Anindirra

Anindirra
Chapter 54



Hai.. Hai..


Sekedar info. Sebenarnya BAB 40 yang awal sudah aku hapus. Tapi gak tau kenapa kog masih nongol.


Komen donkkk 😊 penyemangat jariku


Selamat membaca ❤️


Hanya satu koper yang di bawanya.


Berisikan pakaiannya dengan pakaian Dirga. Karna saat kedatangannya ke solo Anin tidak terlalu banyak membawa baju.


Salah satu pengawal, mengangkat koper itu ke dalam bagasi mobil.


"Alea harus nurut sama Nenek ya, kalau rindu Mama dan Papi. Ea bisa telfon kapan pun." Ia tidak melepas Alea dalam gendongannya dari mulai gadis kecil itu bangun tidur.


"Tepon yang pake gambal ya ma?"


"Iya, Sayang."


"Bu, jangan lupa jadwal kontrol Alea."


Sebelumnya Dokter Hendra merekomendasikan salah satu dokter terbaik di rumah sakit yang berada di solo.


"Kalau terjadi sesuatu segera hubungi Anin."


"Iya Nak... Jangan di pikirkan, InsyAllah kami di sini akan bak-baik saja."


Dirga berpamitan dengan dengan Bu Rahma dan Bude Darmi dengan menyerahkan sebuah berkas. Berisikan bukti jual beli perkebunan teh milik Bude Darmi. Yang telah berganti kepemilikan atas namanya.


Saat mendapat laporan dari anak buahnya yang berada di lapangan. Atas perintah Dirga Beni bergerak cepat mengambil alih perkebunan itu. Tentunya dengan mengganti uang dua kali lipat yang telah di keluarkan oleh pihak ke tiga agar ia mau mengembalikannya.


Bu Rahma sangat terkejut begitupun Bude Darmi. Tidak menyangka kehadiran Dirga mampu menjadi dewa penolongnya.


"Suratnya sedang di urus oleh orang-orangku, Bu." Dirga menjelaskan.


"Kalau Ibu membutuhkankan bantuan apapun hubungi Beni."


"Terimakasih Nak," dengan mata berkaca-kaca Bu Rahma tidak tau harus berkata apa.


"Mugi-mugi kabecikan panjenengan sami pikantuk piwales." ( Semoga kebaikanmu akan terbalaskan nak ) saat Dirga mencium tanagn Bude Darmi


*


*


"Aku tidak menyangka kamu akan menikah tadi malam dek," raut wajah Bagas terlihat sedih dan kecewa.


"Iya, Mas.. Semuanya serba mendadak."


Anin sedang bicara dengan Bagas di teras, saat Dirga sedang berada di dalam kamar Bude Darmi untuk berpamitan.


"Aku pamit Mas, terimakasih, sudah meluangkan waktu untukku. Aku titip Bude, Ibu juga Alea."


"Apa aku masih bisa menguhubungi Dek?"


"Emm... Aku,... Aku akan meminta ijin Mas Dirga, Mas."


"Aku tidak percaya, saat Bapak memberitahukanku prihal pernikahanmu semalam. Kenap terburu-buru?"


"Ya, Mas. Ini sudah menjadi keputusan kami. Hanya mungkin waktunya saja yang mendadak."


"Apa kamu bahagia?"


"Ya! Istriku sangat bahgia menikah denganku!" suara tegas Dirga membuat keduanya menoleh arah datangnya suara.


Dirga ikut berdiri di samping Anin dengan merangkul pinggangnya degan posesif. Ia menekankan kata Istri. Menunjukkan kepada laki-laki itu kalau Anin miliknya.


Aura kurang nyaman bisa Anin rasakan.


"Mas, kenalkan ini Mas Bagas. Anak Pak Suryo yang semalam."


"Ya. Aku sudah tau, Sayang..."


Cemburu memercik hati di kedua pria itu. Dirga yang memang sangat posesif dan pencemburu. Sedangkan Bagas, ia merasa tidak rela apa lagi di suguhkan kedekatan keduanya.


*


*


Berada dalam mobil wajah Dirga terlihat masam. Ia diam tidak mengucapkan apapun. Saat Anin berpamitan dengan Bagaspun, ia menggantikan tangan Anin yang terulur.


Anin merebahkan kepala, bersandar di dadanya. Ia paham suami tuanya sedang merajuk karna cemburu.


"Mas kenapa?" meredakan emosinya, Anin mengusap dada bidangnya.


"Mas cemburu?" suara lembut itu mengalun menggoda.


Dirga sudah mulai goyah, merasakan sapuan tangan dengan suara merdu itu. Apa lagi harus menahan sesuatu yang sudah mulai berontak.


"Apa yang Mas takutkan? Aku sudah menjadi milikmu. Apa lagi Mas sudah mengikatku dengan tali yang begitu kencang. Jangan sampai tali itu membuatku sesak napas." Anin mengangkat kepalanya, menatap Dirga. Dengan posisi yang belum berubah.


Dirga mencium bibir Anin dengan tidak memperdulikan keberadaa sang supir dan Beni yang duduk di kursi depan.


