
“a-ada apa?” tanya sang ibunda begitu panik dengan tatapan begitu ketakutan.
“kenapa?” tanya Emilia begitu panik.
“apa Johan baik baik saja?” tanya Kahfi begitu terkejut.
“apa Johan terbentur?” tanya Farel yang begitu ketakutan.
“sebagai polisi yang sudah berpengalaman, saya bisa berspekulasi kalau Johan hanya mengalami kelelahan berat. Di tubuhnya yang lemah, terdapat jiwa yang begitu membara. Aku berspekulasi kalau dia tidak memperdulikan tubuhnya yang lemah dan mengerjakan semuanya seperti orang yang memiliki tubuh kuat seperti normalnya orang. Maka dari itu, Johan bisa di katakan kalau dia terlalu memaksakan dirinya”
“seperti halnya hp. Saat ini, baterai Johan sudah 0 persen. Baterai Johan saat ini bisa di kategorikan baterai yang mudah habis. Saat tubuhnya terlalu banyak di gunakan tanpa di cas, hp nya akan kehabisan baterai dan akan mati secara otomatis” jelas paman Surya.
“jadi, apakah Johan mati?” tanya Nyoman dengan ceplas ceplosnya.
“heh, jaga mulutmu!” tegas Jehian.
“ada apa? Kan aku hanya mengatakan apa yang di katakan oleh paman Surya” ujar Nyoman.
“saat ini, bisa dibilang kalau Johan sedang beristirahat secara paksa oleh tubuhnya. Dia sudah terlalu banyak bergerak dan bekerja. Bagaimanapun juga, dia sudah terlalu lama dalam perjalanan dan dalam pekerjaan. Dia adalah tubuh lemah yang butuh istirahat. Tidak seperti manusia biasa yang memang masih kuat untuk melakukan semua kegiatan” jelas pak Abdi.
“apa Johan baik baik saja?” tanya sang ibunda.
“tenang saja, dia pasti akan baik baik saja. Bahkan kita harus bersyukur karena dengan ini, Johan benar benar sudah bisa beristirahat dengan paksa” jawab pak Abdi.
“kalau begitu, tolong antarkan Johan sampai di kamarnya” ucap sang ibunda.
“ba-baik” jawab kedua lelaki itu.
Johan pun di bawa ke kamarnya dan kemudian di letakkan di ranjangnya kembali. Dengan begitu lemas, bahkan lengan Johan tidak berkutik sedikitpun saat tubuhnya di letakkan di ranjang.
Johan di baringkan dan kemudian di tutup oleh selimut yang hangat nan tebal. Disanalah Johan merasa benar benar nyaman. Nyatanya di dalam dunia mimpinya, ia bertemu kembali dengan Greisha, sang dewi alam. Bagaimana tidak, Johan sebagai penyelamat anak anaknya sudah pasti akan di datangi Greisha di mimpinya hanya untuk berterimakasih.
“ehh, aku kesini lagi” ujar Johan berdiri di bawah pohon di tengah tengah padang rumput yang luas. Johan berhadapan langsung dengan Greisha di bawah pohon tersebut. Nampaknya, raut muka Greisha sedikit kesal dan marah kepada Johan.
“a-aku pulang” ucap Johan.
Greisha hanya membalas dengan gumaman dengan raut wajah yang sedikit marah dan kesal.
“ehh? Ada apa? Kenapa? Apa aku melakukan kesalahan? Kenapa kamu marah?” tanya Johan.
“kenapa kamu tidak segera tidur?. Kenapa kamu tidak segera kemari?. Kenapa kamu tidak segera istirahat dan menemuiku disini” teriak greisha begitu keras dengan suara manja.
“ma-maaf maaf, jangan teriak teriak gitu. Malu dilihat tetangga” ucap Johan seraya mengacungkan jari telunjuknya.
“nggak peduli. Disini nggak ada siapapun kecuali kita berdua. Kenapa kamu nggak cepat tidur. Kalau saja aku tidak membuatmu pingsan, pasti kamu tidak akan mau tidur” ucap Greisha dengan begitu kesal.
“ma-maaf, aku sedikit sibuk di rumah” jawab Johan dengan keringat dinginnya.
“bohong” sahut Greisha.
“dan juga, kenapa kamu begitu menungguku disini?” tanya Johan.
“bu-bukan berarti aku kangen atau merasa kesepian, aku hanya ingin be-berterimakasih” ucap Greisha dengan sifat tsunderenya.
