
Pagi ini, Anin tidak menolak saat Dirga memintanya untuk ikut ke kantor. Walaupun sebenarnya ia merasa was-was. Akan ada banyak mata yang melihat dirinya bersama dengan Dirga. Dan, akan ada banyak pula pertanyaan dari karyawannya.
Sudah terbayang di benak pikirannya, pasti akan timbul omongan kurang sedap yang harus ia terima dengan lapang dada.
Pengantin baru itu, sedang dalam perjalanan yang akan membawa mereka ke gedung perusahaan Wijaya Group.
Berulang kali Anin menarik napas lalu membuangnya dengan pelan. Nervous membuat telapak tangannya berkeringat.
"Ada apa, hemm.?" Dirga bertanya saat merasakan telapak tangan Anin sangat dingin ketika di genggamnya.
"Tidak pa-pa Mas, aku hanya khawatir, kehadiranku akan merusak reputasimu."
"Rileks, Sayang..., jangan di pikirkan. Cepat ataw lambat mereka harus tau siapa istriku.
"Tapi, kita..." Anin tak melanjutkan ucapannya.
"Kita sudah suami istri. Tidak perduli sirih ataw resmi. Bagiku kamu istriku. Istri dari pemilik Wijaya Group. Jangan takut, aku pastikan tidak akan ada yang berkata buruk kepadamu."
"Tunggu aku di ruanganku, sampai aku selesai bertemu dengan beberapa orang dari media."
"Media? Maksudnya Mas akan mengadakan konferensi pers?"
"Tidak, Sayang … aku hanya akan melakukan sesi wawancara untuk majalah bisnis. Nanti kamu bisa melihatnya melalui LED di ruang kerja suamimu. Kamu bisa mendengar apa yang akan aku jelaskan."
"Setelah itu, aku akan mengajakmu ke suatu tempat."
"Kemana? Anin bertanya dengan antusias.
"Kejutan, Nyonya … dan aku akan meminta imbalan dobel kepadamu."
( sama seperti pembaca yang selalu minta dobel up 😁 )
"Mas..." Anin membekap mulut Dirga.
"Ada Pak Dadang." ia berbisik di telinga pria, yang tidak bisa di tolak kalau menyangkut urusan yang satu itu.
"Pak Dadang." Dirga memanggil setelah bekapan tangan Anin terlepas.
"Ya, Tuan."
"Bapak mendengar pembicaraan kami?"
"Tidak Tuan." supir yang selalu setia itu fokus dengan kemudinya. Walaupun mendengar ia tidak akan bicara. 'Iya'
Anin mengeleng parah. "Baiklah Tuan pemaksa, aku akan menunggu kejutan apa yang akan aku terima."
Pak Dadang memarkirkan mobilnya di parkiran khusus para petinggi perusahaan. Seperti biasa, setelah menyelesaikan tugasnya. Ia akan pergi ke kantin untuk mengisi perutnya.
Berjalan bersisian masuk lobi. Tangan Dirga tidak lepas menggenggam tangan Anin. Kedua tangan itu saling bertautan. Para securitiy dan resepsionis membungkuk hormat melihat kedatangan Dirga dengan seorang wanita yang mereka ketahui karyawan kontrak perusahaan ini.
Para karyawan yang barus saja tiba pun terheran-heran. Saat menyaksikan pemilik perusahaan mereka merangkul pinggang seorang wanita menunggu lift terbuka. Tetapi tidak banyak juga yang mengenal Anin. Selain beda departemen. Anin juga belum lama bekerja di perusahaan ini.
Sampai di ruang kerja Dirga, Anin membuang napas dengan lega. Ia langsung duduk bersandar di sofa.
Di ikuti Dirga duduk di sampingnya.
"Sudah lebih baik?" Dirga membawa tubuh tegang itu ke dalam pelukannya.
"Ya Mas, aku baik-baik saja. Aku harus terbiasa dengan situasi seperti ini."
"Good. Kamu pasti bisa, Sayang … angkat kepalamu. Jangan menunduk seperti tadi. Kamu boleh bangga dengan statusmu saat ini. Jangan merendahkan dirimu dengan menjatuhkan kepalamu. Ada saatnya kamu tertunduk. Ada saatnya kamu menegakkan kepalamu."
"Siap Bos." Anin tersenyum dengan mengangkat tangannya.
Di balas kecupan singkat oleh Dirga di kening juga bibirnya.
"Mau sarapan apa? Aku akan meminta Siska memesankan makanan."
"Aku ingin nasi pecel."
"Nasi pecel?" untuk Dirga, ia tidak pernah sarapan dengan menu yang di inginkan Anin.
Tidak lama. Siska masuk ke dalam ruangan. "Selamat pagi Tuan Dirga." Sekertaris itu terkejut, mendapati ada seorang wanita tengah duduk di samping Bosnya.
"Siapa dia?" melirik Anin, Siska bertanya dalam hati.
