
Ia melihat ranjangnya yang sedang di pakai oleh Emilia berjajar dengan ranjang milik Farel, Jehian dan Nyoman. Mereka semua tengah tertidur pulas di ranjang mereka masing masing. Di dalam kamar panjang namun tidak terlalu lebar itu, Johan pun segera keluar dari kamar tersebut.
Johan berjalan ke arah pintu keluar dan kemudian membuka pintu tersebut. Nyatanya, di luar adalah ruangan aula besar dimana semua warga desa tersebut mengungsi. Johan pun keluar dan kembali menutup pintu kamar tersebut. Selepas itu, Johan pun berjalan pergi ke mobil yang tengah parkir di luar.
Nyatanya, saat dia telah keluar dan kemudian hendak berjalan menuju mobil, ia mendapati adanya keenam teman papah Johan sedang duduk duduk sembari meminum kopi dan merokok bersama dengan petinggi desa tersebut. Johan melihat kalau mereka bersepuluh sedang berbincang bincang sambil tertawa ria duduk di beberapa kursi di luar gedung.
Seketika sang ketua desa tersebut secara tidak sengaja melihat Johan yang saat itu tengah berada di luar gedung. Sang ketua pun memanggil Johan dan kemudian menyuruhnya untuk kemari.
“hoyy, nak Johan. Kesini kamu” ucap sang ketua seraya melambaikan tangannya ke arah Johan.
“hah? saya pak?” tanya Johan seraya menunjuk ke dirinya sendiri.
“iya, kamu. Kesini” ucap sang ketua.
“baik” jawab Johan seraya berjalan menuju ke segerombolan mereka semua.
Johan pun berjalan dengan santainya menuju ke arah mereka semua. Dengan dalam keadaan kedinginan, Johan berjalan seraya memeluk tubuhnya sendiri. Ia melihat bahwasanya semua orang sedang memakai jaket tebal bersama dengan kopi hitam yang hangat dan rokok yang menyala.
“ada apa om?” tanya Johan dengan suara yang sedikit menggigil.
“nak Johan sudah baikan?” tanya sang ketua.
“udah, om. Makasih” ucap Johan.
“apa nak Johan mau kopi?” tanya sang ketua.
“dia jangan diberi kopi, takutnya dia kembung” ucap sang wakil.
“boleh juga, aku lumayan kedinginan disini. dan juga aku pernah minum kopi di daerah ini, jadi aku udah terbiasa” sahut Johan.
“emm, okelah kalo begitu. Temen temen papah kamu ini ada yang tidak bisa minum kopi, jadi kopi miliknya masih utuh dan hangat. Kamu minum aja kopi itu” ucap sang ketua.
“nih, nak Johan. Ambil saja kopi milik om” ucap salah seorang papah Johan yang menjadi sopir dari Johan dan teman temannya.
“ehh, om sopir tidak mau minum kopi? Padahal kopi nya enak banget loh om” tanya Johan begitu heran.
“om ngga bisa minum kopi. Kamu ambil aja” jawab sang om sopir tersebut.
“okelah om” ucap Johan seraya mengambil kopi yang berada di hadapannya itu.
“kalo begitu, apa Johan boloeh minum di dalam kamar? Soalnya di luar dingin banget dan Johan tidak membawa pakaian tebal” tanya Johan dengan begitu sopan.
“silahkan bawa saja kedalam, dan jangan lupa kunci pintu kamar kalian” jawab sang ketua.
“baik, terimakasih” ucap Johan dengan menundukkan kepalanya.
Johan pun berjalan seraya membawa secangkir berisi kopi hangat. “gapapalah, aku juga males buat masuk ke mobil dan ambil air putih. Mending kopi aja boss” fikir Johan dalam hati.
Johan memasuki gedung dan berjalan menuju ke pintu kamarnya. Seperti biasa, Johan melihat semua orang yang tengah mengungsi saat itu sedang tertidur lelap di lantai yang sudah dikedarkan sebuah karpet luas.
Johan pun membuka pintu kamarnya perlahan dan kemudian menutupnya dari dalam. Johan pun segera mengambil sebuah kursi dan meletakannya di samping jendela. Selepas itu, Johan pun membuka jendela yang berada di samping ruangan tersebut.
