
“jadi, apa kalian sudah paham mengenai semuanya yang sudah diceritakan oleh Adam?” tanya Farel.
“apa kau sudah tau ini sebelumnya?” tanya balik Nyoman kepada Farel.
“aku bersama dengan Adam kemarin malam di desa. Kurasa hal itu sudah cukup membuat kalian faham” jawab Farel.
“kenapa kau tidak membritahukannya kepada kami dari kemarin malam?” tanya Emilia.
“kurasa akan lebih mudah berbicara secara langsung dari ahlinya sendiri yaitu Adam’” jawab Farel.
“ahli? Aku ahli? Ahli apa? Ahli kunci?” tanya balik Adam.
“bukan itu maksudku” jawab Farel menepuk jidatnya.
“kalau kalian sduah paham situasinya, apa kalian masih ingin menemui Johan sekarang?” tanya Adam.
“kurasa itu tidak perlu, mungkin nanti siang sekitar jam 2” jawab Nyoman.
“aku akan ikut dengan kalian. Apa kalian tidak keberatan jika aku datang bersama dengan kalian untuk menjenguk Johan?” tanya Adam.
“tidak usah sungkan. Ikut saja kalau kau ingin ikut” jawab Farel.
“terimakasih banyak. Kalau begitu, aku akan pulang” ucap Adam.
“apa kau tidak masuk sekolah?” tanya Farel.
“aku masuk sekoloah saat jumat minggu kemarin, dan aku dibully habis habisan disana” ucap Adam.
“lalu? Apa kau tidak ingin bersekolah lagi?” tanya Farel.
“kenapa aku harus memperdulikan mereka? aku harus tetap sekolah” jawab Adam.
“mentalmu bener bener mantep banget” ucap Nyoman.
“terimakasih, aku telah dipuji oleh orang yang jarang sekali memuji orang” ucap Adam.
“itu suatu kehormatan bagimu” ucap Nyoman.
“terimakasih. Kalau begitu aku akan kembali” ucap Adam seraya berjalan keluar.
“apa perlu aku antar pulang?” tanya Farel.
“tidak perlu, aku bisa berjalan kaki” jawab Adam.
“jangan sembrono. Aku yang menyuruhmu untuk pergi kerumah Johan, aku juga yang harus mengantarkanmu pulang” sahut tegas Farel.
“baiklah kalau kau memaksa. Maaf telah merepotkan” ucap Adam.
“santai saja’ jawab Farel.
Jam 10 pagi, Farel mengantarkan Adam pulang kerumahnya yang letaknya agak jauh dari rumah Johan. Sekitar 3 kilometer lebih jika menggunakan jalan pintas dan mungkin akan lebih jauh lagi jika menggunakan jalan raya. Sesampainya Farel di depan rumah Adam, Adam pun turun dan segera masuk kedalam rumah. Begitupula dengan Farel yang seketika menarik gasnya dan kemudian kembali kerumah Johan.
Sesampainya Farel kembali kerumah Johan, saat itu pula paman Surya dan ibunda sudah pulang. Farel masuk kedalam rumah dan mendapati jika paman Surya dan mamah Johan sudah duduk bersama dengan teman temannya. Saat itu, paman Surya dan ibunda membawa seberkas surat peringatan dari pihak kepolisian.
“apa yang kalian lakukan lancar jaya?” tanya Farel seraya duduk di sofa ruang tamu.
“sebenarnya, ini tidak bisa disebut lancar maupun tidak lancar. Untuk saat ini, bisa dibilang lancar jaya luar biasa, tapi entah sampai kapan kelancaran ini mengikuti kita” jawab paman Surya.
“apa maksudnya?” tanya Farel.
“kita berkata sesuai fakta yang terjadi di lapangan. Mau bagaimanapun juga, tidankan Johan sudah keterlaluan melebihi apa yang dilakukan oleh para penebang hutan. Jika dihitung secara keseluruhan, Johan sudah menusuk 40 kaki lelaki dewasa. 28 diantaranya adalah penebang hutan minggu lalu saat Johan akan menyelamatkan hutan desa sementara 12 kaki yang telah Johan tusuk saat akan melindungi pohon Odessa. Sementara Johan hanya mendapatkan total tembakan 3 peluru. Jika dibandingkan dengan akal logika, tusukan dari belati maupun keris lebih sakit dibandingkan dengan sebatas peluru yang menembus daging. Rasa sakit yang diberikan Johan lebih besar daripada yang Johan terima. Tidak akan ada pembenaran yang bisa menyelamatkan Johan dari jeruji besi”
“namun sampai sekarang, pihak dari penebang pohon masih belum satupun menuntut Johan. Jika sampai para penebang hutan itu menuntut Johan, tidak akan ada hal yang bisa membela Johan lagi. Mau bagaimanapun juga, tindakan Johan sudah berlebihan jika dibandingkan dengan apa yang akan diperbuat oleh para penebang hutan. Untuk saat ini, Johan masih dalam kategori aman, namun tuntutan bisa saja datang kapan saja” jawab jelas paman Surya.
“lalu, apa yang kau bawa itu?” tanya Farel menunjuk ke arah dokumen yang tengah paman Surya bawa.
