
Dengan penuh rasa sakit yang menyeluruh, Johan memaksakan tubuhnya sendiri dan membalikkan telapak tangan kirinya tersebut. Semakin Johan menggerakkan telapak tangannya, semakin besar pula rasa sakit yang Johan rasakan.
Dengan begitu perlahan serta memaksakan diri, Johan pun benar benar membalikkan tangannya sendiri. Dengan penuh haru dan kebahagiaan, Johan benar benar mendapati kalau tato yang berada di telapak tangan kirinya sudah kembali dengan gambar yang sama pula. Sebuah gambar sepokok pohon dengan dedaunan yang mirip dengan lebatnya rambut singa jantan.
Melihat hal itu, seketika Johan menangis haru karena yang selama ini Johan alami bukanlah sebuah mimpi belaka melainkan kejadian yang benar adanya. Sesaat setelah ia melihat tato nya sendiri, Johan pun melihat ke arah balkon kamar rumah sakit tersebut dan mendapati kalau saja sesosok dewi alam tengah berdiri di tempat itu seraya tersenyum tulus ke arah Johan.
Melihat hal itu, seketika Johan tidak kuasa menahan air matanya sendiri. Johan pun melambaikan tangan kanannya ke arah Greisha yang tengah berdiri di balkon dengan penuh kegembiraan.
“Greisha‼! Terimakasih banyak” teriak Johan ke arah balkon luar.
Mendengar Johan yang meneriakan satu nama, semua orang disana sedikit kebingungan dengan siapa yang dipanggil oleh Johan di balkon luar.
“kau memanggil siapa?” tanya paman Surya.
“ehh, ti-tidak. Aku hanya berteriak karena kesakitan” jawab Johan seraya memasang raut muka begitu kesakitan.
“kalau tidak salah, dia juga meneriakkan nama tersebut saat berada didalam mobil sebelum akhirnya Johan menggigit tangannya sendiri” bisik Emilia kepada paman Surya.
“apa kau yakin?” tanya balik paman Surya.
“dia meneriakkannya berkali kali di dalam mobil” jawab Farel sedikit berbisik kepada paman Surya.
“apa paman Surya tau siapa yang Johan teriaki?” tanya Jehian.
“aku sempat tau nama tersebut, namun aku tidak yakin kalau Johan meneriakkan Greisha yang kumaksud” jawab paman Surya.
“kalau begitu, siapa itu Greisha?” tanya Emilia.
“aku kebelet pipis, aku mau ke kamar mandi dahulu. Maaf, tapi aku udah ngga tahan lagi” ucap paman Surya seketika meninggalkan mereka semua di dalam kamar tersebut.
“astagaa” jawab Emilia menepuk jidat.
Tidak lama setelah itu, para perawat bersama dengan Nyoman pun datang memasuki kamar Johan dengan membawa beberapa peralatan medis disana. Tugas para perawat tersebut hanyalah sebatas membersihkan luka yang ada di telapak tangan Johan dan kemudian menutup kembali luka tersebut menggunakan perrban.
“apa kalian tidak keberatan jika menunggu dan melihat kami disini?” tanya sang perawat kepada mereka semua.
“tidak apa, sekaligus kita juga ingin melihat seberapa parah luka yang ada di telapak tangan anak saya” jawab sang ibunda.
“kalau begitu, permisi” ucap salah seorang perawat diikuti oleh perawat lainnya.
Mereka pun berjalan menuju ranjang Johan dan kemudian mulai melakukan tugasnya. Perlahan, mereka membasuh sekitar luka di telapak tangan Johan menggunakan handuk yang telah di rendam dengan air hangat. Tujuannya adalah mengurangi rasa ngilu dari luka yang di hasilkan.
Selepas itu, mereka menggunakan handuk dengan kain yang begitu halus dan berisi obat antiseptik pembersih bakteri. Handuk tersebut pun mereka usapkan di luka Johan agar luka Johan terhindar dari infeksi bateri. Selepas itu, barulah mereka pun sedikit menekan dan memijat area sekitar luka Johan menggunakan tekanan yang berkala. Mereka memijat dengan tekanan yang rendah, dan perlahan mereka menaikkan konsentrasi tekanan mereka di satu titik dan menekannya dengan tekanan yang perlahan menaik.
Saat itu Johan benar benar tidak bisa melawan rasa sakitnya. Air mata Johan benar benar tidak bisa berhenti mengalir. Namun Johan memutuskan untuk menyembunyikan teriakannya itu. Johan menyembunyikan raut wajahnya yang sedang kesakitan tersebut dengan menundukkan kepalanya seraya menahan rasa sakit tersebut.
Begitu sakitnya hingga telinga dan leher Johan mengeluarkan urat yang terlihat begitu jelas. Wajah hingga leher serta daun telinga Johan benar benar memerah sebab menahan sakitnya dari luka telapk tangan kiri Johan. Tangan kanan Johan mencengkram begitu erat selimut ranjang tersebut hingga benar benar kusut.
