Anindirra

Anindirra
Chapter 104



Acara pesta di gelar setelah akad nikah sudah selesai di laksanakan. Tanpa ada hambatan, sumpah janji ikrar pernikahan beserta ijab kabul Bayu ucapkan di depan penghulu dan para saksi. Keluarga besar dan para sahabat tampak ikut terharu menyaksikannya.


Begitupun dengan pria blasteran eropa dan wanita berdarah melayu itu, kedua orangtua itu menyambut bahagia ketika pria yang telah sah menjadi menantunya itu menyalaminya dengan meminta doa dan restu seperti adat ketimuran yang biasa di sebut sungkeman.


Bak ratu dan raja, Bayu dan Stella sudah berdiri di pelaminan dengan gaun pengantin putih yang teramat indah. Bibir berlapis lipstik merah menyala itu selalu tersenyum bahagia, riasan natural ala-ala korea semakin menambah kecantikannya


Tak kalah dengan sang wanita, Bayu pun nampak sangat gagah dengan stelan tuxedo berwarna putih senada dengan gaun yang menjuntai panjang di sisinya. Rambut hitam klimis tampak rapih menyempurnakan wajah tampannya, ia tak kalah bahagianya. Aura itu terpancar keluar, hingga menular ke seluruh keluarga dan para tamu undangan.


"Uncle Bayu sama Aunt Stella selamat belbahagia." ucapan tulus seorang gadis mungil yang mengenakan gaun princess dengan mahkkota di kepalanya, gadis itu memberikan buket bunga krisan berwarna putih yang merupakan lambang dari keceriaan, optimisme, dan di percaya dapat membawa kebahagiaan dalam kehidupan pernikahaan.


"Thank you cantik. Dan selamat datang di pesta princess Alea. Aunt dan Uncle sangat menyukai bunganya." kedua pengantin itu menundukkan sedikit punggungnya untuk menerima buket dari tangan mungil dan bergantian mencium pipi yang terlihat menggemaskan.


Anin dan Dirga ikut naik, menyusul ke atas pelaminan. Suami istri itu tak kalah memukau, wanita hamil itu sangat cantik dengan gaun pesta yang di kenakannya. Membuat sang pria tak henti-henti menatapnya, seakan tak rela memperlihatkannya kepada dunia.


Begitupun dengan Dirga, ia terlihat tampan dengan stelan tuxedo senada warnanya dengan gaun istrinya. Ia berkali-kali lipat gagah tampan dan rupawan.


Mengucapkan selamat kepada kedua mempelai, rasa haru menyeruak di hati kedua pria itu saat berjabat tangan dan berpelukan. Ahirnya, bukan hanya Dirga yang telah menemukan dermaga untuk kapalnya bersandar pulang, tetapi Bayu pun telah mendapatkan cinta sejatinya dan menemukan pelabuhan terahirnya. Meninggalkan kesendirian selama dua puluh tahun lamanya.


Satu persatu para pekerja yang mengenal Bayu pun ikut naik dan mengucapkan selamat. Di mulai dari Pak Dadang salah satu pekerja yang paling tua di antara yang lainnya, yang sangat Bayu hormatinya. Bik Asih kepala asisten rumah tangga yang amat setia, Lia pelayan baru yang sanggup menunjukkan loyalitasnya, Agus keamanan rumah yang merangkap supir kesayangan Nona Alea.


Budi menjadi kepala keamanan karena kesigapannya dalam hal apapun.


Di susul para petinggi perusahaan Wijaya Grup dari pusat yang menyempatkan datang. Di pesta ini semua membaur menjadi satu, dengan tidak membedakan ras, suku, dan agama. Tidak ada perbedaan kasta dan pangkat maupun derajat. Semuanya berdiri di tempat yang sama, ruangan yang sama, hidangan yang sama dan menghirup udara yang sama.


Radit dan Siska tak lama tiba setelah dua jam pesta berlangsung. Mereka berdua tak sempat ikut bareng dalam satu pesawat pribadi dengan yang lainnya karena harus menyelesaikan pekerjaan dengan bertemu client mewakili Dirga.


Tak ketinggalan pasangan romantis lainnya. Dokter Hendra dan Mayang istrinya menjadi salah satu undangan yang hadir di tengah-tengah pesta.


Diego, salah satu sahabat di antara Dirga dan Hendra, pria pemilik club malam yang masih berpetualang mencari cinta itu baru tiba dari italy. Ia menyudahi waktu berliburnya karena ingin hadir saat mendengar kabar Bayu menikah.


Begitupun dengan Artea, sepupu Dirga, pemilik Artea wedding organizer, wanita matang itu sudah dua hari tiba di singapore untuk membantu menyempurnakan persiapan pesta.


Dari atas pelaminan, Bayu dapat menyaksikan seluruh keluarga, para orangtua, sahabat, relasi, dan para pekerja dalam satu perusahaan dan pekerja lainnya. Saling bercengkrama saling membentuk kelompok mengobrol bersama. Dirga juga ikut menyambut dan berbincang dengan para pengusaha yang datang.


"Kamu lelah Ste?" Bayu mulai mengkhawatirkan wanita yang telah sah menjadi istrinya.


