
Johan pun dengan terburu buru mengambil tas nya yang berada di kasur tempat sang ketua tidur dan kemudian menggeledah isi tasnya. Benar saja, di bagian depan tas miliknya itu, Johan mendapati kotak kecil dengan gambar anime Fire Force (Enen no Shouboutai).
“waaahh, ternyata beneran adaa. Syukurlahhhhh” teriak Johan begitu senang.
“heh heh heh, berisik! Ada orang lagi tidur nih!” ucap sang ketua dengan sedikit kesal.
“hehehee, maaf maaf” ucap Johan menggaruk kepalanya.
Johan pun seketika berlari dan kemudian menuju kepada Aji yang tengah berdiri di tempat yang sama. Dengan begitu semangat, Johan pun memberikan surprise kepada Aji sebuah Action Figure berupa karakter Iris dari Fire Force.
“tadaaaaaa” ucap Johan dengan begitu dramatisir.
“waaaahhhh, itu apa?” tanya Aji dengan begitu terkagum.
“ini adalah salah satu mainan AF ku dirumah. Aku baru saja beli. Namanya Iris. Aku akan memberikannya kepada Aji agar Aji memiliki mainan sama seperti Guntur, Fathur, Ryu dan Juan” ucap Johan.
“waaahh, benarkah?” tanya Aji begitu senang.
“iya benar. Aku memberikan ini kepadamu” ucap Johan memberikan sebuah kotak tersbeut.
“terimakasih banyak” ujar Aji menerima kotak tersebut.
“cepat buka” ucap Johan.
“baik” jawab Aji.
Aji pun membuka kotak tersebut dan mengeluarkan AF Iris dari anime Fire Force (Enen no Shouboutai). Dengan begitu bahagia, Aji benar benar memeluk action figure tersebut dengan pelukan halus.
“dia cantik” ucap Aji.
“namanya Iris, dia adalah pembaca doa para pemadam kebakaran. Kalau kau ingin mendoakan para pemadam kebakaran, katakan saja di akhir doa dengan kata Latom” ucap Johan.
“Latom? Itu doa yang baik. Terimakasih banyak” ucap Aji.
“waaahhh, dia bener bener cantik bener parah abis. Padahal AF Iris sudah aku incar dari dahulu dan hanya tersedia beberapa di kota ini. Iris cakep parah mampus. Uangku 800 ribu menghilang begitu saja. Tapi tidak apa apa, asalkan Aji senang, aku juga ikutan senang” fikir Johan dalam hati.
“Action Figure adalah mainan yang hanya digunakan sebagai pajangan, jadi kalau memainkannya jangan terlalu kasar. Kalau tidak itu akan mudah rusak” ucap Johan.
“baik, aku akan memajangnya dan akan berhati hati jika memainkannya” ucap Aji menganggukkan kepalanya.
“kalau begitu, kalian mainlah bersama sama. Jangan bertengkar saat bermain. Oke!” ujar Johan.
“okee! Terimakasih banyak kak Johan” ucap mereka berlima.
“sebelum itu, ayo kita tos dulu” ujar Johan memberikan telapak tangan kanannya.
Satu persatu dari mereka pun melakukan tos kepada Johan dengan begitu keras. Mereka begitu senang begitupula dengan Johan. Sesaat setelah itu, mereka berlima pun segera keluar gedung hanya untuk sekedar bermain diluar. Johan benar benar bahagia melihat anak anak kecil itu saling berlarian keluar gedung dengan tertawa terbahak bahak memasang raut muka begitu gembira.
Sesaat setelah itu, Johan di hampiri oleh dua orang tua. Mereka adalah sepasang suami istri. Mereka berdua adalah orang tua dari Aji. Mereka berdua berjalan ke arah Johan dan menghampirinya.
“permisi, nak muda” ucap sang ayah Aji.
“iya, ada apa bapak?” tanya Johan dengan begitu sopan.
“Aji adalah anak kami, dan kami benar benar berterimakasih karena sudah menyenangkan hati Aji” ucap sang ayah Aji.
“sama sama bapak, saat aji tertawa, disitu saya benar benar merasa senang” ucap Aji.
“kau adalah anak yang begitu baik, katakan namamu” ucap sang ayah Aji.
“bapak bisa memanggilku Mahesa Johan” jawab Johan.
