laharmu itu sudah meracuni seluruh tubuh dan otakku hingga aku tidak bisa berpaling ke lain hati. Kita sama-sama bukan yang pertama, tapi akan menjadi yang terahir untuk selamanya. Kenapa aku harus mencari pria lain sedang kamu sudah memberikanku cinta dan dunia. Aku sudah tidak membutuhkan yang lainnya. Aku mencintaimu Papi Boy."
Anin mengungkapkan isi hatinya dengan suara terputus-putus di atas pangkuan Dirga. ia terus bergerak lincah menjadi koboi betina.
"Kalau begitu berjanjilah." dengan suara yang semakin berat, pria itu berucap.
"Berjanjilah untuk tidak menjawab sapaan dari pria lain. Dan menyambut uluran tangannya. Aku sungguh sangat cemburu, aku tidak suka milikku di ganggu oleh siapapun. Apa lagi sampai tersentuh."
"Kamu semakin nikmat, Sayang.." Dirga ikut membantu mengoyangkan pinggulnya, dirasa sudah mendekati puncak, Dirga merebahkan tubuh Anin kembali di bawah kungkungannya.
Dengan ritme yang lebih cepat, ia mengh*jam, menghentakkan paruh gagaknya melesak lebih dalam, ia terus bergerak mengepakkan kedua sayap di ketinggian yang melambungkan asa di dalam jiwa, hingga hasil dari percintaan yang berwarna putih dan kental itu membanjiri milik Anin yang mengapitnya denga kuat.
"Akhh... Anindirra..."
Tubuh Pria pencemburu itu bergetar lemas, ia memilih menjatuhkan tubuhnya di samping agar tak menekan perut istrinya.
"Terimakasih, Sayang. Aku selalu puas." Dirga mengecup kening Anin dengan penuh perasaan.
"Maaf, aku meminta hakku, saat hatiku terbakar cemburu. Aku hanya takut kamu berpaling dariku, kamu tempatku pulang, kamu rumahku Anindirra. Jangan lupakan itu. Pria tua ini akan mengamuk seperti banteng kalu sampai itu terjadi."
"Ya Tuhan, mengerikan sekali Papimu Boy.. Mami jadi takut." memiringkan tubuh menghadap Dirga, Anin terkikik sambil memainkan telunjuknya di atas dada Dirga dengan menggambar bentuk Hati.
"Jangan menggodaku, Sayang.." Dirga mencekal lengan Anin dan mendorongnya pelan agar terlentang. "Aku masih kuat untuk beberapa ronde lagi, tapi aku tidak mau membuatmu kelelahan, ada dia yang harus aku jaga di dalam sini."
Dirga berganti posisi memiringkan tubuhnya ke kiri dengan tangan mengelus perut sambil menciuminya.
"Kamu harus mandi, Sayang biar tidurmu nyenyak.." pria itu mengangkat tubuh Anin, membawanya ke dalam kamar mandi dan mendudukkannya di atas marmer wastafel di depan kaca lebar.
"Diam disini aku akan menyiapkan air hangat untukmu."
Dengan tubuh polos dan kaki menjuntai ke bawah wanita itu tersenyum melihat pria yang sama polosnya tengah menyiapkan air hangat ke dalam bathup.
*
*
*
Hotel bintang lima milik Wijaya Grup itu berada di pusat jantung kota Singapore. Bangunan itu berdiri dengan koko dan megah di tengah keramaian, membuat para wisatawan yang datang memilih menginap di hotel ini, karena memudahkan untuk pergi melancong memanjakan diri.
Satu persatu para orangtua mulai turun ke lantai bawah dimana restoran hotel berada. Mereka akan mengisi perut yang sudah menagih di pagi hari. Menikmati hidangan yang di sajikan oleh para chef tersohor di negri singa.
Nasi lemak, roti panggang isi daging dan sayuran, pancake pisang, omelette makaroni dan berbagai macam kudapan khas melayu tersaji di meja prasmanan. Tak lupa potongan buah segar sebagai pemanis dan pencuci mulut.
Minuman hangat dari mulai susu segar, teh hangat, dan minuman rempah yang akan membuat stamina kuat dan segar sudah memenuhi meja yang telah di tempati oleh Alyne dan Bastian. Tak lama Alfred dan Amanda ikut bergabung dalam satu meja dengan beberapa pelayan yang siap dan sigap melayani.
Dokter Hendra beserta istri juga para pekerja mulai berdatangan di susul Diego. Hendra, Mayang dan Diego ikut bergabung dalam satu meja panjang bersama para orangtua. Sedangkan para pekerja memisahkan diri di meja yang lainnya.
Alea datang dengan di gandeng tangannya oleh Lia. Gadis kecil itu sudah rapih dan wangi dengan rambut tergerai. Bastian menyambutnya agar duduk di kursi di sebelahnya.
"Alea kemari, duduk di sebelah Opa.. Opa belum mendengar cerita tentang sekolahmu."
"Ya Opa." Gadis mungil itu menurut duduk di samping Bastian.
"Morning cantik." Alyne mencium pipi gembulnya yang teramat lucu.
"Molning Oma Lyn."
"Alea, Mbak Lia duduk di meja sebelah ya." ia memberitahukan sebelum meninggalkan momongannya ke meja yang sudah di tempati para pekerja Dirga.
Gerak gerik Lia tidak lepas dari pandangan pria yang duduk di samping kanan Dokter Hendra.
"Jangan macam-macam kau! Kalau tidak mau Club malammu di gusur habis oleh Dirga." Hendra berbisik di telingan Diego.
"Haiss.. sudah menikah tapi pria itu masih saja menyebalkan." Diego mengingat bagaimana Dirga kalau mengekskusi lawannya. Sungguh menyeramkan.
"Aku lelaki normal, wajar kalau aku menikmati wanita cantik ciltaan tuhan, apalagi wanita itu berkulit exotic sesuai seleraku." Diego balas berbisik di telinga Hendra.
"Dasar otak mesum." Hendra mencibir sahabatnya.
"Dasar suami takut istri." Diego membalas cibiran Hendra.
"Kalian ini seperti sepasang kekasih saja!dari tadi aku perhatikan saling berbisik melebihi anak perawan sedang kasmaran." Mayang istri Dokter Hendra yang duduk di sebelah kiri menatap kedua lelaki itu dengan tatapan curiga.
"Tidak, Beb. Suamimu ini masih normal."
Selang lima menit, Arleta dan Chatrin datang dan ikut bergabung.
"Morning Mom, Dadd." kedua wanita itu duduk di depan Diego dan Hendra.
"Morning All.." Arleta mengucapkan selamat pagi lagi untuk semuanya setelah menjatuhkan bokongnya di kursi. Ia mulai mengambil dan menyantap roti panggang isi daging kesukaannya.
****
Hadeeehhhh.. Part ini hasil revisi. Dari semalam aku UP tapi di tolak. Sebelumnya berisi gabungan Dirga Dan Bayu saat mengekskusi para istri ππ aku pikir sekalian mumpung momentnya masih MP, tapi sayang tidak lolos. Nasip nasip ππ hehehe....
Bersambung β€οΈ