
Melepaskan jas yang membungkus tubuhnya. Dirga memilih hanya mengenakan kemeja bluish black dengan menggulung lengannya sampai siku. Tidak lupa ia juga melepaskan dasi yang tergantung di lehernya.
"Mari Nyonya …supirmu akan mengantar kemanapun tujuan anda." Dirga mengulurkan tangan dengan sedikit membungkukkan badannya. Membuat wanita hamil itu tertawa melupakan kesedihannya.
Anin menyambut uluran tangan suaminya. "Jangan menyesal sudah menawarkan diri Tuan. Aku pastikan akan membuatmu kewalahan."
"Tidak akan. Aku akan mengajakmu kencan seharian."
"Siska, sampaikan ke Pak Radit untuk menghendle pekerjan hari ini." Dirga menyempatkan bicara saat melewati meja sekertarisnya.
"Cobalah Sis, ini enak." Anin memberikan kotak bekal yang di dalamnya berisikan kue cubit.
"Terimakasih Nona." Siska memperhatikan kepergian Bos dan istrinya dengan rasa kagum. Pasangan itu berjalan dengan saling menautkan kelima jarinya sampai hilang dari pandangannya.
"Oh.. So sweetnya... Kapan aku seperti mereka?"
Radit mengikuti arah pandang Siska yang mengarah ke pintu lift. Wanita itu masih tersenyum dengan kedua tangan menyatu di bawah dagu saat pria itu datang ke mejanya dengan ingin menanyakan keberadaan Dirga.
"Seperti siapa?"
"Pak Radit!? Sejak kapan Bapak ada di sini?" selain mengagetkan pertanyaan Radit membuyarkan hayalannya.
"Sejak kamu senyum-senyum dan bicara sendiri." Radit memperhatikan wajah Siska yang bersemu merah.
"Issh... Bapak itu mengganggu kesenangan orang saja." Siska menggerutu sangat pelan.
"Apa kamu bilang?" Radit mengerutkan dahinya.
"Tidak Pak, saya tidak bilang apa-apa." Siska tersenyum garing. "Saya Cuma mau bilang, Tuan Dirga meminta Bapak menghendle pekerjaan hari ini."
*
*
*
Dirga menunggu di sofa yang di sediakan dengan membuka satu majalah model pakaian pria. Ia menunggu Anin mencoba beberapa gaun dengan di dampingi wanita anggun pemilik dari butiq ini.
"Bagaimana kalau dengan yang ini?" wanita itu mengeluarkan rancangan terbarunya. "Selain memiliki bahan yang sangat lembut, bahan ini sangat nyaman di pakai …tidak akan membuat tubuh Nona berkeringat saat memakainya, apa lagi dalam kondisi hamil."
"Panggil Anin saja Tante. Tante sudah seperti Mommy Alyne." Anin merasa kurang pantas di panggil Nona oleh wanita berkelas itu.
"Baiklah An, Tante senang mendengarnya." Rossa tersenyum senang menatap Anin.
"Beruntung sekali Alyne mendapatkan menantu seperti dia, selain cantik, tidak sombong, dia juga bisa menghargai orang yang lebih tua." wanita itu bermonolog dalam hatinya.
"Anin memilih Cocktail Dres dengan warna kalem tetapi pas dengan warna kulitnya. Di tambah Hilter Dress hitam yang juga di sukainya. perut buncitnya belum terlalu besar sehingga ia merasa masih cocok memakai gaun yang di sodorkan Tante Rossa.
Sepasang dengan haigheels yang tidak terlalu tinggi yang senada warnanya, Anin sengaja tidak mencobanya di hadapan Dirga karena ia ingin memperlihatkan-nya nanti saat di pesta.
"Tante juga punya stok gaun yang wajip kamu pakai untuk memanjakan suamimu." Tante Rossa berbisik di telinga Anin. Membuat wanita hamil itu tersipu malu.
Rossa menunjukkan beberapa lingerie dengan warna-warna menggoda. Selama menjadi istri Dirga Anin memang sengaja tidak membelinya, ia hanya mengunakan gaun tidur tipis berbahan satin, itu saja sudah membuat Dirga menerkamnya, apalagi Linggerie yang transparan yang tak menyerupai pakaian.
Tetapi ia penasaran, bagaimana kalau ia menggunakannya? Memilih 6 warna yang berbeda, Anin setuju untuk memilikinya.
Tak lupa, Anin juga mengganti kaos dan celana legingnya dengan Dress santai yang terpajang menarik di manekin dan langsung di pakainya.
Ia tidak mungkin menggunakan kaos dan celana yang ia kenakan sehabis senam untuk mengajak Dirga nonton.
Dirga tersenyum melihat istrinya sudah berganti pakaian.
"Apa cocok untukku?" wanita hamil itu memutar tubuhnya.
"Ya sangat cantik, Sayang."
"Kenapa hanya ini yang di beli?" saat melihat paperbag hanya tiga.
"Tante tolong di bungkus lagi beberapa gaun yang cocok untuk istriku."
"Baik, Dirga." perintah Dirga tentunya sangat membuat Tante Rossa senang, ia memerintahkan karyawannya agar memasukkan beberapa stel Dress pesta dan rumahan ke dalam paperbag.
