Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 86, Balapan Liar?



Saat itu pula, mereka pun melanjutkan perjalanan mereka untuk menuju ke parkiran bawah tanah mall tersebut. Begitu mereka berjalan sedikit jauh dari mulai lantai 4 hingga lantai bawah tanah, Odessa sedikit menghela nafas panjang sebab sedikit kelelahan.


“kita akan keliling kota terlebih dahulu atau langsung pulang?” tanya Johan.


“mau langsung pulang” jawab Odessa dengan nada begitu manja.


“hmm, okelah. Nih, pake helm mu” jelas Johan seraya memberikan helmnya kepada Odessa.


Mereka berdua pun memakai helm mereka masing masing. Johan menyalakan mesin motornya. Suara knalpot yang begitu dalam dan bersifat begitu bass membuat gema di seluruh parkiran bawah tanah tersebut.


Odessa menaiki motor Johan dengan perlahan. Odessa membiarkan semua barang belanjaannya untuk ia bawa di jok belakang. saat itu pula, Odessa kembali memeluk tubuh Odessa dengan begitu erat.


Johan pun menarik gas nya dan kemudian keluar dari wilayah parkir bawah tanah tersebut. Mereka berdua kembali dari parkiran dan kemudian disambut dengan angin yang berhembus begitu hangat.


“dikarenakan disini agak rindang, jadi udaranya sedikit hangat” ucap Johan.


“bener juga. pokoknya aku gamau kita lewat jalan raya yang macet dan panas seperti tadi” ucap Odessa.


“kalau begitu, aku punya rute yang terbaik untuk saat ini” ucap Johan dengan nada begitu percaya dirinya.


Saat itu pula, Johan pun menarik gasnya dengan begitu kencang di satu jalanan yang sepi. Nyatanya, Johan membawa motornya untuk sedikit memutar dari arah yang sebenarnya demi mendapatkan jalanan yang rindang dan sepi dari para pengguna jalan raya.


Old style avenue, sebuah jalan yang dihiasi dengan pepohonan disamping kiri kanan jalan. Avenue yang berartikan jalanan yang dikelilingi oleh pepohonan disamping kanan dan kiri yang bertujuan untuk menciptakan suasana yang rindang dan asri benar benar dibuktikan oleh jalan yang mereka lewati saat itu.


Bukan hanya sekedar nama, namun suasana yang disajikan memang benar adanya. Mereka benar benar begitu menikmati hembusan angin yang begitu hangat dan lembut.


Sesekali mereka berbincang di jalanan tersebut hanya sekedar membahas tentang makanan favorit dan tempat yang ingin mereka kunjungi bersama. Di tengah tengah perjalanan mereka, di jalanan yang begitu sepi dan hanya terdapat beberapa orang yang duduk duduk di kursi taman jalanan itu, mereka menghadapi satu masalah dengan para lelaki disana.


Secara tidak sengaja, Johan bertemu dengan para geng motor yang berada disana dan hanya sekedar nongkrong. Mendengar ada suara knalpot yang berisik dan mirip sekali dengan motor balap, salah satu orang yang ada di geng motor tersebut pun memberhentikan Johan.


Dan pada akhirnya, mau tidak mau Johan harus berhenti di tempat itu juga.


“hey, anak muda” ucap seorang lelaki anggota geng motor tersebut.


“halo juga bang” jawab Johan dengan nada sedikit ketakutan.


“motormu keren juga, apa bisa balapan?” tanya lelaki itu.


“emm, kurang tau juga” jawab Johan.


“kalau masih belum tau kemampuan motormu, kita bisa buktikan disini” ucap lelaki tersebut.


“tapi bang, kita hanya mau pulang” ucap Johan.


“sebelum pulang, kita coba dulu kemampuan motormu. Santai saja, kita hanya ingin melihat lihat kemampuan motormu saja” jawab lelaki tersebut dengan senyum begitu sinis.


“apa abang mau balapan? Boleh juga” jawab Johan dengan nada begitu percaya diri.


“ehh, nantangin? Beneran tuh? Hahahahahaha” ucap lelaki tersebut diikuti dengan anggota gemg motor lainnya.


“yang pertama kali ajakin balapan itu abang sendiri, jadi aku hanya ikut aja” jawab Johan.


Saat itu pula, lelaki yang mengobrol bersama dengan Johan itupun melihat ada perempuan yang tengah bersembunyi di balik punggung Johan. Dengan kata lain, Odessa benar benar ketakutan saat itu karena para lelaki di geng tersebut benar benar menakutkan.


“ehh, ada perempuan. Cantik banget gila” ucap lelaki tersebut dengan menggoda Odessa.


“Johan, ada apa ini?” bisik Odessa dengan begitu ketakutan.


“tenang saja, ini hanya secuil masalah” jawab Johan dengan pembawaan begitu tenang.


“kalau begitu, apa kita bisa memulai balapannya? Kita bisa mulai bertaruh” ucap lelaki itu.


“bertaruh? Aku benar benar tidak setuju dengan teruhan. Kalau mau balapan, tinggal balapan saja. Aku tidak akan mau balapan jika ada taruhan” tegas Johan.


“taruhannya adalah, jika kau menang, kau akan dapat motorku. Itu penawaran yang benar benar bagus bukan?. Tapi jika kau kalah, tinggalkan perempuan itu disini dan biarkan kita semua bermain main dengan perempuan itu” ucap lelaki tersebut dengan tatapan begitu nakal.


