
“mohon maaf ibu, kita harus melaakukan perlawanan yang sama seperti apa yang telah anda lihat tadi. Untuk sementara kita hanya akan menyuntikkan penenang agar Johan tidak bertindak sesuka hatinya lagi” ujar salah satu perawat disana.
“apa ankku baik baik saja? kenapa dia langsung diam? Kenapa dia tadi berteriak kencang?” tanya sang ibunda.
“tenang saja, dia tenang dan terdiam karena terkejut akan suntikannya itu. Kalau begitu, kami semua akan kembali” ucap perawat tersebut.
“baik, terimakasih banyak” sahut sang ibunda sedikit menundukkan kepalanya.
Selepas itu semua, Johan pun melemas di ranjang tempat tidurnya. Sang ibunda berjalan mendekati Johan seraya sedikit ketakutan karena perubahan karakter Johan yang seperti tadi. Namun, sebagai orang tua, sudah seharusnya lelalu percaya terhadap anaknya sendiri.
“apa kamu sudah tidak apa?” tanya sang ibunda.
“aku udah ok” ucap Johan seraya mengedipkan satu matanya dan menjulurkan satu ibu jarinya.
“apa kamu mau minum?” tanya sang ibunda.
“iya, tolong” jawab Johan.
Maka sang ibunda pun memberikan segelas air putih dan kemudian membantu Johan untuk minum di gelas tersebut. Perlahan, fikiran serta jiwa Johan sedikit lebih mereda dan pada akhirnya, Johan pun dapat mengendalikan dirinya sendiri.
“makasih mah” ucap Johan seraya tersenyum riang.
“iya nak” jawab sang ibunda.
Namun seketika, perubahan ekspresi Johan pun berubah drastis. Johan seketika membuat ekspresi muka datar dengan tatapan yang sayu. Ditambah lagi dengan kepala yang sedikit menunduk, membuat seolah olah ekspresi seorang anak yang masih mengantuk dan malas untuk berangkat sekolah pagi hari.
Dengan tatapan sayu serta muka datar seperti itu, Johan bertanya sepatah kata yang membuat sang ibunda terkejut. “apa mamah udah tau kalo kakek meninggal?”
Saat mendengar perkataan Johan yang seperti itu, membuat sang ibunda benar benar terkejut dan syok. Seketika gelas yang sedang ibunda pegang menggunakan tangan kanan itupun terjatuh dan membuat seluruh airnya tumpah tanpa memecahkan gelas tersebut.
“apa mamah udah tau kalo kakek udah meninggal?” tanya Johan.
“ma-maaf, mamah harus bersihin ini dulu” sahut sang ibunda seraya mengambil tisu dan kemudian mengelap lantai.
Johan pun menunggu sang ibunda untuk menyelesaikan bersih bersihnya tersbut hingga lantainya begitu kering dan bersih seperti semua. Sang ibunda pun kembali duduk di samping Johan dengan muka tegang karena pertanyaan yang tajam setajam silet itu.
“apa mamah tau kalo kakek udah meninggal?” tanya Johan.
“iya, mamah udah tau” sahut sang ibunda dengan tegas dan ekspresi muka yang tegang.
“dimana mamah tau? Kenapa mamah bisa tau? Padahal Johan masih belum kasih tau” sahut Johan.
“mamah membaca kertas dari pemerintah daerah yang berisi kompensasi yang akan diberikan kepada keluarga korban” jawab sang ibunda.
“jadi, mamah udah baca kertas itu” ucap Johan seraya memegang dagunya sendiri.
“kalo begitu, tidak ada hal yang harus kusembunyikan lagi” ucap Johan dengan tersenyum tulus.
“eh?” gumam sang ibunda bertanya tanya.
“jujur saja, aku masih takut mendengar suara tangisan. Tapi setelah aku meminum air putih langsung dari tangan mamah, fikiranku menjadi sedikit tercerahkan. Trauma memang boleh, namun jangan sampai menyembunyikan fakta. Aku yakin jika aku semakin menyembunyikannya, aku akan semakin terjerat banyak masalah” ujar Johan.
“maka dari itu, maafin Johan mah” ucap Johan seketika menyahut tangan kanan sang ibunda dan kemudian menciumnya. Ciuman Johan kepada punggung tangan sang ibunda membuat perasaan sang ibunda benar benar terenyuh, seakan akan ibunda telah memiliki anak kandung. Melihat itu, sang ibunda pun seketika memeluk tubuh Johan dan mengelus kepala bagian belakang Johan dengan perlahan.
