Anindirra

Anindirra
Chapter 77



Tidak mendapatkan jatahnya di malam hari. Pria itu ahirnya bisa mengekskusinya ketika jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Pertahanan wanita itu gugur ketika Dirga menduselnya terus menerus dari belakang sedari malam karna tidak bisa tidur.


Segala rayuan dan kata maaf tidak berhenti keluar dari mulutnya. Di tambah rengekannya yang membuat Anin tidak tega.


Bak sewindu tidak mendapatkan jatah, saat menggauli istrinya, pria itu berubah menjadi sangat ganas tidak terkendali. Menahan sesuatu yang tak tersalurkan sungguh sangat menyiksanya. Ketika burung itu terlepas bebas dari sangkarnya ia langsung mematuk tidak ada hentinya.


"Nghhh..." melenguh pasrah.


Tenaganya sudah habis, ketika Dirga menginginkannya lagi.


"Masss... Sudah." dengan suara mendayu.


Anin meremat mesra rambut Dirga, ketika gigitan itu terlepas dari pucuknya.


"Sekali lagi, Sayang. Aku janji tidak akan lama." tangan itu kembali menggerayangi tubuh mulus yang terlihat semakin berisi dan seksi. Turun ke bawah, lidahnya asik mengelitik ******** hingga membuat si wanita melayang dan mendapatkan kepuasan. Pria itu memanjakannya dengan permainan yang berbeda.


"Ahhh..." rasa nikmat itu menjalar ke seluruh tubuh dan persendiannya saat merasakan sesuatu yang menegang kembali menerobos masuk tanpa permisi.


Anin mencengkram kuat sprei yang sudah berantakan saat Dirga membalikkan tubuhnya menjadi membelakanginya. Bermain kasar, tidak menghilangkan kenikmatan yang ada. Sensasi itu semakin bertambah.


Tidak lama sesuai janjinya, tetapi tetap saja menghabiskan waktu yang cukup menguras tenaga. Dari mulai pelan sampai di titik ia harus melakukan dengan cepat untuk menggapai pelepasan yang sebentar lagi akan di raihnya.


"Akhh... Sayang..."


Keduanya ambruk bersamaan. Ini ketiga kalinya Dirga pelepasan dengan durasi yang cukup lama sebelumnya.


Anin sudah terkapar lemas, tak mampu mengerakkan tubuhnya.


Mengambil handuk kecil yang tersusun rapih di dalam rak kamar mandi, Dirga membasahi handuk itu dengan air hangat. Dengan telaten, ia mengelap seluruh tubuh Anin dan membersihkan sisa-sisa percintaan agar wanita kesayangannya tertidur dengan nyaman.


*


*


*


Mendapatkan gedoran pintu dengan teriakan kencang dari satpol pp kecil. Sepasang manusia yang masih bertela**ang itu terbangun dengan gelagapan, seperti tengah berbuat mesum dan ketahuan.


"Mahhh... Papaiihhh... Tepetan banuuunnn!!..."


Dog... Dog... Dog....


"Buka pintunaaa...."


Dirga segera memakai pakaiannya, dan Anin segera berlari ke kamar mandi. Sebelum anak kecil itu melihat hasil karya yang di buat Dirga di seluruh tubuhnya.


Jangan sampai ada pertanyaan lagi, dengan di jawab berbagai macam-macam burung lagi.


"Pagi girl.." Dirga menyapa ketika pintu sudah terbuka.


"Papih kog balu bangun? Ea tungguin dali tadi ndak nongol-nongol."


"Maaf, Tuan. Alea memaksa meminta di bawa bertemu dengan..."


"Iya, tidak apa-apa, kamu boleh kembali ke bawah."


"Tuan, Nyonya dan Tuan besar sudah menunggu di bawah untuk sarapan." Lia menyampaikan pesan Alyne sebelum pintu itu tertutup.


"Mana Mama Pih?" matanya mencari keberadaan Anin.


"Mama mandi girl.." dengan menutup mulutnya, Dirga menjawab sambil menguap karna masih di landa ngantuk.


Baru dua jam ia tertidur. Di lihatnya jam baru menunjukkan pukul 8 pagi. Keinginannya untuk bangun siang gagal total.


"Ihh... Papi jolok! Kamalna banyak bunga belantakan."


"Ya girl..." tubuh kokoh itu bersandar di sofa memejamkan matanya sejenak.


Ketiganya turun ke restoran yang bertempat di dalam hotel lantai bawah. Pengantin lama itu terpaksa mengguyur tubuhnya agar terlihat segar. Menuju meja makan tempat dimana semuanya berkumpul.


"Halo om doktel." Alea menyapa seorang pria yang ia kenal sebagai Dokternya.


"Hai princess.. How are you?" Hendra tengah duduk dalam satu meja bersama istrinya mayang dan anak laki-lakinya bernama Joy yang berumur 7 tahun.


