
Memasuki gedung VivoCity mall terbesar di negri ini. Para wanita itu mulai bertebaran menjelajah setiap outlet-outlet yang ada. Mereka keluar masuk toko melihat-lihat barang. Dan jika ada barang yang membuat mereka tertarik, pasti akan di belinya. Dari mulai toko pakaian, sepatu sandal, tas, makeup, yang tentunya dengan stempel brand ternama.
"Bagai mana dengan yang ini? Ini sangat elegan Nak. Modelnya simple tapi tak menghilangkan kesan mewahnya. Bisa kamu gunakan dalam acara apapun. Bisa resmi juga santai." Alyne memperlihatkan tas dengan merk terkenal yang biasa di pamerkan oleh artis Indonesia dengan slogan cetar membahana.
"Sangat bagus Mom.. Tapi apa tidak terlalu mahal?"
"Kenapa harus memikirkan nominalnya Nak? Kamu meragukan kemampuan putraku?" Alyne tersenyum menatap menantunya yang jauh dari kata matrealistis. Anin type wanita yang berbeda dari kebanyakan wanita lainnya.
"Putraku pasti memerlukan bantuan untuk mengurangi saldonya yang terus bertambah. Lagi pula suami Mommy tak kalah kayanya dengan suamimu. Hari ini Mommy yang traktir. Mommy belum pernah memberikan sesuatu kepadamu."
"Apa kata dunia nanti?" Alyne terkekeh dan langsung menyerahkan tas pilihannya agar di bungkus kepada pelayan.
Ahh.. Ternyata diam-diam Alyne juga hobi belanja, tetapi wanita itu tidak terlalu mencolok karena tertutupi oleh penampilannya yang sederhana dan bersahaja. Walaupun dari semua atribut yang di kenakannya tidaklah ada yang murah.
"Ya Mom.. Terimakasih." Anin tak punya kuasa untuk menolaknya.
"Oma... Apa Oma juga akan telaktil Ea?"
"Pasti cantik.. Nanti kita akan ke toko mainan. Ok."
"Ok.. Oma.."
Stella dan Amanda memilih masuk ke toko pakaian dalam yang menjadi langganannya. Wanita itu mulai menambah lagi koleksi lingeri miliknya. Saat ia mulai memilih warna, ia tersenyum dengan mengigit bibirnya. Pikirannya teringat akan Bayu, ia tidak menyangka pria itu sangat garang saat bercinta. Baru beberapa jam berpisah rasa rindu sudah meyerangnya. Kalau tidak ada acara belanja dan mai golf.. Mungkin saat ini ia berada dalam dekapan pria yang telah membuatnya melayang.
"Jadi pilih warna yang mana sist?"
Pertanyaan pelayan toko membuyarkan pikirannya.
"Semua.. Ya semua di bungkus.." Stella merasa malu sendiri, sempat-sempatnya ia membayangkan kegarangan Bayu di atas ranjang.
"Duhh.." Stella menepuk jidadnya pelan
Keluar dari toko tas. Alyne membawa Alea masuk ke toko mainan terlengkap. Gadis kecil itu mulai memilih beberapa boneka barbie, Ken, Odette dan Clara yang menjadi pilihannya. Karena di rumah ia sudah memiliki koleksi barbie Rapunzel, Elsa , Ana , Anneliese dan yang lainnya. Sepulang kerja, Dirga pernah memborong barbie yang ada di toko mainan saat ia sedang memesan mainan yang akan ia kirim ke salah satu panti asuhan.
"Hanya itu? Tidak ingin yang lainnya?" Alyne menawarkan lagi, karena Alea hanya memilih tiga Barbie.
"Sudah Oma …di lumah, Ea cudah ada banyak balbie sama lumahna.."
"Baiklah." Alyne segera membayar barang belanjaannya.
Puas keluar masuk toko dan mendapatkan barang yang di inginkan. Alea menunjuk, meminta masuk ke kedai bertuliskan 'Orchard Road Ice Cream Singapore'
Anin dan Alea menikmati Ice cream dengan rasa durian yang menjadi paforit para turis dan wisatawan. Sambil menunggu yang lainnya selesai berbelanja.
"Nak, Mommy tinggal ke toilet dulu. Jangan kemana-mana."
"Ya Mom.." Anin melanjutkan menikmati kudapan berupa cream yang sangat menyegarkan di tenggorokan. Ia teringat akan Dirga, bagaimana kesalnya pria itu saat ia pergi meninggalkannya. Dan ia lupa belum mengecek ponselnya dari mulai ia tiba mall ini.
Dan benar saja, ada panggilan dan pesan yang masuk dari suaminya. Anin hanya tersenyum saat membacanya. Pria itu meminta segera pulang dan jangan lama-lama.
Saat sedang menikmati ice cream sambil membaca pesan. Tidak di sangkanya, pria asing yang mengajaknya berkenalan di pesta semalam menyapanya kembali.
