Anindirra

Anindirra
Chapter 131



Hingga sampai di 15 menit berikutnya rasa sakit bercampur mulas itu tiba-tiba kembali datang dan lebih lama dari sebelumnya. Rasa lembab dan berlendir terasa keluar dari jalan lahirnya.


Mengeceknya sebentar, Anin dapat melihat jelas cairan itu bercamur dengan warna kemerahan yang mengotori pakaian dalamnya. Dan Anin sudah bisa memastikan, tanda-tanda yang datang sudah menunjukan dengan jelas bahwa ia akan segera melahirkan.


"Mas, Mas.. Mas Dirga.."


Anin membangunkan suaminya dengan mengoyangkan lengannya. Tetapi pria itu masih dengan posisi terlentang, tertidur dengan pulasnya, bahkan mengeluarkan dengkuran halus efek kelelahan dan kurang tidur.


Anin menarik napas panjang dan menghembuskan-nya saat dirasa sakit itu semakin melilit memutari pinggangnya, berlomba dengan rasa mulas yang meremas perutnya. Ia berpegangan di sisi tempat tidur dan mencoba membangunkan suaminya lagi. Dan kali ini panggilan dan guncangan di lengannya sedikit lebih keras dari sebelumnya.


"Maass... Maasss... Mas Dirgaa..."


"Ya, Sayang." Dirga tersentak kaget membuka matanya dengan nyawa yang masih belum mengumpul sepenuhnya, pria itu terbangun karena mendengar panggilan yang keras di telinga saat ia masih berada di alam mimpi indahnya.


"Perutku mulas, Mas.. Sepertinya tanda-tanda akan melahirkan." Anin menyampaikan keadaannya


"Ya, Sayang.. Kamu akan segera melahirkan.."


Dengan suara berat khas bangun tidur, Dirga bangun dan menyandarkan punggungnya di headboard tempat tidur dengan mengusap-usap bantal yang di tumpuknya, ia mengira tumpukan bantal itu punggung Anin yang biasa di usapnya.


"Mas,!! Aku disini." Anin menepuk-nepuk kedua pipi Dirga agar pria itu tersadar dan kembali membuka matanya. Dengan berteriak menahan sakit, Anin kembali membangunkan suaminya.


"Mas,!! Baby-Boy-mu akan segera keluar!! Aku akan melahirkaaaannn.." Anin berteriak di depan wajah Dirga dan berhasil membuat Pria itu membuka matanya dengan sempurna.


"Apa??!! Kamu mau melahirkan? Sekarang?" seakan mengumpul menjadi satu titik kesadarannya. Dirga langsung melompat dari tempat tidur dengan balik berteriak.


"Ayokkk, Sayang, !! Kita harus segera ke rumah sakit." karena sudah menjadi kebiasaan tidur tidak menggunakan baju, Dirga berlari keluar dengan hanya menggunakan celana boxsernya. Ia berlari dengan kencang menuruni anak tangga tanpa membawa Anin Turun ke bawah.


"Mom!! Dad!!" Dirga menggedor pintu kamar Alyne dan Bastian dengan kencang hingga terdengar di telinga Bu Rahma yang posisi kamarnya berada dekat dengan kamar besannya.


"Bangun Mom.!! Istriku akan melahirkan."


Bu Rahma segera beranjak bangun dari tempat tidur dan membuka pintu bersamaan dengan Alyne yang juga membuka pintu kamarnya.


"Ada apa Nak?" Bu Rahma lebih dulu bertanya. karena Alyne masih dalam keadaan mengantuk dan belum sadar sepenuhnya.


"Bu, ayok berangkat. istriku akan segera melahirkan.." Dirga menyeret tangan Bu Rahma agar berjalan mengikutinya ke arah pintu depan.


Sedangkan Alyne masuk lagi ke dalam untuk membangunkan suaminya. Saat kesadaran sudah di dapatnya.


"Sebentar, Nak." Bu Rahma menahan tangan Dirga. "Istrimu dimana?" Bu Rahma bertanya saat ia tidak melihat keberadaan Anin bersama Dirga.


"Istri?" seakan tersadar bahwa terjadi kesalahan dan tidak mendapatkan keberadaan Anin disisinya. Dirga berteriak kembali.


