
Dengan alasan ingin mengambil beberapa pakaian dan barang, ahirnya Dirga mengijinkan Anin pulang ke kontrakannya dulu. Dengan syarat tidak boleh pergi kemana-mana.
Ia membolak balikkan Black Card yang ada di telapak tangannya. Sebelum turun dari mobil Dirga memberikan kartu untuk ia gunakan. Seperti mimpi, seumur-umur baru ini ia melihat penampakan benda tipis seukuran KTP, yang katanya ber-isikan angka dengan Nol yang menggelundung banyak dan tidak ada habisnya alias kartu tanpa limit.
Dan hanya orang-orang tertentu saja yang memilikinya. Ia sempat menolak, karna ia pikir untuk apa? Dia masih memegang uang kes sebesar 200 ribu dan uang mahar sebesar 2 juta yang akan ia simpan sebagai sesuatu yang berharga.
Mercy itu sudah memasuki kawasan tempat tinggalnya.
"Nona Anin, nanti mau di jemput jam berapa?" Pak Dadang bertanya sebelum mobil sampai di depan rumah.
"Nanti, saya kabarin ya Pak. Mungkin masih lama, saya mau bersih-bersih rumah dulu."
"Iya Non."
*
*
*
Sesampainya di ruang kerja, Dirga sudah di sambut dengan setumpuk berkas di meja kerjanya.
"Selamat pagi Tuan." Siska masuk setelah mengetuk pintu. Sekertarisnya itu membacakan laporan jadwal kegiatan Dirga hari ini. Selain menghadiri rapat, yang akan di mulai satu jam lagi. Siska juga menyampaikan jadwal pertemuan selanjutnya.
"Tuan harus menemui Mr Leon perwakilan dari Eropa untuk jamuan makan malam di Botanica Restoran. Tempatnya sudah saya reservasi Tuan."
Dirga membuang napasnya. Sebenarnya hari ini, ia ingin cepat pulang. Menghabiskan lebih banyak waktu dengan Anin.
"Ada lagi? Jemarinya menarik salah satu berkas untuk di periksa
"Cukup Tuan, hanya itu."
"Temui Bayu. Minta dia datang ke ruangan saya."
"Baik." Siska berbalik menuju pintu keluar.
"Siska! Dirga memanggil sebelum sekertarisnya melewati pintu.
"Suruh OB buatkan kopi, tanpa gula."
"Baik Tuan."
"Si Bos ada apa ya? Tidak biasanya wajahnya ceria? Suaranya juga tidak sedingin biasanya?" Siska bertanya-tanya dengan langkah menuju ruangan Bayu.
Bayu datang menemui Dirga. Ia tidak mengetahui kedatangan Dirga yang sudah berada di ruangannya. Jika Ratna tidak memberi tau.
Dengan kacamata bacanya yang menggantung di hidung mancungnya. Ia nampak serius membaca isi dari lembaran kertas yang harus di tandatanganinya.
"Pagi tuan." Bayu menarik kursi yang berada di depan meja kerjanya. Selamat atas pernikahan Tuan. Bayu tersenyum, ia ikut merasakan kebahagian Dirga.
Ia salah satu saksi bagaimana Dirga selama 7 tahun terpuruk, menghabiskan banyak hari-harinya dengan bekerja. Dan ahirnya mampu melepas masalah yang membelitnya.
"Ya. Ya... Thanks Bay. Aku harap kamu juga akan segera menyusul." senyum bangga menghiasi sudut bibirnya.
Bagaimana aku bisa segera menyusul kalau di bebankan banyak tugas. Bayu menggaruk ujung alisnya.
"Ada kabar apa selama aku tidak ada?"
"Ratna mengajukan syarat."
"Syarat?" menaruh kembali kertas yang di bacanya.
"Dia meminta saham Wijaya Grup sebesar 15% sebagai ganti tandatangan."
Dirga tertawa dengan mengelengkan kepala.
"Siapa dia?! Berani negosiasi denganku! Gunakan apapun agar dia segera menandatanginya. Jika di perlukan kirim file videonya saat ia bersama Soni. Putus akses orang-orang yang di bayarnya. Jika dia tidak mau aku miskinkan!" rahangnya berubah mengeras.
"Aku menganggap urusanku dengannya selesai."
"Baik Tuan. Ada lagi?"
"Apa sudah mendapatkan tempat tinggal terbaik yang aku minta?"
"Sudah, Tuan. Untuk keterangannya akan saya kirim lewat Email. Anda bisa memilih mana yang sesuai dengan selera Nona Anin."
"Maaf Tuan, anda sudah di tunggu di ruang rapat." Siska masuk saat pembicaraan belum selesai.
*
*
"Lo butuh uang berapa!? supaya lo mau bantu gua!?"
"Ckk! Pria itu bedecak sebal.
