Anindirra

Anindirra
Chapter 110




Dirga memarkirkan mobilnya di basement B2 lantai 2. Mall terbesar di singapura yang hanya memiliki 5 lantai dan terdapat Stasiun MRT HarbourFront di lantai bawah tanah dan stasiun Sentosa Express monorel menuju Pulau Sentosa di lantai 3.


Sambil menaiki eskalator, Dirga menghubungi nomor kontak Mommy Alyne. Ia menempelkan benda pipih itu ke telingga dan menunggu jawaban. Tak butuh lama, ia dapat mendengar suara Mommynya bicara.


"Ada di lantai berapa Mom?" setelah mendapat jawaban dari Alyne, Dirga kembali memasukkan ponselnya ke dalam kantung celananya. Wajahnya sungguh tidak bersahabat, wajah datar dan dingin nampak jelas menghiasi wajahnya.


°°°°°


Setelah membawa menantu dan cucunya menjauh dari pria asing itu, Alyne mengajak Anin untuk masuk ke dalam restoran sebelum mengajaknya ke Haji Lane untuk mengunjungi toko berlian milik temannya. Alyne memilih menunggu yang lainnya di dalam resto.


Setelah mendapatkan tempat duduk yang nyaman, Alyne mulai membuka buku menu yang di bawakan oleh waitress.


"Mau pesan apa Nak?"


"Pesankan untuk Alea saja Mom.. Aku tidak lapar."


"Makanlah sedikit. Kamu tidak sendirian, jadi jangan sampai telat makan." Alyne memahami apa yang tengah di pikirkan menantunya.


Sedangkan Anin, ia terdiam, nafsu makannya menghilang, ia masih memikirkan pertemuannya dengan lelaki yang bernama Edward tadi. Ia khawatir Alyne akan salah paham dengan ucapan pria asing tadi.


"Jangan khawatir? Mommy percaya kepadamu." Alyne mengusap punggung telapak tangan Anin. "Hanya saja.." Alyne terdiam untuk beberapa saat sampai wanita itu melanjutkan ucapannya.


"Putraku memiliki masa lalu yang kurang baik saat bersama Ratna. Mommy harap, kamu bisa memahaminya. Kamu tidak beda dengan Mommy Nak, kita berasal dari keluarga biasa dan mendapatkan suami dengan latar belakang yang menuntut mereka harus mengawasi keluarganya. Jika kamu merasa kehidupanmu terkekang, itu juga yang Mommy rasakan saat awal pernikahan dengan Daddy Bastian. Tetapi seiring berjalannya waktu dengan bertambahnya usia pernikahan kami, Mommy mulai menyadari. Selain rasa cinta yang besar yang Daddy berikan, keselamtan Mommy menjadi yang utama."


Menjadi pengusaha dengan nama besar tidaklah mudah... Banyak pesaing dan orang-orang yang tidak suka berlomba-lomba ingin menjatuhkan. Dan kelemahan Daddy adalah keluarga. Tidak mudah untuk Daddy Bastian mempertahankan yang sudah ia perjuangkan dari bawah. Daddy memang terlahir dari keluarga berada. Ayahnya saudagar emas dari Kalimantan. Tapi untuk bisa berhasil dan memiliki Wijaya Grup, Daddy harus berjuang sendiri dengan di dampingi Mustafa. Dan nama Wijaya Grup semakin di kenal hingga besar dan berkembang pesat saat di kelola Dirga, suamimu."


"Semakin tinggi pohon, semakin kencang angin menerpa. Banyak orang-orang yang juga tidak menyukai akan keberhasilan suamimu. Dan biasanya mereka akan menyerang dan menjatuhkannya melalui keluarga. Jadi kamu tidak boleh mengeluh kalau 24 jam Dirga akan selalu memantau dan mengetahui apa yang kamu lakukan di luar. Dan itu tidak di lakukan Dirga saat ia menikahi Ratna."


"Maaf, Mommy harus menjelaskannya kepadamu Nak? Kita harus siap menjadi bagian dari mereka."


Ya Mom.. Terimakasih sudah mengingakan Anin. Aku juga meminta maaf, kalau sudah mengecewakan Mommy.."


"Tidak sayang.. Kamu tidak mengecewakan Mommy. Apa kamu mengenal pria tadi?"


"Tidak Mom …semalam saat di pesta, pria itu tiba-tiba datang dan memperkenalkan diri. Mas Dirga pun mengetahuinya."


Kenapa pria asing itu mengetahui namaku ? Alyne bertanya dalam hatinya


Saat makanan yang di pesan datang, Alea sudah mulai terkantung duduk di samping Anin. Ia merebahkan kepala gadis kecil itu ke pangkuannya, kebetulan tempat yang di duduki berupa sofa jadi memudahkan Anin merebahkan tubuh Alea.


"Alea ngantuk?"


"Cedikit Ma, tapi Ea juga mau emam."


"Alea duduk dengan Oma ya.. perut Mami ada dedek Bayinya."


"No Oma.. Ea mau cama Mami." gadis itu memejamkan matanya.


Baru akan memulai menyantap nasi ayam hainan.. Bunyi suara ponsel milik Alyne, terdengar memanggil. Wanita itu segera mengangkatnya ketika nama putraku tertera di layar panggilan.