"Hai Nona.. Kita berjumpa lagi. Masih ingat saya?"
Anin menatap pria asing itu dengan sendok masih tergigit di dalam mulutnya, dan itu membuatnya nampak lucu di mata sang pria. Ia mencoba mengingat pria yang memang tidak pernah di ingatnya.
"Edward." Pria itu mengingatkan.
"Oh, hai.. Ya, saya ingat. Apa anda sedang menikmati ice cream juga?"
"Sepertinya seperti itu, saat saya melihat Nona. Bolehkah saya ikut bergabung?"
"Ahh.. Maaf, Tuan. Saya bersama--"
"Mertua anda." Edward lebih dulu memotong ucapan Anin.
"Ya.." Anin sudah mulai resah. Ia langsung mengingat Dirga. Bagaiman jadinya kalau sampai suaminya itu tau, ia bicara lagi dengan pria yang di cemburuinya.
"Maaf, apa anda tidak masalah kalau saya tidak mengijinkan anda duduk disini."
"Bukan begitu Tuan. Saya wanita bersuami, dan saya harap anda paham."
"Where is the problem?"
( masalahnya dimana )
Ya ampun Tuan. Anda tidak tau bagaimana suamiku. Anin bicara dalam hatinya. Tolong jangan membuat masalah.
Sedangkan Alea asik dengan ice creamnya. Gadis kecil itu tak mempedulikan orang-orang di sekelilingnya.
Tak lama Alyne muncul membuat Anin sedikit lega.
"Halo.. Nyonya Alyne." Edward menyapa lebih dulu wanita yang ia ketahui namanya.
"Halo.. Apa kita sudah saling mengenal?" Alyne memperhatikan pria asing yang penampilannya mampu menunjukkan kalau dia bukan pria biasa. Dan juga pria itu mengetahui namanya.
"Sepertinya saya harus memperkenalkan diri kepada anda Nyonya."
"Edward." Pria itu mengulurkan tangannya.
"Alyne Bastian Wijaya." menjaga tata krama sebagai keturunan melayu, Alyne menyambut uluran tangan pria asing yang memperkenalkan namanya.
"Saya bertemu dan berkenalan dengan menantu anda yang sangat cantik ini di pesta semalam." Edward berkata sambil menatap Anin dengan pandangan berbeda.
Alyne menatap Anin sekilas. Lalu kembali menatap pria asing itu.
"Terimakasih Mr. Menantuku memang cantik, dan dia sedang mengandung cucuku. Kalau memang tidak ada yang penting untuk di bicarakan, kami akan pergi karena masih ada yang harus kami beli.
"Silahkan Nyonya. Dan semoga kita akan bertemu lagi Nona." Edward tersenyum manis kepada Anin.
Alyne membawa menantu dan cucunya pergi dari pria asing itu. Sebagai seorang wanita dan ibu, ia mempunyai naluri yang kuat. Ia bisa merasakan akan tatapan pria itu kepada menantunya.
*
*
*
Sedangkan di lapangan golf.. Para pria sedang fokus beradu kemampuan dalam mengayunkan stik agar mampu memasukkan bola ke dalam lubang goal menurut parnya, yang memberikan indikasi jumblah pukulan yang di butuhkan oleh pegolf.
Bastian meminta Mustafa ikut bergabung sebagai pencatat, menghitung skor dan jumblah pukulan. Pria itu sangat mahir dalam meneliti par lubang dari mulai par-3 250 meter, par-4 450 meter, dan seterusnya, sampai mengukur faktor-faktor lainnya dari mulai ketinggian, kemiringan tanah, dari tee ke hijau, dan lay-up paksa kaki anjing ( tikungan tajam ) atau rintangan ( mis. Bunker, bahaya Air. )
Semua sudah mendapatkan skor masing-masing, mereka menjadi dua tim. Saat giliran Dirga dari tim Hugo yang akan mengumpulkan skor. Tiba-tiba suara dering telfon mengganggu konsentrasinya.
"You dont leave the field Dirga. ( kamu jangan meninggalkan lapangan Dirga )
"No, Dadd.. Aku mengangkat telfon dulu, ini penting."
Dirga tidak mungkin mengabaikan panggilan dari orangnya yang di perintahkan mengikuti para wanita untuk berbelanja. Terutama istrinya.
Dirga menempelkan benda pipih di telinganya. Ia mendengarkan apa yang di sampaikan si penghubung, dan langsung membuat wajahnya mengeras. Setelah menutup panggilan ia langsung membuka aplikasi pesannya.
Orang suruhannya mengirimkan gambar dimana Anin tengah bicara dengan pria asing yang ia ingat, pria itu yang mengajak kenalan Anin di pesta pernikahan Bayu semalam.
"Brengsek!!"
Dirga langsung melempar topinya dan menaiki buggy car untuk membawanya keluar dari lapangan golf.
****
Jangan lupa jempolnya ya
Bersambung ❤️
Terimakasih 🙏