Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 45, Uso



“ma-maaf, aku harus memasang spray dan selimut baru agar Emilia bisa tidur disini” ucap Johan seraya memaksakan tubuhnya untuk terbangun dari ranjangnya.


“aku bisa tidur di futonmu nanti” sahut Emilia.


“kalau begitu, aku akan mencuci tanganku” ucap Johan.


“aku yang akan membersihkannya” sahut Emilia.


“aku bisa sendiri” sahut balik Johan.


“jangan bodoh” bentak Emilia dengan begitu terbawa emosi.


“Emilia?” gumam semua orang begitu terkejut dan spontan menatap kearah Emilia.


“kau sudah terlalu banyak berbohong. Kau berbohong mengenai desa dan penyakitmu. Bahkan kita masih tidak tau alasan mengapa kamu menggigit tangan kirimu sendiri. Kita merasa selama ini, kita hanya berbicara kepada bayangan sahabat kita dan seperti berbicara dengan boneka hidup yang berperan menjadi seorang Mahesa Johan. Ada apa? Katakan semuanya, jangan di pendam seorang diri. Kita ini sahabatmu dan bukanlah seekor babi yang harus di hindari” ucap Emilia dengan tinggi notasi nada bicaranya.


“ppffftt” suara Nyoman menahan tawanya.


“jangan tertawa atau kupatahkan tulang lehermu” ancam Jehian kepada Nyoman.


“seekor babi, ppfftt. Maaf, aku tidak bisa menahannya” jawab Nyoman.


“tidak apa” jawab Johan dengan menundukkan kepalanya.


“jangan bilang kalau kau sedang baik baik saja” bentak Emilia.


“apa aku harus memberitahukan kepada kalian alasan mengapa mamah kandungku bunuh diri? Itulah mengapa aku benar benar benci untuk memasak, karena dengan memasak aku bisa mengingat kenangan pahit bersama dengan mamah dan nenek kandungku. Apa aku harus memberitahukan ini kepada kalian?. kurasa itu hal yang sangat tidak penting untuk dikatakan” jelas Johan kepada mereka semua.


“sekarang kalian siapkan futon kalian, aku ingin mandi sebentar. Kalian istirahatlah di kamarku dan jangan pergi kemanapun. Aku masih ingin kalian menemaniku sampai nanti malam” ucap Johan seraya beranjak berjalan dari kasurnya itu. Dengan begitu memaksakan diri, Johan berjalan melangkahkan kaki menuju ke tangga bawah dan hendak menuju ke kamar mandi.


Suasana seketika berubah menjadi begitu sunyi, dimana hanya ada suara langkah kaki Johan yang melangkah di papan kayu tangga rumahnya. Saat Johan sudah berada di lantai bawah, Johan pun berjalan menuju ke kamar mandi dengan begitu melawan lemasnya tubuh.


Namun, sebelum itu, Johan melihat sup buatannya itu yang tengah terbuka tanpa ada penutup. Melihat hal itu, Johan pun mengambil penutup panci di dapur dan kemudian menutup panci tersebut.


“kapan aku bisa bertemu dengan mamah, papah, kakek dan nenek lagi dan bisa makan bersama lagi? sebentar lagi, aku berulangtahun. Padahal aku sudah berharap kalau kita bisa makan di satu meja makan yang sama dan bercerita serta bersenda gurau disana. tapi entah kenapa, hari hariku sekarang ini benar benar hancur?” gumam Johan seraya meneteskan air matanya.


Selepas itu, Johan pun berjalan menuju ke kamar mandi dan kemudian menyalakan pemanas air. Johan pun mengisi air di bathtub menggunakan air hangat dan merendam tubuhnya disana. Hanya ada suara tetesan air yang terjatuh ke genangan air dari air kran yang tidak tertutup sepenuhnya.


Keadaan benar benar sunyi di dalam kamar mandi itu. Johan melamun di dalam kamar mandi tersebut dengan begitu lama menatap ke satu arah yaitu ke tulisan komposisi botol shampo.


“bagaimana mamah membuatnya?” tanya Johan saat melihat ibunda kandungnya memotong kentang.


“pertama, hal yang harus di lakukan adalah mengupas kulit kentangnya” jawab ibunda seraya memotong kentang tersebut.


“aku mau coba” ucap Johan kecil dengan suara polosnya.


“jangan coba coba, nanti kulitmu bisa luka” sahut sang nenek yang tiba tiba saja berjalan ke arah dapur.


“iya, kamu masih kecil, jadi kamu masih tidak boleh masak di dapur. Alatnya tajam, nanti tanganmu bisa berdarah” ucap sang ibunda dengan penuh perhatian.


“tapi mah, aku pengen bisa masak enak” ucap Johan seraya memasang raut muka memelas.


