
Saat ini, Bayu tengah dalam perjalanan kembali ke hotel dengan Dirga yang terpejam duduk di kursi sebelahnya. Ia membawa pria itu pulang setelah puas mengeluarkan isi hati dan menghajarnya. Ia sengaja melakukannya, agar pria itu sadar, kalau dia hampir saja melakukan kesalahan yang fatal.
Bayu mengingat jelas bagai mana wajah sembab Anin yang menangis dan mengkhawatirkan pria yang sedang mengalihkan emosinya dengn minuman. Bayu mengerti, akan psikis Dirga.. 12 tahun ia mendampingi, ia mengetahui dengan jelas perjalanan cinta Dirga.
Semenjak penembakan yang di alaminya, Dirga melakukan banyak hal dengan tidak menganggunya, Pria itu tidak mengusik, bahkan tidak memberitahukannya kalau tertangkapnya Steven di Indonesia atas campur tangan Dirga bersama orang-orang di belakangnya. Kalau saja ia tidak mendengar pembicaraan Bastian dan Alfred saat di kedai lapangan golf tadi siang. Mungkin ia tidak akan tau apa yang tengah di lakukan Dirga siang tadi.
Di tambah, kehadiran pria asing yang mendekati istrinya, firasat ia dan Dirga sama. Pria itu ada kaitannya dengan kasus Steven, dan Dirga mulai bergerak sendiri tanpa melibatkanya.
Sedangkan Diego masih berada di clubnya untuk mengecek dan memantau usaha miliknya. Pria itu sudah meyuruh pegawainya untuk mengantarkan mobil Dirga ke hotel.
Pak Dadang yang sedang turun karena tak bisa tidur, segera mendekat, menghampiri, saat melihat Bayu turun dari mobil dengan memapah Dirga.
"Pak Bayu. Apa Tuan baik-baik saja?"
"Ya. Bantu saya ke atas."
Kedua pria itu membawa Dirga ke lantai 20 dimana kamar Dirga dan Bayu berada. Sedangkan para pekerja berada di lantai 5
Anin yang berada di dalam kamar, sedari tadi resah menunggu kepulangan Bayu dan suaminya. Ia tidak bisa memejamkan mata. Rasa lapar pun tidak d rasanya, padahal dari siang perutnya hanya terisi ice cream durian.
Ia berjalan mondar mandir di depan televisi tak jauh dari sofa. Hingga ketukan pintu membuatnya segera melangkah dengan berjalan cepat ke arah pintu dan membukanya.
"Mas.." ia melihat suaminya di papah Pak Dadang dan Bayu.
"Saya akan meminta kepala restoran agar membuatkan perasan air lemon hangat untuk Tuan, Nona." Bayu bicara setelah merebahkan tubuh Dirga di atas tempat tidur. "Setelah Tuan terbangun segera di minumkan untuk menetralisir alkohol di dalam tubuhnya."
"Kalau membutuhkan sesuatu Nona bisa hubungi saya." Pak Dadang ikut berkomentar sebelum meninggalkan kamar.
"Ya, Pak.."
"Terimkasih Bay, sudah membawanya pulang."
"Apa perlu sekalian saya pesankan makanan Nona?"
"Tidak usah Bay.. Saya akan memesannya nanti jika Dirga sudah bangun."
Setelah Bayu dan Pak Dadang keluar, Anin mulai membuka sepatu dan baju basah yang melekat di tubuh suaminya, ia hanya meyisakan celana bokser yang di kenakannya. Anin terkejut saat melihat memar dan luka di sudut bibir suaminya, wajahnya pun tampak pucat. Ia bisa mencium aroma alkohol dari tubuhnya.
Selain itu, Ia juga melihat noda lipstik di kemeja yang sedang di pegangnya.
"Apa yang kamu lakukan di luar, Mas? Kenapa begitu marah kepadaku?" Anin bertanya lirih sambil mengusap bibir Dirga yang terluka dengan ibu jempolnya.
Ia pun kecewa, tetapi ia tidak bisa marah dengan mengabaikannya. Apa lagi keadaan Dirga yang sangat kacau dan berantakan malam ini.
Melemparkan kemeja ke sofa, Anin membasahi handuk kecil dengan air hangat di dalam kamar mandi. Ia mulai mengelap seluruh tubuh Dirga, dari mulai wajah, tubuh, hingga terus kebawah. Sehingga aroma alkohol itu sudah mulai berkurang baunya.
Selseai di bersihkan, Anin menyelimuti tubuh Dirga dengan selimut tebal. Ia duduk di samping Dirga, dengan memandangi wajah pucat dengan mata yang terpejam. Ia teringat akan ucapan pria itu saat menyusulnya ke solo.
Saat ia meminta maaf dan melamarnya di dalam kamar, sepulangnya ia dari perkebunan teh dengan Bagas.
