
Seminggu sudah berlalu dari pesta pernikahan mewah yang di gelar. Anin mulai menjalani harinya tidak beda dengan wanita bersuami lainnya.
Kesibukannya tidak jauh dari mengurus keluarga sebagai Ibu rumah tangga. Bu Rahma sudah kembali Solo tanpa membawa Alea. Begitu juga dengan Tuan Bastian dan Alyne, mereka sudah terbang ke Negara Singapura selisih satu hari sebelum kepulangan Bu Rahma.
Pagi ini Anin di sibukkan dengan melayani Bayi besarnya. Mengurus pria yang semakin manja dan posesif lebih repot dari mengurus Alea.
Sudah seminggu pula, Dirga di sibukkan dengan padatnya pekerjaan. Sehingga ia belum bisa mengajak Anin pergi untuk berlibur untuk berbulan madu.
"Mas, hentikan ... nanti Mas kesiangan."
Dirga tak ada hentinya menciumi kedua pipi istrinya yang semakin bulat. Bersyukurnya pipi itu ciptaan Tuhan, coba kalau buatan pabrik, mungkin pipi itu sudah gepeng akibat tekanan dari bibir suaminya.
"Nanti siang datanglah ke kantor, aku ingin makan bakso berdua denganmu."
"Bakso?" Anin terheran-heran dengan keinginan Dirga. Selama ia mengenal pria itu, menu bakso tidak pernah terucap dari mulutnya.
"Ya, dari kemarin aku menginginkan makanan itu. Kemarin siang saat di perjalanan menuju restoran untuk bertemu Client-ku, aku melihat kios penjual bakso."
"Bakso ada mie-nya loh Mas." Anin mengingngatkan Dirga karna, pria itu akan melarangnya kalau Anin menginginkan mie kemasan. Sehingga ia harus sembunyi-sembunyi membuatnya.
"Tidak perlu pakai mie … aku hanya menginginkan benda bulat itu saja.." ia meminta makanan itu sudah mirip seperti anak kecil yang meminta jajan kepada ibunya.
"Oh ya, Sayang. Bayu menitipkan sesuatu untukmu. Aku baru ingat dan baru sempat membawanya pulang." melepas pelukan Dirga mengambil bungkusan tipis yang hampir mirip dengan kado dalam tas kerjanya
"Apa ini Mas?" menerima bungkusan, ia menimbang-nimbang bungkusan yang terasa sangat ringan.
"Aku tidak tau, nanti saja di bukanya. Kita turun, semakin lama bersamamu, aku semakin malas berangkat kerja."
"Terimakasih Bik Asih.." Anin menerima piring dengan telur mata sapi di atasnya.
Bik Asih sudah menyiapkan hidangan lengkap di meja makan. Pagi ini, Anin tidak sempat membantu membuat sarapan seperti biasanya. Walaupun sebenarnya tidak harus ia lakukan.
Suami manjanya itu tidak mengijinkannya untuk turun setelah selesai melaksanakan ibadah. Dirga minta di temani dari mulai bangun, mandi, dan pastinya bukan hanya mandi, pria itu menggarapnya lagi dengan duduk di atas closet. Dengan alasan membutuhkan vitamin dan susu segar sebagai sarapan pembuka.
Sebagai pasangan baru yang lagi hangat-hangatnya, hasrat keinginan bercinta keduanya selalu menggebu. Dengan di ahiri membantunya mengenakan pakaian.
Untung ada Lia yang membantu mengurus Alea.
"Alea dimana Bik?" Anin bertanya sebelum Bik Asih kembali ke dapur.
"Selesai sarapan, Nona kecil minta di bawa jalan ke taman Non." selain nyaman, hunian di kawasan ini memiliki area taman bermain dan fasilitas olah raga untuk seluruh penghuni tempat tinggal.
Setelah mengantar suaminya sampai pintu, Anin kembali naik masuk ke dalam kamar. Ia membuka bungkusan yang di terimanya dari Dirga. Menarik selotip sebagai perekat kertas. Anin membuka lipatan kertas pembungkus itu.
Ia terkejut saat melihat isinya. Sebuah gaun tidur yang menjadi rebutan antara dirinya dengan wanita yang di cemburuinya. Merentangkan gaun berbahan satin lembut. Anin memastikan lagi, kalau gaun tidur dengan model chemise itu benar gaun yang di inginkannya.
Secarik kertas bertuliskan tinta hitam mengalihkan pandangannya. Ia membaca setelah meletakkan gaun itu di atas pangkuannya.
For Anindirra.
Aku kembalikan yang seharusnya menjadi milikmu. Maaf, pertemuan kita kurang menyenangkan.. ****Bahkan**** kita belum sempat berkenalan.
