Anindirra

Anindirra
Chapter 65



Berada dalam gedung Wijaya Grup berada di lantai teratas, sudah di siapkan ruangan yang luas untuk berkumpulnya para wartawan yang akan meliput hasil wawancara seorang pebisnis yang namanya sedang meroket tajam. Ruangan itu di tata layaknya sebuah acara talk show.


Sudah 30 menit, sesi wawancara Dirga dengan pembawa acara dari majalah ternama berjalan lancar. Tak ketinggalan juga, rekan-rekan dari media elektronik dan media cetak ikut menyorot keberhasilan seorang Dirgantara Damar Wijaya.


Sosok pria yang berhasil mengembangkan bisnisnya di beberapa bidang. Baik itu pertambangan, perhotelan, swalayan. Dan baru-baru ini, tercium oleh media ia ketahuan memiliki saham di perusahaan penerbangan dan obat-obatan.


Belum lagi, beberapa bisnis kecilnya yang mulai ter-expose seperti villa dan lainnya.


Dirga menjadi salah satu contoh pengusaha yang mampu memberikan lapangan pekerjaan yang luas di dalam negri maupun luar negri.


Ia terlahir dari seoarang Ayah yang berasal dari kalimantan. Sedangkan ibunya asli melayu ber-kewargaan Singapura. Selain di Indonesia, ia menghabiskan masa remajanya di Negara Singa itu selama 3 tahun untuk menempuh pendidikan bangku SMU.


Dan saat meraih S2-nya, ia terbang ke Negara Eropa tepatnya di kota Paris tempat ia saat ini melebarkan sayap bisnisnya. Hingga ia kembali ke Indonesia mengembangkan segala ilmu bisnis yang sudah ia dapatkan. Karna salah satu cita-citanya adalah membuka lapangan kerja seluas-luasnya di negara tercinta.


Pria berkharisma yang mempunyai tubuh tinggi tegap itu terus tersenyum ramah, menjawab deretan pertanyaan dari sang pembawa acara. Wajah rupawannya memperlihatkan aura positif dan kebahagiaan. Sampai di sesi pertanyaan mengenai kehidupan pribadinya.


"Selama ini, kehidupan pribadi anda sangat tertutup Tuan. Boleh kami bertanya masalah rumah tangga anda. Tepatnya pasangan hidup anda?"


"Ya, silahkan."


"Kabar yang beredar. Hubungan anda dengan pasangan sangatlah tidak harmonis. Apa itu benar Tuan? Karna pepatah mengatakan kesuksesan suami tidak lepas dari campur tangan pasangannya."


"Terimakasih, untuk pertanyaannya Bung." Dirga tersenyu simpul. "Tapi, saya mohon maaf. Saya tidak akan mengumbar sesuatu yang bersifat pribadi. Tetapi di sini akan saya luruskan dan akan saya jelaskan."


"Jika anda menganggap saya pria sukses dan sempurna. Kata-kata itu rasanya kurang tepat. Saya pernah mengalami jatuh bangun dalam meraih segala impian. Baik di bisnis maupun di kehidupan pribadi ?" dengan tenang, Dirga mulai menjelaskan banyak hal.


"Saya mampu meraih kesuksesan di tengah kerasnya persaingan, yang pasti atas ijin Tuhan dan doa dari kedua orang tua saya. Dan, saya merasa telah gagal, karna tidak berhasil membawa pernikahan saya yang pertama sampai ahir. Hubungan kami sudah lama selesai."


"Apa penyebabnya Tuan?"


"Maaf, saya tidak bisa membukanya. Sebagai pasangan tentunya, kami sama-sama memiliki banyak kekurangan."


"Apa karna ada orang ketiga Tuan Dirga?"


"Tidak. Tidak orang ketiga, keempat dan seterusnya. Rumah tangga kami sudah tidak bisa di lanjutkan. Apa alasannya, maaf, tidak bisa saya sampaikan. Saya harap anda dan rekan-rekan menghargai privasi saya."


"Apakah anda sudah menemukan sosok pengganti, lebih tepatnya seorang wanita ? Wajah anda terlihat berbeda hari ini. Anda sepertinya sedang jatuh cinta." pembawa acara itu sedikit menggoda Dirga.


"Bukan sedang jatuh cinta. Tapi saya sudah sangat-sangat jatuh cinta kepada wanita itu." matanya mengarah ke kamera yang mengarah ke ruang kerja dimana Anin berada.


"Apa wanita itu ada kaitannya dengan perpisahan anda?"


"Tidak. Wanita itu hadir saat hati saya telah lama kosong."


"Apa statusnya saat ini? Apa wanita itu sudah menjadi kekasih anda?"


"Bukan kekasih. Dia bukan kekasaih saya."


