Anindirra

Anindirra
Chapter 49



Co-pilot tersebut menjelaskan kalau sekitar 2 jam lagi pesawat akan tiba. Karna penerbangan baru terjadi sekitar 40 menit dari lepas landas.


Dirga melanggar peraturan dalam pesawat dengan membuka kembali ponselnya. Mengobati rindu, ia memandangi foto-foto Anin yang tengah tertawa lepas dengan fose yang berbeda-beda. Sekaligus membuatnya cemburu.


Dari mulai keluar rumah, menikmati wedang asle dan keberadaanya di jalan setapak di tengah-tengah hamparan kebun teh bersama seorang pria.


Apa yang di terimanya melalui aplikasi pesan secara otomatis akan tersimpan dalam galerinya. Jika sebelumnya, hanya terisi dengan bermacam gambar gedung-gedung yang sedang dalam pembangunan di berbagai kota. Sekarang bertambah dengan foto-foto Anin di dalamnya.


Ia menutup ponselnya bersamaan dengan suara Co-pilot yang menggema dalam ruang lingkup pesawat.


Menginformasikan satu jam lagi waktu penerbangan sampai di tempat tujuan.


Ia melihat kembali jam Rolexnya. Waktu sudah melewati dari jam makan siang. Ia memalingkan kepalanya mengarah ke jendela. Menatap gumpalan awan berwarna putih bersih yang menjadi pemandangannya.


Dan... Suara Co-pilot itu mengudara lagi. Menginformasikan kembali. Sisa waktu, 30 menit lagi berada di udara. Sampai... Waktu yang di tunggu semakin berkurang. 10 menit lagi pesawat akan landing di landasan khusus untuk jet pribadinya di Bandara Adi Sumarmo.


Hingga ahirnya... Pesawat yang membawanya mendarat dengan sempurna.


Dua orang dengan badan kekar yang bertugas sebagai pengawal, dan satu orang dengan menjabat sebagai Meneger hotel bintang lima miliknya yang berada di kota solo.


Mereka menyambut kedatangan Dirga di bawah tangga pesawat. Di tambah Satu orang Supir sudah berdiri di sisi mobil yang akan mengantar kemanapun tujuan Dirga.


"Selamat datang, Tuan Dirga." Pria itu membungkuk hormat menyambut kedatangan sesosok manusia berpengaruh, pemilik hotel berkelas tempatnya bekerja.


"Saya, Beni Tuan. Yang akan mendampingi anda selama di sini."


Tanpa mengeluarkan suara Dirga menjawab hanya dengan sedikit menurunkan kepalanya. Dengan langkah cepat menuju mobil yang telah di siapkan.


"Tuan akan singgah ke hotel dulu ataw langsung menuju desa kemuning?" Pria yang bernama Beni itu bertanya.


"Langsung saja." Suara Dirga terdengar tegas dan dingin.


Kesigapan para bawahannya dalam bekerja. Tidak jauh dari campur tangan asisten Bayu.


Saat Dirga mengabarkan akan terbang ke solo. Bayu langsung mengkoordinasi orang-orang yang bekerja di bawah naungan Wijaya Grup. Mereka orang-orang terpilih yang di siapkan untuk mengawal dan mendampingi Dirgantara Damar Wijaya.


Dua mobil beriringan di jalan raya dengan Dirga berada di Mobil depan bersama Beni dan supir. Sedangkan dua pengawalnya berada di mobil belakang yang siap siaga menjaga keamanan dan keselamatan pria berpengaruh itu.


*


*


Perkebunan teh.


Anin berjalan bersisian dengan Bagas menyusuri jalan sepanjang perkebunan teh.


"Jadi, bagaimana ceritanya?" Anin sudah tidak sabar mendengar cerita yang akan di sampaikan Bagas.


Bagas berhenti melangkah, ia berbalik menatap Anin sebelum mengeluarkan suara.


"Sebenarnya tidak ada ikatan darah antara Pakdemu dengan Kakekku."


"Kakek?" Anin bertanya dengan heran.


"Ya, Kakek-ku. Bude Darmi menikah dengan suaminya dengan umur yang terpaut jauh. Pakdemu itu orang berada di kampung ini. Menurut cerita Bapakku, dulu Bude Darmi itu kembang desa di sini. Setelah ibumu." Bagas tertawa pelan...


"Ya, dan Ibuku di boyong ke kota Jakarta setelah di nikahi oleh Ayahku." Anin menimpali.


"Terus?" Anin meminta Bagas melanjutkan ceritanya.


"Kakekku itu, sahabat sekaligus orang kepercayaan Pakdemu. Mereka dekat sedari kecil. Karna keluargaku dari jaman dulunya sudah mengabdi kepada keluarga suami Bude Darmi."


