Anindirra

Anindirra
Chapter 108



"Selamat pagi." Anin menyapa semua orang yang ada di meja makan. Aura kebahagiaan selalu terpancar dari wanita hamil itu. Bibrnya tak lepas dari senyuman. Dan sapaannya di balas oleh semuanya.


"Pagi Nak," Mommy Alyne berdiri menyambut menantu dan putranya dengan menempelkan pipinya ke pipi Anin dan Dirga.


Cup


"Anak Mami sudah cantik." Anin menyempatkan mencium pipi Alea dulu sebelum ia duduk di kursi kosong di samping Alyne.


"Arleta, kau pindah ke sana." Dirga meminta sepupunya supaya pindah karena kursi kosong yang berada di samping Alyne hanya menyisakan satu.


"Kau ini menganggu saja. Semenit saja tak menempel di pan*at istrimu bisa tidak?" Arleta bersungut tetapi tak ayal membuatnya tetap pindah.


"Tidak." dengan masa bodoh Dirga menjawabnya dengan singkat.


"Maaf kakak ipar." Anin merasa sungkan dengan Arleta.


"Tidak masalah, santai saja …aku sangat mengenal watak suamimu." wanita modis itu mendudukkan bokongnya ke kursi kosong dekat pengantin Baru.


Sekilas Dirga melihat Bayu yang sedang menyantap sarapannya dengan lahap.


"Hei pengantin! Berapa banyak kalori yang kau keluarkan? Kau sarapan atau makan siang?"


"Diam kau!" Bayu sudah tidak sungkan lagi dengan tidak memanggil Tuan saat di luar jam kerja.


"Kau pikir aku tidak akan tau kelakuan kalian bertiga?"


**


Sebelum turun ke bawah.


Saat akan mengambil jam tangannya di atas nakas, Bayu memperhatikan lilin yang masih menyala dan mengeluarkan bau wangi yang tak biasa. Ia merasa tidak asing dengan benda itu, sepertinya ia pernah memesannya dari negri gingseng untuk seseorang. Otaknya bekerja dengan cepat, ia teringat pernah meminta petugas hotel untuk menyiapkannya di kamar pengantin Hendra 6 tahun yang lalau atas perintah Dirga. "Oh, sial." Ternyata sekarang berbalik ke dirinya. Dan siapa lagi kalau bukan ketiga temannya yang mengerjainya. Selain memang nafsunya sudah tinggi, pantas saja semalam ia seakan tidak ada puasnya.


**


Ketiga pria yang menjadi tersangka tertawa bersamaan.


"Awas saja kau! Tunggu giliranmu. Akan lebih parah dari ini." Bayu memberikan tatapannya kepada Diego.


"Tidak perlu kau berikan sesuatu Bay. Dia sudah gila kalo soal yang satu itu." Hendra ikut menimpali.


"Kenapa aku?" Diego menunjukkan ujung telunjuk berbalik ke dadanya. "Aku hanya mendukung dua manusia itu."


"Sama saja Bonobo." Bayu melemparnya dengan tissue yang telah di rematnya.


( Bonobo / Pan paniscus. Kera yang berkerabat dengan simpanse, mereka adalah salah satu spesies hewan yang terkenal sangat aktif dalam urusan se*sual )


"Kalian ini membicarakan apa sih?" Arleta nampak binggung kemana arah pembicaraan keempat pria yang juga di kenalnya.


Dengan bersamaan juga keempat pria itu menjawab 'Tidak'


"Jangan kamu pikirkan Arleta, anggap saja para pria ini sedang kumat karena kehabisan obat." Mayang ikut bersuara.


"Mas, mau sarapan apa?" Anin menanyakan suaminya yang belum juga mengambil makanan ke piringnya.


"Samakan saja denganmu."


"Aku mau makan nasi lemak? Mas mau?"


"Ya, Sayang …tapi suapi.."


"Dihh.. Papi ndak mandili.. Sepelti Ea donkk... Emamna ndak di suapi." Alea berkomentar saat melihat Anin menyuapi nasi ke mulut Dirga.


"Iya... Alea lebih pintar Dari Papi.. Papi sedang ber-reinkarnasi menjadi anak kecil." Alyne menjawab ucapan Alea.


"Karena Alea sudah menjadi anak pintar nanti Opa beri hadiah.."


"Benelan Opa?"


"Yes, I'm serious... Apa lagi kalau Alea mau tinggal disini bersama Opa dan Oma."


"Telus.. Cekolahna Ea gimana?"


"Ya, nanti Oma carikan sekolah yang baru buat Alea." Alyne ikut mengompori gadis kecil itu. "Gimana? Mau?"


"Telus... Papi sama Mamina pindah juga keljana?"


"Momm, jangan membuat putriku bingung." Dirga memotong pembicaraan kedua orangtuanya denga Alea.


Anin yang mendengarkan sedari tadi, mulai bertanya-tanya. Ada pembicaraan apa yang belum ia ketahui. Kenapa Bastian dan Alyne tiba-tiba membahas kepindahan Alea.


