
Dirga meninggalkan kamar dalam keadaan bungkam, tak satu kata pun keluar dari mulutnya. Saat Anin bertanya mau kemana? Pria itu diam tak menjawabnya. Ia malah sibuk memasang jam tangan dan menyemprotkan parfum ke titik-titik di bagian tubuhnya.
Ingin rasanya Anin mengejar, memeluknya dari belakang dan menahannya agar tidak pergi. Tapi ia tahan, karena ia sadar, pria itu masih dalam keadaan emosi tinggi.
Katakan ia salah, karena menjawab sapaan pria asing itu. Tapi apakah ia harus sampai mengeluarkan kata-kata kasar agar pria itu menjauhinya. Tidak sedikitpun ia memikirkan pria yang tak di kenalnya. Lantas apa ia salah masih bersikap sopan kepada seseorang yang menyapanya dengan ramah. Bahkan ia sudah menolak agar pria itu tidak duduk dan bergabung semeja dengannya.
Ia mengusap airmata yang mulai turun membasahi pipinya, tiba-tiba hatinya terasa sakit. Ia pun merasakan kecewa dengan sikap Dirga. Entah hatinya yang bicara atau egonya yang berkata. Ia sedang membela diri karena ia merasa tidak mengenal pria itu. Apa lagi sampai memiliki niat menghianati Dirga.
Ia akan menerima sebesar apapun kemarahan suaminya, tapi hatinya terasa tersayat saat pria itu tak memandangnya sedikitpun. Seakan jijik, seperti melihat wanita hina yang ketahuan sedang berselingkuh di belakangnya.
Sebesar apa kesalahan yang telah di lakukannya hingga Dirga sampai mengabaikannya. Haruskah ia yang selalu di tuntut untuk bisa mengerti psikis suaminya. Ia sudah menuruti semua keinginan dan larangan Dirga, hanya karena satu pria yang tak di kenal datang menghampiri, akankah sampai menggoyahkan pernikahan yang baru seumur jagung di jalaninya.
Hari ini tepat lima bulan sepuluh hari pernikahannya. Dan hari ini, kesalahpahaman terjadi hingga membuat Dirga sangat Emosi. Dari awal pernikahan, ia sudah menerima segala keposesifan suaminya. Ia paham akan masa lalu Dirga yang membuat pria itu selalu merasa ketakutan, tetapi ia bukan Ratna dan ia tak ingin di samakan.
Disaat segalanya tercukupi, ia harus membayarnya dengan berada di dalam sangkar emas. Ia mulai belajar menerima kebebasannya yang mulai terengut. Ia tidak memiliki harta berlimpah yang bisa di banggakannya kepada Dirga, ia hanya mampu menyodorkan kepatuhan dan kesetiaan sebagai pembuktian rasa cintanya. Dan jika ia melakukan kesalahan, itu di luar batas kesadarannya sebagai manusia.
Anin tergugu menangis duduk di sofa. Saat hatinya sedang rapuh. Ia teringat akan Bu Rahma, biasanya wanita tua itu selalu ada untuk menguatkannya di saat ia menghadapi masalah. Ia tidak tau apa pemikirannya benar atau salah, mungkin juga efek hormon kehamilan yang membuatnya sensitif saat ini. Ia merasa terabaikan dan merasa asing dan tak mengenal Dirga. Hatinya berdenyut sakit.
Dengan penuh kelembutan ia mengusap janin yang ada di dalam rahimnya, hasil buah cintanya bersama Dirga. pria yang saat ini entah dimana keberadaannya. Ia mengingat lagi akan perjalanannya bersama Dirga, ia pernah menghindar untuk menjauh dan tak mengenalnya di saat pria itu terbakar cemburu dan menyakiti hatinya. Sanggupkah sekarang ia berlari menjauh lagi di saat kehidupannya sudah berada dalam genggaman Dirga.
Liburan yang ia harapkan bahagia, malah datang masalah. Ia meraih ponselnya, ingin sekali ia menghubungi Ibunya, tetapi ia urungkan. Ia tidak mau membebani dan membuat Ibunya khawatir. Ia kembali menutup benda pipih itu, walaupun saat ini, ia sangat membutuhkan dukungan walau hanya sekedar mendengar suara. Sudah cukup membuat hatinya tenang.
Waktu terus berputar ke kanan. Dari siang sampai ke sore, dari sore sampai ke petang. Jarum jam terus bergerak sampai menunjuk ke arah angka 10 malam. Tetapi Dirga tak kunjung datang. Pria itupun tak balas menghubunginya setelah ia mencoba menelefonnya berkali-kali
Mau bagaimana pun hatinya saat ini, ia sangat mengkhawatirkan keadaan suaminya. Memberanikan diri, ia keluar mendatangi kamar Bayu dan Stella.
Beberapa detik ia berdiri di depan pintu, berpikir ulang haruskah ia mengganggu pengantin yang mungkin sedang memadu kasih. Mengetuk pasti akan mengganggu, tidak mengetuk ia membutuhkan pertolongan Bayu. Ahirnya, ia putuskan tetap mengetuk, dan saat tangannya mengepal terangkat, pintu itu terbuka.
