Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 16, Penjelasan kepada Johan



Pagi hari, dimana sang sopir tersebut terangun dan siuman dari pingsannya tersebut. Dia terbangun di ranjang rumah sakit yang empuk nan hangat. Sinar mentari menyinari seisi kamar bersama dengan hembusan angin yang masuk dari jendela kamar yang terbuka, dirinya di temani oleh sang ibunda Johan yang tengah duduk di ranjang sampingnya sembari meminum secangkir air gula hangat.


“hah?” teriak sang sopir tersebut begitu terkejut.


“ohh, kamu udah bangun” ucap sang ibunda. Sang ibunda pun sekeitka memencet tombol darurat yang berada di atas ranjangnya dan membuat beberapa perawat seketika datang ke kamarnya tersebut. Pada akhirnya, 3 orang perawat pun mendatangi kamar tersebut.


“dia sudah bangun” ucap sang ibunda Johan kepada ketiga perawat tersebut.


“baik” ucap sang perawat itu.


Maka, beberapa perawat itupun seketika mengecek kesehatan pak sopir tersebut. Dimana para perawat tersebut mulai mengukur tensi darah hingga mengganti perban kepala milik sang sopir tersebut. Terlihat dari luka yang dalam nan lebar serta membiru, luka yang menyebabkan pendarahan hebat di kepala sang sopir tersebut begitu parah. Bahkan sang ibunda pun sedikit terkejut akan adanya luka seperti itu di kepala sang sopir.


“ahh, pe-pelan pelan” ucap sang sopir itu menahan kesakitan saat sang perawat membalut perban di kepalanya.


“pe-pelan pelan” sahut sang sopir tersebut dengan tetesan air matanya.


Setelah semua pekerjaan telah terlaksanakan, para perawat disana pun membereskan semua barang baranya dan kemudian meninggalkan tempat tersebut. Sang sopir yang masih kesakitan sebab luka yang ada di kepalanya itupun tidak hentinya menggegat gigi sebab menahan sakitnya.


“apa itu bener bener sakit? apa aku harus panggilkan perawat lagi?” tanya sang ibunda begitu prihatin.


“tidak, nggak perlu. Makasih” jawab sang sopir tersebut tersenyum paksa.


“emm, okelah” ucap sang ibunda meminum air hangatnya itu.


“kalo boleh tau, dari kapan kita sekamar seperti ini?” tanya sang sopir.


“gatau, aku juga gatau kenapa aku bisa masuk kerumah sakit. dan juga aku gatau siapa kamu” ucap sang ibunda.


“ehh? Ma-maaf. Aku belum mengenalkan diri. Namaku Adipadiningnrat Surya. Aku adalah salah satu polisi yang kemarin malam sempat kerumah anda dan menjemput anda” ucap sang sopir tersebut bernama Surya.


“emm, namamu Surya, namaku Isabella Ikwan, panggil aja Bella” ucap sang ibunda Johan tersebut.


“kau bisa memanggilku Surya, mungkin jika kau memiliki anak, anakmu akan memanggilku paman Surya” ujar sang paman surya tersebut dengan jokes recehnya.


“aku punya satu ana-‘ ucap sang ibunda terhenti.


“hentikan, aku cuma bercanda. Jangan di ambil hati” sahut sang paman Surya menyembunyikan wajahnya yang malu sebab jokes recehnya di anggap serius.


“santai saja, anakku pasti akan senang bisa bertemu denganmu. Yaahh walau dia sangat sensitif dan agresif dengan orang luar yang tidak dikenal, jadi aku sedikit ragu kalo kalian berdua bisa akrab untuk waktu yang singkat” ujar sang ibunda.


“terserah anda, yang pasti aku akan memberitahukan kepada anda bagaimana kita berdua bisa masuk rumah sakit” ucap sang paman Surya.


“tidak perlu, aku sudah dikasih tau oleh atasanmu tadi pagi. Dan dia bilang kalo ini hanyalah kecelakaan karena seekor rusa yang tiba tiba menyabrang” sahut sang ibunda.


