Anindirra

Anindirra
Chapter 84



Memarkirkan mobilnya di parkiran gedung bertuliskan Wijaya Grup. Stella melangkah masuk melewati pintu kaca, ia menghampiri dua orang wanita berpakaian rapih yang tengah duduk di balik meja berukuran besar dan panjang sebagai area informasi.


"Selamat siang, Nona, ada yang bisa kami bantu?" satu orang wanita berdiri, sebagai resepsionis, ia menyapa Stella dengan ramah.


"Siang Miss." Stella membalasnya dengan tersenyum ramah. "Saya mau bertemu dengan..."


"Ste.."


Suara pria yang sudah sangat Stella kenal memanggil namanya. Ia menengok ke arah datangnya suara.


"Kamu datang?" Bayu menghampirinya. Pria itu baru saja keluar dari dalam lift.


"Bay.." Stella nampak grogi melihat kedatangan pria tinggi dengan stelan jasnya.


"Emm …kamu mau keluar?" Stella bertanya karna melihat Bayu baru keluar dari dalam lift dengan penampilan yang rapih.


"Tidak, setelah kamu datang." Bayu memperhatikan barang bawaan Stella.


"Ayo.." Pria itu menarik tangan Stella, membawanya masuk kembali ke dalam lift yang barusan membawanya ke bawah.


Pria itu membawanya naik ke lantai dimana ruangannya berada.


Tak bersuara, Stella berdiri di samping Bayu. Wanita itu bingung harus bicara apa. Ia lebih memilih diam dengan menundukkan kepalanya.


Melalui ekor matanya, Bayu dapat melihat penampilan Stella yang berbeda. Gadis itu terlihat lebih sederhana tetap tidak mengurangi kecantikannya. Bibirnya bergerak, tersenyum tipis melihat tingkah Stella yang tampak malu-malu.


"Kamu membawa sesuatu Ste?"


"I-iya... Aku membawa makan siang untukmu."


"Untukku?"


"Iya, ku harap kamu suka."


"Aku pasti menyukainya." Pria itu bicara tanpa menoleh, tetapi tangannya tak lepas menggenggam telapak tangan Stella, dengan tangan kiri di masukkan ke dalam kantung celana. Pria itu berdiri dengan Stella berada di sampingnya.


Keluar dari lift, mereka masuk ke dalam ruangan milik Bayu yang cukup besar dengan furniture yang lengkap.


Mengeluarkan kotak bekal dari paperbag, Stella membuka penutupnya, ia menyiapkannya di atas meja sofa.


"Kamu sudah makan Ste?" Bayu bertanya setelah mendudukkan bokongnya di samping Stella.


"Belum, aku ingin menemanimu makan siang di sini." Stella bicara dengan menahan degub di jantungnya.


"Tidak perlu di pisah." Bayu menahan tangan Stella yang hendak membagi makanan.


"Kita akan makan bersama dalam satu tempat.."


Dengan hati yang semakin berdebar, Stella menuruti keinginan Bayu. Ia tidak merasa keberatan harus berbagi makanan dan tempat yang sama.


Keduanya menikmati makan siang bersama dengan lahap, Stella memilih menyuapi Bayu, pria itu sangat menikmati makanannya sampai selesai.


"Apa kamu menyukainya?" sambil memberikan segelas air putih, Stella memastikan kalau masakannya tidak mengecewakan.


"Apa kamu keberatan jika aku selalu meminta di buatkan lagi? Aku ingin seperti ini bersamamu." Tatapan hangat penuh arti terpancar dari sorot mata Bayu saat menatap Stella.


Setela tersenyum mengangguk.


"Kenapa kamu berubah jadi seimut ini Ste?"


Ucapan Bayu membuat rona merah di kedua pipi wanita itu. Seperti di hinggapi kupu-kupu yang berterbangan di atas kepalanya. Wanita itu semakin salah tingkah.


"Aku menyukai penampilanmu hari ini." bicara pelan, Bayu memiringkan tubuhnya menghadap Stella, tangannya terulur menyentuh sisi wajahnya. Ibu jempolnya mengusap pipi yang nampak kemerahan.


Wajahnya semakin mendekat … dan semakin mendekat … hingga menyisakan jarak beberapa centi di depan hidungnya. Sedikit menunduk, Bayu menempelkan bibirnya ke bibir ranum milik Stella dengan perlahan, ia muai menciumnya dengan mesra.


Stella mengalungkan tangannya ke leher Bayu, saat ciuman itu semakin dalam menyesapnya. Untuk beberapa saat keduanya terbuai terbawa suasana, suara decapan sudah mulai terdengar memenuhi ruangan bersuhu rendah.


Hingga Bayu menghentikannya saat di rasa nafsunya semakin bertambah, ia takut tidak bisa mengontrol dirinya.


"Tetaplah menjadi dirimu sendiri." ucapnya setelah ciuman itu telepas.


