Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 29, Opname



Hingga pada akhirnya mereka saling berdiam diri disana selama perjalanan tanpa mengobrol maupun mengucap sepatah katapun. Pada akhirnya, mereka pun sampai di rumah sakit tempat sang ibunda Johan di rawat disana. Mereka semua memasuki rumah sakit tengah kota yang memiliki suasana yang begitu berbeda dengan desa yang sebelumnya mereka singgahi.


Panas dan gerahnya suasana membuat kotoran kotoran yang trerbawa oleh angin angin penuh debu menyambut mereka di saat mereka menginjakkan kaki di rumah sakit pusat kota tersebut. Mereka menginjakkan kaki di kota tepat pada jam 2 siang, dimana saat itu panas matahari benar benar terik menyengat.


“haahhh, rasanya aku ingin kembali ke desa itu lagi” fikir Farel dalam hati.


“desa nya Johan bener bener mantep banget dah, aku jadi pengen balik” fikir Nyoman dalam hati.


“panas banget disini, padahal aku baru aja dapet udara segar di desa, tapi udah balik ke kota lagi. Kapan aku bisa balik kesana lagi” fikir Emilia dalam hati.


Mereka pun masih berada di dalam mobil dimana mobil tersebut sedang terparkir di depan ruang UGD. Sang sopir pun seketika turun dari mobil dan menyuruh para perawat disana untuk mengambil tubuh Johan yang ada disana menggunakan kasur berjalan. Maka dari itu, beberapa perawat pun segera mengambil tubuh Johan yang dalam keadaan begitu menyedihkan itu.


Para perawat membuka pintu mobil belakang dan kemudian mendapati bahwasanya teman teman Johan masih berada didalam mobil bersama dengan Johan yang dalam keadaan yang begitu kesakitan.


“a-apa yang terjadi kepada pasien?” tanya sang perawat tersebut.


“teman kami ini dalam perjalanan mulai kehilangan kendali dan kesadaran, maka dari itu, kita semua memutuskan untuk memborgol dan melumpuhkan sementara pergerakan teman kita ini” jelas jawab Farel.


“hah? apa? Dia mengamuk? Kehilangan kendali? Apa mereka melukai kalian?” tanya sang perawat tersebut.


“tid-“ jawab Emilia terhenti.


“iya, mereka melukai sebagian dari kita semua” sahut sang sopir sembari berjalan menghampiri mobil.


“ohh, jadi begitu. Kalau keadaannya sudah seperti ini, kita akan memutuskan untuk sementara membius tubuh pasien. Untuk sementara, tolong jaga tubuh pasien” ucap sang perawat berjalan cepat menuju ke dalam ruang UGD untuk mengambil suntik bius didalamnya.


Mendengar hal itu, seketika Emilia sedikit marah kepada sang sopir tersebut karena memberikan informasi yang menyesatkan dan tidak sesuai fakta yang terjadi.


“apa yang bapak katakan? Johan sama sekali tidak menyerang kami. Dia hanya menggigit tangannya sendiri dan berteriak kencang. Seklaipun kita tidak terkena serangan satupun” ucap Emilia sedikit ngegas.


“mohon maaf, tapi saya lebih mengerti daripada anda. Saya lebih mengerti kondisi dan situasi daripada anda, maka dari itu, saya mengatakan ini karena memiliki tujuan dan alasan. Tolong mengertilah” ucap sang sopir seraya menundukkan kepalanya.


“aku kira dia benar, aku rasa kita tidak mengerti kondisi dan situasi yang terjadi. Mungkin kita harus sedikit menyerahkannya kepada orang ini” ucap Jehian yang bermaksud kepada pak sopir.


“terimakasih atas kepercayaannya” ucap sang sopir.


Seketika itu pula sang sopir pun berjalan memasuki ruang IGD dan meninggalkan mereka semua di dalam mobil. Masih dalam kondisi yang begitu gerah dan panas, mereka semua terpanggang di dalam mobil itu. Pada dasarnya mereka semua benar benar tidak tahan untuk berada di dalam mobil itu.


“panas banget gilak” ucap Nyoman seraya mengusap keringatnya yang sudah memenuhi dahi.


“kau benar, apa kita tidak punya air putih?” ucap Farel melakukan hal yang sama seperti Nyoman.


“kalau kalian haus, aku masih memiliki air putih di dalam tas, ambil aja” sahut Johan dengan suara serak basah.