Aku tau kamu pasti cemburu karna aku memeluknya. Seperti itulah perasaanku saat melihat pria yang aku cintai bersanding denganmu di pelaminan.
So... Aku puas membalasmu. Hahahaha... Kita impas. Ok..
Saat kita bertemu kembali, aku harap kita bisa memulainya dengan berteman.
Stella
*
*
*
Menghempaskan punggungnya di sandaran kursi meja kerjanya. Hari ini perasaannya terasa kurang nyaman. Seminggu terpisah di antara dua Negara, membuatnya yakin akan perasaannya.
Tapi kata itu tak mampu terucap keluar dari mulutnya. Bayu sadar akan posisinya. Drajat dan status sosial yang di sandangnya, membuat ia harus berpikir kembali untuk mengungkapakan rasa di hatinya.
Ia besar dan tumbuh di tengah keluarga Wijaya. Nama besar itu berhasil mengangkatnya menjadi sosok pria yang memiliki kredibilitas yang kuat dan di segani di perusahaan Wijaya. Sampai dengan hari ini, orang akan menunduk hormat kepadanya karna ia orang kedua setelah Dirga.
Tapi itu semua tidak bisa menghilangkan statusnya sebagai anak seorang asisten merangkap supir. Menyandang nama Lesmana di belakang nama, menjadi kebanggaannya, tapi nama itu tidak akan kuat untuk menjadikan Stella sebagai pendamping hidupnya. Ia sangat mengenal Alfred Hugo.
Memijit pelipisnya dengan siku bertumpu di atas meja. Ia mencoba menenangkan pikiran dan hatinya.
Ia merasakan juga, apa yang di alami Dirga saat tidak bertemu dengan Anin. ia terkekeh pelan saat menyadari, ia akan mengikuti jejak Dirga. Merasakan galau seperti anak remaja.
*
*
*
Sesuai permintaan Dirga, Anin berangkat mengunjunginya di jam makan siang. Wanita sederhana itu turun dari mobil dengan di supiri Agus. Tangannya menenteng plastik berisikan bungkusan bakso yang ia beli dalam perjalanan menuju kantor.
Pria berseragam keamanan menyapanya dengan hormat. Pria itu sudah mengetahui kalau wanita yang pernah bekerja sebagai karyawan kontrak itu adalah istri dari pemilik perusahaan.
"Siang Nona." penjaga keamanan itu membantu membukakan pintu lift.
"Terimakasih Pak." dengan tersenyum ramah Anin membalasnya.
"Duh, si Neng. Beruntung betul nasibnya." Pria itu berucap setelah Anin masuk ke dalam lift.
Sebelum masuk ke dalam ruangan suaminya. Anin menghampiri meja kerja Siska yang berada di luar tidak jauh dari ruangan Dirga.
"Siang Bu Siska.." Anin menyapanya duluan. Sekertaris itu terlalu serius menatap layar komputer sampai tidak menyadari kedatangan Anin.
"Eh, Siang Nona Anin." ia langsung bangun dari duduknya saat mendapati istri bosnya sudah berdiri di depan mejanya.
"Bosnya ada di dalam kan?" tersenyum jail.
"Ada Nona, hari ini tidak ada jadwal ke luar."
Mengeluarkan satu bungkus bakso dari dalam kantung kresek. Anin memberikannya untuk Siska.
"Di makan ya.." menaruhnya di atas meja.
"Terimakasih Nona Anin. Wah, ini pasti enak." Siska menunjukkan sikap yang baik. berbeda saat pertama kali Anin ikut ke kantor. Wanita itu menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Mas..." ia menyapa Dirga yang tengah duduk di singgasananya. Pria itu sedang serius memberikan coretan berbentuk tanda tangan di atas kertas.
"Sayang..." pria itu tersenyum senang mengetahui siapa yang datang.
Meninggalkan pekerjaan, ia bangkit menyambut kedatangan istrinya.
"Aku kangen." bergelayut manja di pinggang istrinya. Dirga langsung mengendus aroma tubuhnya.
"Mas itu aneh banget sih..., kita itu baru beberapa jam tidak bertemu, tapi Mas sudah seperti ini. Kenapa, Sayang?" tangan kirinya mengelus penuh sayang pipi pria yang beberapa hari ini tingkahnya melebihi anak kecil.
"Kamu bawa apa, hemm?"
"Pesananmu … apa Mas tidak bisa mencium aromanya." melepaskan belitan tangan di pinggangnya, Anin menarik tangan Dirga agar duduk di sofa.
"Tidak. Aku lebih hapal dengan aroma tubuhmu."
****
Bersambung ❤️
Jangan bosan ya... Aku mintain terus dukungannya 🤗 like komen hadiah dan votenya 🙏
Terimakasih 😘 Met Maljum