“ehh, sudah mulai tsundere kah” ujar Johan menggoda Greisha.
“ti-tidak begitu, bukan beg-begitu. Dasar Johan bodoh!” ucap Greisha dengan muka yang begitu memerah.
“hmm, begitu. Yaudahlah, kalo emang seperti itu, mungkin kamu hanya ingin mengatakan ucapan terimakasihmu itu, Aku akan kembali sekarang juga” ucap Johan seraya seakan akan hendak menggigit tangan kirinya.
“ehhh jangan jangan” sahut Greisha seketika menarik tangan kiri Johan dengan tangan kanannya.
“ada apa?” tanya Johan.
“jangan kembali dulu, setidaknya disinilah lebih lama” ucap Greisha memalingkan mukanya yang sudah begitu memerah.
“hmm, gitu dong. Aku sudah menunggumu berkata seperti itu. Berhubung mood ku sekarang begitu baik, aku akan menemanimu sampai kamu lelah disini. Sekarang, ayo ikut aku” ucap Johan seraya menarik tangan kanan Greisha.
Johan berlari dengan sedikit menarik lengan Greisha. Mereka berdua berlarian di padang rumput yang begitu luas dengan tiupan angin sepoi sepoi hangat bersama dengan rerumputan yang berhembus menari nari. Saat itu pula Johan dan Greisha sampai di semacam bukit dengan rerumputan tebal yang begitu menanjak tinggi hingga mereka bisa rebahan santuy disana.
Mereka berdua rebahan santuy di sana dengan masih memegang tangan mereka masing masing. Greisha yang saat itu sudah benar benar terbawa suasana dan perasaan begitu gugup berada di samping Johan.
“tenang dulu. Aku adalah dewi dan dia adalah manusia. Jangan terbawa suasana” fikir Greisha dalam hati.
“hei Greisha” ucap Johan seraya menatap langit biru.
“hmm, ada apa?” tanya Greisha.
“kalau saja kamu manusia, aku akan sangat bersyukur. Kalau saja kamu bisa keluar dan kita bisa bertemu di dunia asli, aku ingin sekali mengajakmu bertemu dengan Odessa. Salah satu manusia yang bisa membuatku jatuh cinta dengan sedalam ini” ucap Johan.
“Johan? Apa kau tau siapa itu Odessa?” tanya Greisha.
“dia adalah manusia pertama yang menurutku bisa menghilangkan kesedihanku” jawab Johan.
“sayangnya dia masih belum mengetahuinya” fikir Greisha dalam hati.
“hanya Odessa satu satunya alasanku untuk tetap semangat dalam hidup” ucap Johan.
“hentikan itu, kamu masih tidak tau apa apa tentang Odessa. Aku merasa kasihan karena kau sudah dibodohi” fikir Greisha.
“dia manusia satu satunya yang bisa membuatku mengerti tentang sakitnya rasa rindu” ucap Johan.
“jangan berbicara seolah olah Odessa adalah manusia. Kau masih tidak tau apa apa” fikir Greisha dalam hati.
“mungkin kamu juga sama” ucap Johan seraya menatap mata Greisha.
“ehh?” tanya Greisha begitu terkejut.
“iya, aku sangat berharap kalau kamu ada di dunia nyata dan menjadi manusia biasa. Kamu bisa menjadi ibuku atau hanya guru seniorku. Kita bisa selalu bertemu dan bermain bersama. Yaahh, setidaknya kita bisa bersenang senang di taman kota” ucap Johan dengan begitu polosnya.
“jangan berkata seolah olah aku sama dengan manusia” fikir Greisha semakin kasihan dengan ketidaktahuan Johan.
“karena kamu adalah manusia yang menemaniku dari mimpi. Selama ini, aku selalu bermimpi buruk dan selalu memimpikan tentang bagaimana aku bisa bertemu dengan papah, mamah, kakek dan nenekku kembali. namun dengan adanya kamu, aku jadi tidak pernah bermimpi seperti itu lagi. Terimakasih ya” ucap Johan dengan senyum tulusnya.
“sama sama” jawab Greisha dengan senyum indahnya.
“andai saja aku bisa memberitahukan semua kebenaran yang tidak kamu ketahui. Tapi aku tidak tega. Jika saja aku memberitahukan semuanya kepadamu, kamu tidak akan kuat untuk menerima semua kenyataan ini. Tidak akan pernah bisa menerimanya. Aku tidak ingin melihat wajah polos mu itu menangis karena kecewa” fikir Greisha.