“kalau begitu, maafkan saya. Saya benar benar minta maaf. Saya benar benar menyesal” ucap sang paman Surya seraya menundukkan kepalanya.


“ada apa? Kenapa kau malah minta maaf? Sudah kubilang kalau itu hanyalah kecelakaan. Udah lupakan saja” ucap sang ibunda.


“tapi, saya masih teteap bersalah karena tidak megemudi dengan benar” ucap sang paman Surya masih menundukkan kepalanya.


“udah kubilang kalo itu cuma kecelakaan” teriak sang ibunda melemparkan bola kertas ke arah sang paman Surya.


Secara tiba tiba, sang paman Surya pun mengangkat kepalanya itu seraya hendak menghadap ke arah ibunda. Namun, secara tiba tiba, lemparan bola kertas itu mengenai balutan kepala milik sang paman Surya. Secara tiba tiba, sang paman Surya berteriak kesakitan karena bola kertas tersebut sangat akurat mengenai luka sang paman Surya.


“aaarrgghhh itu sakit dasar belalang kupu kupu” ucap umpat sang paman Surya.


“ehh, itu sakit? itu hanya bola kertas kecil” ucap sang ibunda.


“tapi itu terkena luka ku, dasar belalang” ucap sang paman Surya seraya mengelus perlahan luka di perbannya itu.


“emm, jadi begitu. Padahal aku udah berniat melempar gelas” ucap sang ibunda.


“apa kau sudah gila?” teriak sang paman Surya.


“hahaha, bercanda” ucap sang ibunda tertawa terbahak bahak.


Namun, disaat sang ibunda tertawa terbahak bahak, nyatanya terdapat Johan yang tengah duduk di kursi roda bersama dengan Emilia yang mendorongnya dari belakang dan bergerak masuk kedalam ruangan milik sang ibunda bersama dengan sang paman Surya.


“permisi tante” ucap Emilia seraya menganggukkan kepalanya.


“ehh? Ada nak Johan dan Emilia. Kenapa kalian disini?” tanya sang ibunda.


“seharusnya aku yang tanya seperti itu, kenapa mamah bisa masuk rumahsakit? Dan juga aku dirawat di rumah sakit yang sama dengan mamah, jadi aku bisa saja tau kalo mamah dirawat di rumah sakit. Aku sudah bilang sama mamah kalo mamah harus pulang secepatnya agar mamah tidak sakit” ucap Johan dengan suara tegasnya.


“ehh? Emm, gimana ya ceritanya” ucap sang ibunda mulai gelisah.


“ada apa tante? Kenapa tante bisa masuk rumah sakit?” tanya Emilia.


“dan juga dimana papah? Kenapa papah nggak jenguk mamah dirumah sakit?” sahut tanya Johan.


Sang ibunda pun mulai gelisah dan kehilangan akal berfikirnya. Faktanya, sang ibunda masih belum siap untuk memberitahukan berita kematian sang papahnya itu dan juga masih tidak ingin memberitahukan jikalau dirinya telah mengalami insiden kecelakaan. Maka dari itu, sang ibunda gelisah sebab masih memikirkan alasan yang tepat untuk menyembunyikannya.


Namun, sang paman Surya yang mengetahui pergerakan serta isi hati sang ibunda pun seketika menyahut pembicaraan diantara mereka. Dengan penuh ketegasan, sang paman Surya pun mengarahkan dan mengendalikan situasi tersebut secara bertahap.


“ma-maaf menyahut pembicaraan kalian, tapi aku ingin bicara sebent-“ ucap sang paman Surya terhenti.


“kau siapa?” sahut tanya Johan dengan tatapan tajam serta suara yang merendah. Nyatanya, sang paman Surya pun seketika berfikir mengenai perkataan sang ibunda tentang anaknya itu. Sang paman Surya pun merasakan aura gelap nan dingin dari Johan.


Sang paman surya pun seketika ketakutan melihat tatapan tajam dari Johan. Pasalnya, sebelum itu sang ibunda mengatakan kalau Johan adalah anak yang sensitif serta agresif. Maka dari itu, sang paman Surya pun ketakutan saat melihat aura membunuh dari Johan sekalipun itu hanya tatapan matanya saja.


