Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 52, Penyelamatan Odessa



Tancapan keris tersebut benar benar dalam sehingga setengah dari keris tersebut masuk dan menyayat paha kanan lelaki itu. Dengan begitu kesakitan, lelaki tersebut berteriak dengan sangat amat keras dengan kondisi darah yang sudah membasahi tanah yang menggenang air hujan.


Johan pun menarik keris tersebut dan kemudian menendang hidung lelaki tersebut hingga lelaki tersebut pingsan dan tidak sadarkan diri. Selepas itu, Johan pun berlari mengeluarkan senternya dan kemudian berlari dengan begitu cepat ke arah pohon Odessa yang berada di sebrang hutan.


Hanya dalam kurun waktu 2 menit saja, Johan sudah sampai di sisi lain dari hutan yang sudah terbakar habis. Johan mendapati jika ada terdapat 2 orang lelaki tinggi besar sedang berdiri di hadapan pohon hornbeam milik Odessa. Spontan Johan semakin bertambah emosi dan tidak terkendali. Amarahnya begitu tak terkendali bagaikan kedua matanya terbakar oleh api kemurkaan.


Johan berlari dengan begitu cepatnya ke arah kedua lelaki tersebut tanpa adanya suara yang dihasilkan sedikitpun. Johan melesat cepat dan hendak menyelamatkan Odessa di pohon tersebut. Hingga sampai beberapa langkah lagi, Johan mendapati jika saja saat itu, Odessa sedang di ikat di pohon dalam kondisi yang tidak baik.


Nyatanya, kedua tangan Odessa diikat dan dibuat menggantung hingga kedua kakinya tidak menyentuh tanah. Odessa sudah benar benar susah untuk melawan dan bergerak dan hanya dapat membuka kedua matanya dengan tatapan lemas nan sayu


Dengan begitu geram dan marahnya Johan, saat tubuh Johan sudah benar benar dekat dengan lelaki itu, Johan menusuk kedua kaki kanan dari kedua lelaki tersebut menggunakan keris dan belati hingga kedua lelaki tersebut terjungkal terjatuh. Johan pun seketika melanjutkan dengan menusuk kedua kaki kiri dari kedua lelaki tersebut denggunakan keris dan belati.


Saat Johan melihat wajah lelaki yang hendak menebang pohon hornbeam tersebut, nyatanya Johan melihat dengan jelas kalau saja dua orang ellaki itu adalah bawahan dari papah Johan yang pernah pergi ke desa ini saat lalu. Sama seperti seragam mereka yang digunakan saat pergi ke desa ini pula. Mereka menggunakan atasan dan bawahan serba putih. Hanya melihat seragam yang mereka kenakan, Johan sudah mampu mengenali dua lelaki itu.


“kalian? kalian adalah bawahan papahku?” tanya Johan dengan tatapan begitu tajam.


“jo-Johan? Bagaimana kau bisa disini? arrrgghhh, sakiittttt” ucap salah seorang lelaki tersebut.


“kenapa kau menebang pohon milik Odessa?” tanya Johan dengan tatapan yang begitu mengerikan.


“ma-maaf, kita bisa jelaskan semua ini” ucap salah seorang lelaki tersebut.


“itu adalah pohon milik Odessa dan kalian tidak boleh menebangnya” teriak Johan seraya menginjak kedua kepala lelaki tersebut menggunakan kedua kakinya.


Johan memukuli kedua wajah lelaki tersebut dengan kedua tangannya dengan penuh amarah. Puluhan pukulan dari kedua tangannya membuat kedua lelaki tersebut benar benar sudah tidak bisa melakukan apa apa lagi. Hidung kedua lelaki tersebut sudah mengeluarkan darah dengan begitu deras sementara Johan masih saja memukuli wajah kedua lelaki tersebut.


Setelah puluhan pukulan Johan berikan, nyatanya kepalan tangannya sudah memerah karena terlalu banyak memukul wajah seseorang. Johan mengehntikan pukulannya saat dirinya mendegar lembut suara milik Odessa yang ia dengar langsung dari telinganya.


“Johan, ini aku Odessa” ucap Odessa dengan suara lirih kesakitan.


“Odessa?” ucap Johan seraya menoleh ke arah belakang tubuhnya.


“iya Johan, ini aku” jawab Odessa dengan lemah suaranya.


Johan pun seketika berlari menuju pohon Odessa dan kemudian menggendong tubuh Odessa. Johan kemudian memutus tali yang mengikat kedua tangan Odessa dan pada akhirnya Odessa pun terjatuh lemas di pangkuannya.


Johan melihat banyaknya luka yang berada di tangan dan kaki Odessa. Luka sayatan maupun luka gores memenuhi tubuh Odessa. Johan pun segera meletakkan tubuh Odessa dan bersandar di batang pohon tersebut. Bagaimanapun juga, tubuh Johan sudah begitu kelelahan. Johan juga sudah kehabisan tenaga serta kedinginan hebat.


