Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 3, Hanya Mimpi?



Satu mata pelajaran tersebut mengguncang seisi kelas karena saking sulitnya soal soal ujian tersebut. Semua orang benar benar tidak bisa menyontek karena pengawas ujian itu benar benar aktif dalam mengawasi siswanya yang sedang ujian. Tidak akan ada sedikitpun celah untuk menyontek jika pengawas tersebut masih berada didalam ruangan itu.


Jam pertama diisi dengan pelajaran sejarah, dimana pelajaran sejarah dimulai sedari jam 7 pagi hingga jam 9 pagi. Sesaat setelah ujian sejarah, semua anak murid diberi waktu istirahat hanya sebatas 15 menit saja. Johan benar benar mengantuk dan menguap tiada henti didalam kelas itu.


“aarrrghhhhh, pengawas ujiannya sangat aktif. Aku sama sekali tidak bisa menyontek” teriak Jehian memukul kepalanya sendiri dengan telapak tangannya.


“itu berarti, dapat dipastikan kalau nilaimu akan mendapatkan terjelek pelajaran sejarah” ucap Nyoman.


“jaga omonganmu, dasar mulut blak blakan” sahut Jehian kepada Nyoman.


“apa kau begadang lagi dasar beban keluarga?” tanya Nyoman melemparkan penghapus ke arah Johan yang berkali kali menguap.


“biasanya aku sudah tidur saat ini, dan juga kenapa matahari nya benar benar terang?” tanya Johan.


“itu karena kamu kurang tidur” ucap Emilia menyentil pelan jidat Johan.


“setelah pulang, aku bakal tidur pules” ucap Johan menguap lebar.


“hey ges, apa kalian laper?” tanya Farel.


“iya, banget!” ucap Jehian.


“kalau begitu, aku titip dong, salah satu dari kalian pergilah ke kantin” ujar Nyoman.


“setuju banget!” teriak Farel.


“kalau begitu, karena Cuma Emilia yang cewe disini, jadi Emilia yang harus ke kantin” ujar Johan.


“jahat banget!!!” ujar Farel, Jehian, dan Nyoman bersamaan sembari menatap sinis mata Johan.


“aku akan mentraktir makanan buat kalian asalkan Johan mau ikut aku ke kantin” ujar Emilia dengan nada bicara yang manja.


“heh? Kok aku? Kok malah aku yang di bawa bawa?” tanya Johan.


Seketika Farel, Jehian, serta Nyoman bekerja sama untuk mengusir Johan dari tempat duduknya hingga keluar dari kelas bersama dengan Emilia. Johan merasa kesal karena secara tiba tiba saja mereka mengusirnya dari bangkunya sendiri. Emilia dan Johan pun berjalan lorong demi lorong menuju kantin dan membeli beberapa snack serta meniman dingin didalam vending machine.


“dasar merepotkan” ucap Johan sembari mengantung kantong kresek berisi minuman dingin dari vending mechine.


“tidak apa, asalkan ada kamu, aku bisa mentraktir mereka semua” ujar Emilia menggoda Johan.


“dan aku ngga peduli” ucap Johan menghela nafas panjang.


“ihh, kamu” ujar Emilia menggembungkan pipinya.


Mereka berdua pun kembali kedalam kelas dengan membawa snack serta minuman dingin. Waktu istirahat mereka benar benar tinggal sebentar lagi, maka dari itu, mereka meneguk minuman dingin mereka dengan segera.


“woh, Johan bener bener gila. Dia bisa minum soda dalam beberapa tegukan tanpa berhenti” teriak Jehian dengan begitu terkejut lebay.


“aku sudah terbiasa minum soda, jadi lidahku udah kuat dari efek soda” ucap Johan.


“aku ngga kebayang gimana kesehatanmu” ucap Emilia.


“aku ngga peduli” gumam Johan meneguk minuman sodanya lagi.


Jam istirahat pun habis, sudah saatnya untuk semua murid mempersiapkan alat tulis untuk menghadapi ujian kedua dimana ujian kedua waktunya untuk pelajaran Biologi. Guru pengawas ujian pun mendatangi kelas dan membagikan soal ujiannya kepada semua murid. Seperti biasa, waktu pengerjaan mereka dari jam 9 pagi hingga jam 11 siang.


Seperti halnya guru pengawas saat ujian pertama, guru pengawas kali ini benar benar aktif dan tidak akan pernah membiarkan anak muridnya menyontek saat ujian. Penjagaan pengawas ujian itu benar benar ketat hingga tidak akan ada istilah “menyontek” saat pengawas itu berada didalam kelas.


“kenapa para pengawas ujian kali ini sangat ketat seperti ****** batman?. Kalo begini terus, aku beneran dapet nol. Aku harap aku bisa menuliskan surat wasiat kepada kedua orangtuaku saat aku memberikan rapot hasil ujianku nanti” fikir Jehian seraya menatap kertas soal ujiannya yang berada di atas mejanya itu.


Jehian benar benar anak yang periang dan selalu berbagi senyum tawanya. Namun dirinya juga sangat amay payah dalam pelajaran. Bisa dibilang, Jehian adalah murid terbodoh di kelasnya. Mendapati pengawas ujian yang begitu ketat membuatnya begitu frustasi karena dirinya sama sekali tidak bisa menyontek ujian kepada Johan.


Waktu dari ujian kedua pun selesai, dimana otak mereka semua benar benar mengeluarkan asap layaknya besi knalpot panas tersiram oleh air. Mereka benar benar kesusahan saat menjawab soal soal ujian tersebut. Sesaat setelah guru pengawas itu keluar, Johan pun dengan seketika meletakkan kepalanya itu ke meja bangkunya karena sudah tidak kuasa menahan kantuk.