"Karna kebaikan beliau, Pakdemu mengangkat Kakekku sebagai saudaranya. Dan tidak pernah memandangnya sebagai bawahan."


"Sayangnya, beliau tidak memiliki keturunan dengan Bude Darmi. Maaf,"


"Tidak apa-apa Mas... teruskan."


"Dengan tidak adanya seorang anak Bude Darmi merasa tidak memiliki kekuatan mempertahankan apa yang menjadi haknya sebagai istri. Bapakku pun tidak bisa berbuat banyak untuk membantunya."


"Yang pada ahirnya, saat ini hanya menyisakan beberapa petak lagi karna..." Bagas terdiam.


"Karna saudara sekandung Pakdeku mengambil lalu menjualnya." Anin menjawab dengan pelan.


"Ya... Sebelum Ibumu datang, mereka hampir setiap hari menemui Bude Darmi meminta sisa perkebunan itu untuk di jual lagi. Dan Bude Darmi mempertahankan sedikit haknya untuk bertahan hidup."


"Bude Darmi merasa, ia sudah banyak memberikan harta suaminya kepada mereka. Saat ini sisa perkebunan itu di kelola bapakku."


"Oohhh!" … Anin terkejut mendengarnya.


Tidak terasa langkah mereka semakin jauh ke tengah-tengah perkebunan. Udara yang tadinya cerah tiba-tiba mendung bergelayut di atas langit-langit.


"Ayo, kita kembali. Sepertinya akan turun hujan." dengan reflek Bagas meraih pergelangan tangan Anin untuk di bawanya ke tempat semula. Dan Anin pun tidak menyadarinya, ia menurut saja saat tangannya di tarik, dan mereka sedikit berlari karna rintik hujan sudah mulai jatuh membasahi tanah yang kering.


Semakin lama rintik itu semakin deras mengguyur area perkebunan. Anin menutup kepalanya dengan penutup kepala cardingan rajutnya. Mereka berteduh di Cafe terdekat sesampainya mereka keluar dari jalan setapak perkebunan.


Nafas Anin tersengal karna kelelahan setelah berlari dengan Bagas. Pakaiannya sedikit basah, dan rambutnya yang tidak sepenuhnya tertutup terkena air hujan dan menetes di sudut helai rambutnya.


Bagas yang melihatnya semakin terpesona. Wanita itu terlihat semakin menarik di matanya.


Lalu Bagas mengajaknya untuk duduk di kursi yang di rasa nyaman.


"Duduklah dulu, kita pesan makanan ya, sambil menunggu hujan reda. selain wedang asle, perutmu belum terisi kan?"


"Oh, maaf. Mbak maksudnya." Bagas tersadar akan panggilannya. Ia merasa kebablasan, ia khawatir Anin akan berpikiran buruk kepadanya.


"Tidak masalah Mas, panggil nama saja. Biar kita lebih akrab, kita sudah berteman bukan?" Anin tersenyum, dan itu mampu menghipnotis Bagas.


"I-iya... Kita berteman." Entah kenapa hati Bagas seakan tidak rela saat Anin mengucapkan kata teman.


Pelayan Cafe datang mendekat dengan menyodorkan selembar kertas yang telah di laminating, bertuliskan deretan menu makanan dan minuman kepada Bagas.


"Masnya mau pesen apa?" Pelayan itu bertanya.


"Kamu mau makan apa Dirra?" Bagas bertanya dengan mata serius membaca menu apa saja yang tersedia di Cafe ini.


"Adanya apa saja?" Anin balik bertanya.


"Selain nasi goreng dan mie goreng ada cambuk rambak juga timlo solo. Mau coba?"


"Timlo solo saja Mas, minumnya teh hangat."


"Timlo solo dua teh hangat dua." Bagas memesan dengan menyerahkan kertas menu itu kepada pelayan Cafe.


"Di tunggu ya Mas..."


"Dingin ya?" Bagas bertanya ketika melihat Anin sedikit mengigil kedinginan karna bajunya terkena air hujan.


"Sedikit mas." Anin menjawab dengan mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah. Dan Bagas tak henti memperhatikannya.


Mereka makan dalam diam setelah makanan yang di pesan sudah terhidang.


"Gimana? Kamu suka?"


Anin mengangguk dengan mulut mengembung penuh dengan makanan.


****


Bersambung ❤️


Bagi komennya doonkkk... juga like, hadiah dan votenya ya 🤗


Jangan lupa simpan dalam faporit ❤️


Tengkiyuuuhhhh... Salam sayang 😘