
"Mama tetep gak setuju dan gak suka kamu mengejar Anin lagi! Kamu sudah menikah dengan Sinta! Apa kurangnya dia? Selain cantik, Sinta gadis terpelajar. Saat ini dia menjabat sebagai Meneger di salah satu BANK. Ia juga satu-satunya yang akan menjadi pewaris usaha kayu milik orangtuanya."
"Kenapa kamu belum bisa menerimanya? Sudah 3 tahun Andre. Mama merasa kasihan, kemarin Sinta menghubungi Mama. Dia mengeluh, kamu jarang menghubunginya. Dan kamu sudah hampir satu bulan tidak pulang Ndre. Mama pikir saat kamu tidak pulang ke rumah, kamu pulang ke Surabaya."
Mama Diana Ibu kandung Andre. Saat ini sedang kesal kepada putranya. Ia mendapatkan kabar dari menantunya bahwa Andre mulai berulah. Selain itu, ia juga mengetahui dari supir kalau sudah dua kali Andre datang ke rumah mantan menantunya Anindirra.
"Cukup Mah! Sampai kapan Mama selalu menekan Andre? Mama tau Andre tidak mencintai Sinta. Yang Andre cintai Anin Mah! Bahkan sampai hari ini, Andre belum pernah melihat anak Andre."
Saat berumur 3 bulan Andre meninggalkan Alea dalam gendongan Bu Rahma. Walaupun Anin bersimpuh mengejarnya, ia tetap dengan keputusannya. Dan saat ini ia sungguh menyesalinya.
"Tapi kamu sudah berjanji dengan Mama akan melupakannya. Pernikahanmu dengan Sinta baik-baik saja sebelum kamu bertemu dengan wanita itu lagi."
"Kalau masalah anak yang menjadi alasanmu, kamu bisa ambil dia untuk ikut dengan kita. Kehidupannya akan lebih layak bila kita yang membesarkannya. Mama masih mau menerima. Tapi tidak dengan Ibunya! Dan Mama tidak mau di bantah!"
Dengan hati yang kesal. Andre meninggalkan Mama Diana pergi ke lantai dua menuju kamarnya.
"Andre!! Mama belum selesai bicara!"
Diana berteriak dari bawah tangga.
"Dasar anak itu! Di beri tau baik-baik tetap keras kepala. Apa yang di lihatnya dari wanita itu? Dia masih saja menggoda putraku."
Andre merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Hatinya kesal karna ucapan Mamanya. Sudah 2 kali ia mengunjungi tempat tinggal Anin. tapi rumah itu dalam keadaan kosong.
"Kemana kamu An?" ia mengingat pertemuannya saat berada di bandara. Ia memaksanya masuk ke dalam kamar sebuah penginapan dan memeluknya.
Dua hari sebelumnya ia mengirim pesan singkat, terbaca tapi tidak terbalas.
Wanita yang ia tinggalkan selama 4 tahun itu berubah semakin cantik dan menarik.
Rasa cinta yang telah ia buang tiba-tiba kembali lagi. Mengetahui kabar Anin, ia dapatkan dari Adi sahabatnya. Adi bertemu Anin saat sepupunya Mira merayakan pesta ulang tahunnya. Ada rasa cemburu dan tidak terima saat Adi menceritakan Anin dengan binar mata berbeda.
Mengganti kemeja kerja dengan kaos. Andre meraih kunci yang tergeletak di atas tempat tidur. Ia akan menemui Adi di Moon Cafe miliknya.
"Aku harus mencari informasi melalui Adi. Aku yakin, dia mengetahui keberadaan Anin. Apa lagi Mira satu kantor dengan Anin." ia segera turun ke bawah.
"Ndre, mau kemana kamu? Baru pulang sudah pergi lagi?"
"Andre ada urusan Mah." ia terus melangkah keluar masuk ke dalam mobilnya.
"Urusan!? Urusan apa? Tour & Travel yang ia kelola tidak ada masalah? awas saja kalu ia menemui perempuan itu lagi! aku tidak akan membiarkannya hidup dengan tenang!"
*
*
*
Johan sudah meninggalkan Cafe 15 menit yang lalu, karna masih ada kasus yang harus ia selesaikan. Sedangkan Ratna, masih berada di Cafe menikmati minumannya. Tanpa di sengaja ia mendengar pembicaraan dua orang pria yang duduk membelakanginya. Beberapa kali salah satu pria itu menyebut nama Anindirra dan perusahaan Wijaya Grup.
Terahir ia membayar orang untuk mencari informasi tentang wanita yang bersama suaminya. ia mendapatkan laporan kalau wanita itu bernama Anindirra beserta alamatnya. Lengkap dengan pekerjaannya.
