
"Kalau begitu lepaskan aku! Pergilah bersenang-senang dengan wanitamu."
Tiba-tiba tengkuknya di tarik dengan paksa. Steven mencium bibir Stella dengan kasar. Mengunci tubuhnya di atas sofa, pria itu mengigit memaksa Stella membuka mulutnya.
Di tengah bisingnya suara musik, Stella berusaha melepaskan diri. Tanpa ia ketahui saat Steven naik ke atas, ia menyuruh anak buahnya untuk menyuruh teman-teman Stella pergi meninggalkan Lounge.
Demi terbebas dari Steven, ia balas mengigit bibir pria yang sedang melecehkannya hingga berdarah.
"Oh, Dam!!" Steven megusap bibirnya yang terasa sakit setelah ciuman itu terlepas.
Mendapatkan celah, Stella langsung menyambar tasnya dan berlari turun ke bawah. Dengan terseok-seok ia mempercepat langkahnya untuk keluar dari dalam club menuju parkiran. Ia takut Steven akan mengejarnya.
Dengan tangan gemetar ia mencari kunci di dalam tasnya. 'Bip' suara kunci mobil terbuka terdengar setelah menekan tombol membuka.
Menghidupkan mesin mobil, Stella melajukan kendaraannya keluar dari parkiran gedung night club. Dengan berderai air mata ia terus mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh.
Stella menghentikan mobilnya di sisi jalan, di tengah jantung kota negri singa.
Menempelkan kening di punggung telapak tangan yang bertumpu di kemudi stir, ia tergugu menangis.
Ia memang wanita manja yang terkadang arogan. Ia akan selalu berusaha mendapatkan semua keinginannya. Tidak jarang, ia juga senang menghabiskan ahir pekan dengan clubbing bersama teman-temannya. Tapi kalau menyangkut kehormatan ia sangat menjaganya.
Ia tidak pernah pacaran apa lagi melakuakn *** bebas. Dengan umurnya yang sudah bukan remaja lagi. ia bahkan belum pernah berciuman. Mungkin sebagian orang yang belum mengenalnya tidak akan mempercayainya. Karna selama ini, ia selalu berpakain seksi dan modis.
Wanita itu masih menundukkan kepalanya. Suara tangis masih terdengar terputus-putus. Ia merindukan sosok pria yang sudah mampu membuatnya nyaman. Kalau boleh meminta ia ingin Bayu ada saat ini di dekatnya. Sungguh, ia sangat menginginkankan Bayu.
Tok Tok Tok
Ketukan di kaca jendela mobil mengejutkannya. Perlahan ia mengangkat kepala, mengusap airmata di kelopak matanya, ia memperhatikan siapa pria di balik jendela, jangan sampai Steven menemukannya. Lama ia terdiam dengan segala ketakutannya. Sampai suara itu memanggilnya.
"Ste, buka pintunya."
"Ste..." Pria itu memanggilnya lagi dengan msngetuk pintu.
Deg
Hanya Bayu yang memanggilnya seperti itu. Ia memperjelas penglihatannya, memperhatikan wajah dengan punggung menunduk di balik kaca.
"Ba-Bayu!!" antara percaya dan tidak, ia melihat sosok pria yang baru di mintanya.
Membuka pintu mobil ia langsung memeluk pria itu dengan kembali menangis. Ia tidak perduli dengan lalu lalangnya kendaraan dan orang yang lewat. Ia terus memeluknya di bawah lampu jalan dengan sinar yang terang.
"Aku tidak sedang bermimpikan? Kamu benar Bayu? Ya, kamu benar Bayu."
Flashback.
Selama dua hari, bayu sangat di sibukkan oleh pekerjaan yang di limpahkan kepadanya. Bahkan Dirga meminta untuk di wakilkan bertemu dengan pihak investor di luar kantor. Pria itu sedang uring-uringan dan tidak bisa jauh dari istrinya.
Bayu sampai harus meminta Anin datang ke kantor setiap hari, agar beberapa dokumen kontrak dan laporan keuangan segera mendapatkan tanda tangannya. Pria itu mengulur-ulur pekerjaan hanya karna ingin merebahkan kepalanya di pangkuan istrinya.
Karna totalitas kerjanya, ia sampai tidak sempat berkirim kabar dengan Stella.
Hingga, siang tadi setelah makan siang Dirga memanggilnya datang ke ruangannya. Pria itu memerintahkan Bayu terbang ke Singapore dengan alasan ada masalah di anak cabang perusahaannya yang ada di negri singa.
Dirga menyerahkan berkas berisikan laporan perusahaan lain yang harus di tanganinya. "Pelajari di sana. Kita memiliki orang-orang yang bisa di andalkan dan juga orang dalam di pemerintahan."
*
*
*
Sesampainya di negri singa. Bayu langsung ke kantor yang berpusat di tengah kota, untuk memastikan kendala yang ada. Ia berada di club malam setelah sebelumnya, seseorang yang ia tugaskan memberi laporan keberadaan Stella. Langkahnya tidak terbaca, pergerakannya lebih cepat dan rapih dalam mengurus dan menyelesaikan masalah. Ia tidak beda dengan Dirga, mereka akan memantau pergerakan wanita yang sudah mereka pilih sebagai pendampingnya.
