Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 99, Penyelamatan Odessa



Disaat itu juga, Johan pun berjalan ke arah kantor desa yang jaraknya lumayan jauh jika berjalan kaki. Johan berlari sekuat tenaga ke arah kantor desa itu. Sesampainya di kantor desa, Johan menabrak dengan begitu keras pintu kantor desa tersebut dan membuat seluruh para pengungsi desa itu begitu terkejut dengan kehadiran Johan yang tiba tiba.


“dimana letak gudang kantor desa ini?” tanya Johan kepada mereka semua.


“ada di samping kamar mandi” jawab salah seorang pengungsi.


“kau mau kemana, Johan!?” teriak Yoga dari kejauhan.


“aku akan melakukan hal yang sama seperti apa yang telah kalian lakukan. Aku tidak akan membuat perjuangan kalian sia sia” teriak Johan.


“dasar kepala batu” gumam Yoga seraya tersenyum da menggelengkan kepalanya.


Johan pun seketika berlari ke arah gudang untuk membawa semua peralatan yang dibutuhkan. Saat memasuki gudang, Johan mengambil dua buah belati dan dua buah keris. Johan juga membawa sebuah bongkahan batu karbit yang berukuran lumayan besar dan galon air kecil berisi air. Tidak lupa juga Johan membawa senter dan pemantik api.


Setelah membawa semua itu, Johan meletakkannya di satu kain yang besar dan membungkusnya. Johan pun kembali berlari keluar gudang seraya membawa semua peralatan itu. Pada akhirnya, Johan pun memutuskan untuk berlari seorang diri dengan membawa semua barang yang piperlukan untuk melawan penebang pohon tersebut.


“aku akan menyelamatkannya. Tunggu aku, Odessa. Aku pasti akan menjemputmu. Aku akan selalu mengingat janji Hanabi kita” ucap Johan dalam hati dengan memantapkan tekadnya.


Johan berlari keluar kantor desa dan berlari melewati hutan. Johan pun menyebrangi hutan bersama dengan gemuruh guntur yang mulai meneror langit malam itu. Sesaat setelah Johan menyebrangi hutan, Johan mampu melihat pohon Odessa dari jarak yang lumayan dekat.


Disaat itu juga, Johan melihat Odessa yang di ikat gantung di pohon tersebut. Kedua tangan Odessa diikat dengan rapat dan membiarkan tubuhnya menggantung di ranting pohon itu. Dengan kata lain, Odessa telah gagal menyelamatkan pohonnya sendiri.


“Odessa? Apa dia baik baik saja?. Apa dia gagal melindungi pohonnya sendiri?. tunggu aku, Odessa” fikir Johan dalam hati.


Johan melihat sekitar 6 orang yang sedang bergerombol di sekeliling pohon Odessa. Mereka berenam terlihat tengah berusaha untuk menebang pohon milik Odessa menggunakan gergaji mesin otomatis.


“ini masih sempat” ucap Johan.


Seketika itu pula, Johan pun memasukkan batu karbit tersebut kedalam sebuah galon kecil. Sebelum itu, Johan sudah melubangi gentong tersebut dengan lubang kecil. Gentong yang berisi air itu akan bereaksi saat terkena batu karbit. Saat itu pula, Johan melemparnya ke arah gerombolan mereka semua.


Melihat sebuah gentong tersebut terlempar ke arah mereka, mereka semua begitu terkejut dengan suara gentong tersebut. Maka dari itu, perhatian semua orang tertuju kearah galon yang terjatuh di tengah tengah segerombolan mereka. mereka semua pun menghampiri gentong tersebut dan bergerombol di sekitar galon tersebut.


“bagus, mereka malah bergerombol” gumam Johan.


Seketika itu pula, Johan pun melemparkan pemantik api otomatis. Pemantik dengan api yang akan otomatis mati jika korek tersebut ditutup. Korek api dengan api yang tidak akan mati saat ibu jari dilepaskan. Johan melemparnya ke arah galon air berisi karbit yang sudah bereaksi itu.


Disaat api dari korek tersebut membakar lubang kecil yang ada di galon tersebut. Seketika air yang telah bereaksi dengan batu karbit pun terbakar dengan cepat. Dikarenakan galon tersebut tidak memiliki lubang yang begitu besar, maka tekanan yang berada di dalam galon menekan dari dalam dan meledakkan satu galon air tersebut.