"Aku akan memintamu memijitku nanti." Dengan senyum malu-malu Stella menjawabnya.


"Jangankan hanya sekedar memijit, lebih dari memijit pun aku siap." Bayu mengedipkan matanya


Mereka dua orang pria dan wanita dewasa yang sudah mengerti akan kebutuhannya. Tidak perlu ada drama dengan alasan belum siap, takut, malu, ataw yang lainnya untuk menunda, tetapi mereka ingin segera menuntaskan keinginannya. Mereka juga bukan lagi pengantin muda yang memiliki gengsi dan pura-pura tak suka.


Kalau tak mengingat banyaknya tamu yang naik untuk mengucapkan selamat, mungkin keduanya segera kabur meninggalkan pesta. Bayu dan Stella akan lebih memilih pesta berdua di dalam kamar yang telah di persiapkan. Berharap mereka bisa menghilang dalam sekejap.


Meninggalkan Dirga yang tengah sibuk mengobrol, menjamu para pebisnis dan kedua sahabatnya, wanita hamil itu lebih memilih ingin berpetualang berburu makanan. Beberapa hidangan nampak menggoda matanya sedari tadi.


"Mau kemana Nak?" Alyne bertanya saat melihat menantunya hendah melangkah pergi.


"Aku ingin mencicipi hidangan Mom.."


"Oh ya ampun, cucuku lapar rupanya …ya sudah, makanlah. Jangan menunggu suamimu, para pria-pria itu akan lupa kalau sudah membahas masalah bisnis."


"Tidak Mom, aku bisa sendiri. Jangan khawatir."


Anin mulai mencari hidangan enak dari makanan pembuka hingga penutup. Tersedia juga beberapa macam makanan berat hingga makanan ringan. Beragam menu makanan dari mulai Indonesia, melayu, india, china, dan peranakan, semunya lengkap.


Ibu hamil itu memilih zuppa soup sebagai makanan pembuka, agar menghangatkan perutnya sebelum antrian itu panjang, mengambil satu mug, ia mulai memasukkan satu sendok kedalam mulutnya. Ia sangat menyukai sup crim yang di tutupi dengan kulit pastry di bagian atasnya, sungguh lezat rasanya.


Ia melihat Para pekerja rumahnya pun tengah menikmati kambing guling khas timur tengah, dan Alea tengah menikmati sate. Beberapa kudapan dan makanan berat khas melayu pun tidak kalah menggodanya, laksa hangat citarasa asli khas negara singapura. Rasa khas laksa yang gurih dan bersantan membuat Anin ingin mencoba.


Baru saja ia akan menyentuh mangkuk marmer, seorang pria bermata biru dengan hidung mancung menyapanya.


"Hai Nona …perlu bantuan?" Pria itu tersenyum manis menawarkan diri.


Anin menengok melihat pria itu. "Oh, tidak Tuan, terimkasih." Balas tersenyum, Anin menolaknya dengan halus.


"Anda berasal dari Indonesia?" Pria itu bertanya dengan bahasa indonesia yang masih belum begitu lancar.


"Ya, saya dari Indonesia."


"Pantas saja, anda sangat menarik dan sangat cantik. Kenalkan nama saya Edward." Pria itu tersenyum sambil mengulurkan tangannya.


Sebelum Anin menyambut uluran tangannya, tangan kokoh seorang pria lebih dulu menyambarnya.


"Kenalkan, saya suaminya! Dirga. Dirgantara Damar Wijaya." sambil berjabat tangan, sorot matanya tajam menunjukkan ketidaksukaannya.


Pria posesif itu tiba-tiba datang dengan cepatnya. Sebelumnya, saat tengah asik berbincang-bincang dengan Hendra dan Diego, Dirga menyadari ketiadaan istrinya yang berdiri bersama Mommynya.


Matanya mulai mengitari gedung mencari keberadaan Anin.


"Kamu mencari istrimu?" Alyne bertanya ketika melihat putranya celingukkan.


"Ya Mom. Aku mencari istriku."


"Menantuku sedang mencari makanan, cucuku sepertinya sangat lapar."


Matanya menangkap wanita yang di carinya dan sedang berbincang dan tersenyum manis dengan pria lain di area makanan. Tanpa mengeluarkan kata ia meninggalkan Alyne dan segera melangkah menuju dimana Anin berada.


"I'm Sorry …saya pikir dia masih Single, karna tidak ada yang mendampingi." Pria luar itu tersenyum penuh arti menatap wanita hamil yang tak memiliki rasa curiga kepada siapapun.


"Dia bersamaku Tuan, jadi jangan coba-coba. Saya rasa anda paham!" Dirga mulai sedikit terpancing emosinya. Sebagai lelaki ia bisa merasakan arti tatapan pria itu kepada istrinya.


"Ayo, Sayang... Cari menu yang lainnya."


Menunjukkan kepemilikannya, Dirga merengkuh pinggang Anin dengan posesif, membawa wanitanya menjauh dari pria yang berhasil membuatnya terbakar cemburu.


****


Part selanjutnya siap-siap tarik napas yehhh sayang-sayangnya akuhhh 😍 like komennya donkkk 🙏😁


Bersambung ❤️