"Apa yang di bicarakan laki-laki itu Anindirra wanita Dirga? Ia bicara pelan.
"Tidak ada salahnya aku bertanya?" senyum miring nampak di sudut bibirnya.
"Hai."... Ratna menyapa dua orang pria yang sedang berbincang.
Flashback
Andre melesat menuju Cafe untuk menemui Adi. Memarkirkan mobil, ia langsung masuk mencari tempat duduk dengan mengharah ke jalanan.
Belum sempat ia menghubungi Adi. Seorang pelayan menghampirinya.
"Siang. Pak Andre... Pelayan itu mengenal sosok Andre sebagai teman Bosnya.
"Pak Adi ada?"
"Ada pak. Di dalam ruangannya. Mau saya panggilkan?"
"Iya. Katakan saya menunggu di luar."
"Iya Pak."
"Sekalian pesan minum Pak?"
"Coffee latte saja."
"Ndre." Tepukan di pundak membuatnya menengok.
"Sudah lama?"
"Belum, ... Kamu sibuk?"
"Tidak, waktuku santai."
Adi mengkode karyawannya unrtuk membuat minuman untuknya.
"Bagaiman travelmu? Aku dengar dari Tante Diana kamu akan membuka cabang baru?"
:Rencananya. Aku masih mencari-cari tempat."
"Ada apa? Di lihat dari wajahmu sepertinya ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan?"
"Anin." Andre mendesah resah saat menyebut nama wanita yang sudah seminggu ini memenuhi kepalanya.
"Anin?" Adi bertanya.
"Ya, Anindirra... Aku bertemu dengannya seminggu yang lalu di bandara."
"Lalu?"
"Aku ingin rujuk Di."
Adi terdiam mendengar penuturan Andre. Kalau boleh jujur ia pun sudah mulai menyukai mantan istri temannya.
"Sudah 2 kali aku ke rumahnya." Andre mulain bercerita. "Tapi rumahnya kosong. Aku bertanya ke salah satu tetangganya, mereka bilang, mertuaku dan anakku sedang pulang kampung. Tapi mereka tidak mengetahui mengenai Anin."
"Aku ingin meminta bantuanmu, tolong tanyakan ke Mira keberadaannya."
"Mantan mertua! Dan kamu sudah menikah lagi. apa kamu yakin Anin mau di ajak rujuk?" Pernyataan dan Pertanyaan Adi membuat Andre terdiam.
"Anin tau aku menikahi Sinta karna Mama, kami juga memiliki Anak." Andre menggunakan alasan pernikahannya dan menjadikan Anak untuk mencari pembenaran.
"Ya, aku tau. Tapi itu tidak bisa di jadikan alasan yang kuat. Maaf, kamu sudah mengecewakannya Ndre. Bagaimana kalau Tante Diana tau?"
"Mama sudah tau. Dan Mama masih tidak menyukai Anin."
"Lepaskan dia. Kamu sudah mentalaknya. Apa kamu tidak kasihan? Biarkan ia bahagia dengan pilihannya. Entah dengan siapa nanti ia akan berjodoh."
"Aku masih mencintainya." ucap Andre terdengar lirih.
"Anin sudah tidak bekerja di perusahaan Wijaya Grup. Hanya itu info yang aku terima, selebihnya aku tidak tau dia ada dimana?"
Tiba-tiba seorang wanita datang mendekat.
"Hai."... Ratna datang menyapa dua orang pria yang sedang berbincang.
Andre menoleh mengangakat kepalanya, seorang wanita, bermake-up tebal berdiri di sisi meja. Mengenakan pakaian seksi di atas lutut dengan menenteng tas mahalnya.
Ia mengerutkan keningnya karna tidak mengenal sosok wanita itu.
"Boleh gabung?" Ratna memberikan senyum manisnya, dan sebelum mendapatkan jawaban Ratna menarik salah satu kursi di samping Adi agar bisa berhadapan dengan Andre.
Medudukkan bokongnya. Ratna mengulurkan tangan.
"Kenalkan, aku Ratna. Ratna Diyanti."
"Andre Darmawan." Ia menyambut uluran tangan wanita yang mengenalkan namanya.
"Bisa kita bicara berdua, Andre?"
"Saya tinggal dulu." Adi segera bangkit dari tempat duduknya saat menyadari wanita itu menginginkan pembicaraan yang bersifat privasi dengan sahabatnya.
****
Selesai baca, aku minta likenya ya teman-teman. Itu sangat berarti dan membantu buat Author.
Mohon dukungan like , komen , hadiah dan votenya 🤗
Jangan lupa simpan dalam faporit ❤️
Terimakasih... Salam sedunia dah 😘