Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 55, Anak-anak Desa



Maka dari itu, mereka memutuskan untuk mandi dan mencuci muka mereka di kamar mandi secara bergantian.


“kira kira, Johan kemana ya” tanya Emilia seraya membuka bungkusan sikat gigi baru.


Selepas mereka semua menyikat gigi dan mencuci muka, mereka sudah sedikit lebih segar dari tadi sebelum tidur. Mereka semua berkumpul bersama dengan sang ibunda dan paman Surya di ruang tengah. Satu persatu sang ibunda Johan dan paman surya menanyakan pertanyaan mengenai Johan kemarin hari. Semua pertanyaan mereka jawab dengan begitu sempurna tanpa adanya pengurangan maupun penambahan cerita. Mereka mengatakan fakta yang memang sebenarnya terjadi.


“hah? Johan batuk hingga mengeluarkan darah?” tanya sang ibunda begitu terkejut.


“kita juga baru tau jika Johan bisa memiliki penyakit separah itu. Aku tidak tau ada apa di dalam tubuh Johan saat itu” ujar Jehian.


“apa tante tidak tau sekalipun mengenai batuh berdarah Johan?” tanya Emilia.


“tante tidak tau sama sekali. Namun kata mendiang papah Johan, dari lahir Johan tidak memiliki stamina dan ketahanan tubuh yang baik. Johan mudah lelah dan mudah kedinginan. Johan mudah batuk dan mudah lelah. Johan mudah pusing dan mudah demam. Johan dari lahir tidak memiliki tubuh dan stamina yang memadai jika dibandingkan dengan teman seumurannya” ucap sang ibunda.


“dia juga bilang seperti itu ketika pelajaran olahraga dahulu. Bahkan saat lomba lari, aku bisa berlari lebih cepat dari Johan padahal aku seorang perempuan” ucap Emilia.


“dia benar, dia selalu payah dalam pelajaran olahraga” sahut Jehian.


“tapi apa ada hubungannya dengan batuk berdarah?” tanya Nyoman.


“sangat berhubungan sekali” tegas sang paman Surya.


“apa kalian sudah melihat barang barang Johan?” tanya sang ibunda.


“sudah tante. Dia sepertinya membawa HP dan charger miliknya. Dia juga membawa tas sekolah dan juga sepatunya. Dan sepertinya dia juga sudah membawa semua perban yang sebelumnya berada di dalam laci. Dilihat dari barang bawaannya, sepertinya dia benar benar pergi ke tempat yang begitu jauh” ucap Emilia.


“yang bisa kita lakukan disini adalah menunggu seharian. Jika dalam kurun waktu sehari Johan maish belum ditemukan, aku akan mengerahkan para polisi untuk membantu mencarinya” tegas paman Surya .


“apa tidak bisa langsung pagi ini?” tanya sang ibunda.


“kalau kita mengerahkan polisi pagi ini juga, mereka tidak bisa memastikan apakah Johan merupakan anak hilang atau tidak. Mereka akan berfikir kalau Johan hanyalah sebuah anak nakal biasa yang tidak pulang hanya karena bermain seharian di warnet. Dan Johan bukanlah anak seperti itu” tegas paman surya.


“hmm, kau benar” jawab sang ibunda.


“aku akan pulang jam 8 pagi, dan untuk sementara aku akan menemani kalian disini” tegas paman Surya.


“lebih baik untuk saat ini kita menenangkan diri terlebih dahulu dan jangan terlalu dibawa panik dan khawatir. Saat ini kita harus berfikir jernih. Aku akan membuatkan sarapan untuk kalian” ucap paman Surya.


“aku akan membantu” ucap sang ibunda.


“baik” jawab paman Surya.


Jam 6 pagi, dimana mereka masih menunggu kabar dari Johan yang tengah berada di desa. Mereka semua berfikir untuk tidak terlalu panik dan khawatir akan kondisi Johan. Mereka berusaha menenagkan diri di rumah itu namun masih bersiaga dengan kabar Johan yang mungkin saja secara tiba tiba.


