
Saat itu pula pak Abdi dan Johan pun berangkat dari rumah Johan dalam perjalan menuju desa Engkobappe. Johan membantu perjalanan mereka dengan cara membelikan bahan bakar dan juga gerbang tol. Selama perjalanan yang panjang, mereka hanya bernyanyi dan berteriak di dalam mobil. Untuk waktu yang kurang lebih 3 jam perjalanan, nyatanya tenggorokan mereka sakit sebab terlalu sering bernyanyi berteriak di dalam mobil.
Jam 7 malam, mereka pun memasuki gapura desa Engkobappe. Saat itu pula mereka berdua sedikit terkejut jika saja penerangan di sepanjang jalan sudah mulai di pasang di desa tersebut. Melihat itu, Johan sedikit bangga dan senang ketika desa nya memiliki kemanjuan.
“widihh, sekarang udah ada lampu jalannnya” ucap pak Abdi.
“keren banget sumpah” jawab Johan.
“kantor desa nya ada di tengah tengah desa. Dan aku baru tau kalau disini ada 3 jalur yang berbeda. Aku baru tau karena sebelumnya sama sekali tidak ada penerangan sama sekali di sepanjang jalan ini” ucap pak Abdi.
“kalau pak Abdi baru masuk gapura dan melihat adanya 3 jalan berbeda, pak Abdi lebih baik pilih jalan ke kanan. Karena itu akan mengarah ke kantor desa. Jika pak Abdi malah pergi lurus, pak Abdi malah mengikuti jalanan untuk para pengemudi yang mencari jalan pintas menuju ke kota besar sebelah. Jika pak Abdi pergi ke arah kiri, pak Abdi nantinya akan kembali memtuar arah dan akan di arahkan menuju ke kota seberang lain yang lebih jauh lagi” jelas Johan.
“buset, kok kamu lebih inget dari pak Abdi?” tanya pak Abdi.
“apa pak Abdi lupa kalau aku juga pernah lahir dan tinggal disini” jawab Johan.
“yahhh, itu tidak mengherankan sih” ujar pak Abdi.
Saat itu pula, pak Abdi memilih jalur paling kanan dan berujung ke kantor desa. Pak abdi pun memarkirkan mobilnya ke depan gedung tersebut. Saat itu pula Johan pun membuka pintu garasi belakang dan membawa sekardus berisi mainan lamanya.
Johan mengangkatnya dan kemudian berjalan menuju ke pintu depan gedung tersebut yang begitu besar nan bersih. Selepas itu, salah seorang pengungsi pun membukakan pintu tersebut dan melihat jika terdapsat tamu.
Saat Johan dan pengungsi tersebut bertatapan muka, mereka seketika saling mengenal satu sama lain. Pengungi tersebut tidak lain adalah ayah dari Aji. Spontan ayah Aji tersebut membukakan pintu selebar mungkin dan berteriak memanggil anaknya dengan begitu keras.
“Ajiiii‼, kak Johan datang” teriak ayah Aji ke dalam gedung.
“hah? kak Johan? Apa itu kak Johan?” tanya Aji spontan memasang raut muka begitu senang.
“apa itu kak Johan?” tanya Guntur.
“yeeaaayy, kak Johan datang” ucap Aqila dengan begitu senang.
Nyatanya saat itu pula, Aji, Juan, Guntur, Aqila, Fathur dan Ryu berlairan menuju Johan yang berada di pintu depan. semua pengungsi melihat Johan yang datang dan berdiri di pintu depan.
Keenam anak tersebut seketika memeluk pinggang Johan dengan begitu erat. Saat itu pula Johan merendahkan tubuhnya hingga jongkok dan mengelus kepala mereka berenam satu persatu.
“apa kalian baik baik saja? apa mainan kalian sudah menyelamatkan pohon pohon disini?” tanya Johan.
“siapa lagi kalau bukan Iris yang mendoakan agar para pohon disini untuk tetap aman. Latom” sahut Aji dengan begitu riang.
