
Sesampainya di kantor desa, Johan mengetuk pintu depan dan menunggu sampai orang orang di dalam membukakan pintu depan. 2 menit berlalu, saat itu pula pintu depan terbuka oleh seseorang yang mengungsi di dalamnya. Johan mendapati kalau saja seorang pemuda yang menjadi salah satu anggota komite penjagaan hutan membukakan pintu tersebut.
Saat mendapati adanya Johan yang berada di luar gedung, para pemuda tersebut pun membuka pintu begitu lebar dan kemudian memberi salam kepada Johan dengan begitu kompak dan serentak.
“selamat pak, Johan!” teriak semua para pemuda tersebut dengan begitu serentak.
“pa-pagi semuanya” jawab Johan.
“ada perihal apa pagi pagi kemari?” tanya salah seorang pemuda disana.
“a-anu, ini sangat kebetulan sekali, aku ingin bertemu dengan kalian semua” jawab Johan.
“kita sudah bersiap dan akan berangkat ke hutan untuk penjagaan sama seperti apa yang telah Johan katakan kepada kita semua kemarin malam” jawab salah seorang pemuda disana.
“kalau begitu, apa kalian bisa keluar di teras gedung ini? aku ingin melihat kalian semua satu persatu” jelas Johan.
“keinginanmu adalah perintah bagi kami” jawab seorang pemuda disana.
Saat itu pula, puluhan pemuda yang ada disana pun berjalan keluar dari gedung dengan begitu rapih. Benar benar seperti tentara militer yang begitu cekatan dalam menjalankan tugasnya. Johan benar benar begitu salut dan begitu kagum dengan kerja keras mereka semua.
Semua pemuda yang berada di dalam gedung pengungsian pun segera berjalan keluar dan menyisakan para pengungsi orang tua dan lansia serta anak anak kacil dan balita. Mereka semua menatap ke arah Johan dengan tatapan begitu hangat dan halus.
Seketika saat itu pula, Johan di hampiri oleh anak anak desa tersebut. Mereka semua membawa mainan dari apa yang telah Johan berikan kemarin hari. Mereka semua begitu senang dan ceria saat mereka mendapati kalau idola mereka datang ke desa.
“kak Johaannn!” teriak Aqila, Fathur, Guntur, Juan, Ryu dan Aji serentak berlarian ke arah Johan.
“kalian semua sudah bangun. Gimana mainan kak Johan?” tanya Johan jongkok merendahkan tubuhnya dan menatap wajah mereka semua.
“benar benar keren banget dan seru. Kita benar benar tidak bosan saat bermain mainan itu” jawab mereka semua.
“kalau begitu, bermain dengan benar dan jangan merusak mainan mainan itu ya. Jangan curang saat bermain” ucap Johan dengan nada sehalus sutra.
“baik kak Johan” jawab mereka semua memasang raut muka begitu ceria dan bahagia.
“kalau begitu, kembalilah bermain” jawab Johan.
“iya” jawab mereka semua berjalan kembali ke tempat asal mereka.
Saat itu pula, Johan kembali berdiri dengan tegak seraya menatap semua para pengungsi tersebut. Dengan nada begitu lantang, Johan berkata kepada mereka semua dengan tatapan begitu tajam dan begitu percaya diri.
