
Sementara itu, Jehian, Nyoman, Farel dan Kahfi bersama dengan paman Surya dan pak Abdi sedang berbincang di ruang tamu bersama. Hanya sekedar mengobrol bersama, seiring dengan berjalannya waktu. Benar benar obrolan orang dewasa dimana yang mereka bicarakan hanya sebatas sepak bola dan piala dunia. Sembari menunggu masakan sang ibunda dan Emilia siap, mereka menyeruput secangkir kopi bersama dengan sebatang rokok. Pastinya hanya pak Abdi dan paman Surya yang merokok, sisanya benar benar tidak tertarik untuk mengkonsumsi asap tersebut.
Disisi lain, Johan yang ada di dalam kamar diam diam mengunci kamarnya dari dalam dan kemudian memasuki selimut kasurnya. Sejujurnya, Johan masih belum mengantuk sama sekali dan masih belum terkena efek obat. Johan masih terjaga dengan begitu lebar. Johan masih memikirkan tentang apa yang telah ia lakukan di desa. Bagaimanapun juga, dia masih tidak bisa percaya kalau dirinya bisa melakukan hal se jahat itu dengan menusukkan kaki orang menggunakan belati dan keris.
“aku bener bener gatau. Entah kenapa aku merasa kalau orang orang itu harus di tangkap. Mereka sudah mencemari lingkungan” fikir Johan rebahan santuy di dalam selimut.
“ngomong ngomong, di dalam selimut ternyata panas juga ya” fikir Johan dalam hati.
“panas? Gerah? Kata kata itu membuatku teringat dengan Odessa Ai di desa” fikir Johan dalam hati.
“kalau kondisinya masih seperti ini, aku sama sekali tidak bisa membawa Odessa kemari. Bahkan mamah dan paman Surya pun tidak mengijinkanku untuk pergi ke desa sendirian. Tapi masa aku harus mengajak Emilia dan semuanya ke desa? Padahal tujuanku hanyalah membawa Odessa pergi dari sana dan bersenang senang di kota” fikir Johan dalam hati.
“apa yang harus ku katakan kepada mereka semua? Bagaimana alasanku? apa aku harus menggunakan alasan dimana aku ke rumah Emilia dan menginap di rumahnya? Kurasa tidak. Aku tidak akan berlama lama di desa. Mungkin aku hanya akan parkir mobil di depan gapura dan sebisa mungkin menjauhkan muka ku dari kantor desa disana. Kalau aku sampai ketahuan oleh orang desa, aku akan di penjara disana dan dipaksa untuk istirahat serta menginap disana” fikir Johan.
“baik, aku akan melakukannya. Aku harus berpura pura kalau saja Emilia mengajakku ke rumahnya hanya untuk bermain dan berkunjung. Aku akan memanfaatkan waktu secepat mungkin agar bisa menjemput Odessa disana” fikir Johan dalam hati.
“ohh iya, aku lupa. Aku juga harus menambal semua tugasku yang lubang. Bagaimanapun juga, tugasnya sudah terlalu banyak yang lubang. Ini sudah lebih dari 3 bulan semenjak aku tidak masuk sekolah, dan aku masih santai santai saja di dalam rumah” fikir Johan.
“atau kalau tidak, aku berpura pura pergi ke rumah Emilia hanya agar mengerjakan tugas. Mungkin itu akan lebih masuk akal. Aku beralasan untuk pergi ke rumah Emilia untuk mengerjakan tugas” fikir Johan.
“sudah di pastikan. Besok lusa adalah hari?” fikir Johan dalam hati seraya melihat tanggal di dalam ponsel nya.
“ohh, besok lusa adalah hari minggu. Ohh iya aku ingat. Aku masih di rumah kemarin bersama dengan Emilia dan teman teman dan menonton film bersama. Itu adalah hari kamis. Dan kemudian, aku pergi ke desa tengah malam dan kembali dari desa. Hari ini adalah hari jumat. Dan besok lusa adalah hari minggu. Benar benar waktu yang sangat pas” fikir Johan dalam hati seraya tersenyum sendiri di dalam selimut.
“ahh, di dalam selimut benar benar panas. Bahkan demamku sudah turun karena aku yang ada di dalam selimut kepanasan hinga berkeringat. Aku menjadi semakin segar karena keringat ini. Entah mengapa aku benar benar tidak mengantuk lagi. Perasaanku benar benar bersemangat saat aku memikirkan tentang Odessa Ai” fikir Johan dalam hati.
“aku sudah mencintai perempuan sebesar ini. Bahkan aku sudah mencintai Odessa Ai lebih dari aku mencintai Kasumigaoka Utaha Senpai” fikir Johan dalam hati.
“entah kenapa, tapi aku merasa memiliki hubungan yang super duper dekat dengan Odessa. Padahal kita bertemu hanya beberapa kali, dan aku sudah berani mengungkapkan perasaanku kepadanya. Dan dia juga bilang kalau dia menyukaiku” fikir Johan dengan muka yang begitu merah.
“ahhhh, semakin aku memikirkan Odessa, pipiku semakin memerah. Suhu di dalam selimut ini juga semakin panas” fikir Johan.