Johan juga mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan kemudian memasang earphone miliknya. Sembari menyeruput kopi yang begitu pahit dan hangat, Johan mendengarkan sebuah lagu kesukaannya itu.
Pagi yang tenang, Johan berbohong mengenai bahwa dirinya tidak membawa pakaian tebal. Nyatanya, Johan saat itu memakai pakaian dobel dan pastinya Johan akan sangat dibuat hangat oleh pakaian tersebut. Johan pun menikmati udara malam yang dingin sembari melihat pemandangan malam yang saat itu tidak terlihat apapun karena tidak ada listrik yang memasok penerangan jalan.
Namun, sebelum Johan menyeruput kopinya, Johan mendapati Emilia yang begitu nyenyak dalam tidurnya. Bisa dilihat kalau Emilia berulangkali merubah posisi tidurnya hingga menendang selimutnya hingga selimutnya terlepas dari menutupi tubuhnya.
Johan pun segera berdiri untuk membenarkan dan menutupi tubuh Emilia dengan menyelimuti sekujur tubuh Emilia sekali lagi. Johan pun kembali berjalan menuju ke samping jendela dan kemudian duduk di kursi tersebut. Saat Johan hendak mengambil secangkir kopi yang ia letakkan di jendela, tiba tiba cangkir tersebut menghilang dari tempatnya. Hal itu membuat Johan kebingungan akan dimana letak cangkir kopinya itu berada.
“dimana aku taruh kopi ku? perasaan aku taruh di dekat jendela, tapi kok gaada?” tanya Johan seraya melihat kesana kemari.
“bbwweekkk, ini pait banget” teriak Odessa yang saat itu sedang berada di luar jendela.
Mendengar hal itu, seketika Johan pun berfikir kalau ada seseorang di luar jendela. Perlahan namun pasti, Johan dengan begitu ketakutan memberanikan dirinya untuk mengeluarkan kepalanya hanya untuk memastikan ada tidaknya orang di luar jendela.
Namun, saat dirinya mengeluarkan kepalanya, dengan begitu keras Odessa berteriak di depan muka Johan. Seketika Johan sangat amat terkejut hingga berteriak kencang ditempat itu. Melihat wajah yang ketakutan dan memasang raut muka begitu terkejut, Odessa benar benar tertawa terbahak bahak saking lucunya ekspresi wajah Johan.
“itu nggak lucu tau!, jantungku hampir copot” ucap Johan sedikit kesal.
“harusnya kau melihat ekspresi mukamu sendiri saat kamu kaget barusan” ucap Odessa begitu tertawa lepas.
“dasar jahat, sekarang kembalikan kopi ku” ucap Johan dengan suara juteknya.
“nih, kopi mu bener bener pait banget. ngga enak dan terlalu pahit” ucap Odessa dengan memasang raut muka jijik.
“namanya juga kopi, kalo manis itu-“ ucap Johan terhenti.
“itu aku” sahut Odessa memotong perkataan Johan.
“heh? Ja-jangan ke PD an jadi orang. Siapa yang bilang kalo kamu itu manis?” tanya Johan dengan pipi yang sedikit memerah.
“aku ngga bilang kamu manis” teriak Johan.
“tuh, kamu bilang dua kali” sahut Odessa.
“itu pengecualian” teriak Johan.
“udah udah, jangan teriak. Nanti pacar kamu bangun” sahut Odessa sedikit membesit.
“hah? siapa? Pacarku?” tanya Johan.
“yang baru aja kamu benerin selimutnya” jawab Odessa.
“oh, maksudmu perempuan itu? dia bukan pacarku. Dia memang suka sama aku, cuma aku yang gamau sama dia. Dia udah pernah nembak aku, tapi sampai sekarang aku masih belum kasih jawaban kepadanya. Tapi dia udah anggep aku kalo kita udah pacaran. Padahal aku ngga ada perasaan yang sama” jelas Johan.
“kenapa kamu ngga bilang aja kalo kamu beneran ngga suka sama dia?” tanya Odessa.