“kerja bagus, Aji dan Iris. Latom!” ucap Johan mengelus kepala Aji dengan begitu halus.
“kak Johan, panda milikku juga sudah tidak makan bambu dan tebu agar bambu dan tebu tetap hidup. Aku menyuruhnya untuk makan rumput, hehehe” ucap Aqila seraya menunjukkan boneka pandanya kepada Johan.
“ehh? Jangan begitu. Itu panda, bukan kambing. Nanti panda bisa sakit perut. Berika panda makanan tebu dan bambu, tapi sebelum memotongnya, ijin terlebih dahulu kepada bambu dan tebu nya. Jangan lupa untuk ijin terlebih dahulu kepada mereka. Oke!” ucap Johan seraya mengacungkan jempolnya kepada Aqila.
“hmm, baik” jawab Aqila tersenyum dengan begitu lebar.
“baiklah, kalian duduk di kursi dahulu dan pejamkan mata kalian semua. Kak Johan punya surprise untuk kalian semua” ucap Johan.
“wahhh, srueplers” ucap Fathur begitu semangat.
“bukan sruplers, tapi surprise” jawab Johan.
“hah, pokoknya itulah bodoamat” jawab Fathur.
“kalian duduklah di kursi dan kemudian tutup mata kalian. Jangan mengintip ya” ujar Johan.
“hmm, iya” jawab mereka semua dengan begitu semangat.
Saat itu pula, keenam anak tersebut duduk dengan tegap sambil menutup kedua matanya menggunakan telapak tangannya. Saat itu pula Johan pun membawakan satu kardus berisi mainan miliknya yang sudah lama namun masih layak pakai. Johan berfikir daripada Johan membuangnya, akan sangat sayang. maka dari itu Johan lebih memilih untuk memberikannya kepada anak anak disini.
Johan membongkar satu persatu mainan tersebut. Diantaranya yaitu boneka beruang, mobil mobilan, robot, mainan pisol, kereta yang berjalan di rel bongkar pasang, mainan kebun binatang, bianglala dengan lampu warna warni dan bisa berputar, dan masih banyak lagi. Johan menatanya di lantai satu persatu. Pada dasarnya, mainan itu sungguh sangat banyak hingga mainan tersebut memenuhi lantai depan pintu tersebut. Semua orang di pengungsian melihatnya dan terkesan dengan Johan yang selalu menghibur anak anak desa.
“nahh, sekarang kalian sudah bisa membuka mata kalian dan lihatlah di depan kalian” ucap Johan dengan nada begitu bersemangat.
Saat itu pula, keenam anak tersebut membuka matanya dengan perasaan yang tidak sabar. Saat merkea membuka mata, mereka begitu terkejut dengan apa yang telah mereka lihat. mainan yang keren nan menyenangkan telah menyambut mereka semua. Mereka melihat banyaknya mobil mobilan, bianglala yang berwarna warni, boneka yang menggemaskan, dan masih banyak lagi.
“waaahhhh, ke-kerennn, ini gila” ucap Juan dengan begitu bersemangat.
“ini keren banget” sahut Guntur.
“benar kan?” ucap Johan.
“apa ini semua milik kak Johan?” tanya Aqila.
“benar, ini semua milik kak Johan saat kak Johan masih kecil. Sekarang, kak Johan sudah dewasa dan tidak bermain mainan ini lagi. Sekarang adalah waktunya kalian yang memainkan mainan milik kak Johan. Kak Johan berikan ini semua kepada kalian” ujar Johan dengan senyum begitu lebar.
“haaahhhh? Serius? Sebanyak ini?” tanya Ryu memasang raut muka begitu senang.
“mainkan mainan kak Johan dengan baik dan hati hati. Saat kalian sudah dewasa nanti, kalian bisa memberikannya kepada adik atau tetangga kalian yang lebih kecil dari kalian” jawab Johan.
Saat itu pula, Aqila berlari menuju Johan dan kemudian memeluk Johan dengan begitu erat. Dengan ekspresi begitu senang, Aqila memeluk tubuh Johan dengan sangat amat erat menggunakan kedua lengannya yang kecil nan hangat tersebut.