“tidak bole-“ ucap sang ibunda terhenti sebab tangannya tergores pisau.


“mamah? Mamah tidak apa apa?” tanya Johan.


“tuhkan? Apa mamah bilang. Mamah yang sudah bisa masak saja masih bisa terluka karena pisau, apalagi kamu yang masih kecil. Jangan bermain main dengan pisau” ucap sang ibunda seraya menunjukkan luka di jarinya itu.


“ehh?” tanya sang ibunda begitu terkejut.


“kata guruku, kalau tangan sedang berdarah karena luka, dengan air liur, bakteri di dalam lukanya bisa hilang” ucap Johan menggumam dengan jari sang ibunda yang masih berada di dalam mulutnya.


“tapi kan, mamah bisa mencucinya dengan air” ucap sang ibunda dengan tertawa.


“ehh? Iya juga” ucap Johan seketika mengeluarkan jari sang ibunda dari mulutnya.


“hahahaaha, kamu itu lucu banget. Sekarang cepat mandi, setelah mandi, pasti masakannya sudah matang” ucap sang ibunda.


“siap, mamah” ucap Johan seraya memberi hormat kepada sang ibunda.


Ingatan tersebut adalah ingatan yang seketika merasuk ke dalam otak Johan saat itu saat membayangkan akan kenangan indahnya bersama dengan sang ibu kandung. Mengingat hal tersebut, Johan begitu tersedu haru meneteskan air mata disaat itu juga.


“mungkin aku masih tidak bisa melepaskan kepergian keluarga ku yang secara tiba tiba saja satu persatu dari mereka mulai meninggalkanku” fikir Johan dalam hati seraya mengusap air matanya.


Sesaat setelah itu, secara tiba tiba pintu kamar mandi pun terbuka. Dengan begitu terkejut, Johan benar benar menutupi tubuhnya di dalam bathtub nya itu agar tubuhnya tidak dilihat orang lain. Setelah Johan melihat siapa yang masuk kedalam kamar mandi, nyatanya Johan begitu terkejut dengan semua teman temannya terkecuali Emilia hanya menggunakan handuk yang menutupi bagian bawah.


“kenapa aku juga harus ikut dengan kalian. Padahal aku tidak pernah ikut mandi bersama dengan kalian semua” ucap Kahfi dengan begitu kesalnya kepada teman teman Johan.


“tidak apa apa, kita akan mandi bersama disini” ucap Farel.


“yoo, Johan. Kita semua sudah berpakaian seperti ini dari tadi dan menunggumu sejak lama. Tapi sepertinya kau malah akan menggunakan kamar mandi ini sebagai tempat tidurmu. Jadi, sebagai gantinya, kita akan mandi bersama jangan sampai bila waktu memisahkan kita, dan semua yang tersisa hanyalah air mata” teriak Jehian dengan begitu semangat.


“bo-bodoh, apa yang kalian semua lakukan disini?” teriak Johan begitu terkejut akan kehadiran mereka.


“kita akan mandi” jawab Jehian.


“gantian dulu napa, bathtub nya cuma satu” teriak Johan.


“kita sudah menunggu sejak jaman penjajahan belanda sampai sekarang, tapi kau masih belum keluar juga. Daripada bathub tersebut digunakan untuk berendam, lebih baik digunakan untuk bak air agar kita bisa membilas tubuh kita” ucap Jehian.


“tapi, aku tidak ada gayung. Aku hanya ada shower dan itupun hanya satu” ucap Johan.


“tenang saja, kita sudah membawa persediaannya” ucap Nyoman seraya membawa beberapa teko plastik minuman.


“itukan teko untuk minum” teriak Johan.


“tidak apa apa, lagipula ini tidak akan kotor” ucap Nyoman.


“yaudahlah terserah kalian” ucap Johan seketika berdiri dari bathub dan kemudian berdiri di samping bathub tersebut.


Seketika semua teman temannya pun membuka handuk yang menutupi bagian bawah mereka terkecuali Kahfi.


“a-apa kalian udah gila?” teriak Kahfi.


“ehh? Tinggal handuk Kahfi yang masih belum melorot tuh” ucap Farel dengan nada menggoda.


“ja-jangan, jangan tarik. Peliharaanku sama seperti punya kalian” ucap Kahfi seraya berjalan mundur.


“Farel, kau pegang tangan kanannya. Nyoman, kau pegang tangan kirinya. Aku yang akan memaksanya untuk membuka sebuah kebebasan haqiqi disini” ucap Jehian dengan nada yang begitu kejam.


“ti-tidak, jangan lakukan itu. TIDAAAKKKKK‼” teriak Kahfi menggema di rumah tersebut.