Disisi lain, jam 6 pagi di desa Engkobappe, nyatanya stamina Johan sudah sedikit pulih. Johan meletakkan ponselnya di laci dan kemudian beranjak pergi ke kamar mandi. Sebelum itu, Johan mengambil sikat gigi, pasta gigi, sabun cuci muka, sabun serta shampo disana. Johan juga mengambil pakaian ganti yang ia bawa dari rumah.


Johan pun mandi di dalam kamar mandi dengan dalam keadaan air yang super duper dingin. Nyatanya, air itu adalah air yang berasal langsung dari sumber air pegunungan. Selama ini, Johan tidak terbiasa untuk mandi di air sedingin ini karena Johan sudah terbiasa berendam di air hangat bathtub.


Selesai mandi, nyatanya Johan benar benar merasa bahwa semua staminanya sudah kembali seperti semua. Johan benar benar sudah kembali segar. Johan pun kembali ke dalam kamar dan mendapati jika sang ketua masih saja membaca koran dan meminum kopi.


“pak ketua boleh tidur sekarang, pak ketua pasti benar benar capek” ucap Johan.


“apa aku boleh tidur di kasurmu? Kasurku sedang di pakai oleh pak sopir pembawa bahan makanan itu” ujar sang ketua.


“silahkan saja, anda harus istirahat” ucap Johan.


“hmm, makasih banyak. Permisi ya” ucap sang ketua.


Johan pun mengeringkan rambutnya menggunakan pakaian lamanya hingga kering. Saat itu pula Johan sudah siap dengan pakaian yang rapih. Johan keluar dari kamar dan mendapati kalau semua pengungsi juga sudah bangun. Terbesit dalam lubuh hati Johan jika dirinya ingin sesekali berinteraksi kepada para pengungsi itu, namun Johan benar benar gugup jika berteriak kepada puluhan orang di dalam gedung tersebut.


“aku ingin sekali menyemangati mereka semua, tapi aku terlalu malu untuk melakukannya” fikir Johan seraya melamun menatap para pengungsi.


Namun, saat Johan tengah melamun, Johan di datangi oleh seorang anak kecil dari keluarga para pengungsi itu. Anak kecil itu sedang membawa boneka panda yang lucu namun sudah begitu lusuh dan kotor. Melihat anak perempuan yang begitu lucu, Johan pun jongkok merendahkan tubuhnya dan mengajak anak kecil itu berbicara.


“hai, nama kamu siapa?” tanya Johan dengan suara lemah lembut.


“Aqila, namaku Aqila. Dan boneka beruangku ini bernama Puchi” ucap anak perempuan tersebut dengan suara yang begitu lugu.


“ini bukan boneka beruang, tapi ini boneka Panda” ucap Johan.


“kalau hewan panda, berwarna hitam dan putih. Tapi kalo boneka ku sudah berwarna cokelat semua” jawab anak kecil tersebut.


“bonekamu berwarna cokelat karena kotor. Kalau boleh, aku akan mencuci bonekamu itu” ucap Johan dengan senyum tulusnya.


“waahhhh, iya aku mau bonekaku di cuci” ucap anak perempuan tersebut begitu senang.


“sebentar ya, aku cuci sebentar” ucap Johan.


Johan pun membawa boneka tersebut dan kemudian membilasnya dengan air mengalir. Selepas itu, Johan pun mengambil sabun mandinya dan mencuci boneka tersebut menggunakan sabun miliknya itu. Selepas itu, Johan pun segera memeras boneka tersebut hingga sedikit kering dan kemudian mendapati jika boneka tersebut sudah benar benar bersih.


Johan kembali lima menit kemudian dengan membawa boneka panda yang begitu bersih. Johan kembali ke ruang pengungsian dan mendapati anak kecil tersebut masih menunggu di tempat yang sama. Dengan begitu meriah, Johan memberikan boneka tersebut seolah olah memberikan surprise kepada anak kecil tersebut.


