Anindirra

Anindirra
Chapter 116



Pagi ini, sinar matahari yang muncul dari timur nampak masih malu-malu memberikan sinar terang.. Pendar itu memantul di balik kaca lebar tak mampu sepenuhnya masuk menerjang pembatas seakan takut mengusik dua manusia yang belum berubah posisnya.


Kesanyapan dan kegelapan masih melingkupi ruang dimana dua anak manusi masih berada di atas peraduan dengan suasana hati di rundung kesedihan. Sinar matahari itu seakan enggan menjadi saksi dua orang yang saling mencintai tengah menata hatinya kembali.


Tak kuat menahan isak tangisnya, Anin membuka mata dan merapatkan wajahnya masuk membenamkan di dada bidang Dirga. suhu badannya masih terasa panas, walau tak setinggi semalam.


Dirga menyambutnya dengan ciuman di ubun-ubun kepala dengat mata memerah dan Anin berurai air mata. Niat hati ingin mendiamkannya, tapi tak sanggup ia lakukan.. Rasa cinta dan sayang, mengalahkan kekecewaannya. Ia pun sama lemahnya kalau kalau sudah di hadapkan dengan Dirga. pria itu terlalu jauh masuk ke dalam relung hatinya.


Keduanya saling bicara melalui rasa dan air mata, hanya dekapan erat yang mampu pria itu lakukan …ia membiarkan wanitanya menangis sesegukan untuk menumpahkan segala bentuk perasaan.


Saling meringkuk dengan wajah Dirga yang berada di atas kepala Anin, wanita itu semakin menengelamkan wajahnya yang basah ke dada Dirga yang terbuka.


Anin belum mau bersuara setelah beberapa saat puas dengan tangisannya, wanita hamil itu memutuskan untuk bangun. Ia harus menghubungi chef restoran untuk menyiapkan teh panas dan membuatkannya bubur yang baru, bubur yang semalam ia minta sudah dingin kerena tak tersentuh.


Dirga harus segera meminum obatnya yang sudah di beli di apotik semalam oleh Pak Dadang. Sebagai istri, ia akan tetap melayani dan mempersiapkan segala kebutuhan suaminya.


Melepaskan diri, Anin turun dari tempat tidur, melangkah masuk kamar mandi untuk melakukan ritual mandi paginya. Meninggalkan pria yang pasrah terdiam tanpa bisa menahannya. Tak butuh waktu lama, Anin keluar sudah dalam keadaan segar.


Mengenakan kaos longgar dengan wearpack rok di atas lutut berbahan levis, membuat ibu hamil itu terlihat seperti remaja. Perut buncitnya semakin membuatnya seksi dan menarik


Dirga hanya bisa memperhatikan wanitanya dari atas tempat tidur dengan rasa kagum juga khawatir, biasanya ia akan melarang Anin menggunakan rok yang akan memperlihatkan kemulusan kaki jenjangnya hingga batas paha.


Belum lagi aroma shampo yang menguar dari rambut yang tergerai basah. Seandainya tidak lagi dalam keadaan tak berdaya dan sedang ada masalah ia pasti sudah mengekapnya, ia tak rela berbagi keindahaan itu kepada dunia.


Menyibak selimut, Dirga memaksakan diri turun dari tempat tidur karena ingin ke kamar mandi, duduk di sisi pembaringan, kepalanya terasa berdenyut nyeri dan berat saat akan berdiri. Memejamkan mata, ia menunduk dengan meremat rambut kepalanya.


"Mas, kenapa bangun?" seperti mendapatkan angin segar, saat ia mendengar suara lembut yang di harapkannya menyapa.


Wanita itu segera mendekat berdiri di hadapan Dirga. Aroma tubuhnya mampu membuat pusing di kepalanya seakan berkurang.


"Aku ingin ke kamar mandi, Sayang." Dirga bicara dengan kepala tertunduk.


"Apa pusingnya semakin bertambah?" Anin menyentuh kedua sisi pipi pria itu dan menegakkan kepalanya agar melihat ke arahnya.


Bukannya menjawab pertanyaan, pria itu membenamkan wajahnya ke perut Anin yang posisinya pas di hadapannya. Dengan tangan membelit, melingkar.. Dirga tidak sanggup menahannya, pria itu butuh belaian tangan wanitanya, ia ingin di manja dan di sayang seperti biasanya saat ia terbangun di pagi hari. Rutinitas yang tak pernah ia lewatkan. Bermanja-manja dahulu setelah bangun tidur dan sebelum ia masuk kamar mandi.


Anin mengerti apa yang di inginkan suaminya, dengan kelima jarinya ia mengusap, membelai dan menyugar rambut hitam Dirga dengan penuh kelembutan...


