
.Johan pun terbangun dari tidurnya. Ia pun merasakan sakit dan sedikit perih sebab mata yang terlalu banyak menangis. Bantal yang ia kenakan pun basah sebab air matanya itu. ia masih terbayang dengan mimpi yang baru saja dirinya alami. Mimpi yang merujuk kepada kebersamaan yang tidak akan pernah terulang kembali. Johan pun tersenyum tulus ke langit langit kamarnya dan menghela nafas dalam dalam.
“permisi, apa mamah boleh masuk?” ucap sang ibunda seraya mengetuk pintu kamarnya.
“ada apa mah?” tanya Johan dengan suara lemah lembutnya.
“mamah cuma pengen ngobrol sama kamu” ujar sang ibunda.
“mending jangan dulu deh mah” ucap Johan mengusap air matanya.
“makanya, mamah masuk ya” ucap sang ibunda membuka pintu kamar Johan.
“udah nggausah mah, aku gapapa kok. Mamah gausah mas-“ ucap Johan terhenti. Pasalnya, dirinya terkejut saat ibunda berjalan masuk bersama dengan papah. Mereka berdua berjalan dengan membawa sebuah map kertas berisi surat hasil rontgen. Mereka berdua pun menyalakan lampu dan kemudian duduk di samping Johan yang tengah rebahan di kasur.
“mamah mau kasih tau ini” ucap sang ibunda.
“apaan itu mah?” ucap Johan memalingkan wajah sedihnya.
“setidaknya lihat dulu isinya apa, kamu pasti bakal seneng banget” ucap sang papah.
“papah ceritain aja isinya apa, aku bakal dengerin” sahut Johan.
“yaudah, kalo kamu ngga mau lihat isinya, biar mamah kamu aja yang ceritain” ucap sang papah dengan suara lemah lembut.
“jadi, kamu akan menjadi seorang kakak” ucap sang ibunda.
“eh, hah?” tanya Johan seketika menatap kedua mata sang ibunda. Johan benar benar terkejut saat mendengar kalau dirinya akan memiliki adik. Perasaannya saat itu benar benar campur aduk, dimana dirinya masih bersedih dengam kepergian sang nenek. Namun perasaannya tidak bisa di pungkiri kalau ia benar benar senang saat mendengar bahwasanya dia akan menjadi seorang kakak.
Perasaan yang tercampur aduk menjadi satu membuatnya pusing. Dirinya melihat jam tangannya dan mendapati kalau saat itu sudah malam hari. Johan terkejut dengan lama waktu saat dirinya tertidur. Johan berfikir terlalu keras dan memutuskan untuk pergi dari kamarnya untuk hanya sekedar mencari udara segar malam hari.
“aku mau pergi dulu” sahut Johan beranjak dari tempat tidurnya.
“ehh? Papah kira kamu bakal seneng kalo kamu punya adik. Melihat dari ekspresi muka mu yang datar, papah rasa kamu merasa biasa saja kalo kamu memiliki adik” ucap sang papah.
“aku lumayan seneng kok, tapi karena berita sedih tentang nenek, aku jadi merasa bersalah kalau aku memasang raut muka tersenyum dan bahagia. Lebih baik aku lebih adil dalam membagi perasaanku” jawab Johan seketika berjalan keluar kamarnya.
Johan pun memasuki kamar mandi hanya untuk sekedar mencuci muka dan gosok gigi. Selepas itu, dirinya mengambil dompet yang berada dalam kamar dan mendapati kalau kedua orang tuanya masih berada di dalam kamarnya itu.
“apa kalian ngga mau keluar? Aku mau menguncinya dari luar” ucap Johan seraya mematikan lampu kamarnya.
“hm, iya” ucap sang papah dan mamah seketika berjalan keluar kamar.