Seperti biasa. Siska mulai membacakan kegiatan Dirga hari ini. Termasuk sesi wawancara yang akan di mulai pukul 10.
"Kosongkan jadwalku setelah makan siang."
"Baik, Tuan."
"Pesankan makanan. Nasi pecel satu porsi, sanwich dua. Dengan minuman hangat."
Keluar dari ruangan Bosnya, Siska menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia mengingat-ngingat siapa wanita yang bersama Dirga.
"Sepertinya, aku pernah melihat wanita itu. Tapi, dimana ya?" sibuk dengan pikirannya, tanpa sengaja ia menabrak seorang OG.
"Aduh! Bu Siska! Untung saja air pelnya tidak tumpah." office Girls itu sedang mendorong troly berisikan ember dan peralatan kerjanya.
"Maaf mbak, saya gak liat."
"Gimana mau liat, Bu Siska jalannya serius bener."
"Kamu liat yoyon gak?" Siska mencari keberadaan OB yang biasa menyiapkan makanan untuk Dirga.
"Masih di pantry Bu."
"Oh, iya makasih ya."
*
*
*
"Aa..." Anin meminta Dirga membuka mulutnya. "Ini enak Mas, ayo di coba dulu. Kalau mas tidak suka, Mas boleh memuntahkannya."
Membuka mulut ia menurut memakan sesuatu yang masih asing baginya. Bukannya tidak tau dengan menu yang bernama nasi pecel. Hanya saja ia tidak terbiasa memakannya.
"Sedetik … dua detik … Dirga mulai merasakan nikmatnya makanan itu.
"Enak?" Anin memastikan suaminya menyukai apa tidak.
Dirga menganggukkan kepalanya. "Enak."
Dengan lahap keduanya makan nasi pecel sepiring berdua. Berbagi makanan dengan satu sendok yang sama, sampai makanan itu habis tak tersisa. Dengan teh hangat sebagai penutup.
Bayu masuk setelah OB yang bernama yoyon itu selesai membereskan piring bekas sarapan. "Terimakasih, Mbak Anin." ia menerima satu sanwich yang di berikan oleh Anin. "Ehh, maaf... Nyonya maksudnya." OB itu menerima tatapan tajam dari Dirga, saat ia memanggil Anin dengan panggilan Mbak.
Selain berkirim pesan dengan Dewi yang menanyakan kabarnya, Anin juga asik membuka sosmed miliknya. Ia tidak mendengarkan dan ikut campur obrolan Dirga dan asistennya yang tengah duduk berhadapan di kursi meja kerja.
Dirga dan Bayu terlihat fokus membicarakan banyak hal. Beberapa laporan pekerjaan dan urusan pribadi Bayu sampaikan dengan rinci.
Dirga tersenyum puas saat menerima selembar kertas dari pengadilan yang sudah di tandatangani oleh Ratna.
Flashback.
Ratna sempat bersitegang dengan Hadi Darma di ruangannya. Ia merasa tidak terima dan terintimidasi. Ia merasa di paksa harus memberikan tanda tangannya di kertas berstempelkan pengadilan agama.
"Terserah anda Nyonya. Pilihan anda hanya dua. Tanda tangani dan skandal anda akan tertutup rapat. Ataw nama baik anda akan rusak, dan Tuan Dirga akan menarik segala aset yang telah dia berikan."
"Kalian semua memang brengsek! Saya tidak terima di perlakukan seperti ini. ini tidak adil buat saya!"
"Jangan mempersulit diri anda Nyonya. apa yang anda terima sudah lebih dari cukup. Selain rumah dan uang 1milyar. Mobil BMW yang anda pakai pun Tuan Dirga berikan kepada anda."
"Apa tidak ada uang bulanan?"
"Tidak ada Nyonya. Karna Tuan Dirga tidak memiliki anak selama pernikahan."
Dasar sial Jadi sekarang aku hanya mengandalkan sisa uang di rekeningku dan uang satu milyar yang akan aku terima. Dan semua kartu kredit sudah dia blokir . Ratna mengumpat dalam hatinya.
"Bagaimana? Waktu saya tidak banyak. Saya masih harus bertemu dengan client saya Nonya Ratna."
Dengan tidak rela, ahirnya Ratna menandatangani surat yang di sosdorkan oleh pengecara itu.
Dengan hati kesal dan marah Ratna meninggalkan ruangan pengecara itu tanpa sepatah kata pun. Menenteng tas mahalnya seharga ratusan juta, ia masuk lift tanpa menghiraukan panggilan dari Johan.
Otaknua sedang berpikir, tindakan apa yang akan ia lakukan, untuk membalas sakit hatinya.
****
Bersambung ❤️
Semoga tidak pernah bosan ya memberikan dukungannya untuk Author baru ini 🤗
Like, komen, hadiah dan votenya aku tunggu 🙏
Terimakasih. Salam kenal semuanya 😘