Johan pun membuka selimutnya dan menghirupudara yang begitu segar. Keringatnya yang begitu membasahi tubuhnya itupun seketika tertiup udara yang begitu dingin di luar selimut dan seketika seluruh tubuh Johan begitu dingin serasa sehabis mandi namun masih gerah.
“waahh, entah kenapa tapi aku sekarang pengen mandi” ucap Johan.
Johan pun merenggangkan tubuhnya dengan begitu lega. Tanpa sengaja, Johan merasa kalau ada sebuah layaknya kertas yang terlepas dari punggungnya. Saat Johan membuka bajunya, Johan mendapati kalau saja koyo yang telah di pasangkan oleh pak ketua pagi tadi sudah terlepas.
“ehh? Koyo?” ucap Johan bertanya tanya.
“ohh, aku inget. Tadi pagi kan pak ketua kasih pijat. Mungkin kalau aku mandi pakai air dingin, punggung yang kena balsem akan begitu dingin. Seperti yang kurasakan saat mandi dengan air dingin di desa tadi. Aku akan berendam air hangat untuk sementara” ucap Johan seraya beranjak dari kamarnya.
Johan pun seketika memakai bajunya kembali dan kemudian membuka pintu kamarnya. Johan pun berjalan keluar kamarnya da menuruni tangga, dengan menggaruk kakinya yang sedikit gatal karena di gigit semut, Johan berjalan dengan sedikit membungkuk sebab seraya menggaruk kakinya.
“ciat ciat, gatel banget” gumam Johan seraya menuruni tangga.
Saat Johan berada di tangga tengah, ia dapat melihat semua orang yang sudah bersiap duduk di meja makan sebab makanan akan segera di sajikan. Saat itu pula Johan mendapati jika Emilia dan sang ibunda yang memasak di dapur. Johan pun menghampiri ke dapur dalam keadaan yang sedikit lemas dan berpakaian serba tebal.
Sang ibunda yang melihat Johan berjalan ke bawah itupun sedikit terkejut dengan apa yang Johan lakukan disini.
“apa yang kau lakukan? Bukannya mamah udah suruh tidur” tegas sang ibunda.
“memangnya aku ke kamar mandi saja tidak boleh?” tanya Johan.
“sudahlah, lagipula dia pasti tidak bisa tidur di kamarnya” ucap paman Johan kepada sang ibunda.
“itu benar, apalagi kopi khas dari desa memang benar benar dapat membuat peminumnya terjaga” sahut pak Abdi.
“tapi aku ngga minum kopi” jawab Johan.
“kalau begitu, apa kau ingin makan juga?” tanya Jehian.
“aku udah makan” jawab Johan.
“tapi ini dengan sup hangat. Tanpa nasi pun udah enak banget. Duduklah disini dan tunggu sampai makanannya datang” ajak Kahfi.
“iya, duduklah disini sampai makanannya jadi” uajr Farel.
“sebentar dulu, aku mau pipis” ucap Johan berlari menuju kamar mandi.
Johan pun kembali dari kamar mandi dan kemudian duduk di samping Jehian. Saat itu, mereka benar benar sedang sibuk berbincang di meja makan yang sama. Begitu pula dengan Johan yang ikut mendengarkan pembicaraan mereka. 5 menit kemudian, sup hangat bersama dengan beberapa jamur dan usus tepung pun sudah siap untuk di sajikan.
Sang ibunda pun membawa sup yang berada di panci sedikit besar itu dengan sedikit kesusahan. Bagaimanapun juga, tubuh sang ibunda masih belum fit dan berstamina untuk melakukan pekerjaan sehari hari.
“apa tante bisa? Apa tante butuh bantuan? Nyoman akan bantu tante” ucap Nyoman kepada sang ibunda yang sedikit kesusahan saat membawa panci berisi sup panas.
“tidak apa apa” jawab sang ibunda dengan begitu keberatan saat membawa panci tersebut.
Semua orang benar benar sedikit takut dengan itu. mereka takut jika sup tersebut tumpah karena lengan sang ibunda sudah lemas.
“sebaiknya jangan memaksakan diri” ucap sang paman Surya.
“tidak apa apa” jawab sang ibunda.
Sesaat setelah itu, sup tersebut memang benar benar tumpah. Benar saja apa yang di katakan oleh Johan. Panci tersebut sedikit mengenai kulit tangan sang ibunda dan membuat tangan sang ibunda terkejut akan panci yang begitu panas. Maka dari itu, tangan sang ibunda pun sedikit bergiyang dan pada akhirnya tumpah hingga menyisakan setengah dari sup di dalam panci tersebut.
“horeeeee, tumpahhhh” ucap mereka semua serentak seraya bertepuk tangan.
“ahh, panas” ucap sang ibunda.
“apa mamah tidak apa apa?” tanya Johan.
“ma-maaf, mamah sedikit lemas dan kaget saat tangan mamah kena panci panas” jawab sang ibunda.
“memangnya itu sup apa?” tanya Johan.
“itu sup biasa, hanya berisi sayuran” jawab Emilia.
