
Setelah selesai menikamati makan siang Bagas dan Anin kembali pulang, setelah menunggu beberapa menit sampai hujan reda. Mobil yang di kendarai Bagas sudah jauh keluar dari area perkebunan dan meninggalkan tempat pariwisata.
Hari ini di lalui dengan perasaan bahagia bagi keduanya. Tapi dalam konteks yang berbeda. Bahagianya Anin karna bisa menikmati waktu liburnya. Dan Bagas, bahagia karna ia bisa menemani wanita yang membuat perasaannya berbeda.
Ia berharap bisa mengulang kembali kebersamaan dengannya.
Di tengan perjalanan, sesekali Bagas memperhatikan mobil jip yang berada di belakang mobilnya melalui kaca spion depan dan samping. Ia merasa dari mulai berangkat dan saat ini kembali pulang mobil itu mengikutinya.
"Ada apa Mas?" Anin bertanya ketika melihat garak gerik Bagas.
"Tidak ada dek, Mas hanya merasa mobil jip yang di belakang mengikuti kita."
Anin menengok ke belakang. Ia melihat mobil jip berwarna hitam. Tapi tidak lama mobil itu berhenti di sisi jalan.
"Perasaan Mas saja kali. Tuuhh, mobilnya berhenti." Masih dengan menengok ke belakang.
"Ya, dek. Mungkin hanya perasaanku saja. Aku terlalu khawatir, karna aku membawa barang berharga."
"Barang? Barang apa Mas?" Anin bertanya, karna merasa mereka tidak membawa apa-apa.
Bagas tertawa mendengar pertanyaan Anin.
Barang berharga itu kamu dek... Ia hanya mampu mengucapkannya dalam hati.
Mobil berhenti tepat di pekarangan rumah. keningnya berkerut, Anin bertanya-tanya siapa pemilik mobil yang terparkir di halaman rumah Budenya. Ada dua mobil dan beberapa pria duduk di kursi panjang yang tersedia di teras.
"Mereka siapa ya Mas?" dari dalam mobil Anin memperhatikan 4 orang pria yang berbeda penampilan.
Dua orang berpenampilan layaknya body guard seperti yang ada di drama televisi. Dan dua orang lagi berpenampilan biasa. Hanya Beni yang terlihat berbeda. Selain memakai kemeja bercelana bahan, dasi yang menggantung di lehernya menunjukkan kalau ia pekerja kantoran.
"Apa mereka keluarga Pakde?" Anin bertanya kepada Bagas.
"Sepertinya bukan dek, ayo kita turun, kalau belum masuk kita tidak tau siapa mereka. Sekalian aku harus menyerahkan anaknya dalam keadaan utuh kepada Bu Rahma."
Anin mencebikkan bibirnya mendengar ucapan Bagas.
Di sambut cengiran dari Bagas.
Membuka pintu Anin turun dari mobil dan Bagas pun melakukan hal yang sama.
Semakin dekat langkahnya, semakin jelas terdengar suara celotehan Alea di iringi gelak tawa.
Anin menganggukan kepalanya sebagai bentuk sopan santun saat melewati para lelaki tersebut yang sedang menikmati kopi hitamnya.
"Assalamuallaikum..." Anin mengucapakan salam dengan di ikuti Bagas di belakangnya.
"Wa’alaikusallam..." di jawab oleh Bu Rahma dan sesosok pria yang sedang memangku Alea.
Degg!!
Seketika jantungnya seperti berhenti. Napasnya hilang. Kakinya terasa berat tak sanggup untuk di ajaknya melangkah.
Bagai manusia yang tersihir menjadi patung. Anin terdiam membeku di tempat. Otaknya berhenti beberapa detik. Apa yang di lihatnya membuat ia tak percaya.
Sosok pria gagah tampan rupawan itu datang dan tengah memangku putrinya, Alea. Yang sedang bermanja-manja kepadanya. Alea menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu.
"Mas Dirga..." dengan lirih, nama itu lolos begitu saja dari mulutnya. Kesadarannya kembali terkumpul.
Bagas yang belum mengerti dengan keadaan sebenarnya juga ikut terdiam, memperhatikan situasi. Ia juga bertanya-tanya siapa pria yang memangku gadis kecil itu.
Dirga menatap kedatangan Anin bersama seorang laki-laki, dan tentu saja membuatnya tidak suka. Tapi ia coba menahannya, selain karna menghormati Bu Rahma. Ia juga tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Sorot mata penuh rindu itu ia tujukan kepada Anin dan berubah tajam saat beradu pandang dengan Bagas.
"An," suara Bu Rahma memecah kebekuan yang ada. Wanita itu menyadari ketegangan di antara mereka.
"Kenapa berdiri di pintu? Kemari Nak,"
Bu Rahma melihat baju yang di kenakan Anin namapak basah.
"I-iya, Bu..." Anin memaksakan tungkai kakinya yang lemas untuk berjalan masuk mendekat ke arah Bu Rahma.