“hah? jo-Johan?” teriak mereka semua bersamaan. Mereka semua benar benar terkejut akan apa yang telah terjadi kepada Johan dan mengapa Johan bisa bangun dan tenang seperti ini.


“jangan teriak teriak, berisik” ucap Johan dengan sedikit tawa senyumnya.


“dari kapan kamu udah sadar?” tanya Emilia.


“hah? dari kapan? Hmm, mungkin aku hanya ketiduran sebentar karena efek obat dan aku terbangun karena ada seseorang yang menumpahkan air minum di tubuhku” ucap Johan.


“hehehehehe, maaf maaf, aku ngga sengaja” ucap Jehian dengan tawa isengnya.


“dasar, bajuku jadi basah semua kan” ucap Johan seraya tertawa.


“dasar Jehian bener bener bodoh” ucap Farel tertawa lepas.


Mereka pun perlahan tertawa karena alasan yang sama sekali tidak jelas. Nyatanya mereka hanya tertawa karena Johan bisa terbangun dan tersadar seperti biasa. Mereka tertawa karena bahagia dan senang karena Johan masih bisa tersadar dan tidak sepenhnya pingsan.


Sesaat setelah itu, mereka semua pun di kejutkan dengan adanya paman Surya dan ibunda Johan yang berjalan menghampiri mereka mobil untuk menyambut mereka semua. Paman Surya menghampiri mereka bersama dengan sang ibunda menggunakan sebuah kursi roda dimana dalam kondisi yang seperti itu, mereka masih tidak diperbolehkan berjalan.


Saat paman Surya dan sang ibunda melihat kondisi Johan yang terborgol dalam keadaan yang sebegitu sedihnya, sang ibunda benar benar meneteskan air mata sesaat setelah melihat anak kesayangannya itu terikat dalam keadaan yang begitu menyedihkan.


“nak Johan? A-apa yang terjadi?” teriak sang ibunda seraya meneteskan air matanya.


“ma-maaf tante, tapi Johan kehilangan kendali dan berteriak di dalam mobil dengan keras” ucap Emilia.


“kami akan mengevakuasi dan merawat ananda Johan untuk beberapa hari. Dalam jangka waktu selama itu, kalian semua dilarang untuk menemuinya ataupun menjenguk. Selepas beberapa hari, kita akan memberitahukan hasil konsistensi perawatan kita dalam beberapa hari. Jadi mohon bersabar” jelas sang perawat yang tengah berjalan menuju arah mereka bersama dengan beberapa perawat lainnya.


“ba-baik, terimakasih” ucap sang ibunda menganggukkan kepalanya.


Beberapa perawat disana pun seketika melepas borgol yang melumpuhkan tangan dan kaki Johan disana. Sesaat setelah itu, Johan pun di tidurkan di kasur berjalan dalam kondisi muka yang dipenuhi oleh darah yang telah mengering. Selepas itu, Johan pun di ikat menggunakan beberapa sabuk yang menahan pergerakan Johan di atas kasur itu.


“a-apa itu perlu? Kurasa Johan tidak perlu sabuk sabuk itu” ucap Farel sedikit kasihan.


“mohon maaf, tapi demi keamanan kami terpaksa harus melakukan ini. Kami mengikat tubuh Johan agar Johan tidak melawan dan memberontak jika dirinya sadar nanti” jawab sang perawat yang mengikat tubuh Johan itu.


“tapi, Johan sudah bangun dan berbicara dengan kami semua” sahut Nyoman.


“tidak mungkin, karena obat yang ia minum itu akan membuat dirinya mengantuk berat dan psatinya saat ini dia tidak sadarkan diri” jawab sang perawat.


“tapi kami baru saja mendengarnya. Dia menawarkan air putih kepada kami semua” ucap Farel.


“walau kami mencoba untuk membangunkannya, dia tetap tidak akan terbangun. Mungkin kalian kelelahan dan butuh istirahat. Terimakasih karena sudah menemani Johan untuk menemui pemakaman keluarganya. Kalian sudah membantu kami semua. Sekarang kalian akan di antar pulang ke rumah kalian masing masing dan beristirahatlah. Kalau Johan sudah sadar, kami akan memberitahukannya kepada kalian” jelas sang perawat.


“itu benar, makasih sudah bantuin tante untuk menjaga Johan” ucap sang ibunda kepada Emilia dan teman temannya.