“ohh, ini? bukan apa apa. Aku sedikit malu untuk mengatakannya” jawab paman Surya dengan muka yang memerah.
“memangnya ada apa? Itu surat apa?” tanya Farel begitu penasaran.
“ini adalah surat nikah. Aku dan mamah Johan akan menikah. Kita berdua sduah sepakat” jawab tegas paman Surya.
“oh, mau nikah” jawab Nyoman dengan raut wajah begitu datar seakan akan tidak peduli.
“kenapa kalian tidak satupun yang terkejut!?” teriak paman Surya sedikit marah terheran.
“yapp, sudah kuduga kalau paman Surya memang akan menikah dengan mamah Johan” jawab Jehian.
“setidaknya, Johan memiliki punggung keluarga untuk meletakkan sebagian bebannya ke punggung tersebut” jawab sang ibunda.
“apa kalian sudah mengatakan ini kepada Johan dan Callysta?” tanya Farel.
“be-belum” jawab paman Surya.
“dimana Callysta sekarang?” tanya Jehian.
“dia sekarang sedang menemani Johan dirumah sakit” jawab paman Surya.
“apa mereka hanya berdua?” tanya Jehian.
“iya” jawab paman Surya.
“apa kau ingin di tabrak kereta agar kau bisa dijenguk oleh Callysta?” tanya Nyoman kepada Jehian.
“sekali lagi kau berkata seperti itu, kupatahkan tulang lehermu” sahut Jehian kepada Nyoman.
“tidak apa apa, aku rela dipatahkan tulang leherku asalkan aku bisa dijenguk oleh Callysta” jawab Nyoman.
“aku akan mematahkan tulang leherku sendiri” sahut Jehian diikuti oleh tawa mereka semua disana.
“sudah sudah, jangan bertengkar seperti itu. Apa kalian belum sarapan pagi?” tanya sang ibunda Johan.
“aku belum, tante” jawab Farel.
“yaudah, makan sana” jawab sang ibunda.
“tante masak apa? Tanya Farel.
“cuma masak masakan rumahan biasa. Masak sayur sop dan jamur goreng kesukaan Johan. Sebenarnya tante membuatkan itu untuk Johan, tapi dia tidak mau” jawab sang ibunda.
“apa aku boleh makan, tante? Laper nih” ucap Farel.
“makan aja sana” jawab sang ibunda.
“apa kalian semua tidak makan?” tanya paman Surya.
“kita bertiga sudah makan bekal di sekolah tadi” jawab Emilia.
“apa tidak ingin makan lagi?” tanya paman Surya.
“aku akan membawakan beberapa untuk Callysta disana, pasti dia belum makan” ucap Jehian.
“dia sudah makan denganku di warteg depan” jawab paman Surya.
“waahh, enaknyaaa. Kapan aku bisa makan di warteg dengan Callysta?” tanya Jehian.
“kenapa kau harus mengajak Callysta untuk pergi ke warteg depan? contohlah seperti Johan. Johan membawa Odessa pergi ke mall untuk berbelanja. Dan kau? Kau akan mengajak Callysta untuk pergi ke warteg depan?” tanya Nyoman.
“tidak salah lagi, jika sifatmu yang pelit itu masih berlanjut, Callysta pasti akan di rebut Johan bagaimanapun caranya dan kau tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk mendekati Callysta lagi” jawab paman Surya.
“aku bukan pelit, tapi memang tidak punya uang” jawab Jehian.
Hingga sampai jam 1 siang, mereka membicarakan hal yang begitu random dan acak. Apapun yang bisa dibahas, mereka akan membahasnya disana. Hingga mereka lupa waktu dan melihat jam, mereka sadar saat itu mereka berniat untuk menjeguk Johan dirumah sakit bersama sama.
“sudah jam 1 nih, apa kita akan pergi kerumah sakit?” tanya Emilia.
“gaskan” jawab Jehian.
“tunggu dulu. Adam bilang kalau dia akan ikut bersama menjenguk Johan” sahut Farel.
“apa kau membawa motormu sendiri kemari? Kalau iya, lebih baik kau berangkat bersama dengan Adam membawa motormu itu. Biarkan mamah Johan, Emilia, Nyoman dan Jehian yang ikut denganku membawa mobil polisi” jelas paman Surya.
“baik” jawab Farel menganggukkan kepalanya
Saat itu pula, mereka semua pun bersiap untuk menuju perjalanan kerumah sakit tempat Johan sedang dirawat. Dalam keadaan masih mengenakan seragam, mereka menolak untuk pulang kerumah mereka terlebih dahulu dan memutuskan untuk langsung berangkat ke rumah sakit.
Pada akhirnya, ibunda mengunci semua pintu dan pagar rumah. Semuanya masuk kedalam mobil polisi kecuali Farel yang saat itu bertujuan untuk pergi menjemput Adam dirumahnya. Singkat cerita, mereka semua pun sudah berkumpul di satu rumah sakityang sama. Lebih tepatnya berada di parkiran mobil bawah tanah. Adam dan Farel pun sudah ikut berkumpul bersama dengan paman Surya dan lainnya.