“sama sama, jangan lupa selalu bersihkan panda mu agar pandamu tidak gatal lagi” jawab Johan mengelus kepala Aqila dengan begitu halus.
“waaahh, keren banget” ucap Guntur memasang raut muka begitu bahagia.
“iya, ini sangat bagus” jawab Aji dengan ekspresi begitu senang.
“apa kita bisa memainkan ini?” tanya Ryu kepada Johan.
“sekarang sudah malam, kalian harus tidur” jawab Johan.
“yaahhh, tapi kak-“ ucap Aqila memasang raut muka sedikit sedih.
“kalau kalian tidak cepat tidur, kak Johan akan mengambil mainan kak Johan kembali dan membawanya pulang. Semakin cepat kalian tidur, akan semakin cepat pula kalian bangun di pagi hari. Besok hari, kalian bisa bermain dengan mainan ini sepuas kalian” tegas Johan.
“benarkah? Apa mainan ini akan tetap di letakkan di sini selamanya?” tanya Fathur dengan ekspresinya yang begitu senang.
“aku tidak akan mengambilnya dan ini sudah milik kalian. Tapi kalau sampai orang tua kalian mengadukan kepada kak Johan kalau kalian semua kurang tidur hanya karena mainan ini, kak Johan akan mengambil kembali mainan ini dan membawanya pulang” tegas Johan.
“ba-baik. Kita akan tidur sekarang juga” ucap mereka semua serentak.
“gitu dong, adik adik kak Johan” ucap Johan mengelus kepala mereka semua.
Johan pun segera memasukkan kembali semua mainan tersebut kedalam kardus dan kemudian berjalan masuk ke dalam gedung. Saat Johan masuk, Johan disambut dengan tatapan dan senyuman hangat dari para penduduk desa kepadanya. Hal itu membuat Johan sedikit salting dengan keadaan.
Saat itu, begitu banyak karpet dan kasur tipis layaknya futon yang menjadi tempat tidur para pengungsi. Saat itu pula, Johan pun berjalan memasuki gedung bersama dengan keenam anak tersebut. Nyatanya, keenam anak tersebut tertidur di futon mereka masing masing secara berdampingan dan berjajar.
Johan pun meletakkan kardus tersebut di samping lemari aula tengah tersebut dengan begitu perlahan. Saat itu pula, Johan mendapati jika keenam anak tersebut sudah memejamkan matanya di atas futon mereka masing masing dengan dalam kondisi masih tersenyum gembira. Melihat itu, Johan juga ikutan bahagia saat melihat mereka semua bahagia.
Saat itu pula, terdengar teriakan dari tengah aula yang berasal dari om om tua di tengah tengah para pengungsi tersebut. Om om tersebut berteriak memanggil nama Johan dari kejauhan seraya melambaikan tangannya lebar lebar.
“oyy, nak Johan. Kemari sebentar” ucap om om tersebut.
“ehh, i-iya om? Ada apa?” tanya Johan.
“duduklah disini sebentar. Ada yang mau kita bicarakan sama nak Johan” jawab om om tersebut.
“baik om” jawab Johan.
Saat itu pula, semua orang di pengungsian membuat semacam lingakaran dengan Johan sebagai pusatnya. Johan sedikit malu dan canggung di dalam kondisi dimana Johan benar benar menjadi satu titik pusat perhatian banyak orang.
Johan pun duduk di tengah tengah mereka semua. Johan melihat banyaknya ekspresi senang, bangga, kagum, bahagia, gembira, suka, cinta, dan lain lain di dalam raut wajah mereka.
“ada apa kalian semua?” tanya Johan menatap muka mereka semua yang mengelilingi Johan.
“kami hanya ingin bilang…..” ucap om om tersebut.
“terimakasih banyak” ucap mereka semua serentak seraya sedikit menundukkan kepala mereka.