Melihat Johan yang seperti itu, mereka tidak sampai hati. Mereka melihat Johan yang benar benar tersiksa akan hal tersebut. Pada dasarnya, sang ibunda sama sekali tidak menyukai cara para perawat tersebut memperlakukan luka Johan. Namun mau tidak mau, sang ibunda juga ingin luka Johan sembuh.
Selepas para perawat tersebut membalut luka Johan, barulah Johan merasa sedikit lebih ringan. Johan merasa sedikit lebih baikan dari yang sebelumnya. Namun rasa sakitnya masih terasa hebat. Johan pun mengusap air matanya yang berlinang di pipi menggunakan kain lengan panjang bajunya tersebut. Terlihat dari selimut yang tengah di pakai Johan, nyatanya air mata Johan benar benar menetes deras disana.
Saat telapak tangan kiri Johan telah terbalut perban, barulah Johan benar benar bisa menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan lega. Johan melakukan hal itu untuk menenangkan dirinya dari rasa sakit yang telah ia peroleh sesaat tadi.
“ingin rasanya aku menangis keras karena sakit ini. tapi bagaimanapun juga aku ini seorang laki yang tidak boleh sekalipun mengeluh” fikir Johan dalam hati.
“apa sudah selesai?” tanya Johan dengan suara serak basahnya kepada para perawat tersebut.
“sudah selesai, bagaimana? Apa sudah baikan?” tanya sang perawat.
“bener bener udah ringan banget. Aku udah lumayan bisa menggerakkan tanganku. Tidak seperti tadi yang aku bahkan tidak bisa mengangkat telapak tanganku sendiri” jawab Johan.
“syukurlah kalau begitu” ucap salah seorang perawat tersebut.
“baiklah, kalau begitu tugas kami sudah selesai. Kami akan pergi dahulu. Kalau ada apa apa, silahkan panggil kami dengan cara menekan tombol merah yang ada di atas ranjang pasien” ujar sang perawat tersebut.
“baik, terimakasih banyak” jawab sang ibunda seraya menganggukkan kepalanya.
“sama sama” jawab para perawat tersebut.
Pada akhirnya, semua perawat yang ada disana pun seketika membereskan peralatan mereka dan kemudian beranjak pergi berjalan meninggalkan ruangan itu. Disisi lain, sang ibunda yang melihat Johan tengah kesakitan merasa kasihan dengan apa yang terjadi dengan anaknya itu.
“apa sudah baikan?” tanya sang ibunda.
“udah mah, ini udah enak banget” jawab Johan.
“apa itu sakit?” tanya Jehian.
“sedikit, hehehe” ucap Johan dengan tawa palsunya.
“padahal matamu itu memerah karena menangis, tapi kau malah bilang kalau kau hanya sedikit kesakitan? Dasar bodoh. Kau sama sekali tidak pintar berbohong” lantang Jehian.
“heh? Benarkah? Aku ketahuan” ucap Johan seraya meggaruk kepalanya.
.
“kalau begitu, apa kalian sudah sarapan? Sekarang sudah pagi, apa kalian tidak masuk sekolah?” tanya Johan kepada teman temannya.
“sekarang hari sabtu” jawab Nyoman.
“kalau begitu, apa kalian tidak mencoba makanan yang ada di kantin rumah sakit ini? aku berfirasat kalau di kantin akan banyak sekali makanan enak” ucap Johan.
“ehh? Apa di kantin ada kebab?” tanya Farel dan Emilia bersamaan.
“kebab itu bukan makanan untuk sarapan. Belilah roti dan susu untuk sarapan, setidaknya agar energi kalian tercukupi” ucap Johan.
“ehh? Hehehe jangan di tiru pola makananku” ucap Johan sedikit tertawa.
“mulai sekarang, mamah nggak akan pernah kasih ijin nak Johan untuk memakan mi instan dan minuman bersoda lagi. Kalau kamu masih bersih keras untuk makan dan minum itu, uang jajan kamu bakal mamah potong” ancam sang ibunda.
“memangnya mamah pernah kasih Johan uang? Selama ini Johan menggunakan uang hasil menang turnamen untuk beli makanan” ucap skak mat dari Johan.
“ehhh? A-anu. It-itu kan. Anu. Ma-mamah anu. Mamah memang pernah kasih kamu uang jajan. Tapi kamu tidak ingat?” teriak sang ibunda dengan jawaban skak mat.
“waaahhh kejamnya” ucap Emilia, Nyoman, Farel dan Jehian bersamaan seraya menatap sinis sang ibunda.
“mamah bukan kejam, tapi Johan yang terlalu kaya” ucap sang ibunda sedikit kesal.
“wahh, Johan sudah bisa menghasilkan uang sendiri. Tante jadi bangga” sahut sang ibunda Emilia berjalan memasuki kamar Johan.
Sang ibunda Emilia bersama dengan Kahfi, sang adik dari Emilia pun seketika berjalan memasuki ruangan kamar Johan perlahan. Melihat hal itu, Emilia terkejut akan kehadiran sang mamah di kamar rumah sakit Johan.
“ehh? Ma-mamah? Kok mamah ada disini?” tanya Emilia begitu terkejut.