Seakan mendapatkan air di padang pasir yang gersang.. pria itu merasa tenang, senang bukan kepalang. Ia semakin merapatkan pelukannya.


"Maaafkan Papi, Boy.. Maafkan, Papi.." ia mengecup perut Anin dan mengesekkan hidungnya. Walau masih belum ada kata sebagai jawaban kata maaf yang keluar dari mulutnya.


Anin belum mau membahas, membicarakan masalah yang terjadi. Ia hanya ingin fokus akan kesehatan Dirga


"Ayok, aku temani ke kamar mandi. Mas harus segera meminum obat, aku sudah meminta chef restoran membuatkan bubur ayam untuk sarapan.


°°°°°°


Alyne dan Bastian segera meluncur ke hotel setelah mendapatkan kabar dari Bayu pagi ini.. Dengan mustafa yang mengemudi dan Alea duduk di tengah antara Oma dan Opanya. Tak terlalu jauh jarak yang harus di tempuh untuk sampai ke hotel.


Kedatangan Bastian, Alyne dan mustafa sudah di tunggu dan di sambut oleh Bayu dan Stella di lobi.


Begitupun para pekerja, mereka semua ikut khawatir dan mendokan kesembuhan saat mengetahui Tuannya sedang dalam kondisi sakit. Mereka mendapatkan informasi pagi ini saat berada di restoran ketika akan sarapan.


Kemarin setelah menghabiskan waktu seharian mengitari tempat-tempat wisata, mereka pulang malam dalam kondisi kelelahan dan masuk kamar. Hanya Pak Dadang yang belum bisa tidur dan turun ke bawah, dan hanya ia saja yang mengetahui Tuannya dalam keadaan mabuk dan sakit.


Masuk ke dalam lift, Alyne ingin segera sampai ke lantai dimana kamar putra dan menantunya berada. Menuntun tangan kecil cucunya, ia sampai di depan pintu kamar di lantai 20. Alyne membuka handle pintu, dan masuk ke dalam.


"Mom.." Anin menyapa dan menengok saat langkah suara ketukan heels dan sepatu masuk dan mendekat.


"Papiii... Gadis kecil itu berlari melepaskan tangannya dari tangan Alyne, ia naik ke atas ranjang yang lumayan tinggi dengan kesusahan.


"Makacih Uncle.." saat bokongnya di dorong oleh Bayu agar memudahkannya naik.


Pemandangan itu mampu membuat bibir Dirga terangkat ke atas, pria yang tengah mengunyah makanan itu tersenyum tipis.


Alea merangkak seperti bayi mendekat ke sisi Dirga. "Papi cakit ya.?" bukan menggunakan punggung telapak tangan, Alea merapatkan kelima jarinya dan menempelkannya ke kening Dirga sudah mirip cap lima jari.


"Kepala Papi panas Oma.." Apa yang di lakukan gadis kecil itu membuat semua yang berada di dalam kamar tertawa dan menjadi hiburan untuk Anin dan Dirga.


"Semalam kenapa tidak mengabari Mommy dan Daddy, Nak?" Alyne duduk di sisi pembaringan dengan menggengam tangan Dirga. Wanita anggun itu tak bisa menyembunyika rasa sedihnya.


"Aku hanya demam Mom.. Jangan khawatir. Putramu ini kuat." Dirga tersenyum berusaha memberikan ketenangan untuk Mommynya.


"Maafkan, Anin Mom.. Anin hanya tidak ingin membuat Mommy dan Daddy panik di tengah malam."


"Ya sayang, Mommy mengerti …tapi lain kali kalau terjadi apa-apa dengan kalian tolong segera kabari kami."


"Ya Mom.."


Anin beranjak pergi, ia ingin memberikan ruang kepada Alyne dan Bastian untuk berinteraksi.


"Alea, ikut Mami dulu yaa.." Anin mengajak putrinya yang tengah bergelayut manja di lengan Dirga.


"Yes, Mami.." gadis kecil itu menurut.


"Mau kemana, Sayang?" Dirga bertanya dengan menatap wajah Anin. Kalau boleh meminta ia tak ingin berada jauh dari istrinya.


"Aku ke bawah dulu Mas, menemui para pekerja di restoran."


"Jangan lama-lama.." suranya terdengar pelan dan menghiba.


"Ya, Mas.." Anin meletakkan mangkuk bubur yang isinya tinggal setengah di atas meja nakas.


"Cium Papi dulu girl.."


Cup... Cup... Cup...


Alea mengecup kedua pipi dan kening Dirga dengan sayang.


"Ea tinggal dulu ya Papi.."


"An, aku ikut ke bawah.."


Stella menyusul langkah Anin yang akan keluar dengan menuntun Alea.


****


Bersambung ❤️


Jangan lupa like komennya yaa 🤗


Terimakasih 🙏😘