“ehh? A-apa? Ada apa? Apa yang sebenarnya sudah aku lakukan? Aku tidak melakukan apa apa” ucap Johan dengan wajah yang begitu memerah.
“ada apa dengan orang orang ini?” fikir Johan dalam hati.
“kita sudah tau semuanya dari tetua. Kau adalah cucu dari Adhipura Sarengga Mahesa, mantan tetua di desa ini. kau juga anak dari Ageng Dwi Mahesa yang sudah membakar hutan di desa ini. Sebagai cucunya, kau merasa bersalah dan pada akhirnya, kau sering melakukan kunjungan kepada kita semua selaku korban yang sudah kehilangan tempat tinggal dan harta benda di rumah” ucap om om tersebut.
“jadi kalian sudah tau semuanya ya” jawab Johan sedikit tertawa seraya menggaruk kepalanya.
“Adhipura Sarengga Mahesa, kita semua memanggilnya eyang. Eyang adalah orang yang begitu bijaksana dan disiplin waktu. Beliau adalah orang yang paling kita kagumi sebagai pemimpin. Kita pun merasa terpukul dengan adanya berita tentang kematian eyang. Bahkan hati kita juga semakin sakit saat mendengar kalau eyang terbakar hidup hidup di dalam rumahnya akibat kebakaran yang di lakukan oleh anaknya sendiri” ucap sang ibu ibu tua di sampingnya.
eyang akan memimpin desa ini sampai desa ini berkembang, Namun sayang, kita ber ekspetasi terlalu tinggi” ucap paman paman di sampingnya.
“tapi, semenjak jika mengenal dan melihat tingkah laku serta kebiasaanmu, kita berfikir kalau mengekspetasikan hal yang sudah kita buang jauh jauh itu kepadamu. Kita melihat jiwa sang eyang di dalam tubuhmu. Semua yang eyang lakukan sama persis seperti apa yang kau lakukan. Persamaanmu dan eyang adalah selalu menjaga hutan semaksimal mungkin” ucap om om di sampingnya.
“begitu pula denganmu yang bahkan kau melawan 14 orang lelaki dewasa seorang diri di dalam hutan yang begitu gelap dan dingin karena air hujan. Sama seperti apa yang dilakukan oleh eyang dahulu dimana eyang melakukan hal yang sama kepada semua penebang hutan” jelas tante tante disampingnya.
“tapi sifat eyang benar benar jauh berbeda saat eyang mendengar tentang pohon istrinya yang tertebang. Eyang benar benar terpukul akan berita tersebut. Mental eyang yang dahulunya begitu kuat nan keras menjadi lembek selembek tahu. Saat itu pula, istrinya pun meninggal. dan tidak lama setelah itu, eyang pun ikut meninggal. Dan kita sangat menyayangkan hal itu” ucap om om di sampingnya.
“aku baru tau kalau kakek bukan hanya menjadi pemimpin desa, tapi juga sebagai pecinta alam juga” ucap Johan.
“kakekmu adalah orang yang bahkan menolak anggaran milyaran dolar demi melindungi hutan. Beliau pernah di tawari oleh perusahaan untuk membeli tanah di perhutanan dan menebang semua pohon untuk pembuatan pabrik. Namun kakekmu menolak mentah mentah tawaran tersebut. Benar benar orang yang sangat bijaksana” ucap om om di sampingnya.
“hmm, kakekku keren juga ya. Hehehe” ucap Johan.
“mungkin kalian benar mengenai aku yang mirip dengan kakekku” ucap Johan mengubah duduknya menjadi sila.
“hah? maksudnya?” tanya om om di sampingnya.
“sebenarnya, tujuanku kemari bukan hanya untuk memberikan mainan, namun aku benar benar ingin meminta tolong kepada kalian semua khususnya penduduk desa Engkobappe” ucap Johan merendahkan suaranya.
“ada apa?” tanya tante tante di sampingnya.
“sebenarnya, anu… itu… a-ak-aku suka sama pe-perrempuan” ucap Johan dengan nada begitu tergugup malu.