Galon air meledak. Mereka semua begitu terkejut dan beberapa diantaranya terkena pecahan galon yang terbang melayang. Disaat mereka terkena ledakkan tersebut, spontan Johan berlari menuju ke arah mereka semua seraya membawa dua buah belatinya. Johan berlari begitu lincah dan menusuk kedua kaki keenam orang tersebut. Johan menusuk 12 kaki sekaligus menggunakan belati yang ia pegang di kedua tangannya.


“aku akan menghancurkan kalian semua” ucap Johan dengan hasrat menusuk kaki mereka semua.


Pada akhirnya, keenam lelaki dewasa itupun tumbang dengan dalam kondisi kedua kaki mereka semua berlubang karena tertusuk belati milik Johan. Odessa yang saat itu sudah begitu lemas karena tangannya yang sakit akibat terlalu lama di gantung melihat Johan yang bertarung melawan ke enam lelaki sekaligus.


“Johan? Apa itu kamu?” tanya Odessa.


“iya, ini aku” jawab Johan seraya menatap tajam kedua mata Odessa.


“kenapa kamu disini? bodoh!” teriak Odessa dengan begitu marah.


“aku akan menyelamatkanmu” teriak Johan.


“aku tidak perlu diselamatkan. Cepat lari dari sini dan pulanglah!” teriak Odessa.


“aku tidak akan pernah meninggalkanmu” jawab Johan.


“cepat lari atau mereka akan menemukanmu” teriak Odessa dengan isak tangis air mata.


“aku tau itu. seorang roh pohon akan menangis saat dirinya meminta pertolongan kepada orang yang dicintainya. Kamu sudah cukup menangis saat aku berusaha untuk membuat janji Hanabi, dan sekarang kamu menangis karena kamu ingin aku pulang. Dasar roh pohon bodoh!” ucap Johan sedikit tertawa.


“pulanglah, Johan!” teriak Odessa dengan menangis histeris.


Spontan saat itu, Johan pun memotong tali yang mengikat kedua tangan Odessa. Pada saat itu pula, tubuh Odessa pun terjatuh. Namun sebelum tubuh Odessa mengenai tanah, Johan menangkap tubuh Odessa agar tidak terjatuh. Johan pun meletakkan tubuh Odessa perlahan untuk bersandar di tubuh tersebut.


“apa yang kau lakukan? Para penebang akan membunuhmu jika kau ketahuan” ucap Odessa menangis dengan tangan yang bergetar ketakutan.


“aku sudah tau semuanya. Aku ingin kamu lebih jujur dengan masalahmu. Ceritakan semua masalahmu padaku, dan kita akan menyelesaikannya bersama” tegas Johan.


“aku sudah memiliki anak dan suami, aku tidak akan pernah mau denganmu!” teriak Odessa.


“aku tidak peduli dengan itu. jika kau tidak mencintaiku, aku yang akan mencintaimu. Lagipula, kebohonganmu itu sudah sia sia. Kau tidak mungkin hamil karena kamu adalah seorang roh pohon” tegas Johan.


“bagaimana kau bisa tau itu?” tanya Odessa.


“karena aku mencintaimu dan selamanya aku akan menjemputmu. Janji kita, Hanabi. Itu bukan janji yang akan di tinggalkan dengan mudahnya. Janji yang dibuat oleh manusia biasa yang lemah dan tidak bisa apa apa bersama dengan roh pohon yang begitu cantik membuat janji kita terikat begitu kuat” jawab Johan.


Namun, saat mereka berdua sedang berbincang, terdengar suara langkah kaki di balik tubuh Johan. Spontan Johan mengeluarkan dua belatinya dan membalikkan tubuhnya. Namun gerakannya sudah terbaca oleh lelaki yang berjalan mendekat itu. Pria tersebut membawa sebuah pistol di genggaman tangannya. Saat Johan membalikkan tubuhnya, spontan pria itu menembakkan peluru tersebut.


Peluru dari pistol melesat cepat. Pria itupun menembakkan dua buahpeluru dan mengenai kedua kaki Johan. Kedua peluru tersebut menembus kedua paha Johan dan membuat Johan seketika terjatuh disana. Seketika Johan menjerit kesakitan karena peluru dari pistol melesan dan menembus darah daging kedua kakinya. Tubuh Johan pun seketika terjatuh karena kedua kakinya tidak mampu lagi menopang berat tubuhnya.


“sakit, ini sakit sekali. Dua peluru itu menembus dagingku. Sakit sekali. Peluru itu begitu panas dan membakar daging kakiku ini. Sangat sakit. aku tidak bisa bergerak” fikir Johan dalam hati.


“Johan!? Apa kau baik baik saja?” teriak Odessa dengan tetesan air matanya.