“pe-pe-perk-perkenalkan, na-nam-nama sa-saaya Surya” ucap sang paman surya dengan begitu mengigil ketakutan.


“oyy Surya? Nama yang keren. Aku akan memanggilmu Surya sang bulan” ucap Johan.


“heh? Itu tidak sopan! Memanggil orang yang lebih tua tanpa menggunakan Pak. Lagipula, Surya itu berarti matahari, bukan bulan!” ucap sang paman Surya tersulut emosi.


“memangnya kenapa? Kenapa kau malah protes hah?” ucap Johan dengan tatapan tajamnya dan suara juteknya. Untuk yang kesekain kalinya, sang paman Surya pun merasakan aura membunuh dari Johan dan membuatnya ketakutan setengah mati. Pada akhirnya, sang paman Surya pun menyerah karena tekanan mental yang diterimanya sudah cukup untuk membuatnya gila.


“ti-tidak apa, kau panggil saja aku adik Surya” ucap sang paman Surya seraya murung menundukkan kepalanya.


“tapi sebelum itu, lihatlah muka ibunda mu itu. Dia benar benar kebelet pipis. Biarkan dia ke kamar mandi terlebih dahulu” sahut sang paman Surya. Faktanya, itu hanyalah sebuah kebohongan belaka agar sang paman Surya bisa menyelamatkan sang ibunda dari pertanyaan pertanyaan yang menyudutkan ibunda.


“ehh? Tante mau ke kamar mandi? apa mau saya antar?” tanya Emilia.


“ehh, i-iya aku mau ke kamar mandi. Aku bisa berjalan sendiri” ucap sang ibunda.


“baiklah kalau begitu, jangan sampai terpeleset di kamar mandi” ucap Johan.


Sang ibunda pun seketika memakai sandalnya dan kemudian berjalan perlahan menuju ke kamar mandi. Selanjutnya, giliran sang paman Surya yang akan menjelaskan semua kronologi kejadian dengan tepat dan akurat serta jujur apa adanya.


“sebelum itu, perkenalkan namaku Adipadiningnrat Surya, kalian boleh memanggilku paman Surya” ucap sang paman Surya.


“iya, paman. Ada apa?” tanya Johan.


“ehh? Di-dia bisa berbicara dengan sopan? Apa ini sebuah keajaiban? Dia benar benar sopan, gilak” fikir sang paman Surya dalam hati seraya mengagumi perilaku Johan.


“kenapa paman Surya malah melamun?” tanya Johan.


“Sebelumnya, aku tidak akan menyalahkan kalian jika kalian tidak percaya kepadaku, tapi percayalah kalau aku memberikan fakta sebenar benarnya” ucap sang paman Surya.


“ada apa paman?” tanya Emilia.


“sang suami dari ibunda mu sudah meninggal karena kecelakaan pada malam kemarin. Papahmu meninggal kemarin malam. Dan dirinya memiliki wasiat untuk memakamkan tubuhnya sendiri di samping makan milik ayah dan ibunya di kampung halamannya bernama Engkobappe” jelas sang paman Surya.


“ayolah paman, kau bisa menonton acara Stand Up Comedy untuk mendapat jokes yang lebih lucu lagi” sahut Johan.


“itu bukanlah jokes, aku mengatakan apa yang aku lihat sendiri. Aku yang mengantarkan jasad papahmu ke rumah sakit ini untuk di otopsi. Saat, jasadnya sudah ada di kamar mayat dan siap untuk di makamkan, aku segera menyuruh teman temanku di kepolisian untuk mengirimnya dan segera memakamkan jasad nya di samping pemakanam sang kakekmu itu malam itu juga. Saya sebagai polisi yang bertugas untuk mengamankan jenazah tersebut akan bertanggungjawab semaksimal mungkin untuk membantu kalian” ucap sang paman Surya.


“lagi dan lagi” fikir Johan dalam hati.


“bagaimana bisa?” tanya Johan kepada paman Surya dengan bola mata yang mulai berkaca kaca.