Mereka berdua pun keluar dan kemudian berjalan kebawah menuju ruang tengah. Saat itu pula Johan mengunci pintu kamarnya dari luar dan kemudian berjalan turun kebawah. Dirinya melihat kalau kedua orang tuanya juga sedang duduk di sofa kursi tengah bersama dengan sang kakek yang belum kunjung kembali.
Johan membuka pintu luar dan kemudian mengeluarkan sepeda kayuhnya. Tidak lupa kalau dirinya harus menutup pintu pagar terlebih dahulu sebelum meninggalkan rumah. Ia mengayuh sepedanya dengan kencang tanpa memperdulikan keselamatannya. Bagaimanapun juga, sudah sepatutnya seseorang selalu menjaga kecpatan kendaraan yang orang itu gunakan. Bahkan dalam keadaan dirinya sedang di kecepatan yang begitu kencang, dirinya masih saja memikirkan tentang sang nenek tercinta.
Pada akhirnya, saat berada di tikungan pertigaan ujung jalan, saat Johan hendak berbelok, secara tiba tiba terdapat seroang anak kecil yang berlari menyebrang jalan tanpa melihat kondisi ramai jalan terlebih dahulu. Beruntung saja saat itu, jalanan benar benar sangat sepi dengan kendaraan bermotor.
Namun keberuntungan tersebut hanya berpihak kepada sang anak kecil tersebut. Faktanya, saat Johan hendak berbelok, Johan benar benar terkejut akan adanya anak kecil yang tiba tiba saja menyabrang. Melihat itu, Johan seketika membanting setir hendak menghindari anak kecil itu.
Sayangnya, sepeda kayuh yang di kenakan oleh Johan malah menabrak tiang listrik yang berada di samping jalan. Dirinya menabrak dengan begitu keras hingga tubuhnya spontan terdorong kedepan. Dirinya terpental keras ke depan hingga terjatuh. Beruntung tidak ada luka yang menggores kulit Johan. Namun, keberuntungan itu tidak dapat menyelamatkan tangan kanan Johan yang terkilir.
Saat Johan berdiri dari kecelakaannya itu, ia mendapati kalau anak kecil itu sudah menghilang dari sebrang jalan. Dan juga Johan merasa kalau jalanan benar benar sepi akan kendaraan. Seakan akan hanya Johan seoranglah yang di takdirkan untuk bertemu dengan anak kecil tersebut dan kecelakaan di jalanan ini. Hal itu membuat Johan begitu heran dengan apa yang terjadi hari ini.
“ehh? Dimana anak kecil tadi? Kok ngga ada?” fikir Johan bertanya tanya.
Johan pun berjalan menuju ke arah sepeda kayuhnya dan kemudian mengambkat kembali sepeda kayuhnya. Ia paun baru menyadari kalau saja pergelangan tangan kanan serta lengan kanan Johan telah terkilir dan membuat Johan benar benar kesakitan jika memaksakan untuk mengangkat barang yang berat.
“huufftt, sial banget aku hari ini” fikir Johan dalam hati.
Dirinya pun mengangkat sepedanya itu hanya dengan satu tangan kirinya. Tangannya yang masih bergetar keras sebab syok akan kecelakaan itu membuatnya tidak tenang semasa di perjalanan. Tubuhnya yang melemas akibat detak jantung yang begitu kuat dan cepat membuatnya mengurungkan niat untuk pergi ke supermarket dan kembali pulang.
“gilak, kulit ku lecet gara gara jatuh tadi” fikir Johan seraya memandang kulit telapak tangannya yang lecet.
“aku nggak nyangka kalau aspal jalan itu begitu kasar, kulitku bener bener panas” ucap Johan sembari mengibas kibaskan tangannya.
Johan pun berfkir dua kali untuk memutuskan agar dirinya segera pulang atau pergi ke supermarket terlebih dahulu. Pada akhirnya, jawaban pun sudah bulat kalau bahwasanya dirinya memang benar benar lapar dan memutuskan untuk pergi ke supermarket melanjutkan perjalanannya.