“kalau begitu, kalian berdua duduklah. Biar aku yang masak” tegas Johan berdiri dengan begitu bergaya.
“sekarang giliranku” ucap Johan seraya berjalan ke arah dapur dan mengenakan celemek.
“heh? Hahahahahahaha, Johan memasak? Apa dia yakin? dia masak?” ucap sang paman Surya tertawa terbahak bahak.
“apa kau tau perbedaan garam dan gula? Hahahaha” ucap pak Abdi dengan begitu meremehkan Johan.
“apa kau yakin bisa memasak?” tanya sang ibunda.
“kurasa tante masih belum tau potensi dari anak tante sendiri” sahut jawab Nyoman.
“kurasa kita semua harus melihat pembuktian Johan sendiri” ucap Jehian.
“aku setuju, kita akan melihat hasil dari Johan” ucap Emilia dengan begitu semangat.
“yaahh, sebenarnya kita sudah tau kalau Johan sangat ahli dalam memasak. Tapi kita akan membiarkan pak Abdi, paman Surya dan mamah Johan untuk mencicipinya langsung” fikir Emilia dalam hati.
“aku setuju, aku juga penasaran dengan resep yang akan di gunakan oleh Johan” ujar Kahfi.
“mamah harap kamu hati hati dengan pisau dapur” ujar sang ibunda.
“tenang saja, yang seharusnya mengatakan itu adalah Johan. Lihat, jari mamah sudah ada yang terkena pisau” ucap Johan seraya menatap jari sang ibunda yang terbungkus plester.
“kalau begitu, apa jamur dan sawi nya masih ada?” tanya Johan.
“masih ada, di dalam kulkas’ jawab Emilia.
“dan juga apakah sosisku masih utuh?” tanya Johan.
“kita tidak berani menggunakan sosismu” jawab sang ibunda.
“kalau begitu, tunggu sebentar ya” jawab Johan seraya mengikat celemeknya.
Johan membuka kulkas dan kemudian mengeluarkan sawi, daging baso, sosis, jamur, dan lain sebagainya. Dengan begitu lihai, nyatanya Johan bisa memotong potongan wortel dengan cepat. Johan memasukkan semuanya ke dalam panci dan kemudian merebusnya.
“kok kalian malah melihatiku? Aku jadi sedikit malu saat dilihati saat memasak” ucap Johan seraya memotong sosis.
“tidak apa apa” jawab mereka semua seraya begitu terkagum saat melihat Johan yang memotong sosis dengan begitu cepat.
Johan merebus sawi dan wortel di panci yang berbeda karena Johan tau kalau saja wortel membutuhkan waktu yang lebih lama saat di rebus dibandingkan sawi. Johan pun menyiapkan kaldu untuk kuah sup dan kemudian memasukkan semua bahan bahannya ke dalam panci yang sudah berisi kaldu sedap.
Johan menakar garam, gula, penyedap rasa, cuka, lada, dan lain lain ke dalam panci tersebut tanpa menggunakan sendok dan hanya berdasarkan perasaan saja. hanya dalam 8 menit, Johan pun selesai membuat sup tersebut dengan begitu sempurnya. Selama 8 menit itupun mereka semua melongo karena melihat skill memasak Johan yang begitu mendewa.
Johan pun membawa panci tersebut ke atas meja makan dan kemudian membuka tutup panci tersebut. Aroma yang keluar benar benar menusuk di hidung menambah nafsu makan siapapun yang menghirupnya. Dengan aroma yang begitu sedap nan segar, mereka semua begitu menelan air liru mereka saat mendapati kalau embun air di tutup panci menetes dan mengeluarkan gumpalan uap yang begitu harum.
“sudah selesai, silahkan makan” ucap Johan.
Mereka semua pun mengambil mangkok dan kemudian mengambil sup milik sang ibunda di dalam sup. Saat mereka menyuap sup buatan ibunda dan Emilia, mereka benar benar terkejut bukan main atas rasanya yang benar benar luar biasa mantap.
“wooaaahhh, ini mantap gile” ucap Kahfi.
“iya, bener bener luar biasa enak” ujar pak Abdi.
“sangat di sayangkan kalo sup nya harus ilang setengah” ucap Farel.
“kalau begitu, sekarang coba kita makan masakan Johan” ucap Nyoman.
“hmm, baik” jawab mereka serentak.
Mereka pun menyuap beberapa di dalam mangkok mereka yang sudah kosong dari sup milik ibunda dan kemudian mengisinya dengan isian sup buatan Johan. Mereka semua pun menyuapnya dan merasakan kenikmatan yang super duper amat luar biasa juah lebih mantap jika di bandingkan dengan sup buatan ibunda.
Merasa seperti itu, mereka benar benar sudah di buat gila dengan kenikamat sup buatan Johan itu. Benar benar begitu luar biasa mantap dimana hanya dalam waktu 8 menit dan bahan bahan sisa, Johan sudah bisa membuat sup yang kualitasnya jauh di atas rata rata.
“woaahh, ini sangat amat luar biasa jauh lebih mantap dari buatan kita” ucap Emilia kepada sang ibunda.