Ia menyempatkan hadir di jamuan sarapan pagi ini untuk memberikan ucapan selamat, dan menyapa kedua orangtua Dirga yang sudah sangat di kenalnya dengan baik, dengan membawa kado yang sudah di persiapkan. Semalam ia tidak bisa hadir karna bentrok dengan jadwal operasinya.


"Wajahmu pucat Nak?" Alyne bertanya dengan memperhatikan wajah menantunya.


"Mungkin karna belum sarapan Mom." meraba pipi, Anin tersenyum malu.


"Minumlah yang hangat dulu." Bu Rahma menyerahkan gelas yang sudah di tuang teh hangat olehnya.


"Sepertinya tidurmu berkurang Tuan?" Hendra berbisik ke telinga Dirga dengan tampang menggoda. Kantung mata yang menonjol di bawah mata terlihat jelas.


"Jangan mulai, kau pun sama dulu." Dirga mendelik balas berbisik.


*


*


*


Di Bandara Soekarnao Hatta.


Bayu melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Masih ada waktu dua jam sebelum terbang. Setela check-in, ia menarik tangan Stella mengajaknya masuk kedalam resto yang berada dalam area bandara. Bayu memilih resto yang menyediakan coffe dan makanan.


Memesan kopi hitam dan coffe cane sugar. Bayu menambahkan roti bakar sebagai pengganjal perut.


"Makanlah.." Pria itu mendekatkan piring berisi roti ke hadapan Stella.


"Aku tau dari semalam perutmu belum terisi. Kamu butuh tenaga untuk sampai Negara asalmu."


"Kenapa kamu begitu baik kepadaku?" Stella bertanya setelah menyeruput coffe cane sugar yang di pesannya.


"Aku tidak punya alasan dan jawaban untuk itu." Dengan tenang Bayu bicara. Tangannya membantu memotongkan roti bakar dengan selai stroberi bertabur topping keju yang masih hangat saat di sajikan.


"Buka mulutmu." Pria itu memaksa Stella membuka mulutnya.


"Bagai mana kalau aku berbuat nekat? Apa kamu akan tetap menghalanginya?" Ia bertanya setelah menelan roti bakar yang di kunyahnya.


"Dalam hal?" menampakkan wajah penuh ketenangan, Bayu menatap wanita itu dengen sorot mata menusuk dalam. Kedua tangannya bersedekap seperti saat ia akan mengintimidasi seseorang.


"Dirga." Stella menjawab dengan menundukkan kepala.


"Tidak akan. Aku tidak akan menghalangimu lagi. Lakukan apa yang kamu inginkan. Selain tumbuh sebagai gadis manja yang selalu harus mendapatkan keinginannya, aku percaya kamu bukan gadis bodoh yang tidak bisa menyadari apa yang akan kamu lakukan akan menjadi sia-sia."


"Kamu lebih mengenalku Bay?" Stella memalingkan wajahnya ke luar kaca.


"Merenunglah. Pastikan itu cinta atau hanya sebuah obsesi yang belum bisa kamu dapatkan. Tidak semua keinginanmu bisa kamu dapatkan, cinta tidak sama dengan barang Ste. Uangmu tidak mampu membelinya."


Kata-kata Bayu menyentil hati seorang wanita yang kembali tertunduk.


"Benarkah aku hanya terobsesi? Selama ini apapun yang menjadi keinginanku selalu aku dapatkan dengan mudah. Di antara banyaknya pria yang mengejarku. Pria itu sama sekali tak memandangku, ia bahkan tak melihat keberadaanku." Stella terus bermonolog dalam hatinya.


Stella mengambi bungkusan tipis yang sudah di bentuk rapih layaknya kado dari dalam koper mininya.


"Berikan ini kepada Anindirra." ia menitipkannya sesuatu kepada Bayu untuk di berikan kepada wanita yang sudah berhasil memenangkan hati Dirga.


Waktu keberangkatan sekitar 30 menit lagi. Stella dan Bayu duduk menunggu di di ruang keberangkatan. Keduanya kembali terdiam dengan pikirannya masing-masing. Ponsel yang di mainkan tidak dapat membantu untuk mengalihkan pikiran yang ada.


Suara pemberitahuan melalui intercom menggema di seluruh ruangan. Waktu keberangkatan menunjuk pada waktu dimana seluruh penumpang harus bersiap-siap naik ke dalam pesawat.


Stella melangkah dengan pelan, meninggalkan pria yang sudah membuka mata hatinya. Sampai di depan pintu masuk, ia melepas koper mini yang di geretnya. Berbalik ke belakang, Stella berlari ke arah Bayu dan menubruk tubuh pria yang sudah membuatnya kesal.


Membenamkan wajah di dada, dengan tangan merangkulnya pinggangnya dengan erat.


"Kabari aku..."


Bayu Stella



****


Bersambung ❤️


Aku tunggu dukungannya ya 🙏


Jangan lupa like komen hadiah dan votenya 🤗 Terimakasih 😘