"Ini bukan soal berapa lo sanggup bayar gua. Masalahnya posisi lo gak kuat Ratna! Dengan bukti yang mereka miliki lo udah kalah telak." mereka adalah Ratna dan Johan dua orang sahabat sepanti asuhan.
"Come on Rat! Berpikirlah secara logika. Harta yang di miliki Dirga bukan harta hasil bersama."
"Tapi 12 tahun Han gua jadi istrinya! Dan gua cuma nerima rumah sama uang 1 milyar!"
"Lo pikir donk!!" Ratna tetap dengan pemikirannya.
"Serah, lo deh! Gua rasa itu sudah lebih dari cukup. Lo pikirin lagi, gua cuma khawatir Rat. Semakin lama lo mengulur waktu, mereka bisa berbuat lebih."
"Lo pikirin juga Ibu Dini di panti, beliau pasti akan semakin sedih kalau tau lo begini."
"Gua baru sadar Han, kalo gua masih cinta sama Dirga. Gua gak rela dia sama perempuan lain. Gua yang dampingin dia dari mulai perusahaannya belum berkembang pesat seperti sekarang ini."
Intonasi suara Ratna sedikit melunak, raut wajahnya terlihat menyedihkan.
"Yahhh... Dan lo udah ngehianatin dia. Lima tahun bukan waktu yang singkat. Dan seandainya lo gak sampai hamil mungkin dia masih bisa maafin lo. Dan tujuh tahun dia berjuang sendiri tanpa lo. Jangan lupain itu."
"Gua harus gimana Han? Gua mohon, bantu gua. Apa lo punya rekomen pengecara lain? Berapapun gua bayar!"
Johan menggelengkan kepalanya dengan lemah. "Gak ada. Kalaupun ada gua yakin dia gak bakalan mau. Kecuali, dia sama gilanya sama lo."
"Sialan lo! Ratna mengumpat.
"Gua harus ketemu sama Dirga. Atau gua harus temuin perempuan itu?"
"Jangan gila lo!!" Johan benar-benar frustasi. Ia menyerah menghadapi sifat Ratna yang sangat keras kepala. Dia hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk yang akan merugikan dirinya sendiri.
*
*
Anin terbangun saat perutnya sudah mulai memangil minta di isi. Sesampai di rumah ia langsung membersihkan rumah dari debu. Membuka jendela supaya udara masuk dan matahari menembus ke dalam. Sebelum ahirnya ia tertidur pulas.
Keluar kamar, Ia berjalan ke dapur membuka kitchen set kecil yang tergantung di atas kompor. Ada berapa stok mie dengan merk yang banyak di gemari.
"Buat ini saja ah.." selain malas memesan makanan melalui aplikasi, ia sedang menginginkan makanan berkuah panas dengan irisan cabai.
Baru di bayangkannya saja sudah membuat ia menelan air liurnya. Makanan pemersatu bangsa itu menjadi salah satu makanan faporitnya.
Setelah matang, seperti yang biasa emak-emak lakukan. Di foto dan di posting dengan kepsyen. "Makan yukkk... Lagi pingin yang pedes-pedes nihhh..." ( hayooo siapa yang suka gituπ ) status itu dengan cepat tersebar ke penguna kontak di pertemanannya.
Termasuk Dirga.
Rapat yang sedikit alot menghabiskan waktu hingga 2 jam. Memakan waktu yang cukup lama karna ada masalah di bagian lapangan di tempat pertambangannya di tembagapura.
Ada beberapa orang yang berkepentingan yang berani bermain di belakang Dirga sebagai pemilik perusahaan. Dan dengan cepat Dirga mengeksekusi tindakan yang berakibat fatal bila di biarkan.
Ia membuka ponsel dengan niat akan mengirim pesan kepada Anin, menanyakan sudah makan apa belum? Dan, status Anin yang terlihat lebih dulu.
Ia langsung menghubungi saat itu juga.
Tuuuttt... Tuuuut....
Seketika langsung di angkat oleh pemiliknya.
"Kenapa makan mie? Buang! Jangan di makan! Pesan makanan yang layak! Atau, tunggu aku akan memesankan makanan untukmu!"
"I... Iya Mas." suara itu menghilang dan panggilan terputus.
"Dia belum tau apa! kalau mie makanan terenak di dunia!" Anin mengerutu tidak terima makanan faporitnya di katakan makanan tidak layak.
****
Bersambung β€οΈ
Kalau teman-teman gak sempat komen paling tidak kasih like ya π sangat berarti buat Author.
Gak janji, tapi aku usahain UP lagi hari ini. pinggang pegel euy π
Mohon dukungan like, komen, hadiah dan votenya π€
Jangan lupa simpan dalam faporit β€οΈ
Terimakasih... Salam sayang π