
Hari ini telah tiba waktunya untuk seluruh penghuni rumah berkemas dan bersiap-siap berangkat menuju bandara Soekarno Hatta. Bandara terbesar yang menjadi kebanggan negara Indonesia. Mereka semuanya akan terbang ke negri singa untuk menghadiri berlangsungnya acara pernikahan Bayu Lesman Dan Stella Hugo yang akan di gelar tepat sore nanti.
Sama seperti saat Dirga melangsungkan akad nikah, Bayu pun sama, pria itu memilih waktu sore agar tidak terlalu lama waktu jedanya untuk langsung merayakan pesta pernikahan menjelang petangnya.
Dirga menempatkan kemanaan yang di sewanya dari salah satu yayasan untuk menjaga rumah mewahnya selama di tinggal beberapa hari olehnya dan para pekerja. Sudah mirip mau pulang kampung menyambut lebaran, hari ini di sambut gempita dan suka cita.
Masing-masing sibuk mempersiapkan diri dengan barang bawaannya. Memadu padankan pakaian apa yang akan di kenakan. Euphoria di rasakan menjelang keberangkatan.
Di kamar utama.
Anin sedang memasukkan pakaiannya dan pakaian Dirga juga kebutuhan yang lainnya. Memilih beberapa dasi dan stelan tuxedo yang akan di kenakan suaminya saat di pesta. Sedangkan Dirga, pria itu sedang berkoordinasi dengan pimpinan kru pesawat melalui sambungan telfon di balkon kamarnya, walaupun sebelumnya Radit telah mempersiapkannya.
Juga di kamar sebelah yang berada satu lantai dengan kamar orangtuanya. Lia sudah selesai mengepak pakain gadis kecil itu yang sudah tidak sabar ingin segera berangkat. Alea sudah rapih mengenakan dres tengtop dengan rambut di gelung dan poni sebagai ciri khasnya.
Menarik tangan Lia agar segera turun ke bawah, ia ingin ke taman untuk berpamitan kepada kedua burungnya, burung dengan bulu berwarna hitam itu sudah bertengger manis di dalam sangkar. Benar seperti yang di ucapkan Papinya, bila sudah waktunya gagak itu akan menurut kembali pulang dan masuk ke dalam sangkar.
"Sayang, sudah selesai?" Dirga bertanya berjalan dari arah pintu balkon.
"Sudah Mas, tinggal menurunkan koper ke bawah." Anin masih merias diri di depan kaca meja riasnya.
"Di habiskan susumu." Dirga menyodorkan gelas berisi susu ibu hamil yang masih setengah lagi. Gelas itu berada di atas nakas yang sedari tadi di cueki oleh pemiliknya. Kalau tidak di paksa dan di awasi, Anin sangat sulit meminum susu dengan alasan tidak menyukai baunya dan membuatnya mual.
Tok Tok Tok
"Ya, Masuk.." Dirga menyahut ketika pintu kamarnya di ketuk dari luar.
Muncul Agus di ambang pintu. "Tuan, kopernya akan saya bawa turun." Agus masuk mengambil koper yang akan ia masukkan ke bagasi mobil.
"Yang lain sudah siap Gus?"
"Sudah Tuan, begitupun dengan kendaraannya." Agus segera turun dengan menyeret koper yang berukuran sedang.
Menggunakan jumsuit celana dengan dalaman kaos, membuat wanita hamil itu tampil cantik, sama halnya dengan Dirga, pria itu tampil santai dengan celana pendek chino dengan kaos putih yang sama warnanya dengan kaos yang di gunakan Anin.
"Lets go Boy. Kita harus segera berangkat." Dirga menurunkan punggungnya untuk bisa mencium perut Anin sebelum meninggalkan kamarnya.
*
*
*
Burung besi itu terlihat gagah dengan kedua sayap panjangnya. Kemewahan nampak jelas dari setiap sudut lekukan bodinya. Pesawat itu siap terbang untuk membawa sang Tuan beserta rombongan menerjang angin di atas cakrawala, dengan sayap kokohnya, ia sangat terlihat tangguh dan memukau. Berdiri kokoh di landasan pribadi, seluruh kru, pilot dan co-pilot beserta teknisi telah siap menerbangkannya di atas langit lepas.
Wajah pucat dan doa tak lepas mereka panjatkan saat pesawat mulai naik setelah tinggal landas tatakala semua roda-rodanya telah lepas dari permukaan landasan pacu. Perlahan pesawat itu mulai terbang naik di atas ketinggian. meninggalkan daratan dan akan berada di atas permukaan gunung dan lautan.