"Lalu apa Tuan? Apa hanya sekedar teman dekat?"


"Dia istri saya. Pendamping hidup saya. Selamanya..."


"Wahh! Ini kejutan Tuan Dirga … apa dia sangat berbeda dari wanita-wanita yang selama ini mengejar anda?"


"Ya, dia sangat berbeda. Dia wanita special dan seorang Ibu yang istimewa."


"Jadi kesimpulannya, anda sudah menikah kembali dan anda masih pengantin baru. Selamat Tuan Dirga... Semoga selalu berbahagia. Pembawa acara itu menyempatkan menjabat tangan Dirga.


"Terimakasih." Dirga membalas ucapan selamat dan uluran tangannya.


"Apakah akan ada pesta pernikahan?"


"Akan segera saya kabari. Doakan saja segalanya berjalan dengan lancar."


Kenapa tidak sekalian anda kenalkan di media Tuan?"


"Tidak akan. Saya takut kalian akan mencurinya dari saya." kelakaran Dirga membuat yang hadir dan para wartawan tertawa.


"Namanya saja Tuan."


"Kenapa anda terkesan seperti menyembunyikannya?"


"Bukan menyembunyikan. Saya hanya ingin memiliki ruang privasi, apa lagi menyangkut kehidupan kami. Akan ada masanya saya akan membuka ruang jika itu di perlukan."


Pertanyaan terahir Tuan. Salah satu wartawan dari media cetak minta di berikan kesempatan bertanya.


"Selain keberhasilan Wijaya Grup yang sudah berdiri kokoh dengan benderanya. Apa keinginan, harapan dan doa untuk kehidupan pribadi anda selanjutnya?"


"Saya ingin memulai lembaran baru bersama dengan wanita yang sangat saya cintai dengan penuh kebahagiaan. Dan segera mendapatkan momongan."


*


*


*


Anin menyaksikan sesi wawancara Dirga melalui LED yang ada di ruang kerja dengan menitikkan airmata.


Mendengarkan ucapan cinta dari pria yang tak di sangka-sangka di kenalnya. Ia tidak menyangka akan di cintai sebesar itu oleh pria yang status sosialnya lebih tinggi darinya. Ibarat bumi dan langit. Dan kehidupnya berubah seperti Roller Coaster.


Dia pria yang tidak mengumbar keburukan pasangannya. Sungguh Anin pun berkali-kali lipat kagum dan sangat mencintainya. Saat ini, ia merasa menjadi wanita yang beruntung.


Deg!


Saat mendengar doa yang terucap mengenai momongan. Ia segera membuka tas kecil miliknya. Selain menaruh dompet dan ponsel, ia juga meyelipkan satu strip pil KB. Ia menginggat-ngingat kapan terahir kali ia meminum pil penunda kehamilan itu.


Yang pasti. Saat ia berangkat ke solo. Ia sudah tidak meminumnya lagi. "Apakah masih berpengaruh efeknya?" sambil memperhatikan strip pil yang hanya berkurang sedikit.


Hingga suara Dirga mengejutkannya dan menjatuhkan pil yang sedang ia pegang.


"Sayang..., apa itu?" Dirga melangkah mendekat.


"Bu-bukan apa-apa Mas, Ini hanya..." Anin berusaha menyembunyikan pil itu ke dalam tasnya.


"Berikan padaku." Dirga mengulurkan telapak tangannya. Meminta sesuatu yang mencurigakan.


"Mas, ini..."


"Berikan." Dirga memintanya lagi.


Dengan hati cemas Anin menyerahkan strip pil KB itu ke telapak tangan Dirga.


Wajah yang ceria tiba-tiba berubah datar saat mengetahui pil yang di pegangnya. Ia bukan anak remaja lagi yang tidak mengetahui pil yang di konsumsi oleh istrinya.


"Mas, aku bisa jelaskan."


"Sudah berapa lama?" wajah datar itu semakin menyeramkan, membuat sendi-sendi di tubuh Anin terasa lemas.


"Katakan! Sudah berapa lama kamu mengonsumsinya?"


"Sepulang aku dari hotel untuk pertama kalinya. Dan saat aku ke Solo..."


Ucapan Anin terputus saat tiba-tiba Bayu masuk ke dalam ruangan.


"Maaf Tuan, anda harus bertemu dengan pemilik Kabar Group salah satu media cetak yang datang meliput. Beliau baru sampai. Saya bawa kemari ataw anda menemuinya di..."


"Saya akan menemuinya."


****


Bersambung ❤️


Mohon dukungan like komen hadiah dan votenya ya 🙏


Terimakasih banyak untuk segala bentuk dukungan dan komentar yang teman-teman berikan 🙏 🤗


Salam sehat salam sayang 😘