"Nona Anin." ternyata Bayu yang membukanya dengan Stella berada di sampingnya. Melihat wajah Anin yang sembab. Bayu memahami apa yang tengah terjadi dengan wanita itu.
"Kembalilah ke dalam kamar Nona. Saya akan menjemput Tuan Dirga."
"Apa dia baik-baik saja?" Anin takut terjadi sesuatu yang buruk dengan suaminya.
"Jangan khawatir Nona. Tidak terjadi hal yang buruk dengan Tuan."
Baru saja pasangan pengantin itu akan melakukan kegiatannya, ponsel Bayu tak berhenti berdering, ada panggilan masuk dari nomor Diego. Pria itu memberitahukan keberadaan Dirga yang berada di night club dalam keadaan mabuk.
"Maafkan kami Stella.. Aku dan suamiku sudah mengganggu waktumu.." Anin berkata lirih setelah Bayu meninggalkan kamar.
"Jangan sungkan An, Dirga pun sudah banyak membantu kami." Stella mengerti pasangan itu sedang menghadapi masalah yang berat. Sampai Dirga meninggalkannya sendirian.
"Apa perlu aku temani?" Stella menawarkan diri.
"Tidak usah Stella, aku akan kembali ke kamar untuk tidur." Anin kembali ke dalam kamar dengan hati yang semakin sedih.
Flashback
Untuk meredam emosi dan agar tak menyakiti wanitanya, Dirga sengaja meninggalkan Anin di dalam kamar hotel dengan tetap menempatkan pengawal agar menjaga dan mengawasinya. Ia pergi menemui seseorang di salah satu Cafe. Banyak hal yang ia bicarakan dan sampikan kepada agen yang selama ini di percayanya untuk mencari dan mendapatkan informasi yang akurat.
Pria itu salah satu pimpinan organisasi yang benar-benar mengabdi kepada Bastian Wijaya dan penerusnya.
Sebelum memulai pertandingan golf.. Alfred menyampaikan kabar hanya kepada Dirga dan Bastian, sebuah informasi yang ia dapat dari pengecaranya yang ia percayakan memantau dan menyelesaikan jalannya persidangan, tuntutan yang Alfred layangkan. Ia menjerat Steven dengan kasus penipuan. Pengecaranya menyampaikan bahwa, ada pihak keluarga dan pengecara yang menjenguknya di lapas, pengecara itu tengah memperjuangkan agar Steven mendapatkan keringanan hukuman.
Baru 2 minggu, Steven di terbangkan ke Negara Singapore, sebelumnya Steven berada di salah satu lapas di Indonesia, karena saat penangkapan, Steven sedang berada di salah satu kamar hotel di wilayah Indonesia bersama seorang wanita. Pria itu kabur dari Singapore dan menjadi buronan selama sebulan, ia menggunakan transportasi laut dengan identitas palsu agar bisa lari ke negara Indonesia. Dan saat ini persidangan masih terus berjalan dan pengadilan belum menetapkan berapa lama Steven mendapatkan hukuman.
Menjelang malam, ia pergi ke night club sendirian. Ia ingin menghilangkan penat dengan meminum beberapa botol wine yang di pesannya. Ia duduk sendiri di Bar, ia meminta terus di isi saat gelas kaca berisi minuman berwarna merah keunguan itu habis di tenggaknya.
Hatinya masih di selimuti rasa amarah, tetapi ia juga tidak membuang rasa rindunya kepada wanita yang telah membuatnya kecewa. Marah, cinta, dan rindu menjadi satu. Apalagi wanita itu sedang mangandung benihnya. Wajah Anindirra memenuhi pikirannya.
Ibarat lebah jantan yang nampak menggoda, banyak madu malam yang mulai menebar dan menawarkan manisnya kenikmatan dunia. Seorang wanita dengan kemolekan tubuhnya berjalan gemulai datang mendekat dan duduk di kursi samping Dirga.
Ia mencoba berkomunikasi dengan pria gagah tampan rupawan yang sudah mulai mabuk. Ia dapat menebak kalau pria yang tengah menikmati minumannya sendirian itu, pria berkantung tebal yang akan membuatnya mendapatkan tangkapan besar malam ini.
Ia bisa menilai penampilan Dirga dari ujung rambut sampai ujung kaki. Yang di kenakan pria itu semuanya barang-barang dengan harga mahal. Belum lagi wajah dan wangi tubuh yang menguar di indra penciumannya. Wanita itu mulai mengusap punggung pria yang tengah menjatuhkan kepala di atas meja bar.
"Hai tampan.. Aku akan menemanimu malam ini.."
Membuat Dirga mengangkat wajahnya dan menatap wanita yang menempel di lengannya.
Anindirra...
****
Jangan lewatkan jempolnya yaa...
Bersambung ❤️