"Aku tidak menyukai panggilanmu kepadanya." Dirga bicara setelah ciumannya terlepas.


"Kamu memanggilnya sama denganku."


"Maaf, aku selalu cemburu dan takut saat kamu berdekatan dengan laki-laki lain."


Hala apa yang membuatmu sampai seperti ini Mas? Anin bertanya dalam hati


"Takut? Takut Kenapa?"


Sebelum mendapatkan jawaban. Mobil yang membawanya sudah masuk area bandara menuju langsung ke landasan yang di khususkan untuk pesawat pribadi.


Beni mengusapkan keningnya. Ia merasa lega tidak harus berlama-lama menyaksikan kemesraan bosnya. Membuatnya juga ikut tersiksa dan ingin cepat pulang menemui istrinya.


"Atagaaa!! Dia ikut berontak!"


*


*


*


Anin tidak dapat menolak saat Dirga menginginkannya. Waktu 1 jam 15 menit itu tidak di sia-siakan. Dari semalam hingga saat di mobil, usapan jemari lentik itu membangunkannya.


Lenguhan dan ******* memenuhi kamar dalam pesawat. Kamar itu memiliki fasilitas yang sama dengan kamar umumnya. Guncangan yang di timbulkan di dalam pesawat tak menghentikan keduanya menggapai kenikmatan. Berdua tenggelam di dalam surganya berhubungan dengan status baru sebagai suami istri.


"Nikmat, Sayang..." suaranya terdengar berat, Dirga masih belum menyelesaikannya.


Pria itu masih bergerak liar, dengan ritme yang semakin cepat. Dirga memagut kembali bibir merah yang setengah terbuka. Menyesapnya sepuas hati.


"Mmh..." Anin melenguh dalam bungkamannya. Sentuhan tangan Dirga menambah sensasi yang berbeda.


Meliuk merasakan kenikmatan dengan wajah merah karna gairah. Pemandangan indah di bawahnya membuat Dirga tersulut nafsu yang tiada habisnya.


"A, a.., aku sampai..." suara Anin terdengar seksi.


"Tunggu, ak, kuuhh..." Dirga mengejar mempercepat sesuatu ketika denyut itu semakin kuat.


"Aku mencintaimu, Sayang."


Di barengi pelepasan yang membuat keduanya melayang di angkasa. seperti pesawat yang saat ini tengah mengudara di langit luas.


"Terimakasih."


Dirga tak henti-hentinya mengecup kening dan bibir setelah memesrai istrinya.


Kegiatan singkat itu cukup menguras tenaga. Dirga menjatuhkan tubuhnya ke samping.


Karna waktu penerbangan yang tinggal beberapa menit lagi. Tidak memungkinkan mengulang kembali, walau hasrat itu masih ada. Ia tersenyum puas melihat wajah Anin yang kelelahan.


Membelai pipinya, "Istirahatlah sebentar, aku akan membersihkan diri."


Dirga berjalan tel**jang meninggalkan tubuh polos itu ke dalam kamar mandi.


*


*


Pesawat mendarat tepat sesuai waktu yang di perkirakan. Pendaratan yang sempurna, sama hal-nya dengan kesempurnaan hati seorang Dirga yang sedang di landa bahagia. Sedari tadi senyum hangat tak lepas dari bibirnya. Berjalan besisian tangannya tak lepas dari pinggang ramping istrinya.


Berbeda dengan Anin yang sedikit menunduk karna malu, ia masih mengingat jelas kelakuan Dirga saat mengudara. Apa lagi saat ini banyak pasang mata yang memperhatikan mereka.


"Selamat datang Tuan, Nona." Pak Dadang menymbut kedatangan dua orang yang ia ketahui telah melangsungkan pernikahan. Kabar itu tentunya ia dapat dari asisten Bayu. Dan kebahagiaan itu pun menular kepadanya.


"Terimakasih Pak." Anin menjawab ramah.


Dirga menggantikan Pak Dadang membukakan pintu mobil untuk istrinya. Duduk di kursi penumpang. Anin menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menjatuhkan kepala dengan terangkat ke atas. Rasa lelah itu sedikit masih terasa.


"Kamu lelah?"


"Hu’um."


Dirga menarik Anin agar bersandar di bahunya, sesekali ia mengecup pelipis Anin.


"Kamu lapar?" Dirga teringat saat berangkat perut mereka belum terisi apapu karna mengejar waktu.


"kita mampir ke restoran terdekat."


"Tidak usah, Mas. Mas sedang mengejar waktu. Aku bisa memesan makanan setelah sampai rumah."


"Rumah?"


"Tidak, Sayang..., ikut aku ke kantor. Kamu bisa menungguku di dalam ruangan kerjaku."


"Mas pasti akan sibuk hari ini, aku tidak ingin mengganggu mu."


"Pleaseeesss... Biarkan Pak Dadang mengantarku pulang."


****


Bersambung ❤️


Aku tunggu like , komen. Hadiah dan votenya ya kak 🤗


Jangan lupa simpan dalam faporit ❤️


Terimakasih... salam sayang 😘