“nak Johan. Katakan berapa harga mainan yang kau beri kepada Aji” ucap sang ayah Aji.
“kalau kukatakan harga aslinya, mungkin aku akan terkesan sombong dan boros. Mungkin aku akan sedikit berbohong kali ini” fikir Johan dalam hati.
“harganya 300 ribu” jawab Johan.
“hahh? 300 ribu?” tanya kedua orang tua Aji begitu terkejut dengan harga yang begitu tinggi itu.
“tidak apa apa ibu, bapak. Kalian berdua tidak perlu menggantinya. Sebagai cucu dari mantan ketua desa ini, saya benar benar merasa bertanggungjawab dan merasa bersalah atas kesalahan papah saya yang dengan sengaja membakar hutan ini. Saya sebagai anaknya ingin sekali bertanggujawab atas dosa papah saya dengan caya membangun ulang cita cita dan keasrian desa ini. Dengan begitu, saya sedikit lebih tenang” ucap Johan.
“kau benar benar anak yang baik, nak Johan” ucap sang ayah Aji.
“saya hanyalah anak nakal yang kabur dari rumah hanya karena ingin bertemu perempuan yang saya cintai di desa ini. Benar benar anak sma yang bandel dan tidak penurut orang tua” ucap Johan sedikit tertawa menyalahkan dirinya sendiri.
“tidak apa apa, cinta itu bebas, bahkan jika kau menemukannya di negara lain, kau pasti akan selalu mengingatnya. Tapi jika kau sampai melawan perkataan orang tuamu demi itu, itu memang hal yang salah” ucap sang ayah Aji.
“iya iya, saya memang salah, hehehe” ucap Johan tertawa seraya menggaruk kepalanya.
“untuk kesekian kalinya, saya ingin berterimakasih banyak atas mainan yang kau berikan kepada anak kami. Kami benar benar berterimakasih banyak. Sejujurnya, kita adalah keluarga yang memang kekurangan dalam ekonomi kita. Aji sudah berkali kali meminta mainan kepada ayahnya ini, namun ayahnya yang bodoh ini tidak dapat memenuhi permintaan anak satu satunya ini. Saat melihat Aji yang begitu senang karena di beri mainan olehmu, kita benar benar berhutan banyak kepadamu. Terimakasih banyak atas perlakuanmu kepada Aji” ucap sang ayah Aji.
“sama sama, anda tidak boleh menganggap anda sebagai orang yang bodoh. Kalian adalah orang tua yang benar benar baik karena memikirkan tentang permintaan anaknya. Walau permintaan itu serasa mustahil bagi kalian, tapi kalian tidak menyerah. Niat kalian sudah cukup untuk membuktikan kalau kalian adalah orangtua yang baik. Kalau begitu saya permisi akan keluar sebentar. Johan pamit ingin keluar cari angin” jelas Johan.
“iya, hati hati” jawab mereka berdua.
Pada akhirnya, Johan pun berjalan keluar gedung dan berdiri di depan pintu seraya menghirup udara yang begitu segar. Sesaat setelah itu, Johan mendengar suara langkah kaki yang mendekat dan rupanya itu adalah para seorang pemuda dari warga pengungsi disana.
“ohh, ha-hai” ucap Johan begitu terkejut.
“apa kau Johan yang sudah menikam 14 orang penebang hutan itu?” tanya pemuda tersebut.
“i-iya, saja adalah Mahesa Johan. Panggil aja Johan” ucap Johan.
“kita semua sudah mendengar mengenai perjuanganmu menikam 14 orang dewasa yang akan menebang pohon. Menurutku itu suatu hal yang sangat pemberani. Aku memiliki umur yang sama denganmu yaitu 16 tahun. Tapi aku tidak seberani dirimu yang bisa melawan 14 orang dewasa sendirian. Maka dari itu ak-“ ucap pemuda tersebut terhenti.
“sebentar dulu, sebentar. Kau mendengarnya dari siapa?” tanya Johan.
“aku mendengarnya sendiri dari pak sekertaris” jawab pemuda tersebut.
“jadi mereka sudah menyebarkan beritanya kepada pada pengungsi desa. Perlahan para pengungsi desa pastinya akan mulai mengetahui keberadaan para penebang hutan. Sisanya kita hanya perlu membayar mereka dengan bahan pangan bergizi dan menyehatkan. Tapi bagaimana supaya aku bisa memperkerjakan mereka untuk menjaga hutan?” fikir Johan dalam hati.
