Anindirra

Anindirra
Bonchap 05



Seminggu berlalu dari kejadian makan siang yang gagal bersama sang client karena kedatangan Anin yang tiba-tiba ke kantor.. Selama seminggu juga, jam kerja Dirga sudah mulai normal kembali.


Terkadang pria itu harus pulang malam karena tuntutan pekerjaan yang tidak bisa di abaikan. Sedangkan wanita yang bernama Misca tidak henti, masih terus menghubungi dan mengirimi suaminya pesan. Biarpun Dirga tidak membalas dan meresponnya selain urusan pekerjaan. Sebagai istri ada rasa cemas dan kesal di hatinya.


Anin percaya dengan suaminya, tapi ia tidak bisa mempercayai wanita yang bernama Misca. Anin dapat melihat gelagat yang berbeda dari wanita itu saat menatap Dirga saat bertemu di kantor.


Berulang kali Dirga meyakinkan Anin, bahwa hubungannya bersama Misca tak lebih dari sekedar teman saat kuliah di paris. Dan saat ini perusahaan Sumber Food Tbk tengah mengajukan kerjasama yang masih dalam proses penelitian oleh pihak Wijaya Grup.


Para staf pemasaran dan Quality control masih memperdalam kualitas beberapa bahan pokok yang di tawarkan oleh pihak Sumber Food sebagai pensuplai atau supplier ke beberapa swalayan milik Wijaya Grup di dalam dan luar Kota.


Dan siang ini akan di adakan rapat oleh kedua belah pihak yang akan di hadiri oleh Misca sebagai pimpinan dari Sumber Food Tbk. Siska pun sudah memberi kabar kepada Anin bahwa rapat akan di mulai pukul 11 siang.


Sekertaris itu selalu berkirim kabar kepada Anin, memberikan laporan jika Misca dan sekertarisnya berkunjung menemui Dirga dan Bayu.


Anin dapat membaca beberapa pesan yang di kirim Misca ke ponsel suaminya sejak semalam yang tergeletak di atas nakas. Selain pekerjaan, wanita itu mengajak Dirga untuk bertemu di luar, setelah rapat siang ini.


Misca meminta Dirga untuk menemaninya makan berdua di luar selesai rapat di adakan. Dengan alasan, wanita itu ingin membahas hal yang bersifat pribadi. Dan sangat membuat Anin kesal saat Dirga mengiyakan.


Siang ini dengan membwa Boy dan Alea, Anin berangkat menuju kantor. Ia juga sudah janjian dengan Stella yang akan ikut menyusul ke kantor. Selain itu, entah kenapa dari semenjak Dirga berangkat bekerja, Baby Boy rewel tidak seperti biasanya.


Ketika Anin menjanjikan akan mengajaknya bertemu dengan Papinya Bayi itu langsung terdiam dan tersenyum dalam gendongan.


"Non. Tuan kecil mau di bawa?" Bik Asih bertanya.


"Ya, Bik.. Tolong masukkan susu dan kebutuhan Boy ke dalam tas."


"Apa tidak di tinggal saja Non? Biarkan Tuan kecil Bibik yang menjaga.


Pekerja itu sangat khawatir akan kerepotan Anin, saat harus membawa Boy dan Alea. Dua hari sebelumnya Tuan Bastian bersama Alyne sudah kembali ke Singapura dan Bu Rahma yang juga harus kembali ke Solo.


"Jangan khawatir Bik, kan ada Lia yang membantu. Boy juga ingin bertemu Papinya siang ini. Dari pagi Boy rewel."


"Tidak biasanya ya, Non? Apa karena Tuan Dirga seminggu ini berangkatnya pagi? Biasanya kan berjemur dulu bersama sebelum berangkat kerja."


"Mungkin Bik. Saya berangkat dulu ya." Anin dan Bayinya segera masuk ke dalam mobil dengan menjinjing tas bayi berisikan kebutuhan Boy.


"Gus hati-hati bawa mobilnya." Bik Asih berpesan kepada Agus saat supir itu selesai memasukkan Stroller ke dalam bagasi.


"Siappp Bik."


"Gus jemput Alea dulu ya."


"Baik, Nona."


°°°°°


Saat sudah berada di dalam mobil, Alea bersorak gembira saat mengetahui sang Mami akan membawanya ke kantor sang Papi siang ini.


"Halo dedek Boy.. Sebental lagi kita mau ketemu Papi di kantol." gadis kecil itu menyapa seraya mengecup pipi sang adik yang berada dalam gendongan Maminya.


"Ya, nanti Kakak Alea dan Boy akan menemani Papi rapat ya." Anin menjawab ucapan Alea


"Lapat Mih?" gadis kecil itu bertanya tak mengerti


"Ya, Kak.. Kakak sama Adek hari ini akan menemani Papi rapat." Anin membisikkan sesuatu ke telingan Alea.