Sangat biasa bagi sang pemilik tetapi tidak bagi dua pekerjanya yang saling berpegangan tangan untuk saling menguatkan.
Alea tertawa terbahak-bahak saat melihat Agus ketakutan dengan mata terpejam. Tangannya mencengkram sandaran lengan dengan punggung dan kepala ia rapatkan di sandaran kursi. Wajahnya mengerut dan pias.
Baginya si gadis mungil, pemandangan itu sangat lucu dan menjadi hiburan. Begitupun dengan Bik Asih yang mulutnya tak berhenti komat kamit melafadzkan banyak doa. Dengan kursi saling berhadapan, Gadis kecil itu memilih duduk di antara para pekerja, sedangkan Anin dan Dirga berada paling depan.
Ia menambahkan volume suara tawanya ketika melihat celana pria yang selalu setia mengantar jemputnya sekolah itu basah.
"Hihihi... Pak Agus ompoll..." Alea berkata sambil telunjuknya mengarah ke bagian celananya. "Pak Agus jolookkk... hahaha.."
Lia yang duduk di samping Alea berhadapan dengan Bik Asih ikut melihat apa yang di tunjukkan momongannya.
"Aguuuusss... Jorok ihh..!!" bersamaan dengan Bik Asih yang juga mengeplak lengannya.
"Astagfirullah hal adzim.. Agusss.! Kamu teh ngompol?"
"Enggak Bik, saya gak ngompol."
"Buka mata kamu. Tuhhh lihat?"
Dengan perlahan, Agus mengintip, membuka matanya pelan-pelan, ia menunduk melihat sesuatu yang baru saja di rasakannya. 'Hangat'
"Astaga!! Kog bisa Bik?" ia juga ikut syok mengetahuinya.
"Tanyain sama yang nempel di situ? Kenapa bisa? Jangan tanya Bibik!" sambil berganti memukul pundaknya dengan greget.
Lia menutup mata Alea. "Jangan di lihat Non. Bahaya! Itu beracun."
Tetapi Alea masih terkikik. Gadis mungil itu belum bisa menghentikan tawanya.
"Pak Agus lutuuu.... Kaya temen aku di cekolah cuka ompooll... kata bu gulu kalo cuka ompol belalti belum di cunat ititnya."
"Hussttt... nanti kedengaran Papi." Lia bicara berbisik, menempelkan jarinya di bibir mungil itu. Walaupun ia juga harus menahan tawanya.
Pak Dadang dengan Budi yang duduk di samping hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan rekannya yang phobia akan ketinggian.
"Tapi celana saya di tas Bik."
"Ya ambil."
"Saya lupa di taruh dimana Bik." amnesia mulai menyerangnya.
"Kamu kan menaruhnya di loker, itu di atas kepala kamu. Cepetan ganti sebelum tembus ke kursi."
"Iya, iya Bik." Pria itu melepas sabuk pengaman dan berdiri mengambil celana ganti.
Mendengar kegaduhan di kursi belakang dan mendengar suara Alea tertawa membuat Anin juga ikut bertanya-tanya. Ada apa di belakang?
Seorang pramugara mendorong troly membawakan minuman dan makanan sesuai pesanan ibu hamil yang selalu merasa lapar. Dirga mengikutsertakan seorang koki pria untuk melayani selama dalam penerbangan.
"Kak, tolong tanyakan kepada gadis kecil di kursi belakang, dia mau pesan apa? Dan yang lainnya juga ya."
"Baik Nyonya."
Anin mulai menyantap sup iga yang di inginkannya dengan sesekali menyuapi suaminya agar ikut merasakan rasa nikmat makanan hasil olahan tangan koki yang di pilihnya.
"Cukup, Sayang. aku sudah kenyang, kamu habiskan."
"Ea mau kentang goleng." ketika pramugara itu menanyakan apa yang mau di pesannya.
Pria berseragam itu mencatat semua pesanan para penumpang pesawat pribadi, yang memang tidak ada yang sempat sarapan karena sibuk mempersiapkan diri dan barang-barang.
Agus kembali dari kamar mandi sudah dalam keadaan bersih dan wangi. Petamakalinya pria itu baru merasakan naik pesawat. Dan juga, ia sangat takut akan ketinggian.
"Bik ingetin!"
"Nanti pas kita kembali ke Indonesia. Ujung burungnya si Agus harus di iket dengan tali rapia!"
Budi yang duduk di samping Pak Dadang ikut berkomentar.
****
Bersambung ❤️
Happy Weekand 🤗 jangan lupa jempol dan dukungannya 😍
Terimakasih 🙏😘