“anggap aja mamah tau isi chat whatsapp kamu” jawab sang ibunda Emilia.
“ehh? Anda juga di rawat disini? ada apa? Kenapa anda duduk di kursi roda?” tanya sang ibunda Emilia kepada ibunda Johan.
“emm, ceritanya panjang. Kira kira sudah empat hari di rumah sakit dan masih belum di perbolehkan pulang” jawab sang ibunda Johan.
“sebentar dulu, apa kalian berdua sudah saling mengenal?” tanya Johan.
“iya, mamah Emilia adalah sahabat mamah dari SMA” jawab sang ibunda Johan.
“kita berdua udah lama ngga ketemu” sahut sang ibunda Emilia.
“jadi, kalian berdua sudah akrab” ucap Emilia benar benar melongo terheran.
“iya, bahkan sat kita sudah setua ini, kita masih bisa bercanda” ucap sang ibunda Emilia.
“ehh? Jadi Nyoman, Farel dan Jehian juga ada disini?” tanya sang ibunda Emilia.
“iya tante, kita sudah ada disini dari pagi” jawab Nyoman.
“apa kabar, kalian bertiga?” tanya Kahfi kepada Farel, Jehian dan Nyoman.
“yo!, kita oke oke saja, bradah” jawab Farel.
“tumben banget kau ikut ke rumah sakit” ujar Jehian.
“aku di paksa sama mamah buat ikut” jawab Kahfi.
“apa kau tidak menanyakan tentang kabarku?” sahut Johan kepada Kahfi.
“jangan ikut campur, dasar badut” sahut Kahfi kepada Johan.
“ehh, maaf maaf” ucap Johan.
“dasar merepotkan, kau selalu saja ceroboh dan melakukan hal hal bodoh” ucap Kahfi seraya berjalan mendekati ranjang Johan.
“saat aku mendengar kalau kau mengalami pendarahan yang sedikit serius, aku pun benar benar terkejut dan bertanya tanya apa yang telah terjadi kepadamu. Saat aku mendengar alasannya, aku kehilangan rasa hormatku kepadamu. Apa yang kau lakukan? Kenapa kau malah menggigit tanganmu sendiri? dasar bodoh! Dasar badut! Dasar kurang ajar! Dasar beban keluarga! Dasar sampah!” bisik Kahfi seraya berdiri di hadapan Johan.
“ehh, anu. Itu cuma kesalahan. Aku kira tanganku adalah sepotong kebab besar, jadi aku menggigitnya, hehehe” ucap Johan dengan tawa palsunya.
“kau sama sekali tidak pandai berbohong, Johan” bisik Kahfi menggeleng gelengkan kepalanya seraya menepuk jidatnya.
“dan juga aku masih dendam kepadamu karena saat kau masih tertidur di rumah, dan secara tiba tiba kau malah kabur dari rumah itu. Apa kau sudah benar benar gila?” tanya Kahfi.
“ehh, itu anu. Aku fikir lari jogging pagi akan bagus untuk kesehat-“ ucap Johan terhenti.
“kau sama sekali tidak pandai berbohong, Johan” sahut Kahfi memotong perkataan Johan.
“aku tidak habis fikir denganmu. Kenapa kau begitu melakukan hal yang bersifat Out of the Box. Setidaknya berperilakulah seperti orang normal pada umumnya” ucap Kahfi menempelkan kepalan tangan kirinya ke arah jidat Johan.
“cepatlah pulang dari rumah sakit” ucap Kahfi dengan menempelkan kepalan tangannya ke arah jidat Johan.
“terimakasih telah mengkhawatirkanku” ucap Johan dengan senyum tulusnya.
“asal kau tau, aku benar benar tidak mencemaskanmu. Emilia selalu menangis dan melamun semenjak kau masuk rumah sakit. Maka dari itu, cepatlah sembuh dan pergilah kencan dengan kakakku. Hiburlah dia atau kau benar benar akan ku bunuh” ancam Kahfi membisikkan ke telinga johan.
“wahh, itu sangat menakutkan. Tapi aku sudah mengatakannya berkali kali kepadamu kalau aku masih belum menerima Emilia sebagai pacarku” jawab Johan membisik kepada Kahfi.
“aku sama sekali tidak mau tau” bisik Kahfi.
“tapi aku sudah punya perempuan yang kusukai” bisik Johan.
“sudah kubilang aku tidak mau tau. Kalau kau menyakiti hati kak Emilia sekali saja, aku akan memukulimu habis habisan” bisik Kahfi.
“buset, itu serem. Tapi aku tidak yakin bisa melakukannya” bisik Johan.
“tenang saja, kau pasti bisa melakukannya. Jangan lupakan Emilia yang selalu menunggumu” bisik Kahfi.
“iya, akan ku lakukan” bisik Johan.
“baik, aku akan memegang ucapanmu, terimakasih” bisik Kahfi.
Maka di saat itu pula Kahfi pun beranjak dan berjalan menuju tempat duduk yang ada di pojokan ruangan. Setelah itu, Johan dan Kahfi sama sama terdiam di satu tempat mereka masing masing.