"Astagaaa !! Aninku.." Dirga kembali berlari naik ke lantai atas dimana ia meninggalkan wanita hamil itu sendirian di dalam kamar dan membuka pintu dengan perasaan bersalah saat melihat Anin sedang meringis menahan sakit dengan mengusap perutnya.


"Sayang, maafkan aku.." tanpa bertanya dan bicara lagi Dirga langsung mengangat tubuh Anin dan membawanya turun ke bawah. Saat menuruni anak tangga, keduanya langsung di sambut Alyne dan Bastian yang membantu memegangi Anin dalam rengkuhan kedua tangan Dirga. Para pekerja pun ikut terbangun ketika Bu Rahma ke paviliun membangunkan Agus dan Pak Dadang untuk secepatnya menyiapkan mobil.


Dan kedua pria berstatus supir itu sudah siap dengan mesin mobil yang sudah di hidupkan, untuk segera berangkat ke rumah sakit. Dirga sudah masuk ke dalam mobil dengan Anin berada di sampingnya dan Bu Rahma berada di kursi depan.


"Mas,... Sshhhh..." Anin berdesis merasakan mulas yang semakin kencang di rasakan.


"Mana yang sakit, Sayang?" hatinya terasa ngilu menyaksikan istrinya kesakitan.


"Sakit, Mas.." Anin mencengkram tangan Dirga dengan bersandar di dadanya.


"Yang kuat, Sayang.. Aku harus bagaimana untuk bisa mengurangi rasa sakitnya?" suara Dirga bergetar menahan rasa sakit yang menghantam hatinya.


"Bantu di usap saja, Nak Dirga.., keadaan wanita yang akan melahirkan memang seperti ini. Harus sabar.." Bu Rahma membantu mengarahkan dari kursi depan dengan posisi berbalik menengok kebelakang.


"Gus.. Lebih cepat lagi."


"Baik, Tuan.."


"Gus, hati-hati.." Bu Rahma mengingatkan, ia sangat memaklumi menantunya itu sedang panik di landa kecemasan.


Tepat pukul 1 lewat 30 menit tengah malam. Mobil yang di kendarai Agus beriringan dengan mobil yang di kendarai Pak Dadang sampai di depan lobi rumah sakit. Dokter Arum yang telah sampai lebih dulu sudah siap menunggu, bersama para perawat jaga yang telah siap dengan brankar dorongnya untuk menyambut pasien nomor satu yang harus segera di tangani.


Alyne lebih dulu turun dari mobil dan langsung membantu membukakan pintu mobil yang membawa anak menantunya


"Ohh, Good. Kemana pakaianmu Dirga?"


Alyne bertanya saat melihat putranya tidak mengenakan pakaian. Bu Rahma dan Agus yang berada di dalam mobil langsung menatap pria yang tengah merangkul istrinya. Mereka juga baru tersadar kalau dari saat berangkat pria itu hanya menggunakan boxsernya.


"Aku lupa Mom.."


*


*


*


Dengan menahan rasa dingin, Agus harus rela melepaskan celana panjang dan kaos yang di kenakannya untuk di serahkan kepada sang Tuan. Sepanjang perjalanan pulang, Agus banyak berdoa dengan mengucapkan permohonan kepada Tuhan pemilik semesta alam.


Semoga tidak akan ada razia tengah malam yang akan menggelandangnya ke rumah tahanan akibat tuduhan pornografi karena hanya menggunakan kain segitiga sebagai pengaman atau tuduhan pria korban per**saan.


Sambil mengerutu tiada henti mengingat Pak Dadang yang tertawa cekikian, menyaksikan Agus yang sudah mirip tarzan. Pria itu berharap cepat sampai, kembali ke rumah besar untuk berganti pakain. Ia tidak bisa membayangkan juga, bagaimana reaksi Budi teman sekamarnya yang terkenal jail dan usil itu kalau sampai tau kejadian memalukan yang menimpanya. Sedangkan rekannya itu saat ini sedang bertugas malam berada di pos depan.


Membunyikan klakson, pintu gerbang itu terbuka dengan otomatis. Mobil yang di kendarai Agus melesat masuk ke dalam berhenti di halaman.


Mematikan mesin mobil, Agus tak segera keluar dari dalam mobil. Ia sedang berpikir mencari cara, bagaimana mendapatkan pakaian tanpa di ketahui rekan-rekannya. Yang pastinya akan menjadi bahan candaan dan ledekan.


"Ahh... ini semua karenamu Tuan.."


****


Bersambung ❤️