“hah? permisi? Apa aku tidak salah dengar?” tanya Johan.
“kita akan menjaga hutan ini dari para penebang agar hutan disini tetap lestari” tegas pemuda tersebut.
“sebentar sebentar. Apa kalian tau apa yang kalian katakan? Bahkan aku tidak dibayar oleh mereka saat melakukan ini. Kalian juga tidak akan mendapatkan upah dari menjaga pohon pohon disini” ucap Johan.
“walaupun kita tidak mendapatakn makanan dan uang yang banyak, tapi selama ini kita menghirup udara yang dihasilkan dari pohon itu. Andai saja pohon itu menghasilkan sinyal wifi yang tersambung ke internet, pasti semua manusia berlomba lomba untuk menanamnya. Namun sayangnya pohon itu hanya menghasilkan oksigen agar kita tetap hidup di bumi ini” tegas pemuda tersebut dengan sedikit bumbu sarkasme. Mendengar hal itu, hati Johan pun tersentuh. Detak jantung Johan berdetak dengan begitu keras dengan muka yang mulai memerah. Perkataan yang benar benar menyayat hati dari para pemuda desa.
“itu keren. Itu keren banget buat quotes” sahut Johan.
“heh? Apa?” tanya pemuda tersebut.
“ehh, ehheemm. Tidak apa apa. Menurutku kalian sudah benar benar berniat untuk melakukan ini. Kurasa aku tidak bisa melarang kalian dan bahkan aku akan sangat amat luar biasa senang. Tapi apa kalian benar benar yakin bisa menjaga lima bagian hutan yang begitu luas ini?” tanya Johan.
“aku sudah mendengar strategi kalian dari pak wakil. Menurutku strategi itu benar benar luar biasa keren. Tapi itu akan sangat berbahaya bagi kami. Untuk itu, kita bisa sedikit tenang karena para pemuda di desa ini sangat banyak. Bahkan kita bisa berganti saat berjaga pada malam hari. Jumlah pemuda di desa ini berjumlah 55 orang. Dan kita bisa membagi piket untuk dalam satu minggu, merkea akan terbagi menjadi lima tujuh kelompok dengan pembagian perorangan menjdi 5 bagian yang akan menjaga 5 hutan berbeda. Saat itu, kita benar benar akan sangat kuat dalam bertarung dan menjaga hutan” ucap pemuda tersebut.
“sepertinya kalian sudah mempersiapkan semuanya dengan matang. Aku benar benar kagum dengan kalian. Kalian benar benar hebat. Aku akan sangat berterimakasih kepada kalian karena kalian sudah berniat untuk menjaga alam” tegas Johan.
“sama sama, kita juga berterimakasih atas keberanianmu” tegas pemuda tersebut.
“kalau begitu, aku akan pergi sebentar. Permisi” ucap Johan berjalan dari sana.
“hati hati di dalam hutan” ucap pemuda tersebut.
“terimakasih banyak” jawab Johan.
Saat itu pula Johan pun benar benar memasang senyum lebarnya kemanapun ia menatap. Pasalnya, dirinya benar benar senang saat Johan merasa kalau ia sudah mulai akrab dengan penduduk desa ini. Perlahan kepercaraan penduduk desa sudah mulai tumbuh dan mulai mempercayai Johan.
“waaaahh, udaranya segar sekali” ucap Johan seraya berjalan ke arah hutan.
“aku ingin bertemu dengan Odessa, kira kira dia ada di rumahnya atau di pohonnya? Kalau dia ada dirumahnya, aku senang karena dia bisa beristirahat. Tapi jika dia di pohonnya, aku juga senang karena aku bisa bertemu dengan Odessa” fikir Johan dalam hati.
Namun, saat Johan berjalan hendak memasuki hutan, dirinya di kejar oleh anak anak yang tadi Johan ajak berbicara. Johan di kejar oleh Aqila bersama dengan Juan, Ryu, Fathur, Guntur dan Aji. Mereka berenam mengejar Johan yang saat itu sedang berjalan sendirian.