“pohonnya juga sudah terkena beberapa kali goresan dari gergaji mesin. Kuharap pohonnya tidak runtuh dan masih segar. Tangan Odessa mengeluarkan darah dan pipi Odessa sedikit lebam. Ini pasti ulah dari kedua lelaki kurang ajar itu” ucap Johan seraya menyentuh pipi milik Odessa.


“aww, sakit” sahut Odessa.


“ma-maaf. Pipimu benar benar lebam. Kamu harus mengompresnya dengan air hangat agar lebammu bisa sedikit pulih” ucap Johan.


“hmm, iya. Terimakasih sudah menyelamatkanku” jawab Odessa dengan senyum tulusnya.


Johan pun bersandar di pohon bersama dengan Odessa Ai disampingnya. Johan mengistirahatkan tubuhnya di bawah pohon tersebut dengan sedikit melindungi dirinya sendiri dari hujan. Johan benar benar sudah lemas tak berdaya. Kakinya beberapa kali menginjak batu keras karena saat itu Johan melepas sepatunya sendiri.


Pada akhirnya, Johan bahkan tidak dapat membuka matanya sendiri dan mengangkat kedua lengannya sendiri. Johan sudah terlalu lelah untuk melakukan itu. Johan kembali batuk batuk dengan hebat sehingga mengeluarkan darah segar dari mulut dan hidungnya.


Kepala Johan benar benar pusing dengan tubuh Johan yang terkena demam. Telapak kaki Johan sudah lecet dan beberapa ada yang berdarah karena menginjak bebatuan yang keras nan tajam. Johan pun memutuskan untuk melemaskan tubuhnya dengan posisi telapak tangan kanannya memegang sebuah keris dan telapak tangan kirinya memegang sebuah belati.


Tidak lama setelah itu, Odessa meletakkan kepalanya di pundak kanan milik Johan dan bersandar disana. dengan nafas yang begitu berat dan ngos ngosan, Johan masih tidak bisa mengatur pernapasannya sendiri.


“terimakasih banyak, Johan” ucap Odessa lirih kesakitan.


“tidak apa apa, asalkan kamu baik baik saja, aku juga ikut senang” ucap Johan dengan suara lemah.


“sekarang pohonku sudah aman karenamu, terimakasih banyak” ucap Odessa seraya memegang tangan kanan Johan.


“sama sama” ucap Johan seraya menggenggam erat tangan kanan Odessa.


Pegangan tangan merkea begitu erat hingga sela sela jari mereka bersentuhan. Johan merasahan hangat dan damainya jika dirinya memegang telapak tangan Odessa Ai. Johan merasa kalau dirinya tidak ingin semua ini cepat selesai dan tidak ingin pulang kerumah karena ingin terus bersama dengan Odessa disampingnya.


“Odessa Ai, aku ingin mengatakan sesuatu sama kamu” ucap Johan.


“ada apa? Katakan saja” jawab Odessa Ai.


“sebenarnya, aku suka sama kamu dari pertama kali kita bertemu” ucap Johan dengan senyum tulusnya.


“hmm, kamu suka sama aku karena apa?” tanya Odessa dengan sedikit tawanya.


“emm, jadi kamu hanya menyukaiku karena itu” ucap Odessa.


“yang paling kusukai darimu adalah rasa cintamu kepada pohon favoritmu. Bagaimana kamu menjaganya dan melindunginya dari para penebang. Bahkan di tengah malam seperti ini, kamu bukannya berada di rumah dan malah hujan hujanan hanya untuk melindungi pohonmu” ucap Johan.


“yahh, kalau itu aku masih tidak bisa mengatakanya kepadamu” ucap Odessa.


“jadi bagaimana? Apa kamu juga menyukaiku?” tanya Johan.


“emm, apa aku suka sama kamu? Aku suka karena kamu selalu terlihat manja, aku suka karena kamu terlihat lemah padahal kamu adalah seorang lelaki. Terkadang kamu lemah seperti kemarin dan terkadang kamu tiba tiba kuat seperti barusan ini. Aku suka keberanianmu saat melawan orang orang tadi. Menurutku itu sangat keren. Tapi kamu mudah lelah dan suka mengeluh. Tapi keluhanmu itu adalah kekuatanmu. Aku menyukainya darimu” jawab Odessa.


“jadi, apa kamu menyukaiku juga?” tanya Johan dengan senyum percaya dirinya.


“ke-kenapa kita malah me-membicarakan hal itu? a-aku se-sedikit malu ji-jika membahas tentang itu” jawab Odessa dengan gugup wajahnya.


“kalau kamu tidak mengatakannya, aku tidak tau apa kamu menyukaiku juga atau tidak” ucap Johan.


