
Johan pun masuk ke dalam ruang tamu rumah tersebut bersama dengan Callysta dan 3 orang temannya. Saat itu pula muka Johan mulai memerah karena hanya dia seorang yang berada di satu ruangan yang penuh dengan perempuan yang lebih muda darinya.
“apa dia pacarmu?” tanya salah satu teman Callysta.
“bu-bukan, hanya kenalan” sahut Johan.
“ehh, jadi sekarang kamu masih jomblo?” tanya salah seorang taman Callysta kepada Johan.
“yaahh, sayang banget” jawab Johan.
“aku kira tadi kamu itu pacarnya Callysta. Asal kamu tau ya, Callysta kalo di sekolah, dia bener bener anti dengan laki laki. Bahkan dia menjauhi laki laki. Baru kali ini aku melihat Callysta bisa akrab dengan laki laki” jelas salah teman Callysta.
“ja-jangan katakan itu di depan Johan, bikin malu” sahut Callysta.
“ehh, muka nya memerah” ucap salah seroang teman Callysta menuju ke arah muka Callysta yang mulai memerah.
“ki-kita tidak ada hubungan apa apa dengannya. Hanya saja aku akan mengajarinya masak. Papahnya menyuruhku untuk mengajarinya memasak hari ini. Jadi, maaf ya sudah meminjam Callysta sebentar” ucap Johan.
“gapapa kok, malah kita juga pengen belajar masak” jawab mereka bertiga.
“kalian hanya perlu mendengarkanku dan melihatku saat memasak saja. Lain hari kalian bisa praktek sendiri” jelas Johan.
“baik” jawab mereka semua.
“btw, kamu ini kelas berapa?” tanya teman Callysta kepada Johan.
“aku? aku masih SMA, umurku baru saja 16 tahun dan akan beranjak 17 tahun” jawab Johan.
“kita berempat masih 15 tahun dan kita berempat masih SMP. Jadi, kau adalah senior kami” jelas teman Callysta.
“terserah kalian menganggapku sebagai apa. Yang pasti, apa kalian pernah mencicipi maskan Callysta sebelumnya?” tanya Johan.
“pernah” jawab mereka bertiga.
“bagaimana rasanya?” tanya Johan.
“rasanya, seperti anda menjadi ironman” jawab salah satu teman Callysta diikuti oleh tawa mereka semua.
“benar benar hancur bukan?” tanya Johan balik.
“iya” jawab mereka semua.
“jadi, aku baru saja mencoba memperbaiki masakan Callysta. Dan hasilnya lumayan. Kalian bisa mencoba masakan Callysta yang sudah aku improvisasi” jelas Johan.
“ba-baik” jawab mereka semua.
Satu persatu mereka semua mencicipi makanan yang Johan bawa tersebut. Seketika mereka semua pun terpukau dan terkagum dengan apa yang Johan bawa itu. Melongo adalah ekspresi yang menggambarkan seberapa terkejutnya mereka akan masakan Johan.
“wooaaahhhh, ini enakk buangggeetttt parahhhhh” ucap mereka semua.
“benar kan? Kalau begitu aku akan mempraktekan masakan yang begitu simpel buat kalian. Barangkali kalian juga ingin memasak sendiri. Aku juga akan memberikan tips dan trik agar lebih mudah dalam memasak” jelas Johan.
“kalau begitu, bagaimana kalau kita cepat pergi ke dapur. Aku sudah tidak sabar” ujar Callysta.
“hmm, baik” jawab mereka semua serentak.
Saat itu pula mereka semua mulai melihat Johan mempersiapkan semua bahan bahannya. Johan mengikat tali celemeknya dan mulai mengupas kulit bawang dengan begitu cepat. Semuanya Johan kerjakan sendiri dengan begitu cepat.
Mereka pun melihati Johan dengan begitu serius. Selama 30 menit penuh, Johan menyelesaikan lebih dari 4 menu makanan disana. Johan memasak nasi goreng, semur jamur, sayur kangkung, bakmie jawa, dan beberapa gorengan lainnya.
Selama itu, mereka hanya melihat punggung Johan yang tengah sibuk memasak. Mereka hanya dapat melihat tangan Johan yang tengah bekerja dan mendengar suara instruksi dari Johan.
