
Sesampainya di rumah. Diana sudah tidak sabar menunggu kepulangan Andre. Wanita itu bergerak gelisah ingin segera menanyakan banyak hal kepada putranya.
"Kemana sih, tuh anak? Biasanya jam segini dia sudah pulang." Diana melihat jam yang tepajang di atas nakas kamarnya. Jarum jam sudah menunjuk pukul 7 pas.
"Ada apa Ma?" Jaya Herlambang, pria yang menjadi suaminya itu bertanya saat keluar dari dalam kamar mandi.
"Tidak ada apa-apa Pa, Mama hanya sedang menunggu papa untuk turun makan malam." Diana menutupi apa yang baru saja di lihatnya. Ia belum siap menceritakan kepada suaminya tentang keberadaan gadis kecil yang ia yakini adalah cucunya. Ia tidak mau suaminya itu menyalahkannya dirinya sebagai penyebab perpisahaan putranya.
Suara mobil Andre terdengar saat penghuni rumah sedang bersantap makan malam. Dengan wajah lesu pria yang di tunggu-tunggu itu masuk dengan wajah lusuh. Mama Diana memintanya ikut bergabung di meja makan bersama-sama.
"Kenapa telat Mas?" Sinta bertanya penuh curiga.
"Ada masalah di bagian keberangkatan untuk para wisatawan hari ini, aku harus menyelesaikannya dulu."
"Apa tidak bisa di kerjakan oleh bawahanmu?"
"Aku tidak bisa sepenuhnya meyerahkan kepada bawahanku. Aku harus bertanggung jawab dengan pekerjaanku." Andre menjawabnya dengan datar tanpa menatap Sinta.
"Cutiku hanya seminggu, besok aku harus kembali ke Surabaya. Aku sudah meminta di mutasi ke Jakarta dan aku akan segera mengurus kepindahan." Sinta membahasnya di sela-sela makan.
Andre makan dengan diam. Tak menjawab sepatah katapun ucapan Sinta. Hari ini entah mengapa, membuatnya tidak bersemangat. Kalau bukan karena Diana berulang kali menghubunginya, rasanya malas sekali untuk segera pulang. Belum lagi pesan yang di kirim sinta, berulang-ulang istrinya itu menanyakan keberadaannya.
"Bagus itu, Sinta. Mama mendukungmu. Sepasang suami istri memang seharusnya hidup bersama dalam satu kota. Ya, kan Pa?" Diana mengomentari ucapan Sinta saat putranya tidak memberi respon. Ia juga meminta dukungan suaminya dengan di jawab anggukan saja. Selama ini Jaya Herlambang lebih banyak mengalah dan memilih diam dengan segala keinginan Diana.
*
*
*
Selesai makan malam, ketika Sinta sudah naik ke lantai Atas. Diana menarik tangan Andre dan membawanya masuk ke dalam kamar tamu yang berada di lantai bawah.
"Duduklah, Mama mau bicara."
"Ada apa lagi sih Mah? Andre cape mau istirahat." Pria itu sedang tidak ingin membahas apapun.
"Andre! Mama serius! Ada yang ingin Mama tanyakan? Mama tadi dari mall menemani Sinta belanja."
Terus? Itu bukan untuk pertamakalinya-kan? Kenapa harus laporan ke Andre?" Andre memotong ucapa Diana.
"Bukan soal belanjanya yang ingin Mama bahas Andre! Dengarkan Mama dulu." Wanita itu nampak kesal dengan sikap putranya.
"Mama melihat Anindirra."
Mendengar nama Anindirra di sebut, Andre langsung menatap Mamanya dengan serius.
"Mama lihat penampilannya sudah sangat berbeda, dia bukan wanita biasa yang Mama kenal dulu. Apa dia sudah menikah lagi?"
Andre tertunduk murung saat harus di ingatkan lagi tentang pernikahan mantan istrinya. Sebenarnya ia sangat tidak ingin mendengarnya, seolah di ingatkan, kenyataan itu membuat hatinya terasa sakit.
"Ya Ma, Anindirra sudah menikah lagi. Mama puas?" Andre menatap Diana dengan sorot mata kesal.
"Bukankah kamu belum memberikan surat dari pengadilan? Kenapa dia sudah memutuskan menikah lagi? Pria mana yang mau menikahinya? Dan pria itu kerja dimana?" sederet pertanyaan ia lontarkan kepada Andre.
"Hah.." Andre membung napasnya.
"Kenapa Mama sangat ingin tau kehidupan Anin? bukankah Mama sudah tidak perduli? Lagi pula Anin sekarang sudah bukan istri Andre kan?"
"Kenapa pengakuan itu tidak Mama ucapkan saat Mama meminta Andre menikahi Sinta?" pria itu tersenyum getir.
"Apa Mama lupa? Mama meminta Andre menalaknya padahal Mama tau kami sudah memiliki Anak? Andre yakin, Mama tidak akan membahas masalah Anin kalau tidak menginginkan sesuatu? Katakan Ma? Apa yang Mama inginkan?"