“sekarang, apa di desa sedang baik baik saja?” tanya Johan.
“dimana Odessa sekarang?” tanya Johan.
“tidak tau juga. mungkin Odessa sudah pulang kerumah orang tuanya” jawab Greisha.
“kalau begitu, aku sudah sedikit lebih tenang” jawab Johan.
“apa kamu benar benar tau siapa itu Odessa?” tanya Greisha.
“emm, sebenarnya aku masih belum mengenal kedua orang tuanya dan belum mengetahui dimana letak rumahnya. Yang pasti, dia hanya berkunjung ke desa itu dari wilayah yang begitu jauh. Aku kurang tau psati di mana letak rumahnya, dan jujur aku sangat ingin berkunjung ke rumahnya. Apa rumahnya besar? Atau ada pagar tinggi? Atau hanya sekedar kumuh? Aku kurang tau” ucap Johan.
“hei, apa kamu ngga pengen tau lebih jauh kepada Odessa? Kenapa tidak kamu tanyakan langsung saja kepadanya?” tanya Greisha.
“aku berniat seperti itu, maka dari itu aku akan mengajak besok lusa untuk pergi ke kota. Kita akan ngedate disini dan bersenang senang. Pokoknya, semuanya akan kita lakukan disini sampai dia benar benar bisa senang dan melupakan desanya” ujar Johan.
“hah? kamu bakal bawa Odessa kemari?” tanya Greisha begitu terkejut.
“iya” jawab Johan.
“apa yang di pikirkan roh itu? kenapa dia malah melupakan pohonnya dan pergi jauh dari pohonnya?” fikir Greisha berfikir keras.
“bagaimana ini bisa terjadi? seharusnya roh pohon tidak akan meninggalkan pohonnya hanya karena ajakan manusia biasa. Walaupun Johan memiliki Wajayeja, tapi itu tidak akan membuat Odessa bisa keluar dari kontrak begitu saja. Dia sudah melanggar aturan. Sebenarnya apa yang terjadi?” fikir Greisha melamun memikirkan hal tentang Odessa.
“haloo, ada apa?” tanya Johan.
“ohh, emmm. Tidak. Tidak apa apa” jawab Greisha begitu terbatah batah.
“kalau begitu, bagaimana kalau kamu kembali? makasih ya uah mampir kemari” ucap Greisha.
“ehh? Kenapa aku harus terburu buru?” tanya Johan.
“cepatlah kembali, aku kebelet pipis” teriak Greisha begitu kesal.
“eeehhhh? Ternyata dewi juga bisa pip-“ ucap Johan terhenti.
“sudahlah lupakan saja itu” teriak Greisha dengan seketika menggigit telapak tangan kiri Johan.
Saat itu pula, Johan pun tergeletak di tanah tersebut dan menandakan jika kesadarannya sudah tidak ada di dunia itu lagi dan berpindah ke tubuhnya yang tengah tertidur di dunia. Greisha pun kemudian mengangat tubuh Johan dan kemudian membawanya ke bawah pohon tempat Johan biasanya respawn. Greisha membuat tubuh Johan berdiri agar saat kesadaran Johan kembali, Johan sudah berada dalam kondisi berdiri.
“yosh, tubuh Johan sudah terletak di tempat biasanya. Hanya menunggu sampai Johan tertidur dan kesadarannya berpindah ke tubuh ini lagi” ucap Greisha.
“sekarang, aku ingin memastikan sesuatu. Bagaimana bisa Odessa pergi jauh meninggalkan pohonnya? Sebenarnya ada apa?” ucap Greisha seraya memegang dagunya.
“kalau begitu, aku harus menanyakannya langsung kepada roh pohon disana” ucap Greisha dengan tatapan penuh keyakinannya.
“sial, aku lupa kalau aku tidak bisa berkomunikasi secara langsung kepada roh yang masih hidup. Kalau begitu, aku hanya bisa memanggil roh yang sudah meninggal. Mungkin para roh tersebut sudah ada di Willsh” ucap Greisha.
Greisha pun seketika meletakkan telapak tangannya ke tanah dan kemudian mengangkatnya. Seketika dari tanah tersebut keluar semacam perempuan yang begitu cantik secara tiba tiba muncul keluar dari gundukan tanah tersebut. Perempuan tersebut nyatanya adalah roh pohon yang sudah meninggal.