“kalau begitu, saya mohon pamit untuk pergi mengantarkan teman teman Johan ini. mohon permisi” ucap sang sopir mobil tersebut seraya memasuki mobil dan kemudian beranjak dari tempat tersebut. Sementara itu, Johan yang hanya berpura pura tidak sadarkan diri hanya bisa melirik kecil mobil yang mulai menjauh dari pandangannya.


“aku harap kalian semua tidak membenciku. Dan aku harap aku tidak kehilangan semua sahabat berhargaku ini. maafkan aku, kalian semua” fikir Johan dalam hati.


“Odessa, tunggu aku disana. Greisha, apa yang terjadi denganku?. papah, kenapa papah melakukan semua ini?. kakek, nenek, mamah, tunggu aku disana. Aku sangat ingin bertemu dengan kalian semua. Tapi aku tidak ingin meninggalkan Odessa seorang diri di desa. Setidaknya, aku tidak ingin membuat Odessa bersedih. Maka dari itu, aku akan menunda pertemuanku dengan kakek, nenek dan mamah” fikir Johan dalam hati seraya meneteskan air mata disaat matanya tertutup rapat.


Melihat hal itu, seketika mereka terkejut bukan main. Mereka melihat Johan yang tengah tidak sadarkan diri meneteskan air matanya. Melihat hal itu, sang ibunda pun sangat amat yakin kalau Johan saat itu sedang kesakitan. Pada dasarnya, Johan saat itu sedang sadarkan diri namun memilih untuk berpura pura. Sementara itu Johan masih menahan sakit dari telapak tangan kirinya yang telah ia gigit hingga berdarah.


“hah? Johan menangis?” ucap sang perawat.


“apa? Anakku menangis?” tanya sang ibunda benar benar terkejut.


“sial, kenapa aku malah mengeluarkan air mata” fikir Johan dalam hati seraya kesal kepada dirinya sendiri.


Saat itu juga sang perawat pun segera membawa Johan masuk kedalam ruangan tersebut dan kemudian memeriksa semua kejanggalan dalam tubuh Johan. Mereka hanya mendapati adanya luka fisik yang tidak terinfeksi oleh bakteri. Mereka berfikir kalau luka di tangan Johan sudah disiran oleh alkohol, maka dari itu bakteri di dalam mulut Johan tidak ikut masuk kedalam pembuluh darah di telapak tangan Johan.


Mereka memeriksa kondisi organ tubuh Johan. Nyatanya Johan benar benar memiliki pola makan yang rusak dan buruk. Dikarenakan Johan sering memakan makanan instan, makanan ringan serta minuman bersoda, maka tidak heran jika para perawat di sana berkata bahwa akan ada larangan kepada Johan mengenai mengkonsumsi makanan seperti itu lagi.


Selepas itu semua, pihak rumah sakit juga memutuskan untuk melibatkan dokter psikolog disana. Sang dokter tersebut berkata bahwasanya Johan memang dalam keadaan yang terpuruk oleh kesedihan dan berpotensi kepada stress dan ujungnya akan mengakibatkan depresi berat dan berimbas pada kesehatan mental Johan. Sang dokter berkata bahwa alasan mengapa Johan menggigit tangannya sendiri adalah Johan memiliki alasan tersendiri mengapa dirinya melakukan hal itu, yang pasti saat itu Johan sudah melupakan akan adanya rasa sakit saat menggigit tangannya sendiri.


Saat mereka sudah melakukan pekerjaannya untuk hari itu, mereka pun pergi dari sana dan meninggalkan Johan seorang diri. Namun walaupun Johan di tinggalkan di tempat tersebut seorang diri, bukan berarti pihak rumah sakit membiarkan Johan begitu saja. Pihak rumah sakit memutuskan untuk meninggalkan Johan untuk beristirahan dengan setenang tenangnya tanpa adanya gangguan sedikitpun. Pihak rumah sakit juga akan mengamati kondisi Johan dari luar ruangan.


Hal itu dilakukan oleh pihak rumah sakit selama kurang lebih 4 hari 3 malam. Selama itu, pihak rumah sakit selalu memeriksa kondisi Johan dan bagaimana perkembangannya. Mereka juga memberikan obat obatan kepada Johan disana. Mereka menyuapi Johan makan, memberi Johan minum serta membantu Johan untuk menelan obat. Selama 4 hari 3 malam, dikarenakan bius yang menyuntik Johan di hari pertama, itu membuat Johan benar benar tidak bisa tersadar dari alam bawah sadarnya.