"Berhenti menyalahkan Mama Ndre! Semuanya Mama lakukan demi masa depanmu. Dan juga kebahagiaanmu! Mama mencarikan wanita yang sepadan dengan keluarga kita!"
"Kebahagiaan yang seperti apa Ma? Apa Mama cukup puas mempunyai menantu yang sangat gemar belanja dan tidak bisa mengurus suaminya?"
"Tapi Sinta sudah memutuskan akan pindah tugas ke Jakarta. Dia sudah berusaha menjadi istri yang baik untukmu. Kamu saja yang tidak mau membuka hatimu."
"Sinta memutuskan pindah karena tidak mempercayai Andre Ma, bukan karena ingin mengurus Andre." pria itu hanya mampu berkata dalam hatinya, ia sudah malas berlama-lama berdebat dengan Diana.
"Apa maksud dari pembicaraan ini Ma? Apa yang Mama mau?" Andre bertanya dengan suara melemah.
"Mama ingin cucu Mama. Kamu Ambil anakmu dari wanita itu!" kedua bola mata Andre membulat seketika mendengar ucapan Mamanya. Wajahnya mengeras menghadapi ke-egoisan Mamanya.
"Kenapa kamu memandang Mama seperti itu? Apa ada yang salah dengan ucapan Mama? Lagi pula kamu dan Sinta belum memiliki anak? Mama ingin cucu Ndre."
"Apa Mama sudah tidak bisa berpikir dengan sehat? Apa Mama sudah tidak waras? Apa harus Andre ingatkan Ma? Andre meninggalkannya saat ia masih bayi merah Ma! Bahkan saat Andre menalak Anin di saat umurnya tiga bulan, Andre tidak sempat melihat wajahnya! Karena Mama tidak mengijinkan Andre berlama-lama di rumah kontrakan itu. Dimana hati nurani Mama?"
"Kalaupun Andre sangat menginginkan bisa bertemu dan di akuinya sebagai Ayah kandung. Andre tidak akan mengambilnya dari Anin. Dan asal Mama tau, Anin sudah mengurus surat cerai dan hak asuh anak. Yang sudah Andre tanda tangani."
"Hak asuh? Maksudmu bagaimana Andre? Jangan bilang kalau hak asuh putrimu sudah jatuh ke tangan wanita itu dan sudah kamu setujui?"
"Jawab Mama Andre?" Diana menggoyangkan bahu Andre. Putranya itu terdiam memalingkan wajahnya.
"Iya Ma, hak asuh sudah berada di tangan Anin, dan Andre tidak bisa menemuinya dengan bebas sampai waktu yang di tentukan."
"Kita bisa membayar pengecara terbaik Ndre. Kita sanggup membayar dengan harga tinggi. Kita bisa mengugat balik. Atau, apalah itu namanya, Mama lupa, oh iyaa!.. Kita bisa naik banding."
"Tidak semudah itu Ma, bukan siapa pengecaranya atau mahal murahnya harga seorang pengecara. Tetapi..." Andre memejamkan matanya kala menginggat ancaman Dirga.
Ia sudah banyak mencari informasi siapa sosok Dirga. Seorang pengusaha yang memiliki kekuasaan dengan jangkauan luas. Baik di luar dan di dalam pemerintahan. Kalau hanya untuk menghancurkan tour & travel miliknya sangat mudah bagi pria itu. Belum lagi kekayaan yang di milikinya. Sebagai pengusaha pertambangan apapun sanggup di lakukannya.
"Tetapi apa Andre? Kenapa diam?"
"Maaf Ma, Andre tidak bisa. Andre tidak bisa kalau harus mengorbankan usaha yang di rintis Papa mulai dari Nol harus hancur. Andre harap, Mama tidak berurusan dengan pria yang menjadi ayah sambung Alea."
"Memangnya siapa dia? Kenapa sepertinya kam begitu takut? Apa dia seorang pengusaha atau bekerja di perusahaan? Artinya kita mampu bersaing Ndre?"
"Tidak Ma." Andre menatap Diana dengan wajah sedih, ia berharap Mamanya jangan sampai berbuat ulah yang akan merugikan keluarga Herlambang.
"Anin sudah menikah secara sah di mata hukum dan negara dengan seorang pria bernama Dirgantara Damar Wijaya. Dia pengusaha yang pernah Mama lihat di televisi saat pria itu melakukan sesi wawancara karena terpilih sebagai pengusaha tersukses di indonesia.
"Hohhh!!!" Diana terkejut dengan mata membulat dan mulut terbuka.
****
Maaf kalau banyak Typo ya teman-teman. Maafkan ketidaksempurnaan cerita ini hehehe.. Untuk chapter 93 dan 94 ada yang aku revisi karna tidak pas dalam penyampaian. Tidak banyak kog, cuma merubah umur kehamilan dari 3 bulan menjadi 4 bulan. Dan memperjelas kalau Sinta lah yang menjabat sebagai Meneger di salah satu BANK.
Jangan lelah mengingatkanku 😁
Terimakasih 🙏
Bersambung 😘