“perintah anda adalah keinginan hamba” ucap perempuan tersebut dengan menundukkan kepalanya.
“aku ingin tau alasan mengapa Odessa Ai bisa berfikir kalau dia akan meninggalkan pohonnya sendiri” tegas Greisha kepada roh pohon tersebut.
“maafkan hambamu ini, namun hambamu sama sekali tidak dapat mengetahui siapakah ananda Odessa Ai itu” ucap roh tersebut.
“kau benarjuga. Seharusnya roh pohon memang tidak memiliki nama. Kalau begitu, sebelum kebakaran di Engkobappe, pohonmu berada di samping pohon Hornbeam berbunga sakura yang ada di dekat danau. Apa itu benar?” tanya Greisha.
“itu benar” jawab roh tersebut.
“kalau begitu, jadi kau tau penjaga pohon itu?” tanya Greisha.
“itu benar, saya mengenalnya” jawab roh tersebut.
“kalau begitu, kau pasti pernah berjabat tangan dan pernah berkomunikasi secara langsung kepadanya?” tanya Greisha.
“itu benar” jawab roh pohon tersebut.
“kalau begitu, jemput dia kemari. Aku tidak dapat melakukannya karena aku tidak pernah berurusan dengan roh pohon tersebut” ucap Greisha.
“baik, akan saya laksanakan” jawab roh pohon tersebut.
Seketika tubuh roh pohon tersebut melebur layaknya istana yang terbuat dari pasir panatai yang longsor akibat air laut. 5 menit kemudian, roh pohon tersebut datang ke dalam dunia tersebut bersama dengan Odessa Ai. Saat itu pula Odessa Ai dan perempuan roh pohon tersebut menundukkan kepalanya saat mendapati jika di hadapan mereka terdapat sang ibunda mereka yang menciptakan semua roh alam.
“apa ada keperluan yang mendesak, ibu?” tanya Odessa Ai seraya menundukkan kepalanya.
“apa kamu tau ini dunia apa?” tanya Greisha kepda Odessa Ai.
“ini adalah dunia willsh, dimana semua roh yang sudah meninggal akan terbebas dari tugas. Apa jawabanku benar?” tanya Odessa.
“salah, kau seratus persen salah” ucap Greisha.
“maafkan saya, silahkan hukum saya se berat mungkin” ucap Odessa semakin menundukkan kepalanya.
“tidak, itu tidak apa apa. Ini sudah di luar kemampuan dan pengetahuan kalian” ucap Greisha.
“baiklah aku akan memberitahukan dunia apa ini” ujar Greisha.
“ini adalah dunia milik lelaki yang sekarang sedang berdiri di bawah pohon itu, dan aku sama sekali tidak berbohong. Benar begitu, Odessa Ai?” ucap Greisha dengan menatap mata Odessa begitu tajam.
“ti-tidak mungkin? Kenapa ibu bisa mengetahui namaku? Seharusnya hanya aku dan Johan yang tau” fikir Odessa dengan begitu terkejut.
Odessa pun seektika menoleh ke arah bawah pohon dan kemudian mendapati jika terdapat tubuh Johan di bawah pohon tersebut. Begitu Odessa melihat tubuh tak berkutik dan mematung itu, Odessa benar benar begitu terkejut dengan apa yang ia lihat.
“a-apa yang terjadi?” tanya Odessa dengan melongo begitu terkejut.
“mungkin aku sekarang sudah mulai menyukai Johan. Aku mulai tertarik dengan bocah itu” ucap Greisha seraya melirik ekspresi wajah Odessa.
“emm, jadi begitu. Baiklah” ucap Odessa kembali menundukkan kepalanya ke arah Greisha.
“apa kau tidak akan marah jika aku menyukainya? Ehh, maaf. Tapi seharusnya aku yang sedikit tersinggung jika kau yang menyukainya. Benar bukan?” tanya Greisha.
“anda adalah dewi yang menciptakan saya. Saya benar benar tidak pantas jika merebut apa yang disukai oleh pencipta saya. Mohon maafkan saya” ucap Odessa.
“hmm, kalau begitu, apa aku boleh membunuhnya?” tanya Greisha dengan nada begitu kejam.
“ehh? Me-membunuh? Membunuh Johan?” fikir Odessa begitu terkejut.