“aku akan memberimu sesuatu untuk menjawab pertanyaanmu barusan” ucap Odessa.


“kau akan memberiku apa?” tanya Johan.


“tutup matamu” ucap Odessa.


“baik” jawab Johan.


Seketika itu juga, hanya dengan satu kecupan Odessa di pipi kanan Johan yang basah akibat air hujan, itu membuktikan kalau Odessa menyukai Johan pula. Odessa mencium pipi kanan Johan dengan bibir kecilnya yang hangat nan merah itu. spontan Johan membuka matanya karena begitu terkejut dengan apa yang dilakukan Odessa. Johan seketika menoleh ke kanan dan membuat kening mereka saling berbentur.


“atto” ucap Odessa spontan saat jidatnya berbenturan dengan jidat Johan.


“ma-maaf, aku tidak tau” sahut Johan dengan nada begitu panik.


“sudah kubilang, jangan membuka matamu dulu” ucap Odessa seraya memberi sentilan kecil ke jidat Johan.


“a-aku tidak tau kalau kamu sebuas itu” jawab Johan dengan pipi yang begitu memerah.


“jadi, kamu sudah tau kan jawabannya?” tanya Odessa.


“terimakasih, aku sudah faham akan jawabanmu. Aku benar benar senang” ucap Johan dengan menghela nafas begitu lega.


“tapi aku memiliki satu syarat untukmu” ucap Odessa.


“apa itu?” tanya Johan.


“aku ingin kamu mengajakku untuk pergi ke kotamu dan kerumahmu” jawab Odessa.


“ehh? Ke kota? Apa kamu serius? Di kota sangat kotor dan berdebu. Mungkin kamu tidak menyukainya” ucap Johan.


“tidak apa apa. Sesekali aku ingin mengunjungi kota. sebagai perempuan desa yang begitu norak, aku ingin lelaki kota menjemputku dan bermain main disana” jawab Odessa.


“okelah kalau begitu” jawab Johan.


“yeeaaayy, terimakasihh” jawab Odessa dengan senyum begitu bahagiannya.


“Aku janji akan mengajakmu untuk pergi ke kota dan kita akan bersenang senang disana” ucap Johan.


“Bagaimana kondisi disana?” tanya Odessa sedikit bersemangat.


“disana benar benar terang. Banyak lampu dan banyak rumah serta bangunan begitu tinggi. Disana juga banyak listrik dan kabel. Disana banyak bangunan besar dan tinggi. Disana banyak orang dan bahkan masih sangat terang saat malam hari. Disana juga ada toko makanan, toko pakaian, dan masih banyak lagi. Dan juga disana terdapat area bermain” ucap Johan.


“sepertinya seru, aku sudah tidak sabar. Berjanjilah untuk mengajakku kesana” ucap Odessa dengan senyum tulusnya.


“terimakasih, aku akan berjanji untuk mengajakmu pergi kesana” ucap Johan dengan kesadaran yang perlahan memudar. Perlahan pegangan tangannya sudah mulai melemas dan bahkan Johan sudah tidak bisa mencengkram tangan Odessa lagi. Kepala Johan juga melemas dan tergeletak di atas kepada Odessa di samping kanan pundaknya.


Johan pun sudah kehilangan kesadaran dan pingsan melemas tidak sadarkan diri. Johan pun pingsan dengan dalam kondisi masih terkena air hujan rintik rintik. Raut wajah Johan benar benar pucat sementara tubuhnya terkena demam.


“itu sangat seru, aku benar benar sangat ingin pergi ke kota bersamamu. Aku ingin menghabiskan siang dan malamku bermain bersamamu. Ini semua demi keselamatanmu juga, Johan. Aku harus melindungi pohonku yang termasuk tubuhku dan juga aku harus menjamin keselamatanmu juga. bagaimanapun juga, jika pohonku tertebang, aku juga akan menghilang dari sini. Aku mencintaimu, Johan” ucap Odessa dengan tetesan air matanya mengenati rambut basah Johan.


Saat itu pula, Odessa mendengar terdapat empat orang lelaki yang berlari menuju ke arah pohonnya. Odessa pun melihat bahwasanya keempat lelaki tersebut adalah para tetua di desa tersebut. Dikarenakan keempat lelaki tersebut tidak akan mengancam pohonnya, maka dari itu Odessa sedikit bisa menghembuskan nafas lega dan tidak perlu khawatir.


Saat itu juga, Odessa meletakkan tubuh Johan dengan begitu lembut dan membuat posisi Johan seakan akan memeluk pohon miliknya itu. Odessa dengan seketika memasuki batang pohon tersebut sehingga tidak meninggalkan jejak satupun. Tubuh Odessa menembus pohon miliknya itu dan tertidur didalamnya.