Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 21, Sesampainya di Engkobappe



“lebih baik kamu tidur aja, kamu kan udah minum obat” ucap Emilia.


“udah, aku gapapa kok. Kalo aku ngantuk, pasti aku bakal tidur” jawab Johan.


“yaudah kalo begitu” ucap Emilia. Tidak lama setelah itu, Emilia pun berjalan ke arah Johan dan duduk disampingnya. Seperti tadi, Emilia akan tidur di samping Johan. Namun kali ini berbeda.


Emilia meluruskan tubuhnya dan kemudian meletakkan kepalanya di kedua kaki Johan. Saat itu, Johan meluruskan kakinya dan kemudian bersandar di bagian samping mobil. Dengan begitu, Emilia bisa menjadikan kedua kaki Johan sebagai bantalan tidurnya.


“tadi leherku bener bener pegel, jadi kupikir lebih enak seperti ini” ucap Emilia sedikit tersenyum kepada Johan.


Emilia pun memasang earphone kedalam kedua telinganya dan kemudian memutar lagu favoritnya. Perlahan kedua mata Emilia pun mulai suntuk. Dan saat itu pula, Emilia memejamkan kedua matanya. Melihat itu, Johan pun perlahan merasakan sedikit sakit dan pegal saat Emilia menjadikan kedua pahanya sebagai bantalan tidurnya.


“kakiku pegel banget. itu kepala apa emas 24 karat? Keras banget” fikir Johan dalam hati.


Johan pun perlahan merasa mengantuk sebab terlalu lama menatap Emilia yang tertidur. Dan pada akhirnya Johan tertidur disaaat posisi tela[pak tangan Johan berada di jidat Emilia. Saat itu, Johan benar benar tertidur nyenyak sebab dosis obat yang baru saja dirinya minum. Jam 5 sore, nyatanya cahaya senja menembus kaca mobil tersebut.


Cahaya jingga yang cerah nan hangat membangunkan Nyoman, Jehian serta Farel. Ketiganya terbangun karena merasa begitu haus. Sesaat setelah itu, mereka mereka memandang pemandangan cahaya senja yang begitu cerah nan hangat yang akan tenggelam menembus tanah. Saat itu, mereka masih berada di padang rumput nan luas dimana angin sepoi sepoi meniup rerumputan hijau sembari segarnya warna hijau rumput memantulkan cahaya jingga dari sang surya.


Melihat itu, seketika ketiganya menikmati cahaya senja sembari menikmati cemilan dan minuman mereka. Disisi lain, mereka melihat dengan Emilia yang masih tertidur di kedua kaki Johan, sementara Johan tertidur dalam posisi duduk dan tangan yang tengah berada di jidat Emilia.


“dasar mereka berdua bener bener” ucap Farel seraya menatap Johan dan Emilia yang tengah tertidur.


“iya, mereka bener bener nggak bisa di pisah bahkan saat tidur” ujar Nyoman.


“biarin aja mereka berdua” ucap Jehian.


“memangnya mereka berdua pacaran?” tanya Nyoman.


“tidak, Johan berkata kalau dia tidak suka Emilia” jawab Jehian.


“tapi kenapa mereka berdua nganu?” tanya Farel.


“cuma Emilia yang suka, Johan cuma tidak enak” jawab Jehian.


Selepas itu semua, sang sopir pun berkata kepada Nyoman, Jehian serta Farel kalau sebentar lagi, mereka akan sampai kedalam dusun Engkobappe. Mendengar hal itu, mereka benar benar lega karena perjalanan ini benar benar akan berakhir.


“tapi pak, kata bapak kita akan masuk kedalam desa engkobappe jam 7 malam nanti. Padahal kita masih jam 5 sore” ucap Nyoman kepada pak sopir tersebut.


“ternyata saya salah menghitung. Kita sebentar lagi akan masuk kedalam desa Engkobappe setelah kita melewati bukit itu. Mungkin akan memakan waktu sekitar 30 menitan lagi” jawab sang sopir.


Maka, mereka semua pun harus menunggu untuk beberapa saat lagi hingga mereka sampai ke desa Engkobappe. Pada akhirnya, tidak lama setelah itu, Johan pun membuka matanya dari tidur panjangnya. Johan terbangun karena begitu pegal akan posisi tidur seperti itu.


“pagi’ ucap Farel, Jehian dan Nyoman bersamaan.


“pagi juga” ucap Johan dengan senyum sehabis bangun tidur.


“HAH PAGI?” teriak Johan begitu terkejut.


“becanda. Inimah udah sore dan bentar lagi kita udah sampe ke kampung halamanmu” jawab Farel.


“emm, begitu” ucap Johan seraya mengusap kelopak matanya.


Johan pun hendak bangun dan beranjak dari posisinya tersebut namun masih terdapat Emilia yang tengah tidur dengan nyenyak di kedua kaki Johan. Melihat itu, Johan begitu kesal dan capek karena sekujur tubuhnya serasa mati rasa karena pegal sebab posisi tidur yang sangat tidak nyaman.