"Jangan berubah karna aku, selagi kamu tidak keluar dari batasan, aku akan menyukainya." dengan mengusap bibir yang basah memerah akibat ulahnya.


Stella hanya mampu mengerjabkan kedua kelopak matanya. Wanita itu belum bisa lepas dari apa yang baru saja di terimanya. Ciuman ini untuk kedua kalinya, dengan rasa yang tidak berubah. Setelah yang pertama saat mereka berada di dalam mobil di pinggir pantai palawan. Pria itu mampu membawanya lupa.


*


*


*


Dengan bermain kasar, rambut pirangnya di tarik ke belakang, Steven melampiaskan kemarahannya dengan seorang jal**g yang di bayarnya.


Cukup lama melakukannya, sampai di ahir permainan ia menyebut nama Stella di saat pelepasan.


Setelah selesai Steven menggunakan kembali celana dan kemejanya. Ia melemparkan lembaran kertas sebagai bayaran ke atas tubuh tela**ang sang wanita.


"Cepat tinggalkan kamar Ini.!"


Memunguti uang yang tersebar di atas kasur, wanita itu segera keluar setelah memakai pakaiannya.


Pria itu sedang kesal. Kapal yang membawa berpuluh-puluh peti berisikan sesuatu tertahan di pelabuhan. Ia harus mengeluarkan dana dua kali lipat dari biasanya, agar barang haram itu sampai ke daratan.


Ia meyakini ada orang luar yang tengah bermain-main di belakangnya.Tetapi ia belum mendapatkan informasi dan identitasnya. Tertutup rapat, ia kesulitan menemukan siapa orangnya.


Jalan satu-satunya ia harus segera mendesak Alfred Hugo agar mempercepat pernikahannya. Agar ia bisa segera mendapatkan dana bantuan dengan alih kerjasama.


Steven menerima telfon dari anak buahnya yang memberikan laporan keberadaan Stella, wanita yang di inginkannya.


"Awasi terus. Aku ingin tau siapa orang yang di temuinya di gedung Wijaya Grup."


"Brengsek!!!" ia membanting ponselnya ke atas kasur. Setelah pembicraan itu terputus.


*


*


*


Stella Jewelery.


Nama salah satu toko perhiasan yang berada di salah satu maal terbesar di Singapore. Memiliki beberapa karyawan sebagai pekerja, ia mempekerjakan satu orang desainer perhiasan sebagai patner merangkap asistennya. Stella juga mendesain semua model perhiasan yang ia pajang di etalase toko.


Setelah makan siang bersama Bayu, ia memutuskan kembali ke tokonya. Pria itu berjanji akan menemuinya untuk menjemputnya pulang. Sambil mencoret-coret kertas, bibirnya terangkat ke atas membentuk senyuman. Ia meraba bibirnya dengan jari, kala mengingat kejadian tadi siang setelah makan. Pria itu menciumnya dengan ganas.


Pikirannya tidak sedang bekerja tetapi sedang membayangkan sesuatu yang membuatnya wajahnya memerah karna malu.


"Ahh ! Sepertinya aku sudah gila." ia bicara seorang diri.


"Ya Stella, lama-lama kamu akan gila kalau seharian seperti ini.." tiba-tiba asistennya datang, duduk berhadapan dalam satu meja. Sedari tadi Chatrin memperhatikan tingkah laku Stella.


"Still normal." Wanita itu menempelkan punggung tangannya ke kening Stella. Ia mengelengkan kepalanya ketika melihat hasil gambar yang di buat Stella di atas kertas. Bukan gambar perhiasan, melainkan coretan berbentuk benang kusut.


"Apa yang membuatmu seperti ini? Apa kamu sedang jatuh cinta Stella?


Kelakuanmu tidak seperti biasanya Nona arogan. Kamu berubah menjadi manis sekembalinya kamu dari Indonesia?" Chatrin memperhatikan mimik wajah Stella yang terasa aneh.


"Lebih dari jatuh cinta Chat, pria itu membawaku melayang." dengan bibir terangkat, pandangannya kosong mengembara, Stella menopang dagu kembali berhayal sambil tersenyum membayangkannya.


"Oh good!!" sepertinya kamu terkena virus yang membahayakan." Chatrin mengelengkan kepala.


"Virus? Kamu benar Chat, aku terpapar virus cinta." Stella meraup kedua pipinya, ia malu dengan ucapannya.


"Siapa pria itu? Apa aku mengenalnya? Apa di tampan? Sampai membuatmu seperti ini." Chatrin mencecarnya dengan banyak pertanyaan.


"Sangat tampan, dia berubah menjadi pria tampan.." Stella tersenyum asik dengan pikirannya.


"Oh my gosh, you scared me, Stella.."


( Oh ya ampun, kamu membuatku takut, Stella )


****


Bersambung


Satu Bab dulu yaa... Othornya mau antri Vaksin.


Likenya donkk jangan terlewat 🙏


Terimakasih 😘