Melihat itu, Emilia terkejut akan tidur Johan yang benar benar pulas padahal Johan saat itu menggunakan meja bangku kayu yang keras untuk bantalan kepalanya. Seketika Nyoman, jehian, Farel, dan Emilia pun duduk di sekliling Johan hanya untuk menongkrong dan berbicang bincang layaknya sebuah geng kecil.


Didalam tidurnya, Johan bermimpi bahwasanya Johan berada di tengah padang rumput yang hijau nan segar.. Johan berdiri di tengah tengah ilalang yang bergoyang sebab hembusan angin hangat dan halus. Rambutnya terombang ambing layaknya perahu di sungai payau.


“dimana? Apa aku tersesat?” tanya Johan sembari menatap tangannya dan melihat lihat sekitarnya.


“kau sekarang ada di tempatku” ucap seorang perempuan yang super manis dan cantik berjalan menghampirinya.


“hah? si-siapa? Kau siapa?” tanya Johan begitu terkejut.


“aku adalah penjaga alam ini, dan aku yang selalu membuatmu nyaman untuk tinggal di bumi ini” ucap perempuan itu tersenyum tulus.


“gawat, dia cakep bener, dia manis parah, senyumnya polos banget” fikir Johan dalam hati.


“a-apa aku boleh tau namamu?” tanya Johan dengan pipi yang mulai memerah.


“untuk apa?” tanya balik perempuan itu dengan begitu anggun.


“tidak apa, a-aku hanya ingin tau” ujar Johan.


“emm baiklah, namaku adalah-“ ucap perempuan itu seketika terhenti.


Untuk sepersekian detik, dirinya sekeitka terguyur hujan. Dari cuaca yang sebelumnya benar benar cerah berubah drastis. Dirinya seketika melihat perempuan itu tersambar petir dengan begitu keras. Johan pun begitu terkejut akan petir yang secara tiba tiba menyambar perempuan tersebut dengan suara yang menggelegar keras. Seketika itu pula Johan melompat terbangun dari tidurnya.


Dirinya begitu terkejut karena semua teman yang kurang ajar itu secara tiba tiba menyiram tubuh Johan dengan satu ember berisi air kran. Saat itu pula Johan melompat terkejut akibat apa yang telah semua temannya lakukan.


“WOYY DASAR KELEAN SEMUA ANAK ANAK KURANG AJAR!!!, NGAPAIN KALIAN MENYIRAMKU?” teriak Johan begitu terkejut.


“kan udah kubilang, Johan tuh ngga mati, dia Cuma tidur” ucap Jehian dengan nada begitu bodohnya.


“kau benar juga, apa jangan jangan dia hanya mati suri?” tanya Farel sembari megelus dagunya.


“mungin dia hanya kerasukan roh jahat. Padahal dia harusnya sudah mati” jelas Nyoman dengan ucapan yang tidak terkontrol.


“mungkin saja kita harus menyiramnya sekali lagi” ucap Nyoman sembari membawa satu gayung penuh air.


“HEH UDAH CUKUP JAN SIRAM AKU LAG-“ ucap Johan terhenti akibat siraman air Nyoman.


“uppss ngga sengaja!” ucap Nyoman dengan polosnya.


“udah udah, liat tuh kelakuan kalian! seragam Johan bener bener basah” teriak Emilia memarahi ketiga temen laknat itu.


“maaf” ucap jehian, Nyoman, serta Farel bersamaan.


“lagipula, kenapa kalian tiba tiba menyiramku?” tanya Johan tersulut emosi.


“karena sekarang sudah jam 3 sore dan semua orang udah pada pulang. Kami semua udah coba bangunin tapi bener bener gabisa bangun. Jadi, Emilia menyuruh kita untuk menyirammu dengan air kran” ujar Nyoman dengan tatapan polosnya.


“heh, kok malah aku yang di tuduh? Dasar tukang ceplas ceplos” teriak Emilia sedikit tersulu emosi


“udahlah, sekarang sudah jam 3 sore, mending kita pulang” ucap Emilia mengambil tas Johan dan berjalan keluar kelas.


“iya nih, ngeliat Johan tidur bikin ngantuk” ujar Jehian seraya mengambil tasnya dan berjalan keluar kelas.


“HEH TUNGGU DULU, APA AKU HARUS PAKE SERAGAM SEKOLAH YANG BASAH INI?” teriak Johan.


“jangan mengeluh, jangan menyerah, syukuri apa yang ada, hidup adalah anugrah” ucap Nyoman seraya berjalan keluar kelas.


“DASAR NYOMAN MULUT BAU!” teriak Johan berlari berjalan keluar kelas pula.


Mereka semua pun menuruni tangga dan berjalan memotong arah lapangan. Angin hangat sore hari meniup tubuh Johan yang mulai mendingin. Cahaya senja mentari yang cerah menyinari lapangan yang basah dan menggenang air hujan. Namun hal indah itu malah menyiksa Johan sebagai seorang ansos yang tidak terbiasa akan sinar senja yang bersinar terang.


Pada akhirnya, mereka pun memutuskan untuk pulang menggunakan ojek online masing masing. Semua orang memesan ojek online nya masing masing dan pergi berpisah untuk menutup lelah dari tes ujian yang begitu berat. Hingga pada akhirnya, Johan adalah spesies manusia yang beruntung karena driver dari ojek online nya datang begitu cepat dan mendahului teman temannya.