"Itu terlalu banyak, Mas. Pemborosan."
"Aku senang melakukannya. Sudah, jangan protes. Ini hari kita untuk melakukan banyak kesenangan. Kamu hanya boleh menerimanya. Tidak di ijinkan menolak. Uangku tidak akan habis hanya untuk membelikanmu pakaian dan perhiasan."
Setelah melakukan pembayaran yang cukup membuat mata siapapun terbelalak mengetahui nominalnya. Pasangan suami istri itu meninggalkan butiq dan melajukan kendaraannya ke sebuah mall terbesar dan terlengakp.
*
*
*
Saat dalam perjalanan.
"Mas, aku ingin itu." Anin menunjuk seorang bapak tua yang tengah berhenti di pinggir trotoar dengan tulisan rujak bebek di pikulannya.
Dirga menepikan mobilnya di pinggir jalan. "Mau apa, Sayang?" matanya ikut melihat kemana arah telunjuk Anin.
"Apa itu higienis. Bagaiman kalau kita cari di restoran saja?"
"Kalaupun ada tidak akan sama rasanya, Mas.. Aku ingin itu. Bukankah ini hariku?"
Anin mengingatkan janji Dirga yang akan menurutinya.
"Ya, ya.. Baiklah, aku kalah denganmu. Kamu tunggu disini, biar aku saja yang membelinya." Pria tampan itu turun dari mobil, ia menyebrang jalan demi mendapatkan apa yang di inginkan istrinya.
"Pak, buatkan satu porsi."
Pri tua itu sejenak terpana melihat siapa yang membeli dagangannya. Pria gagah tampan rupawan dengan wangi tubuh yang menguar di indra penciumannya. Belum lagi penampilannya yang sangat berbeda dari para pelanggannya.
"Pak, halooo.!" Dirga melambaikan tangannya dan membuat pria tua itu tersadar.
"Ya Den."
"Buatkan satu." Dirga ikut meneteskan air liurnya saat si bapak mulai menumbuk buah-buahan segar yang membuatnya tergoda.
"Terimakasih." Dirga memberikan 2 lembar kertas merah kepada bapak penjual rujak, dan membuat pria itu terkejut bukan kepalang. Disaat dagangannya masih utuh, ada pembeli pertama yang memberikan uang lebih untuknya. Mungkin tak seberapa untuk seorang Dirgantara, tetapi amat berbeda bagi orang dia yang membutuhkan.
"Terimaksih Den. Terimakasih, semoga Tuhan membalasnya dengan segala kebaikan." wajah si bapak terlihat gembira.
Berdua menikmati rujak bebek di dalam mobil. Menghabiskan satu porsi rujak bebek yang terasa segar dan nikmat rasanya. Mengambil tissue, Anin mengelap keringat di dahi Dirga, pria itu tidak terlalu kuat akan pedasnya, tapi tak membuatnya berhenti memakannya.
"Mas aku ingin makan nasi goreng kambing."
"Aku akan membawa mu ke restoran."
"Bukan di restoran Mas, tapi di pinggir jalan, dan bukanya nanti jam 5."
"Siap, Nyonya. Tapi sebelumnya Babby-ku harus makan siang dulu." menghidupkan mesin mobil, Dirga melajukan kendaraan, melanjutkan perjalanan menuju tempat sebagai tujuan utama.
Memilih resto yang menyediakan steak terbaik. Sepasang suami istri itu sedang menikmati sirloin steak daging sapi.
Dirga memotong-motong steak di piringnya hingga menjadi potongan yang pas di mulut. Ia memberikan untuk wanita tercintanya.
"Habiskan, Sayang." ia lalu memotong kembali steak di piring Anin yang akan di makannya.
"Bagaimana? Enak?"
"He'em... Enak, Mas." melahap steak daging dengan kentang goreng dan asparagus sebagai sayuran hijau. Juga fruity cocktail sebagai minuman.
:Pelan-pelan makannya, Sayang. kamu bisa memesannya lagi kalau kurang." Dirga menghapus saus hitam yang menempel di sudut bibir istrinya dengan mengunakan lidahnya. "Manis.." pria itu dengan santai melakukannya.
"Mas," Anin menengok ke samping, takut-takut ada yang melihatnya. "Kalau ada yang lihat bagaimana?"
"Biarkan saja." Pria itu cuek tak memperdulikan.
Sungguh hari ini mereka gunakan waktu berdua dengan sebaik-baiknya. Dirga berhasil mengembalikan mood istrinya yang sempat Down. Sesuai janji di hatinya, ia akan melakukan apapun untuk selalu membuat wanita kesayangannya selalu tersenyum bahagia.
Selesai makan siang, saat ini Anin tengah memilih film apa yang akan di tontonnya. Dari sekian banyak film yang terdaftar, wanita hamil itu menginginkan film action sebagai pilihan. Mungkin efek bawaan bayi, Anin ingin melihat aksi laga yang di perankan oleh aktor paforitnya.
"Good Boy. You are a real man."
( kamu memang pria sejati )
Dirga mengusap perut Anin dengan bangga.
****
Bersambung ❤️
Mohon dukungannya like komen hadiah dan votenya 🤗
Terimakasih 🙏😍