
Keberangkatan Bayu ke Singapore membuat Dirga mengambil keputusan untuk menarik Radit ke pusat dari anak perusahaan yang berada di tembagapura.
Radit di tugaskan untuk menghandle pekerjaan Bayu dengan tetap mengkoordinasikan segala sesuatunya dengan Bayu.
Selain Bayu, Radit juga salah satu orang kepercayaannya yang setia. Dia anak dari Pak Dadang supirnya. Tentunya membuat pria tua itu senang karna bisa berdekatan dengan putranya. Selama ini Dirga mempekerjakan orang-orang di lingkaran terdekatnya. Secara tidak langsung Dirga ingin mengangkat drajat kehidupan para pekerjanya.
Pagi ini tidak seperti biasanya wajah Anin terlihat sangat pucat. Ia merasakan kram di perut tepatnya di bawah pusat. Beberapa hari ikut menemani Dirga ke kantor dan pulang malam membuat ia kelelahan.
Beruntungnya Alea tidak rewel saat ia tinggalkan, gadis kecil itu sedang menikmati dunia barunya. Anin sudah memasukkannya ke playgroup di Bambino Preschool.
"Kamu yakin tidak masalah aku tinggal, Sayang?" Dirga mencemaskan kondisi Istrinya. "Wajahmu sangat pucat."
"Berangkatlah Mas, aku tidak apa-apa, aku hanya butuh istirahat. Aku sudah mengompresnya dengan air hangat. Jangan mencemaskanku, di kantor sedang tidak ada Bayu."
"Apa kita harus ke dokter dulu? Aku tidak tenang meninggalkanmu. Sudah ada Rendy, dia sudah bisa aku andalkan, dia staf terbaikku, ia mampu dengan cepat beradaptasi untuk menyelesaikan pekerjaan. Hanya saja aku harus masih mengenalkannya dengan beberapa clientku." pasangan itu bicara dengan Anin membantunya mengenakan pakaian.
"Pagi ini Mas ada rapat bulanan dengan para petinggi perusahaan. Aku baik-baik saja, Sayang... Selesai.." ucapanya setelah memasangkan dasi dengan warna senada dengan kemeja yang di kenakan.
"Mas semakin bertambah tampan setiap harinya." ia tersenyum menatap suaminya yang benar-benar extra manja.
Semalam saja, pria gagah itu harus berebut dengan Alea untuk merebahkan kepalanya di pangkuan Anin saat menyaksikan tontonan di layar televisi. Sampai saat Anin harus menidurkan Alea, pria itu terus mengintilinya.
**
"Pagi girl." Dirga menyapa putri mungilnya yang sedang menyantap sarapannya, Alea sudah rapih mengenakan seragam sekolahnya.
"Pagi Pih." dengan mulut penuh sosis goreng kesukaannya.
"Pagi anak Mama." Anin mengecup pipinya.
"Papi ndak cium aku cepelti Mama?"
"Oh sorry girl." Cup. Dirga mencondongkan tubuhnya di atas meja makan supaya bisa menjangkau keningnya.
"Bagai mana di sekolah? Alea Suka?" Sambil menyantap sandwich berisikan daging dan sayuran.
"Suka pih, cekolahnya seluu banet. Ea cudah punya banak teman. Di cekolah, Ea temu cama Kakak Joy. Tapi Ea cebel, Kakak Joy panggilna Ale. Ea ndak cuka." Dengan semangat Alea bercerita dan cemberut di ahir cerita.
Obrolan hangat di pagi hari saat di meja makan selalu Dirga lakukan, mengingat ia tidak memiliki banyak waktu untuk putrinya selain ahir pekan. Bertemu malam sepulang kerjapun jarang, karna putrinya sudah tertidur. Sesibuk apapun, setiap ahir pekan ia akan berada di rumah berkumpul dengan keluarga.
"Mungkin itu panggilan sayang kakak Joy untuk Alea. Ea gak boleh kesel." Anin menimpali obrolan keduanya.
**
"Hati-hati Gus." Anin mengingatkan sebelum kendaraan yang membawa putrinya keluar dari pekarangan rumah.
"Siap, Nona."
"Kabari aku kalau terjadi sesuatu." serasa berat Dirga meninggalkan Anin hari ini. Mencium kembali seluruh wajah istrinya sebelum ia masuk ke dalam mobil.
"Ya, Mas..." ia tersenyum memastikan suaminya kalau ia akan ia baik-baik saja.
Anin kembali duduk di kursi meja makan. Tubuhnya terasa lemas, kepalanya sedikit pusing. Tetapi ia tidak ingin banyak mengeluh. Ia tidak mau membuat suami posesifnya itu khawatir. Cukup pria itu di bebankan dengan setumpuk pekerjaan.
"Non, wajahnya kog pucat sekali?" Bik Asih bertanya sambil membereskan piring bekas makan di atas meja.