"Dampingi aku, berdirilah di sisiku dalam kondisi apapun.. Genggam tanganku, jadilah teman hidupku. Aku mungkin bukan pria romantis, tapi aku pastikan kamu dan Alea segala galanya bagiku. Kalianlah prioritasku sekarang. Aku mencintaimu. Sangat "
Anin pun mengingat akan janjinya kepada Dirga.
"Jika aku di takdirkan menjadi istrimu, aku tidak akan keluar dari kodratku sebagai wanita. Aku akan tunduk patuh kepadamu jika itu untuk kebaikan bersama. Aku tidak memiliki yang bisa aku berikan kepadamu, aku hanya memiliki cinta yang besar untukmu. Berjanjilah untuk setia kepadaku, karena aku juga mencintaimu Dirgantara Damar Wijaya "
Ia tidak melupakan akan segala nasihat yang di berikan Bu Rahma kepadanya.
"Layanilah suamimu dari mulai pakaian, makanan, dan dalam hal kebutuhan dengan baik. Jika ada masalah bicarkanlah dengan baik. Jangan kabur-kaburan, perjalanan kalian masih panjang, di tengah jalan akan ada batu kerikil sebagai sandungan dalam rumah tangga kalian. Sebagai istri dampingi dia dalam kepatuhan dan kekutan yang besar. Ada kalanya suamimu memiliki masalah di luar rumah, mungkin soal pekerjaan. kamu harus bisa menjadi penyejuk tempatnya pulang "
"Tetapi aku akan tetap memeberikanmu hukuman Tuan pencemburu. Awas saja kalau kamu sampai menyentuh wanita lain. Kamu tidak ragu meninggalkanmu. Dan mulai besok kamu akan mulai menjalani hukuman puasa sampai batas waktu yang di tentukan.."
Anin terkekeh pelan dengan menghapus air matanya. Ia terus bermonolog di samping Dirga.
"Kita harus kuat Boy, demi Papi.. Papi butuh dukungan kita."
Setelah berpikir ulang dan merentet kejadian demi kejadian, Anin mulai menyadari, bukan hanya Dirga yang egois dan bersalah. Tetapi ia pun sebagai pendamping mempunyai ego dan kesalahan. Di saat suaminya menjadi api, ia harus bisa menjadi air dingin untuk mematikan uap panas yang akan membuat keduanya terbakar.
Ia seharusnya tidak memberikan peluang dan celah sekecil apapun untuk siapapun mendekat, baik dari pihaknya atau pihak Dirga. Ia pun memahami, suaminya pergi meninggalkannya pasti untuk menghindari agar tak menyakitin dan melukainya.
Mematikan lampu, wanita hamil itu ikut masuk ke dalam selimut, merebahkan tubuhnya di samping Dirga ketika jam sudah menunjukan pukul satu tengah malam. Tubuhnya pun terasa lelah efek dari pikiran dan belum makan dari siang, ia meringkuk di bawah ketiak Dirga.
Belum lama. Mungkin sekitar 30 menit Anin memejamkan mata, samar-samar telinganya mendengar suara yang mengusik tidurnya. Perlahan ia membuka mata dan mengumpulkan kesadarannya yang baru saja masuk ke dalam mimpinya.
"Sayang, jangan tinggalkan aku.. Aku mohon..." suara itu terdengar lirih di telinga.
"Mas," menyalakan lampu kembai, Anin bangun dan duduk menghadap Dirga. Ia melihat wajah Dirga semakin pucat, dengan dahi mengkerut seakan gelisah.
"Mas.." Anin mengusap pelan bahunya dan terasa panas. Punggung tangannya beralih menempel ke kening Dirga dan merasakan panas yang tinggi.
"Mas, kamu demam..."
Bunyi intercom yang berada di atas nakas berbunyi pelan dan Anin segera mengankatnya.
"Dengan Nyonya Dirga?" suara pria bertanya ujung sambungan.
"Ya, saya sendiri."
"Saya akan mengantarkan minuman yang sudah di pesan Pak, Bayu. Apa Nyonya membutuhkan yang lainnya?"
"Ya, tolong buatkan teh panas dan bubur beras putih."
"Baik, Nyonya.." menutup panggilan, Anin kembali membasuh handuk kecil itu dengan air hangat untuk mengompres keningnya.
"Mas, kamu mendengarku?" Anin bertanya ketika Dirga masih terus mengingau memanggil namanya.
"Mas.. Buka matamu, ini aku.. Anin mulai cemas, ia menepuk pelan pipi suaminya agar tersadar
"Bangun, Sayang..."
****
Bersambung ❤️
Cinta dan kasih sayang mengalahkan segalanya 🤗
Mohon dukungannya yaa...
Terimakasih 🙏