“soalnya aku takut kalo hubungan kita berantakan. Kalo aku bilang sama dia kalo aku ngga suka sama dia, dia pasti perlahan menjauh. Dan aku udah anggep dia sebagai kakak aku sendiri. Aku gamau hubungan kita retak karena keegoisanku sendiri. Tapi aku juga gamau terus terusan berbohong ama perasaanku” ucap Johan.
“itu berarti kamu hanya terpaksa buat selalu ada dengannya” tegas Odessa.
“jadi, apa yang harus aku katakan kepadanya?” tanya Johan.
“sebaiknya kamu bilang seperti ini. Maaf, aku ngga suka sama kamu. Lebih baik kita temenan aja. Lebih baik kamu bilang kaya gitu” ucap Odessa.
“apa dia akan menangis?” tanya Johan.
“kenapa kamu malah tanya seperti itu?” tanya Odessa balik.
“soalnya aku gamau buat dia jadi nangis” ucap Johan.
“kalo begitu, kasih dia sesuatu saat kamu bilang kaya gitu” ucap Odessa.
“apa aku harus kasih dia tisu?” tanya Johan.
“bukan begitu maksudku. Berikan dia barang yang dia suka, atau yang perempuan suka. Dengan begitu, mungkin dia akan sedikit senang dengan pemberianmu itu” sahut Odessa.
“apa kau tau hadiah apa yang di sukai oleh perempuan?” tanya Johan.
“kalo aku lebih suka di beri air dan pupuk” ucap Odessa.
“hah? bwhahawbhawbahw. Apa apaan itu? aneh banget” ucap Johan tertawa terbahak bahak.
“hehehe, bercanda. Kalo perempuan seperti dia, aku rasa dia akan suka sama makanan manis dan mainan lucu” ucap Odessa.
“jadi menurutmu, aku harus memberi dia cokelat dan boneka?” tanya Johan.
“itu ide bagus. Aku sering liat laki laki kasih boneka dan cokelat kepada perempuan. Aku fikir dia akan suka” ucap Odessa.
“baiklah kalo begitu” ujar Johan dengan memantabkan tujuannya.
“sekarang, kau pulanglah. Ini udah terlalu pagi” ucap Johan.
“hah? udah pagi? Ini udah jam 5. Udah waktunya aku untuk menyiram pohon” jelas Odessa.
“apa kau udah gila? Jangan terlalu terobsesi kepada pohon” sahut Johan sedikit berteriak.
“tapi kan, pohon itu tubuhk-“ ucap Odessa terhenti.
“aku gamau tahu, kamu jangan terlalu memaksakan diri. Apalagi kamu masih belum tidur semalaman. Sekarang aku menyuruhmu pulang dan tidur. Setelah istirahat, barulah kamu boleh bermain dengan pohonmu itu lagi” tegas Johan.
“hmm, kau benar juga. Tapi apa kamu juga akan pulang?” tanya Odessa.
“pastinya, aku akan pulang di rumahku yang sangat jauh itu” jawab Johan.
“apa kamu masih mau bermain disini?” tanya Odessa.
“iyalah, sudah pasti itu. Bagaimanapun juga ini kampung halamanku dulu. Setelah ini aku akan sering mampir kemari. Dan aku juga akan kembali ke pohonmu” jawab Johan.
“hmm, terimakasih” ucap Odessa seraya tersenyum tulus dan menganggukkan kepalanya.
“sekarang aku mau pulang, makasih banyak” ujar Odessa melambaikan tangannya.
“hati hati” jawab Johan melambaikan tangannya pula.
Odessa pun kemudian berjalan menjauhi gedung tersebut menuju ke kegelapan malam disana. Tubuhnya tertelan oleh gelapnya lingkungan sekitar yang memang benar benar tidak memiliki cahaya penerangan sedikitpun.
Selepas itu, langit biru muda mulai muncul. Nyatanya sang fajar mulai menunjukkan eksistensinya di langit pagi yang mulai membias menjadi biru tua. Perlahan, langit menerima terangnya cahaya matahari. Hingga sampai matahari terbit di ufuk timur, membias cahaya menerangi seluruh permukaan disana.
Hangatnya sinar mentari melelehkan dingin mencekamnya malam yang telah lalu. Bersama dengan suara kicauan burung, sinar mentari mulai menyambut tanah subur dan rumput dedaunan.