Di tengah tengah jalan, dia benar benar heran mengapa jalanan begitu sepi. Hingga dirinya menaiki sepedanya kembali dan mengayuh sepedanya menuju ke supermarket, dirinya masih benar benar tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. di setiap jalan dan lorong, Johan benar benar tidak bisa menemukan seorangpun.
“ini pasti mimpi. Aku bener bener ngga liat satu orangpun di sini. Bener bener sunyi. Kemana mereka? Bahkan aku aja sekalipun ngga denger suara mesin sepeda motor satupun. walaupun ini sudah malam, tapi ini masih jam 9 malam. Akan sangat aneh jika masih jam 9 malam sudah se sunyi ini” fikir Johan bertanya tanya
Hingga pada akhirnya, dirinya pun sampai kedepan supermarket tempat dimana dirinya biasa berbelanja. Saat dirinya memasuki pintu supermarket, Johan pun seketika terbungkam dengan suasana didalam supermarket tersebut. Tidak ada satupun orang di dalam supermarket, dirinya tidak mendapati adanya sang kasir dan pembeli.
Johan pun benar benar ketakutan akan hal itu. Johan merasa kalau dirinya benar benar kesepian di dunia ini. Johan pun segera keluar dari supermarket dan bergegas pulang dari sana. Saat berada di perjalanan, Johan benar benar terganggu dengan perih dan panasnya telapak tangan Johan.
“aku bener bener sial, mungkin aku harus istirahat dulu bentar” fikir Johan sembari menghela nafas panjang.
Dia pun memutuskan untuk berhenti sejenak ke taman dimana taman itu adalah taman tempat Johan pingsan sebelumnya. Johan berjalan menuju pusat dari taman itu dan kemudian duduk di kursi taman disana. Sesaat sebelum itu, Johan membeli minuman kaleng dingin di vending machine yang berada di samping kursi tamannya.
“loh? Heh? Kok ilang? Kok bisa ilang? Apa jangan jangan itu bukan tato? Kalo bukan tato, terus itu apa? Dan juga saat kena air, tato itu juga ngga ilang. Aku juga udah coba buat gosok tato itu, tapi ngga ada yang berubah” ucap Johan benar benar terkejut.
“kalo bukan tato, berarti itu apa? Apa mungkin tato itu ilang karena tanganku yang lecet gara gara jatuh tadi? Kurasa itu ngga mungkin” ucap Johan.
“simbol mu hilang gara gara kau bukan di dunia nyata melainkan masih berada di dunia mimpi” sahut sang Dewi Mimpi yang secara tiba tba saja duduk di samping Johan.
“haaahhh‼!” teriak Johan begitu terkejut.
“hai, balik lagi” ucap sang Dewi Alam tersenyum tulus.
“ba-bagaimana anda bisa kemari?” tanya Johan masih syok.
“bagaimana caraku kemari? Mungkin karena ini adalah alamku” ucap sang Dewi Alam.
“ohh, iya juga. maafkan saya yang masih belum mengenal anda lebih jauh” ucap Johan seraya menundukkan kepalanya.
“aku udah bilang, jangan begitu formal kepadaku. Lagipula aku juga masih belum memberitahukan namaku kepadamu” ujar sang Dewi Alam.
“ehh? Jadi Dewi Alam pun punya nama?” tanya Johan.
“menurutmu? Bagaimana temenku memanggilku kalo aku ngga punya nama?” tanya Dewi Alam.
“emm, mungkin anda hanya di panggil dengan sebutan Dewi Alam saja” ucap Johan.
“aku udah bosen di panggil dewi alam oleh semua teman temanku. Aku ingin semua manusia yang memujaku mengetahui nama asliku suatu saat nanti” ujar Dewi Alam.
“kalau begitu, kalo boleh tau, siapa nama anda?” tanya Johan seraya membuka minuman kalengnya.