“tadaaaa, bonekamu sudah bersih” ucap Johan memberikan boneka pandanya.


“waaahh, sama seperti baru” ucap anak perempuan tersebut menerima boneka tersebut dengan begitu senang. Anak kecil tersebut bahkan sampai melompat lompat kegirangan saat tau bonekanya sudah sebersih itu. Ia pun memeluk dengan begitu erat boneka pandanya itu bahkan saat tau kalau boneka pandanya itu masih basah.


“itu masih basah, jadi kamu masih harus menjemurnya dahulu agar bonekamu kering” ucap Johan.


“hmm, baik. Terimakasih banyak” ucap anak perempuan tersebut memeluk Johan yang tengah jongkok itu.


“jaga dia baik baik dan jangan sampai bonekamu jatuh dan kotor lagi, nanti puchi bisa menangis” ucap Johan mengelus kepala anak perempuan itu.


Anak perempuan itupun segera melepaskan pelukannya dan berlari keluar hanya untuk menjemur Puchi, boneka pandanya itu. Johan begitu senang saat melihat anak perempuan itu begitu bahagia dengan boneka kesayangannya. Sesaat setelah anak perempuan tersebut keluar, Johan mendapati ada sekitar lima anak lelaki yang mendatanginya dengan membawa empat mainan robot plastik.


“mereka seperti Farel, Jehian, Nyoman, Kahfi dan aku” fikir Johan dalam hati.


“hai, nama kalian siapa?” tanya Johan kepada lima anak lelaki itu.


“namaku Guntur!” ucap salah seroang anak lelaki paling kiri.


“namaku Ryu” ucap salah seorang anak lelaki di samping Guntur.


“namaku Fathur” ucap salah seorang anak lelaki di samping Ryu.


“namaku Juan” ucap salah seroang anak lelaki di samping Fathur.


“namaku Aji” ucap Aji dengan begitu sedikit malu berdiri di samping Juan.


“nama kalian semua keren. Hai Guntur!, hai Ryu!, hai Fathur!, hai Juan!, hai Aji!. Namaku Johan, kalian bisa memanggilku kak Johan” ucap Johan dengan senyum tulusnya.


“salam kenal, kak Johan” ucap mereka berlima bersamaan.


“kalian membawa mainan keren sekali, kalian mendapatkan ini dari siapa?” tanya Johan.


“dari Abi, dia membawakannya dari luar angkasa. Katanya siapapun yang munya mainan ini bakal mendapatkan kekuatan super” ucap Guntur dengan menunjukkan mainan kesukaannya.


“waahh, itu keren sekali. Kekuatan apa yang dimiliki mainan ini?” tanya Johan.


“dia memiliki kekuatan listrik. Kalau kak Johan memegangnya, nanti kak Johan bisa tersetrum” ucap Guntur.


“heh? Benarkah? Coba aku pegang” ucap Johan memegang mainan tersebut.


“ppsszzzzzz” ucap Johan berpura pura seolah olah tersetrum mainan tersebut. Hal itu membuat kelima anak lelaki tersebut tertawa terbahak bahak karena kelakuan Johan yang begitu menghibur mereka semua.


“aku punya mainan juga” sahut Ryu.


“sepertinya mainan Ryu berbentuk seperti kadal” ucap Johan.


“ini bukan kadal, ini adalah naga. Naga yang bisa menyemprotkan api yang sangat kuat. Aarrrggggghhhh” ucap Ryu dengan memperagakan suara naga yang menyemburkan api.


“tapi, kenapa kakinya hilang satu?” tanya Johan.


“itu karena dia sudah membakar hutan ini dan membakar rumahku, jadi akupun menghukumnya karena dia selalu nakal” ucap Ryu seraya memasang raut muka kesal kepada naga miliknya itu.