"Masa sih Bik." Anin mengusap pipinya.
"Iya Non, apa Non Anin sakit?"
"Tidak Bik, hanya sedikit pusing dan kram di perut. Mungkin mau datang bulan."
"Datang bulan? Anin mengulang ucapannya. Ia teringat terahir ia mendapatkan tamu bulanannya sebelum ia pulang ke solo.
"Harusnya bulan ini aku sudah mendapatkannya lagi. Ya ampun, kenapa aku lupa. pantas saja perutku sakit, aku sudah telat selama dua minggu." Anin bermonolg
"Ya Bik, terimakasih, nanti tolong bawakan ke kamar." Anin beranjak dari kursi, ia ingin merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
Baru tiga undakan tangga kakinya berpijak. Tiba-tiba rasa sakit di perut menyerangnya kembali. Kepalanya semakin pusing, ia tidak sanggup untuk melanjutkan langkahnya naik ke atas.
"Bik, Bik Asiihhh..!!!" Anin memanggil dengan berteriak saat melihat darah mengalir di pahanya.
"Ya, Non." Bik Asih datang tergopoh-gopoh mendengar teriakan Anin.
"Astaghfirullah hal adzim Non.!" Bik Asih terkejut melihat kondisi Anin yang terduduk di undakan tangga dengan darah mengalir di kakinya.
Untuk beberapa saat Bik Asih terdiam karna Syok. Otaknya tiba-tiba beku.
"Bik tolong hubungi Mas Dirga." Anin tampak melemah. "Bik cepet!!"
"Ya Allah, iya Non." dengan tangan gemetar wanita itu menghubungi nomor kontak Dirga melalui handponenya.
"Aduh Tuan!! Ayok cepetan di angkat!" dua panggilan belum juga di terima oleh pemiliknya. Bik Asih berjalan ke kiri dan ke kanan, ia berpikir harus berbuat apa. Tidak mungkin ia harus menunggu Tuannya kembali ke rumah.
Menutup telfon. Ia berlari ke pintu depan berteriak memanggil Budi sang keamanan.
"Budiiiiii...!! Bud.." tangannya melambai, memanggil agar pria itu datang mendekat.
Budi datang dengan berlari menghampiri Bik Asih di pintu masuk rumah. "Ada apa Bik?" ia ikut terkejut melihat kepanikan Bik Asih.
"Kamu bisa bawa mobil-kan?"
"Bisa Bik. Memangnya kenapa?"
"Keluarkan mobil dari garasi, kita bawa Nona Anin e rumah sakit. Cepetan!!"
"I-iya Bik." lelaki itu berlari ke garasi. "
"Astaga kuncinya.?" ia berlari kembali masuk ke dalam rumah menemui Bik Asih.
"Bik kuncinya mana?"
"Di ruang TV ada lemari kaca husus menyimpan kunci-kunci mobil Tuan. Semuanya tergantung, terserah kamu mau pakai yang mana. Cepetan Budiiii..."
Bik Asih ikut terduduk di undakan tangga dengan memapah kepala Anin yang sudah terkulai lemas.
Tanpa memilih, ia menyambar satu kunci mobil untuk ia kendarai. Masih dengan berlari ia menuju ke garasi untuk menyiapkan kendaraan. 'Bip' satu mobil menyala dengan sempurna.
Kembali ke dalam, ia membantu memapah Aniin. Karna kondisi Anin yang sudah tidak sadarkan diri, ia lebih memilih mengangkat tubuh istri Tuannya.
"Bik, biar saya angkat saja ya."
"Iya, hati-hati Bud." Bik Asih mengusap air mata yang menggenangi kelopak matanya. Ia sangat khawatir, takut terjadi hal yang buruk menimpa iatri Tuannya.
Budi merebahkan tubuh Anin dengan perlahan di kursi belakang dengan pintu yang sudah terbuka. Bik Asih ikut duduk di kursi penumpang untuk memangku kepala Anin. X trail itu melaju dengan cepat meninggalkan halaman rumah.
"Ya Allah Non, semoga tidak terjadi sesuatu yang membahayakan.
Karna kepanikannya. Ia baru teringat nomor kontak Pak Dadang setelah sampai di kelinik terdekat sebagai pilihan.
****
Bersambung ❤️
Di antara ribuan yang suka pasti ada ada yang tidak suka. Dari sekian banyak yang memberikan dukungan pasti ada yang menjatuhkan. Sudah menjadi hal yang wajar dalam kehidupan. Plus minus itu akan selalu beriringan. Seperti ada panas dan hujan. Udah kaya syair ya 😁😁
Kalu sudah bosan jangan di baca sayang... Aku takut kepalamu pusing tujuh keliling. Pisss jangan marah ✌️✌️aku hanya mengingatkan karna aku padamuhh 😘😘
Jangan lupa dukungan like komen hadiah dan votenya ya 🙏 terimakasih 😘