“sial, Lia masih ada disini” fikir Johan dalam hati.


Johan segera meminum air putih miliknya yang berada di samping sementara Emilia yang masih tidur itu masih begitu nyenyak dengan bantalan kaki Johan.


Jam menunjukkan pukul 6 sore, matahari sudah terbenam dan hanya menyisakan sisa sisa cahaya dari ufuk barat. Keadaan menjadi gelap gulita di dalam jalan tol tersebut. Nyoman pun memutuskan untuk menyalakan lampu tengah agar bisa menerangi seluruh bagian disana.


Emilia pun duduk di samping Farel sembari meminum air putih milik Johan. Tanpa sadar, Emilia meminum air putih bekas orang yang masih sakit.


“ehh, Lia. Itu minumku” ucap Johan.


“nggapapa, aku haus” ujar Emilia kembali meneguk air putih Johan.


“tapi, aku kan sakit, nanti kamu bisa ketularan” ucap Johan.


“nggak akan, udah tenang aja” sahut Emilia.


Dengan benar benar memuaskan dahaga, Emilia benar benar puas akan dahaga yang telah hilang. Emilia pun mengusap kedua matanya dan kemudian merenggangkan tubuhnya itu. atau dalam kata lain, “mulet/ngulet”.


“kita udah sampai dimana?” tanya Emilia dengan suara yang masih suntuk.


“kita udah sampai di Engkobappe” jawab sang sopir.


“hah? kita udah sampai?” tanya Emilia begitu terkejut.


“didepan sudah terlihat gapura besar bertuliskan masuk kedalam dusun Engkobappe. Dengan ini kita sudah sampai. Perjalanan kita tinggal beberapa menit lagi” jawab sang sopir.


“syukurlah kalo begitu” ucap Emilia sembari memakan snack milik Nyoman.


“heh itu milikku” teriak Nyoman.


“aku cuma minta dikit doang” jawab demilia.


“gaboleh, kamu udah makan banyak” jawab Nyoman.


“bodoamat, aku abisin” sahut Emilia.


“heey, itu punyaku!” sahut balik Nyoman.


Masuklah mereka kedalam wilayah Engkobappe, nyatanya disana benar benar sepi orang. Padahal seharusnya, di samping kanan kiri banyak dan ramai orang yang. namun nyatanya, tidak ada satupun orang yang berdiri di samping jalan. Banyak rumah yang berada di samping kanan kiri jalan. Namun rumah tersebut dikelilingi oleh lebatnya pohon. Benar benar seperti kampung yang berada di tengah hutan.


“dimana orang orangnya? Kok sepi banget?” tanya Jehian.


“orang orang disini pasti sedang mengungsi” ucap sang sopir.


“maksudnya mengungsi?” tanya Jehian.


“telah terjadi kebakaran hutan yang bener bener hebat dan membakar hutan yang sangat luas. Mungkin semua orang sedang mengungsi di satu tempat yang aman karena mereka takut jika kebakaran akan membakar rumah mereka. Saat ini, bisa kalian lihat sendiri kalau rumah mereka masih menggunakan kayu dan bambu” ucap sang sopir.


“bener juga ya” sahut Jehian.


Mereka memasuki jalanan bebatuan paving yang ditata rapih oleh penduduk sekitar. Saat itu, jalanan masih benar benar gelap dan hanya menyisakan dua lampu dari dua mobil yang mereka bawa saat itu. Benar benar malam yang gelap, dimana Emilia memegang erat lengan kanan Johan saat itu karena sedikit ketakutan.


Mereka memasuki jalanan yang sedikit lebar dimana jalan tersebut cukup untuk di lalui oleh dua mobil dari arah berlawanan. Sesampainya di inti desa, nyatanya mereka terkejut saat mendapati adanya sebuah gedung yang terang di tengah gelapnya malam. Mereka mengira kalau itu hanya sebuah gedung desa biasa.


“itu apa?” tanya Farel.


“seingatku itu adalah gedung aula yang biasanya digunakan untuk rapat pengurus atau hanya sebatas penyimpanan benda benda milik desa. Dengan kata lain, kantor desa” jawab Johan.


“itu adalah gedung balai, dimana orang orang pejabat di desa ini menggunakan gedung ini sebagai tempat rapat mereka. Sekarang, balai ini di gunakan untuk mengungsi para warga yang terkena imbas dari kebakaran. Sampai sekarang, mereka masih mengungsi disana. Kita akan parkir di depan balai tersebut” ucap sang sopir.


“siap” ucap mereka semua.


Pada akhirnya, kedua mobil yang mereka bawa itupun segera memarkirkan mobilnya di depan balai tersebut. Nyatanya petinggi desa pun menyambut mereka semua dengan senyuman tulus seraya mengajak mereka semua untuk masuk.