Mendengar perkataan Ryu, hati Johan seketika sakit karena perkataan polos dari anak sekecil itu. Anak polos yang masih belum mengerti apapun dan masih suci dari dosa merasakan penderitaan yang diberikan oleh papah Johan. Hal itu membuat hati Johan begitu sakit saat menatap betapa menyedihkannya nasib mereka semua.


“waaahhh, jadi naga itu. Dasar naga jahat. Lain kali kalian tidak boleh membakar hutan sembarangan, oke!” ucap Johan kepada mereka semua.


“oke” jawab mereka semua serentak.


“aku juga memiliki mainan” sahut Fathur.


“kalau mainan Fathur berbentuk apa?” tanya Johan.


“berbentuk mobil pemadam kebakaran. Mobilnya besar dan berwarna merah. Mobil ini punya alat ajaib yang bisa memanjang dan berwarna hitam dan bisa menyemprotkan air dingin sangat banyak. Mobil ini adalah mobil untuk memadamkan kebakaran yang di sebabkan oleh naga milik Ryu” ucap Fathur dengan begitu polosnya.


“waahh, jadi mobil ini bisa jadi penyelamat kalian. Mobil yang benar benar keren” ucap Johan.


“aku juga punya mainan” sahut Juan.


“waahh, Juan juga punya mainan mobil. Tapi ini mobil polisi” ucap Johan.


“iya, ini mobil polisi. Para polisi sangat keren. Pakaian mereka benar benar rapi dan bergaya” ucap Juan.


“kalau kak Johan boleh tau, tugasnya polisi itu apa?” tanya Johan memasang raut muka penasaran.


“tugasnya polisi adalah menangkap naga milik Ryu karena dia sudah membakar hutan agar naga milik Ryu tidak membakar hutan lagi” ucap Juan.


“hey, jangan di tangkap. Nanti naga ku bisa membakar mobil polisimu” ucap Ryu.


“aku akan memadamkan api yang membakar mobil polisi Juan menggunakan mobil pemadam kebakaranku” sahut Fathur.


“waah, mainan kalian bisa saling bertarung dan berperang” ucap Johan.


“benar, apalagi robotku yang paling kuat dari mereka. Aku bisa menyetrum mereka dengan sekali serangan” ujar Guntur dengan tawa jahatnya.


“waah itu keren sekali. Kalau begitu, apakah Aji memiliki mainan?” tanya Johan.


“ti-tidak” ucap aji sedikit menggumam seraya menundukkan kepalanya.


“yaahh, sayang sekali aji tidak memiliki mainan. Padahal mainan kak Johan sangat banyak di rumah kak Johan” ucap Johan.


“wahh? Kak Johan juga punya mainan?” tanya Aji begitu terkejut dan terkagum.


“iya, kak Johan memiliki mainan juga. Mainan itu bernama Action Figure. Itu adalah mainan berbentuk manusia anime yang pernah kak Johan tonton. Kak Johan punya AF Zero Two Hiro, AF Nezuko Kamado Tanjiro, AF Subaru Emilia Ram Rem, AF Kazuma Satou Aqua Darkness Megumin, AF Gundam, AF Eren Jeager, AF Mikasa Ackerman, AF Historia Reiss, AF Inori Yuzuriha Ouma Shu, dan masih sangat amat banyak lagi” ucap Johan membangakan dirinya.


“waahh, itu keren. Apa kak Johan tidak membawanya sekarang?” tanya Aji.


“maaf, aku sekarang tidak memba-“ ucap Johan terhenti.


“tunggu dulu, kalau tidak salah aku membawa tas sekolah. Dan terakhirkali aku membawa tas itu ketika ada festival anime di kota. Kalau tidak salah aku membeli AF Iris. Tidak salah lagi, ini pasti takdir” fikir Johan dalam hati.


“sebentar, aku permisi sebentar saja, aku akan kembali” ucap Johan seraya berlari menuju ke dalam kamar.