“jadi, tips ketika kalian ingin memasak jamur, pastikan jangan terkena air atau jamur kalian akan menyusut saat di masak dan akan menghilangkan aroma khas dari jamur itu”
“dan juga jika kalian memasak kangkung, jangan terlalu banyak memakai saus tiram. Perkirakan secukupnya. Kalau terlalu banyak, takutnya akan menjadi terlalu amis. Jika sudah terlanjur, tambahkan gula merah atau sekedar kecap manis agar sedikit menetralisir aroma amis tersebut”
“pastikan jangan buang minyak yang baru saja di gunakan untuk goreng bawang. Karena aroma bawang sudah tercampur menjadi satu di dalam minyak tersebut. Jadi jika kalian memasak gorengan tertentu dan kalian ingin mendapatkan sensasi aroma bawang, gunakan minyak itu”
“hati hati saat memegang pisau”
“beri sedikit air jika kalian rasa semur itu terlalu asin”
“api yang terlalu besar akan membuat bagian matang tidak sempurna. Apalagi langsung bersentuhan dengan wajan. Pastikan jika kalian menggoreng telor, api nya jangan terlalu besar. Tapi jika hanya untuk merebus air, itu terserah kalian”
Semua instruksi telah Johan berikan dengan begitu padat nan jelas hingga mereka semua faham dan mengerti poin yang disampaikan oleh Johan.
“btw, kamu bisa masak dari mana? Apa kamu sekolah masak?” tanya salah seorang teman Callysta.
“aku dulunya tinggal di desa. Dan aku sering membantu nenekku masak. Bisa dibilang semua anggota keluargaku bisa memasak. Bahkan semua anggota keluargaku lebih pandai daripadaku. Maka dari itu, sampai sekarang aku masih mengingat semua ajaran dari mereka semua” jawab Johan seraya mengoseng semur jamur tersebut.
“waahh, aku jadi pengen ketemu sama nenekmu” sahut salah seorang teman Callysta.
“sayangnya nenekku sudah meninggal” jawab Johan.
“ohh maaf, aku tidak tau” ujar teman Callysta tersebut.
“tidak apa apa” jawab Johan.
“kalau begitu, aku pengen ketemu kakekmu” ucap Callysta.
“beliau juga sudah meninggal” jawab Johan.
“ehh? Ma-maaf” sahut Callysta.
“itu tidak apa” jawab Johan.
“jadi, dimana rumahmu? Aku pengen ketemu sama papah mamahmu biar aku bisa belajar dari mereka” ucap salah seorang teman Callysta.
“papah dan mamah kandungku sudah meninggal” jawab Johan.
“ma-maafkan aku, aku benar benar tidak tau” ucap perempuan tersebut.
“kalau boleh tau, mereka semua meninggal kapan?” tanya Callysta.
“mamahku meninggal 3 bulan yang lalu, sementara nenekku meninggal beberapa minggu yang lalu. Kakekku meninggal sehari sebelum nenekku meninggal sementara papahku meninggal beberapa hari yang lalu” ucap Johan.
“hanya dalam kurun waktu 3 bulan saja, mereka semua meninggal. Dan aku tidak bisa berbuat apa apa selain menerimanya” ucap Johan.
“ma-maaf, aku akan sangat kehilangan jika berada di dalam posisi seperti itu” ucap salah seorang teman Callysta.
“benar saja, dia kehilangan keluarganya dalam sekejap. Bahkan orang yang sudah dewasa sekalipun tidak akan bisa menyembunyikan tangis air matanya saat kehilangan segalanya” jawab Callysta.
“itu benar. Beberapa hari yang lalu aku benar benar terpuruk. Bahkan aku sudah tidak memiliki semangat hidup lagi. Tapi semenjak aku bertemu dengan Odessa, dia menghiburku dan membuatku melupakan segalanya” ucap Johan.
“ehh? Odessa? Apa itu?” tanya mereka semua.
“ma-maaf, itu bukan apa apa. Maksudku aku hanya melihat pemandangan yang berada di kota Odessa di negara Ukraina” sahut Johan.
“ohhh” jawab mereka semua.
“sekarang sudah siap. Kita bisa makan bersama” ucap Johan seraya membalikkan badan dan melepas tali celemeknya.
Saat itu pula, mereka semua sedikit terkejut dengan Johan yang meneteskan air mata dan berlinang di pipi. Melihat itu, mereka semua sedikit tidak enak kepada Johan karena mereka membahas hal yang sebenarnya tidak ingin Johan dengar.
“Johan? Kenapa kamu menangis?” tanya Callysta.
“menangis? Hah? MENANGIS?” teriak Johan sedikit terkejut dan spontan mengusap air matanya.
“ma-maaf, ini mungkin gara gara aku memotong bawang tadi, makanya aku tidak begitu sadar” sahut Johan.
“naahh, sekarang aku akan membawa ini ke ruang tamu. kalian semua makanlah sepuas kalian” ucap Johan.