"Sippp Mih." Alea menunjukkan dua jempolnya ke hadapan Anin dengan wajah lucunya.


20 menit mobil yang di kendarai Agus sampai di parkiran khusus para petinggi perusahaan.


"Nona tidak butuh di antar?" Lia ikut mengkhawatirkan Nonanya. Tidak biasanya Anin membawa Baby Boy ke kantor dengan tidak di dampinginya.


"Tidak, Lia.. Kalau butuh sesuatu saya akan hubungi kamu."


Mendorong stroller Bayi, dengan menuntun Alea. Anin masuk lobby. Di lihatnya Stella sudah menunggu di dalam.


"Kenapa baru cerita sih An?" ucap Stella setelah memeluk Anin sebentar.


"Jangan cemas bumil.. Sepertinya wanita itu menginginkan suamiku, bukan Bayu." Anin meredam emosi wanita yang tengah hamil 6 bulan itu.


"Tapi tetap saja, akupun harus waspada. Belum tau dia berhadapan dengan siapa?" Stella tampak geram di buatnya. Sama seperti Anin, Stella pun mengintrogasi Siska. Saat ia mendapati pesan singkat dari wanita lain dengan alasan pekerjaan. Yang tak lain adalah sekertaris Misca


Bersama masuk lift dengan di antar kepala security


"Silahkan Nyonya Nyonya."


"Terimakasih Pak."


"Masya Allah.. Itu anaknya Tuan Dirga tampannya melebihi Bapaknya. Istrinya Pak Bayu juga duhhh cakepnya.." komentar selalu pria itu ucapakan saat mengantar para istri-istri sang Bos.


Meetingroom


Wanita dengan penampilan yang sangat sempurna itu, memilih duduk berhadapan dengan Dirga setelah Bayu lebih dulu duduk di samping Dirga. Sudah berulang kali ia menyuruh sekertarisnya untuk mengalihkan Bayu dari Dirga, tetapi sekertarisnya itu belum berhasil juga.


Sulit bagi Misca untuk bicara lebih dekat, saat Bayu berada di samping Dirga. Tetapi wanita itu tidak patah semangat, ia yakin mempunyai celah untuk bisa berdua dengan Dirga.


Misca Pratiwi. Teman kuliah pada saat keduanya mengambil ilmu bisnis di Negara Eropa tepatnya Kota Paris. Ada rasa suka yang ia pendam selama mengenyam pendidikan. Segala upaya ia lakukan dari mulai pendekatan dan perhatian. Tetapi Dirga membalasnya dengan biasa.


Dan akhirnya, ia mempunyai kesempatan untuk mendekatinya lagi setelah perusahaannya mengajukan kerjasama sebulan yang lalu, dan baru di respon seminggu terakhir ini. Dan rasa itu belum hilang dari hatinya, bahkan semakin membesar untuk bisa dekat dengan pria idamannya.


Hari ini, Misca tampil berbeda dan berkelas. Mengenakan baju sedikit terbuka di belahan dadanya. Penampilannya sungguh luar biasa, mampu membuat para staff pria yang ikut bergabung di dalam rapat tak berkedip menatapnya.


Berbeda dengan Dirga dan Bayu, dua pria yang menjadi incaran itu tampak cuek seakan tak melihatnya. Kedua pria itu asik dengan berkas yang sedang di pegangnya.


"Kamu semakin dewasa dan tampan Ga." pujian itu hanya bisa ia ungkapkan dalam hatinya. "Dan, aku tidak perduli kamu telah memilik istri. Aku yakin, kamu akan memandangku tidak akan lama lagi."


"Sikap cuekmu, membuatku semakin tertantang."


Misca terus menatap Dirga dengan penuh rasa kagum dan puja saat rapat akan di mulai. Pandangannya tak lepas dari pria yang duduk di hadapannya dengan segala pesona dan kharisma-nya.


"Baik kita akan mulai rapatnya." Bayu mulai bicara "Selamat siang dan selamat datang Ibu Misca Pratiwi beserta wakil dan para staf yang hadir di gedung Wijaya Grup siang ini."


"Kita akan membahas kelanjutan proposal yang telah di ajukan oleh pihak..." belum selesai Bayu menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba suara pintu terdengar terbuka.


Klek..


"Haloooo... Papi.."


Seorang gadis kecil, menggemaskan muncul di ambang pintu menyapa dengan tawa manisnya.


****


Bersambung ❤️


Maya dan Lingganya di tunggu yaa.. Laptop aku lg di perbaiki kena virus.. Mudah2an sore ini sudah selesai.. Ini aku sempatkan Anindirra dulu, ngetik di hp..


Lika Pertiwi aku ganti dengan Misca Pratiwi.