Berada tidak jauh dari tempat Stella menikmati minumannya, ia duduk memperhatikan wanita yang terlihat resah, sampai pria yang bernama Steven datang dan mencium paksa wanitanya. Ia menahan amarah dengan mengepalkan tangannya. Ingin sekali ia menghajar rivalnya. Bukan hanya rival secara pribadi, tetapi rival sebagai pesaing bisnis.
Tetapi ia harus bisa menahan diri ia tidak ingin gegabah dalam bertindak. Ia juga tidak bodoh dengan membiarkan Stella dalam bahaya. Ia harus bersabar menahan diri demi membuktikan seberapa besar penolakan Stella terhadap pria itu.
*
*
*
Bayu tak melawan saat Stella melampiaskan kekesalannya dengan memukuli dada Bayu hingga puas. Wanita itu menangis mengetahui keberadaan Bayu yang tidak jauh darinya tapi tidak melakukan apa-apa.
Meredam emosinya, Bayu menarik tubuh bergetar karna tangis itu ke dalam rengkuhannya.
"Maafkan aku Ste. Maafkan aku, aku membiarkannya menyentuhmu. Aku pastikan tidak akan terulang lagi. Dia tidak akan ku biarkan menyentuhmu."
Saat ini mereka tengah berada di dalam mobil yang menghadap lauatan luas dengan suara deburan ombak. Saling merengkuh dan saling merasakan debaran di dada. Keduannya hanyut terbawa perasaan tanpa kata.
"Bolehkah aku mencintaimu Ste?" Bayu membuka suara setelah keduanya terdiam untuk beberapa saat dan Stella sudah mulai tenang.
"Aku akan memintamu untuk mencintaiku dan akan memaksanya."
Bayu tersenyum mendengar jawaban Stella.
"Ternyata bukan hanya ada Tuan pemaksa tetapi ada juga Nona pemaksa."
Dengan hidung memerah karna banyak mengeluarkan cairan, wajahnya merona merah karna malu mendengar ucapan Bayu. Ia tidak menyangka akan menyukai pria kutu buku berkaca mata, yang telah berubah menjadi pria matang dan tampan.
"Bawa aku ke indonesia Bay. Aku akan ikut bersamamu kemanapun kamu membawku."
"Kita tidak akan lari Ste."
"Tapi Papa..."
"Percaya kepadaku Ste …aku tidak ingin menjadi lelaki pengecut."
"Aku mengenal Steven Bay, dia akan melakukan cara apapun."
"Hei! Kamu meremehkanku Ste." Bayu terkekeh pelan.
"Ya, aku percaya. Bahkan kamu bisa lebih kejam dari Dirga. kamu pria menyebalkan Bay."
"Oh, ya?" Bayu menatap dalam wajah Stella. Wajah wanita yang pernah membulinya, menyumpahinya, memakinya dengan berteriak karna ketahuan memakan bekal yang bukan untuknya.
"Boleh aku meminta sesuatu kepadamu Ste?"
"A-apa?" Stella memundurkan kepalanya saat wajah Bayu mendekat.
"Aku merindukan bekal buatanmu seperti dulu."
"Bekal?"
"Iya, kamu pikir aku akan meinta apa?" memicingkan mata Bayu menggodanya.
Wajah Stella semakin memerah, ia malu karna sudah berpikiran kalau Bayu akan menciumnya.
"Kenapa wajahmu memerah? Bayu terus menggodanya.
"Merah? Apa? Pipiku?" Ia salah tingkah menjawab pertanyaan Bayu dengan menyentuh pipinya.
Bayu belum melepaskan pandangannya dari wajah Stella. "Tapi aku ingin menghilangkan sesuatu."
"Sesuatu?" detak jantungnya meloncat berkali-kali lipat, dadanya berdebar tak karuan. Matanya melotot saat merasakan benda kenyal menyentuh bibirnya. Rasanya sangat berbeda ketika Steven menyentuhnya.
Mata itu terpejam merasakan ciuman hangat yang di berikan oleh Bayu. Hatinya berteriak dengan perasaan campur aduk. Stella baru benar-benar merasakan Real First Kiss.
"Aku ingin menghilangkan jejak pria itu dari bibirmu." dengan mengusap sisa saliva dari bibir ranum Stella.
****
Bersambung ❤️
Hai teman-teman. Cerita Bayu aku gabung di sini saja ya... Sempat ingin di pisahkan dengan judul yang berbeda. Tapi aku sedang menggarap karya baru. Khawatir keteteran. Maklum, pemula 😊
Tapi tidak mengkesampingkan cerita utamanya. Karna cerita Dirga dan Anindirra sudah ada di fase aman. Tetapi tetap dengan lika liku perjalanan rumah tangganya untuk menguji kekuatan cinta mereka.
Terimakasih 🙏 janan lupa dukungannya yaa 😘😘