Dengan begitu cepat, mereka semua memeluk kaki pinggul Johan dengan begitu erat secara bersamaan. Hal itu membuat Johan begitu terkejut dengan apa yang mereka semua lakukan disini.
“apa yang kalian lakukan disini?” tanya Johan.
“ehh? Apa yang kak Johan katakan? Kita kan memang tinggal disini. Kita bermain di hutan” ucap Guntur.
“neh kak Johan. Boneka ku sudah kering” ucap Aqila memberikan bonekanya.
“wahh, iya benar. Sudah kering. Jangan sampai jatuh ke tanah ya, biar tidak kotor” ucap Johan.
“neh kak Johan, ayo bermain” ajak Aji.
“ehh? Tapi kak Johan ingin menemui seseorang” jawab Johan.
“hah? siapa? Apa kak Johan punya teman? Atau jangan jangan kak Johan sudah punya pacar?” tanya Fathur.
“heh? Kak Johan sudah punya pacar?” tanya Juan.
“benarkah? Siapa perempuannya?” tanya Aqila.
“sudah sudah, dia hanya teman kak Johan. Lebih baik kalian kembali saja dari sini. Kak Johan akan menemui orang itu” ucap Johan.
“tidak mau, kita ingin ikut dengan kak Johan” ujar guntur dengan nada bicara begitu manja.
“hmm, okelah okelah. Tapi jangan lari larian dan tetap bergandeng tangan satu sama lain. Oke!. Jangan sampai tersesat di hutan” tegas Johan.
“oke” jawab mereka semua.
Sesaat setelah itu, mereka berenam pun bergandeng tangan dan berjalan perlahan menyusuri hutan karet. Saat itu, Johan menggandeng tangan Aqila yang berada di paling kiri sementara semua teman teman Aqila berjajar ke kanan. Melihat mereka semua, Johan seketika teringat Emilia dan semua teman teman temannya.
“Guntur benar benar seperti Jehian yang selalu semangat. Juan seperti Kahfi yang selalu serius dan pendiam. Aji sepertiku yang sedikit pemalu dan selalu tertutup. Ryu seperti Nyoman yang selalu blak blakan saat berbicara. Fathur seperti Farel yang sedikit penakut tapi setia dan murah senyum. Sementara Aqila benar benar mirip seperti Emilia yang baik hati dan pengertian juga terbiasa untuk mengatakan terimakasih di setiap saat. Benar benar seperti melihat cermin pantulan diri sendiri” fikir Johan dalam hati.
“anu, kak Johan. Sebenarnya kak Johan pengen bertemu dengan siapa?” tanya Juan.
“iyatuh, siapa ya kira kira?” tanya Guntur seraya mengelus dagunya.
“dia adalah teman dekat kak Johan. Kalian pasti akan melihatnya sendiri nanti” ucap Johan.
“waahh, aku sudah tidak sabar bertemu dengannya. Pasti dia benar benar tampan” ucap Aqila.
“benar, dia pasti sangat pemberani dan akan mampu melawan nagaku” ucap Ryu.
“atau kalau tidak, dia bahkan bisa mengalahkan robotku? Ahhhh tidak bisa di percaya. Padahal robotku ini benar benar sangat kuat” ucap Guntur.
“sebenarnya, kak Johan ingin bertemu dengan perempuan dan bukan laki laki” ucap Johan.
“heh? Haaahhhh?” teriak mereka semua begitu terkejut.
“dia teman baik kak Johan” ucap Johan.
“apa dia sangat cantik seperti Iris ku?” tanya Aji.
“melebihi Iris mu” ucap Johan.
“kalau begitu, berikan dia kepadaku” ucap Aji.
“tapi dia sudah punya kak Johan dan kamu sudah punya Iris. Jadi kita sudah sama sama memiliki” ucap Johan.
“kak Johan benar juga. Ternyata kak Johan pintar juga” ujar Aji.
“dasar jiwa jiwa fakboy dari lahir” fikir Johan seraya menatap ke arah Aji.
Lima menit berlalu, nyatanya mereka sudah sampai di tengah hutan. Dan sebentar lagi mereka akan sampai disebrang hutan dimana hutan tersebut adalah hutan bekas kebakaran hutan. Wilayah itu adalah wilayah yang sama dengan pohon milik Odessa dan rumah kayu yang telah rusak milik kakek dan nenek Johan.