“iya, itu gapapa nak. Mamah nggak marah kok” ucap sang ibunda dengan penuh haru.
“kalo begitu, mamah boleh pulang sekarang. Mamah tau sendiri kalo aku sekarang sudah baik saja. Aku udah bisa berkeringat dan lumayan fit” sahut Johan.
“jangan bercanda, mamah akan jagain kamu dan dengerin semua suara hati yang ingin nak Johan keluarkan. Jujur, sebagai orang tua yang payah, mamah benar benar tidak tau apa masalah yang nak Johan hadapi” ujar sang ibunda seraya memeluk erat tubuh Johan.
“tenang aja mah, selama ada mamah, aku akan selalu melupakan masalahku” ucap Johan seraya memeluk balik tubuh sang ibunda.
“masalah itu di hadapi, bukan di tinggalkan. Ceritakan semuanya kepada mamah dan jangan melupakannya” tegas sang ibunda.
“itu tidak perlu. Itu karena aku sudah lupa dengan masalahku sendiri” jawab Johan dengan tatapan begitu halus dan senyum yang begitu hangat.
Mendengar hal itu, hati sang ibunda semakin terenyuh. Ibunda pun menangis di pelukan Johan tersebut dengan kondisi hati yang penuh dengan hangatnya haru. Namun, seketika Johan memegang kedua pundak sang ibunda dan kemudian menurunkannya perlahan kebawah. Selepas itu pula, Johan melihat muka sang ibundanya dengan begitu dekat.
“mamah cantik, mamah bener bener ngga cocok untuk nangis” sahut Johan seraya mengusap air mata sang ibunda.
“kamu juga sayang” ujar sang ibunda. Tanpa sadar, ternyata Johan pun meneteskan air mata pula. Dan saat itu pula sang ibunda pun mengusap air mata Johan.
“sekarang, sudah saatnya mamah untuk pulang” ucap Johan membujuk mamahnya.
“mamah nggak akan pulang” jawab sang ibunda dengan keras kepalanya itu.
“tapi wajah mamah udah pucat, mending mamah istirahat, Johan juga mau istirahat” ucap Johan.
“apa kamu nggak akan kenapa napa kalo mamah pergi?” tanya sang ibunda.
“tidak apa, aku sudah bukan anak kecil lagi. Aku sudah SMA yang tidak takut jika tidur di dalam kamar sendiri” sahut Johan.
“okelah, mamah akan pulang. Mamah mau pesen driver online dulu” ucap sang ibunda seraya mengeluarkan ponsel dari sakunya.
“ehh? Kenapa mamah ngga pulang sama papah?” tanya Johan.
“papah kamu sudah pulang duluan tadi, jadi hanya mamah yang jagain kamu disini” ucap sang ibunda.
“kalau begitu, kenapa mamah ngga minta tolong papah buat jemput?” tanya Johan.
“takutnya papah sudah tidur, karena papah kamu kemarin sudah lembur kerja, jadi pastinya papah kamu sekarang bener bener capek” jawab sang ibunda.
“apa papah masih kerja sebagai koordinator penebangan pohon?” tanya Johan.
“iya, papah kamu dari dulu selalu seperti itu” jawab sang ibunda.
“yappss, drivernya udah dateng. Kalo begitu, mamah pulang dulu ya nak Johan” sahut sang ibunda seraya mencium kening Johan.
“ehh, cepet banget. Okelah mah. Hati hati” ucap Johan seraya melambaikan tangannya.
“iya nak. Makasih” ucap sang ibunda melambaikan tangannya dengan berjalan hingga dirinya keluar dari kamar Johan.
Sang ibunda pun segera memasuki lift rumah sakit dan kemudian menuju ke lantai lobi. Pada akhirnya, sang ibunda pun berjalan keluar lobi utama dan kemudian mencari mobil pesananannya itu. Selepas ia menemukan mobil pesanananya, dirinya pun memasuki mobil tersebut.
Sang sopir pun mulai tancap gas dari rumah sakit tersebut dan kemudian mulai meninggalkan kawasan rumah sakit. Di tengah tengah perjalanan, mereka terhenti karena macetnya jalanan. Mereka berdua pun sempat terheran mengapa di tengah malam seperti ini, mereka bisa terjebak macet.
“ini ada apa, kok bisa macet?” tanya sang ibunda.