"Mommy ada di lantai 3 di restoran Tian Tian Hainanese Chicken Rice." sebelum Alyne melanjutkan bicaranya, sambungan telfon langsung di matikan dari sebrang.


Belum lama setelah Alyne bicara di telfon, Dirga sudah muncul di dalam restoran dengan wajah yang datar. Tidak ada senyum dan sikap manja yang biasanya ia tunjukkan.


"Mommy masih lama di sini?" Dirga bertanya saat sudah sampai di meja kursi yang di tempati Alyne.


"Lain kali saja Mom. Aku akan membawa istriku pulang bersamaku." Dirga bicara dengan wajah yang tak memiliki senyum sama sekali.


"Baiklah." Alyne tak membantah Putranya, ia menyadari situasi yang sedang terjadi.


"Biarkan Alea Mommy bawa pulang ke mansion. Dan Mommy harap kalian juga akan menyusul untuk datang menginap."


Belum sempat makan Alea sudah tertidur, begitupun Anin. Ia sudah tidak sanggup untuk menelan nasi saat melihat sikap Dirga yang begitu dingin.


Dirga langsung meraup tubuh Alea yang berada di pangkuan Anin tanpa melihat wajah istrinya. Mengangkat dalam gendongannya. Pria itu langsung menuju basement lantai 2 dimana mobilnya dan mobil Mommy Alyne terparkir.


Meninggalkan makanan yang belum tersentuh, Alyne dan Anin mengikuti Dirga di belakang.


Sesampainya di basement B2, Dirga segera merebahkan tubuh kecil Alea di kursi belakang dengan di pangku Alyne. Anon tak mampu melarang saat Alyne membawa Alea ke rumahnya.


"Bicarakan baik-baik." Alyne berbisik ke telinga Anin, sebelum ia naik ke mobil.


"Ya, Mom.." Anin masih berdiri memperhatikan mobil yang di kendarai supir Mommy Alyne sampai hilang dari pandangan. Saat ia berbalik dan akan mengajak Dirga bicara, pria itu sudah lebih dulu masuk kedalam mobilnya dengan pintu sebelah kiri yang terbuka.


Anin menarik nafas panjang dan membuangnya sebelum ia masuk ke dalam mobil duduk di samping Dirga.


Menghidupkan mesim mobil, Dirga mengendarai mobil keluar dari gedung VivoCity mall.


Tidak ada pembicaraan saat dalam perjalanan. Dirga benar-benar bungkam. Pria itu tak menatap Anin sedikitpun. Begitupun dengan Anin, ia bingung harus bicara apa. Ia sadar Dirga sedang marah kepadanya. Ia juga sudah menyadari kalau Dirga pasti telah mengetahui yang terjadi saat pria yang bernama Edward datang menghampirinya. Walaupun ia sudah berusaha menolak dengan tidak mengijinkannya duduk dalam satu meja.


Anin mulai merasakan mobil yang di kendarai Dirga berada di kecepatan yang tinggi. Mobil itu melaju dengan kencangnya saat di jalan raya.


"Mas, kurangi kecepatannya." Anin sampai memegang pegangan tangan yang berada di samping atas kepalanya.


Dan pria itu tak memperdulikannya sama sekali. Masih belum menurunkan kecepatan kilometer-nya


"Mas..." suara Anin sedikit lebih tinggi, karena ia benar-benar takut. Ia reflek memegang perutnya, berusaha melindungi janin yang ada di dalam rahimnya. Dan itu mampu membuat Dirga mengurangi kecepatan kendaraannya.


Pria itu bisa melihat dari ekor matanya saat Anin memeluk perutnya.


Pria itu juga mengkhawatirkan Babynya. Tapi emosi dan cemburu masih menguasainya. Ia merasa Anin telah mengingkari janjinya.


Dengan waktu singkat. Mobil itu telah sampai tepat di halaman lobi hotel miliknya. Ia langsung turun dari mobil dan menguntalkan kunci mobilnya kepada porter hotel. Di ikuti Anin yang juga turun dan melangkah di belakang Dirga.


Sepasang suami istri itu biasanya berjalan saling merangkul dan bergandengan dengan mesra. Tetapi tidak untuk saat ini, mereka berjalan layaknya dua orang manusia yang tidak saling mengenal. Mereka sama-sama terdiam ketika berada di dalam lift sampai masuk ke dalam kamar.


Sesampainya di dalam kamar. Dirga langsung membuka kaosnya dan masuk ke dalam kamar mandi. Ia harus membersihkan keringat yang terasa lengket sehabis bermain golf.


Anin dapat mendengar gemericik air yang mengalir dari shower. Ia memilih duduk di sofa menunggu Dirga selesai dan berharap bisa mengajaknya bicara.


Tapi harapan tak sesuai kenyataan.


"Mas, mas mau kemana?" Anin bertanya kala melihat suaminya berpakaian rapih tanpa meminta bantuannya.


Keluar dari dalam kamar mandi, pria itu langsung memakai kemeja dan celana denim hitam dengan rapih. Dan meninggal Anin sendiri di dalam kamar tanpa bicara sepatah katapun.


****


Terimakasih untuk segala bentuk dukungannya teman-teman 🙏


Bersambung ❤️