"Bu, Anin ganti pakaian dulu Bu." tanpa menunggu jawaban, ia meninggalkan ruang tamu menuju kamar.
Bagas yang meraskan sesuatu memilih untuk segera pamit.
"Tidak duduk dulu, Nak Bagas." Bu Rahma menawarkan
"Tidak, Bu. Saya langsung pulang saja, ini sudah sore."
"Terimakasih, sudah mengantar Anin Nak Bagas."
"Ya, Bu. Monggo..." Bagas meninggalkan rumah itu dengan banyak pertanyaan di kepalanya.
"Sayang... Papi menemui Mama dulu ya.."
"Ayo... Alea sama nenek dulu." Bu Rahma mengambilnya dari pangkuan Dirga.
Flashback
Tidak sampai satu jam. fortuner yang membawanya, sampai ke alamat yang di tuju. Halaman luas rumah itu, mampu menampung dua mobil yang tiba dan langsung terparkir.
Kedatangan mereka sempat menarik perhatian warga. Mereka tentu bertanya-tanya siapa gerangan yang datang berkunjung ke rumah Darmiwati. Dengan pengawalan ketat.
"Opo Bupati yoo?" celetukan salah satu warga terdengar di telinga.
Sedangkan Bu Rahma di dalam rumah, sedang merayu Alea. Gadis kecil itu menangis saat bangun tidur. Ia mencari keberadaan Mamanya.
Tidak biasanya Alea rewel seperti itu. Bu Rahma menempelkan punggung tangannya di kening, tapi suhunya normal.
"Cuup... Cup..., cantiknya Nenek, jangan menangis ya... Mama tidak akan lama, sebentar lagi pulang. Alea mau nonton kartun atau mau bermain dengan Eyang Putri dikamar?"
Panggilan Eyang Putri Bu Rahma sematkan untuk Kakaknya Darmiwati yang masih banyak menghabiskan waktunya di kamar. Sesekali wanita tua itu akan keluar saat pagi hari untuk berjemur dan berjalan di halaman rumah.
Alea menggelengkan kepala tanda tidak menginginkan keduanya.
Samar-samar telinga Bu Rahma mendengar suara mobil berhenti di depan. Tak lama terdengar ketukan di barengi "Assalamuallaikum." dari balik pintu.
"Wa’alaikumsallam."
"Biarkan Tami saja Bu," pekerja rumah tangga yang biasa di panggil Tami itu segera ke depan untuk membukakan pintu.
Pintu jati berukir itu terbuka, tampak sosok tinggi, gagah, dan tampan. Mampu menghipnotis Tami yang berdiri di pintu.
"Duh, Gusti... pangeran saking pundi niki?" ( Ya, Tuhan... pangeran dari mana ini yang datang )
"Mbak, Mbak!" Suara Beni mengejutkannya. "Kog bengong?" Beni berdiri di samping Dirga.
"Ng-nggih, Pak. Bapak cari siapa?"
"Ibu Rahma." Tanpa basa-basi Dirga langsung menjawab.
"Siapa Mi?" Bu Rahma ikut menyusul ke depan, masih dengan menggendong Alea.
Baru beberapa langkah sebelum sampai pintu. Alea berteriak.
"Papi!!" Alea memaksa turun dari gendongan. Kaki kecil itu berlari ke arah pintu.
"Alea..." Dirga berjongkok menyambutnya dengan kedua tangan terarah ke depan.
Tubuh kecil itu menabrak pria dewasa yang ia kenal sebagai Papinya. Kesedihan di wajahnya berubah menjadi ceria. Tangan kecil itu bergelayut manja.
Dirga memeluknya dengan sayang. menghujaminya ciuman di seluruh wajah mungilnya.
Pria dewasa dan Gadis kecil itu saling melepas rindu dengan tidak memperdulikan mereka yang sedang menyaksikannya.
"Ea lindu..."
"Papi juga, Sayang... Anak Papi kenapa menangis?"
"Ea cali Mama..."
"Mama belum pulang?" Rahangnya mengeras mengetahui Anin belum kembali saat hari sudah sore.
"Nak Dirga." suara lembut Bu Rahma memutus pembicaraan dua orang berbeda usia itu.
"Masuklah dulu."
"Bu," Dirga mencium punggung tangan Bu Rahma. Ia lalu duduk di kursi jati dengan tidak melepaskan Alea.
"Monggo, masuk ke dalam." Dengan ramah Bu Rahma mempersilahkan para lelaki yang masih berada di luar.
"Biarkan kami menunggu di luar Bu," Beni menjawabnya.
"Tami, tolong siapkan minuman."
****
Bersambung ❤️
Terimakasih untuk para pembaca atas dukungan dan suportnya. Semangatku ada di jari kalian.. Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya ya 🤗
Simpan karya-ku sebagai faporit dalam rak buku ❤️
Terimakasih... Salam sayang 😘
Tunggu satu BAB lagi ya untuk hari ini.