“sudah kubilang, aku tidak akan melakukannya kalau ada persyaratan bertratuh” tegas Johan.


“kalau kau masih belum mau bertaruh, kita semua bisa saja melakukan apa yang kita inginkan disini. Mungkin kita akan menjadikan perempuan itu sebagai mainan kami untuk sementara. Setelah itu, kalian bisa kembali pulang. apa kau setuju?” tanya lelaki tersebut.


“tenang saja, aku pasti menang” jawab Johan.


“taruhanmu benar benar tidak masuk akal. Itu akan menguntungkan satu belah pihak saja” tegas Johan.


“kalau begitu, aku akan mempersilahkanmu untuk meminta apapun yang kau mau sebagai taruhanku” jawab lelaki tersebut.


“kau mengatakan seperti itu seakan akan kau sudah yakin kalau kau akan menang” ujar Johan dengan sedikit tawanya.


“memang aku yang akan memenangkannya” ujar lelaki tersebut dengan gelagak tawanya.


“kalau begitu, aku akan mempertaruhkan pacarku ini sebagai perempuan mainan kalian. Sebagai gantinya, jika aku menang, semua motor yang ada disini harus diserahkan kepadaku. Tidak akan ada alasan lainnya” tegas Johan.


Mendengar hal itu, semua anggota geng motor tersebut benar benar terkejut bukan main. Pasalnya, taruhan yang Johan inginkan benar benar tidak masuk akal. Johan meminta dengan begitu lantang tanpa adanya pemikiran lebih luas lagi.


“hey hey hey, apa yang kau katakan? Itu sudah tidak masuk akal” teriak salah satu anggota di dalam geng tersebut.


“kalau kalian memang tidak merasa kalau kalian tidak akan menang, kalian tidak akan pernah mengajakku bertaruh. Kalian sudah sangat yakin kalau kalian akan menang jika balapan denganku, kenapa sekarang kalian malah ragu untuk melakukannya?” tanya Johan dengan tatapan begitu tajam.


“oke, siapa takut” teriak para anggota geng motor tersebut.


“kalau begitu, siapkan semua surat surat motor kalian dan parkirkan motor kalian semua di satu tempat yang sama” tegas Johan.


“kau juga sama, turunkan pacarmu itu disini” tegas lelaki tersebut.


“aku, aku tidak mau” ucap Odessa kepada Johan.


“sudahlah, tidak apa apa. Hanya ini satu satunya cara agar kamu bisa selamat dari buasnya hidung belang mereka” jawab Johan.


“tapi aku takut” ucap Odessa dengan nada begitu ketakutan.


“aku akan segera kembali. Tenang saja, kamu nggak akan kenapa kenapa kok” jawab Johan.


“hmm, i-iya” ucap Odessa dengan menganggukkan kepalanya.


Saat itu pula, Odessa pun turun dari motor Johan. Hanya melangkahkan kakinya saja, semua anggota geng dibuat terpukau dengan kecantikan Odessa. Mereka semua benar benar melongo dengan luar biasa cantiknya Odessa saat itu.


Mereka tidak henti hentinya menatap raut wajah Odessa saat itu. Disisi lain, Odessa benar benar tidak enak dan sangat risih jika dilihati oleh para lelaki di geng motor tersebut. Bagaikan belasan lelaki di melihati satu perempuan yang sangat amat luar biaca cantik, hal itu membuat Odessa tangan Odessa tidak henti hentinya bergetar.


“jadi, jenis balapan apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Johan.


“apa kau tau Drag Bike?” tanya lelaki itu.


“Drag Bike?, aku tau itu. jaraknya berapa?” tanya Johan.


“kau tau sendiri kalau jalan lintasan ini sepanjang 1 kilometer hingga mencapai ujung. Dan kau tau sendiri kalau di ujung sudah ada jembatan. Kita akan balapan hingga jembatan dan putar balik ke mari. Bisa dibilang, kita akan melaju 2 kilometer sekaligus. Siapa yang pertama kali menginjak garis finish, itulah pemenangnya” jelas lelaki itu.


“kita akan main berapa ronde?” tanya Johan.


“kurasa, hanya 1 ronde saja sudah cukup untuk membuktikan motor siapa yang lebih mantap” jawab lelaki tersebut.


“okelah kalau begitu, aku akan sangat siap” jawab Johan dengan tatapan begitu tajam.


Saat itu pula, lelaki tersebut mengeluarkan motor yang sejenis dengan motor yang Johan pakai. Melihat hal itu, Johan bisa berspekulasi bahwa motornya tidak akan bisa menandingi motor milik lelaki tersebut.


Saat itu pula, Johan dan lelaki tersebut berada di tengah jalan. Mereka berdua saling menyalakan mesin motor tersebut dan saling sahut menyahut suara gas motor masing masing.


“ingat, hanya satu ronde” ucap Johan.


“aku tidak akan kalah” jawab lelaki tersebut.


Pada hitungan ketiga, balapan mereka akan dimulai. Saat itu, mereka berdua menatap tajam ke arah depan. Johan melihat Odessa yang berada di bahu jalan sendirian dengan tatapan begitu ketakutan tidak tega untuk menjadikannya sebagai taruhan, tapi dirinya juga tidak tega meninggalkannya sendirian disana.


Salah seorang dari geng tersebut menghitung mundur sebagai pertanda mulainya balapan.


“tiga,… dua,… satu,…”