“namaku Greisha, Greisha Gremour. Semua orang memanggilku Greisha, namun banyak juga yang memanggilku Gremour. Padahal aku ingin sekali memiliki nama yang normal layaknya manusia pada umumnya” ucap Greisha seraya memasang raut muka bersedih.
“kenapa harus murung? Namamu itu keren loh. G-R-E-I-S-H-A, itu bener bener keren dan mungkin manusia tidak akan ada yang memiliki nama sekeren itu” ujar Johan.
“benarkah? Padalah semua temanku menganggap kalo namaku adalah nama yang aneh dan susah untuk disebut” ucap Greisha.
“kurasa, kalau suatu saat nanti saat aku udah punya anak, mungkin anakku akan ku beri nama Greisha Mahesa. Bener bener keren kan?” tanya Johan seraya mengacungkan satu jempolnya dan mengedipkan satu matanya.
“ehh, emm, lu-lumayan. Itu lumayan keren” ucap Greisha menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah.
“apa yang dikatakan Johan? Dia menggunakan namaku dan menambahkan nama keluarganya? Apa itu berarti kalau Johan ingin menikah denganku?” fikir Greisha dalam hati.
“eh? Kenapa anda menunduk? Apa anda pusing?” tanya Johan.
“Dewi ngga mungkin bisa pusing, bodoh!” teriak Greisha menatap tajam mata Johan.
“eh? anda beneran pusing. Mukamu memerah” ucap Johan seraya menyentuh jidat Greisha.
“ti-tidak, aku ngga akan bisa pusing” teriak Greisha dengan wajah yang semakin memerah.
“terserah anda, tapi saya hanya berpesan kepadamu, jangan terlalu banyak memaksakan diri” ucap Johan dengan tenangnya.
“berisik, aku juga tau itu, bodoh!” ujar Greisha memalingkan wajahnya dari Johan.
“terserah anda” ucap Johan.
Keadaan pun menjadi canggung, dimana tidak ada satupun pembicaraan yang bisa di bahas disana. Mereka berdua duduk di kursi taman yang sama dengan cahaya lampu taman yang menyinari mereka berdua. Udara sudah mulai mendingin dan meniup lengan Johan yang merinding tanpa sebab.
“bagaimanapun juga, ini hanyalah dunia mimpi bukan? Aku juga tidak tau apakah anda benar benar ada di dunia nyata atau tidak” ucap Johan.
“sebagai Dewi Alam, aku akan memberitahukan rahasia dari tato yang hilang dari telapak tangan kirimu itu” ucap Greisha.
“heh? Jadi anda tau mengenai tato ku itu? sudah kuduga kalo emang anda yang memberikan tato itu kepada saya” ucap Johan.
“sebenarnya, tato tersebut hanyalah penanda kalau kau pernah memiliki hubungan dengan seorang dewa maupun dewi. Memiliki tato seperti itu adalah pencapaian besar karena mereka bisa dipertemukan dengan dewa dan dewi penyusun alam yang mereka kagumi dan mereka hormati. Maka dari itu, semua roh alam akan senang jika mereka bisa bertemu denganmu. mungkin kamu suatu saat nanti, kamu bisa bertemu dengan para roh alam” ucap Greisha.
“jadi, kalau tato itu sudah hilang, maka aku tidak akan pernah bertemu dengan anda lagi?” tanya Johan.
“tidak, milikmu tidak hilang, ini hanya dunia mimpi, maka dari itu milikmu tidak hilang. Kamu akan melihatnya kalo kamu udah bangun nanti” ucap Greisha.
“kapan? Kapan aku bisa bangun?” tanya Johan.
“kalo kamu ingin bangun, kamu bisa menggigit tanganmu sendiri” ucap Greisha.
“apa itu benar?” tanya Johan.
“silahkan coba. Mungkin cara ini bisa berhas-“ ucap Greisha terhenti. Seketika Johan menggigit tangannya sebelum Greisha menyelesaikan perkataannya.