“kurang tau juga, ibu. Tapi mungkin gara gara segerombolan polisi yang ada di tengah jalan rel kereta itu” jawab sang sopir mobil.
“ehh? Kenapa juga polisi bergerombol disana? apa mungkin ada perbaikan jalan?” tanya sang ibunda Emilia.
“mana ada polisi memperbaiki jalan? Mungkin ada kecelakaan disana” ucap sang sopir.
“iya juga ya” ucap sang ibunda.
Akhirnya, perlahan mobil mereka pun bisa melangkah maju perlahan namun pasti. Pada akhirnya, mobil mereka pun bisa melalui macetnya jalanan. Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju ke rumah. Hingga sesampainya mereka dirumah, sang ibunda pun membayar sopir tersebut menggunakan uang cash. Sang sopir pun menerima uang itu dan kemudian pergi dari sana.
Namun, sebelumnya sang ibunda pun sudah berfirasat tidak enak. Saat di mobil, sang ibunda benar benar keheranan mengapa pagar dan pintu rumah terbuka dengan lebar. Saat ibunda sudah turun dari mobil, sang ibunda pun seketika berjalan dengan cepat menuju kedalam rumah.
Ia melepaskan sepatu dan meletakannya di rak sepatu luar dan kemudian memasuki rumah. Namun, saat dirinya melangkah memasuki rumah, begitu terkejutnya sang ibunda ketika mendapati kalau ruang tamu mereka dipenuhi oleh polisi.
“a-ada apa pak? Kenapa banyak polisi yang disini?” tanya sang ibunda begitu terkejut dan sedikit takut.
“mohon maaf dengan lancangnya mengganggu kenyamanan anda, tapi apa benar anda adalah istri dari saudara Ageng Dwi Mahesa” tanya polisi tersebut.
“iya, benar. Saya adalah istrinya” jawab ibunda dengan tegas.
“kalau begitu, kami akan memberikan berita buruk mengenai apa yang terjadi mengenai suami anda” ucap sang polisi tersebut.
“a-apa yang terjadi? ada apa pak?” tanya sang ibunnda.
“suami anda mengalami kecelakaan yang benar benar parah. Kami telah menyelidiki kasus kecelakaan tersebut. Pada awalnya, kami mengira kalau suami anda telah mengkonsumsi minuman alkohol berlebihan dan kemudian mengenadari kendaraan roda empat. Namun, setelah kita teliti lebih lanjut, tidak terdapat kandungan berbahaya didalam urin sang korban. Maka dapat dipastikan kalau pengendara dalam keadaan kelelahan atau mengantuk” jelas polisi tersebut.
“hah? suami saya kecelakaan? Dimana?” tanya sang ibunda begitu syok dan terkejut.
“kami menduga adegan terjadinya kecelakaan itu. jam 12:32 dini hari, korban mengendarai kendaraan roda empat dan melintsi Jalan Belimbing Putih dengan kecepatan yang bisa terbilang rendah. Kemudian, di jam yang bersamaan, kereta Express memang melintasi dan memotong jalan itu juga. Sebelum kereta itu melintas, sudah ada peringatan dari PJL setempat. Namun entah kenapa, pengendara tetap melaju dengan kecepatan yang konstan tanpa mengurangi atau menambah kecepatan. Kami menduga saat itu sang pengendara sudah kehilangan kesadaran atau bisa dikatakan ketiduran. Pengendara pun menabrak palang pintu tersebut hingga palang pintu tersebut patah. Saat pengendara sudah berada di tengah rel, mobinya tiba tiba berhenti. Kita menduga kalau dirinya telah mengurangi injakan gas dan membuat dirinya benar benar berhenti di tengah rel yang memiliki ketinggian tanah lebih tinggi. Maka dari itu, mobil tersebut berhenti di tengah jalan. Masinis kereta tersebut pun berkali kali membunyikan klakson kereta namun beliau sama sekali tidak menginjak gas nya kembali. Pada akhirnya, kereta menabrak mobil dengan kecepatan yang luar biasa kencang. Mobil tersebut seketika terpental jauh dan terbalik beberapa kali hingga sampai mobil tersebut benar benar hancur. Atas insiden ini, tidak ada yang disalahkan, bahkan seharusnya sang pengendara sendiri yang disalahkan” jelas sang polisi itu dengan tegas.
“hah? ba-bapak bercanda kan?” tanya sang ibunda dengan tatapan kosong.