Di saat semuanya sedang berbincang-bincang sambil menikmati hidangan penutup dan potongan buah.. Alfred menerima telfon yang langsung membuat wajahnya berubah.


"Ada apa Hug?" Amanda bertanya kepada suaminya yang biasa ia panggil dengan pangilan Hug.


"Tidak ada apa-apa, hanya soal kerjaan."


Alfred tidak berkata jujur. Ia tidak ingin merusak suasana dan membuat orang-orang yang berada di meja makan resah. Apa lagi untuk Stella dan Bayu yang masih menikmati hari bahagianya.


Selesai menikmati sarapan bersama. Para pekerja di ijinkan untuk melancong menikmati destinasi di negri singa ini sebelum kepulangannya ke indonesia.


Begitupun para wanita, mereka sepakat akan pergi bersama-sama untuk berbelanja di VivoCity tempat terbaik dan terbesar di singapura.


Sebuah mall sebagai tempat belanja yang menawarkan seperti fashion dan gaya hidup. Selain bioskop, restoran, bar, dan tempat bermain, di dalam mall itu juga terdapat galeri yang tidak pernah sepi dari kunjungan wisatawan. Alyne pun berniat akan mengajak Anin ke Haji Lane untuk mengunjungi toko perhiasan temannya.


Sedangkan para pekerja, setelah mencari info melalui dunia maya, mereka berniat akan pergi ke Bugis Street Market yang terletak di antara Little India dan Marina Bay. Mereka memilih tempat itu karena harganya yang terkenal murah dan merakyat. Dan mereka juga ingin mengunjungi kawasan wisata Merlion Park karena ingin bersua foto.


Kalau bisa memilih Anin sebenarnya ingin bergabung dengan para pekerja, secara ia sangat menyukai barang-barang murah dengan toko-toko berderet dan para penjual makanan yang merakyat. Tetapi ia tidak mungkin menolak Ibu mertua dan yang lainnya.


Tinggallah Dirga yang berwajah masam, pria itu tak ingin di tinggal sang istri.


"Biarkan istrimu pergi bersama Mommymu. Kau dan kalian semua para lelaki, aku tantang bermain Golp. Bagaimana? Kalau ada yang mampu mengalahkanku, kalian akan mendapatkan mobil edisi terbaru."


"Kau juga ikut pengantin Baru!" Bastian mengencangkan suaranya saat melihat bayu akan kabur membawa Stella naik ke kamarnya.


"Kalu kau tidak ikut, kunci mobil sport sebagai kado tidak akan Daddy berikan."


"Haihh..." Dirga hanya bisa meraup wajahnya.


Berbeda dengan Hendra dan Diego, mereka lebih bersemangat mengikuti tantangan Daddy Bastian.


"Baiklah, aku juga akan memberikan cincin dengan batu berlian untuk kalian berikan kepada pasangan kalian."


"Bagai mana dengan aku dan Chatrin Daddy Hugo. Kami tak membawa pasangan, suamiku tidak bisa hadir." Arleta memperotes hadiah yang akan Alfred Hugo berikan. Ia juga harus bisa mendapatkannya.


Kalian akan di wakilkan oleh Diego.


"Tapi kami berdua Dadd.."


"Apa kalian ingin bergabung bermain Golp?" Bastian bertanya kepada para pekerja, pak Dadang, Agus , Budi.


"Tidak Tuan. Mereka menjawabnya bersamaan."


Bebaskan Diego memberikannya untuk siapapun. Sedang kamu akan mendapatkannya dari Daddy Leta."


"Yessss..!!" Aleta bersorak gembira.


Tampak para wanita sangat antusias mendengarnya.


"Ayo Beb.. Kamu pasti bisa." Mayang memberi semangat kepada suaminya Hendra.


Chatrin juga ikut senang mendengarnya, hatinya terasa berbunga-bunga kalau sampai Diego memberikan cincin itu untuknya.


"Sepertinya permainan yang Daddy tawarkan akan lebih menarik suamiku." Stella tersenyum menggoda Bayu.


"Ckk.. Bayu bedecak sebal. "Ini hariku Ste.. Aku lebih suka bermain denganmu dari pada bermain dengan Daddymu."


Sedangkan Anin hanya bisa tersenyum menatap wajah suaminya yang bermuram durja. Kalau bukan karena Daddynya yang meminta, tentu ia tidak akan mengikutinya.


"Pria tua itu membuat masalah saja." Dirga mengerutu pelan di samping telinga Anin.


"Mas, tidak boleh seperti ini. Ayokk, Mas harus semangat! Dapatkan cincin dan mobil untukku."


"Aku mampu membelikannya untukmu, Sayang."


"Tapi akan berbeda rasanya kalau mendapatkannya dari keringatmu pagi ini. Ayok Papi Boy semangat!!"


****


Mohon dukungan like komen hadiah dan votenya ya...


Terimakasih 🙏


Bersambung ❤️