“baik” jawab mereka semua.
Saat itu pula Johan pun membawa beberapa piring tersebut menuju meja ruang tamu sementara mereka semua sedang mencuci tangannya di wastafel dapur. Mereka pun duduk di sofa ruang tamu dan kemudian mulai menyuap makanan mereka semua.
Dengan begitu lahap, Callysta dan teman temannya menyuap makanannya. Nyatanya mereka benar benar terkesan akan kemampuan Johan yang bisa memasak begitu nikmat. Disisi lain, Johan yang saat itu baru saja mencuci tangannya itupun mengelap telapak tangannya menggunakan tisu. Johan melihat mereka berempat yang makan dengan begitu lahap pun ikut senang melihatnya.
“gimana? Apa masakanku enak?” tanya Johan.
“kurang” jawab Callysta.
“eh? Masih kurang apa?” tanya Johan.
“kurang banyak” jawab mereka semua.
“yaelah, mending kalian masak sendiri dan makan makan sendiri. Kalau kalian bisa masak sendiri, kalian bisa menikmati masakan kalian sendiri” jawab Johan.
“aku pengen bisa masak” ucap teman Callysta.
“aku juga” sahut salah seorang teman Callysta.
“kalau begitu, minggu depan kita masak bareng. Selama seminggu ini, kalian harus banyak belajar. Minggu depan, giliranku yang akan mencoba masakan kalian berempat” ucap Johan.
“kamu sekarang mau kemana?” tanya Callysta.
“mau balik lah, masa mau tidur sini” ucap Johan.
“kalau begitu, makasih banyak yaa” ujar Callysta.
“sama sama” jawab Johan.
“aku pulang dulu, permisi” ucap Johan berjalan keluar rumah.
“hati hati di jalan” ucap mereka semua.
Johan pun saat itu pula keluar dari rumah paman Surya dan kemudian berjalan kearah mobil pak Abdi yang tengah terparkir di sebrang jalan. Saat itu pula Johan membuka pintu mobil dan mendapati jika paman Surya tengah merokok dan bermain ponselnya.
“apa kita akan berangkat sekarang?” tanya Johan.
“pemberitahuan penting. Teman temanku membatalkan janjinya karena ada urusan masing masing. Jadi sekarang, aku bebas dan tidak ada janji dengan siapapun. Kalau kita berangkat sekarang, itu tidak masalah” jawab pak Abdi.
“benarkah? Syukurlaahhhh. Apa kita bisa berangkat sekarang?” tanya Johan.
“gaskan hayuuk meluncur” jawab pak Abdi membuang putung rokoknya yang sudah mati.
“kita hanya sebentar di desa. Jadi aku tidak akan membawa barang barang yang berat. Tapi tolong antarkan aku kerumah sebentar. Aku akan mengambil beberapa barangku di kamar” ucap Johan.
“siapp” jawab pak Abdi.
Mereka berdua pun kembali ke rumah dan kemudian memasuki rumah. Nyatanya saat itu, paman Surya dan ibunda Johan masih duduk di ruang tamu seraya meminum secangkir teh hangat buatan paman Surya. Saat itu pula Johan berlari menuju ke gudang atas dan kemudian mengambil sekardus penuh dengan mainan bekas saat kecil. Saat itu pula Johan membawanya kebawah dan berniat memasukkannya ke dalam bagasi mobil.
“kamu mau kemana?” tanya sang ibunda.
“mainanku ini sudah tidak terpakai. Dan kondisinya masih bagus. Aku akan memberikannya kepada anak anak di panti” ucap Johan.
“tapi Johan, kamu berangkat sama siapa?” tanya paman Surya.
“aku akan mengantarnya” sahut jawab pak Abdi.
“aku di antar sama pak Abdi. Jadi kalian tenang saja. Dan juga buat paman Surya, jangan nakal yaaa, rumah ini tidak ada CCTV dan juga tidak ada orang selain kalian berdua. Pelankan suaramu saat bermain” ucap Johan sedikit menggoda.
“dasar anak kurang ajar!” teriak paman Surya ngegas.
“hihihhih” tawa Johan berlari menuju ke luar rumah dan memasukkan kardus tersebut ke dalam bagasi mobil.
Setelah itu, Johan pun menutup pintu bagasi dan kemudian berjalan kedalam rumah. Johan pun berpamitan kepada sang ibunda dan paman Surya dengan mengecup tangan mereka berdua. Selepas itu, Johan pun kembali keluar dari rumahnya.
“aku berangkat” ucap Johan.
“hati hati” jawab paman Surya.