“walaupun aku tidak tau apa yang sekarang kalian rasakan, aku tetap menganggap kalian semua sebagai paman dan bibiku. Aku tidak tau kalian sekarang merasakan apa. Mungkin kalian kelaparan, kehausan, kepanasan, kedinginan, kelelahan, kesakitan, dan lain lain. Banyak dari kalian yang kekurangan gizi, namun aku malah menyuruh kalian untuk membentuk satu komite untuk menjaga hutan dari para penebang hutan. Jujur saja, aku tidak memiliki imbalan yang cukup untuk membuat perut kalian yang kosong itu penuh dengan makanan yang bergizi. Aku juga hanya murid SMA yang biasa, yang selalu berkata kasar dan selalu marah tidak jelas saat orangtua ku tidak memberikan apa yang ku mau. Tapi percayalah, akan selalu ada bantuan dari luar sana untuk membantu kalian semua yang ada disini. Aku sangat berterimakasih karena kalian telah menjaga hutan dan kelestarian alam ini. Aku harap kalian segera mendapatkan tempat tinggal yang layak dan mendapatkan makanan yang bergizi dan tercukupi. Aku berharap semua saudaraku yang ada di sini bisa hidup bahagia sama seperti sahabat sahabat kita diluar sana” lantang Johan.
“kau benar benar seperti eyang. Jika saja kakekmu masih hidup, dia akan berkata seperti apa yang kau katakan” ucap ibu ibu di hadapannya.
“kau mewarisi sifat dan tekad eyang” teriak om om di sampingnya.
“walau eyang sudah meninggal, setidaknya kita masih memiliki nak Johan, benar kan?” tanya nenek nenek di hadapannya.
“itu benar…” “benarr‼” “Johan adalah penerus eyang!” teriak mereka semua secara bersamaan.
“semuanya….. aku sangat bangga kepada kakeku. Tapi aku tidak yakin aku bisa seperti kakekku. Aku tidak yakin aku bisa memiliki peran seperti kakekku. Aku tidak yakin bisa sepertinya. Dan juga aku tidak yakin kalau aku dapat mengerjakan tugas seperti tugas yang telah kakekku kerjakan” jelas Johan.
“kau tidak perlu melakukan apa yang harus kakekmu lakukan, tapi lakukanlah apa yang harus kau lakukan” ucap ibu ibu di hadapannya.
“semua orang memiliki perannya masing masing walau sekecil apapun itu. Banggakanlah apa yang kau lakukan karena tidak semua orang mampu melakukan apa yang sebenarnya mereka ingin lakukan” ucap nenek nenek di hadapannya.
“jiwa kakek bersemayam di dalam tubuhku?” tanya Johan.
“lebih tepatnya berada di lubuk hatimu yang paling terdalam” jawab nenek nenek tersebut.
“baiklah, aku sudah benar benar faham apa yang kalian katakan. Aku akan berangkat. Terimakasih atas dukungan kalian semua. Terimakasih kalian semuaaaaaa‼” teriak Johan seraya melambaikan tangannya begitu lebar.
“hati hati dan nikmatilah” ucap mereka semua menjawab lambaian tangan Johan.
Saat itu pula, Johan pun berjalan keluar dari gedung tersebut. Johan mendapati jika semua pemuda tersebut benar benar berbaris di depan gedung di bawah sinar matahari yang masih belum begitu panas.
“baiklah kalian semua. Aku sudah menyiapkan tugas untuk kalian semua. Tuags ini akan selalu menjadi tugas yang akan kalian tancapkan di kepala dan hati kalian semua” tegas Johan.
“tugas? Tugas apa itu?” tanya seorang pemuda disana.
“satu tugas yang diwajibkan untuk kalian semua. Tugas yang akan berlaku sampai kita semua menua. Tugasnya adalah satu, yaitu jangan anggap aku adalah atasan kalian dan anggaplah aku sebagai teman dan saudara kalian yang sedang meminta pertolongan” teriak Johan begitu lantang.
Mendengar hal itu, hati mereka semua begitu tergerak. Hati mereka begitu berdegup kencang. Satu tetesan air mata mereka berlinang di pipi mereka semua. Mereka begitu terkejut dan begitu bahagia mendengar Johan yang berkata seperti itu. Entah kenapa, tapi mereka berfikir kalau mereka melakukan tugas mereka dengan senang hati tanpa adanya tujuan dan imbalan.
“tapi Johan, kau adalah-“ ucap salah seorang pemuda terhenti.
“aku bukan siapa siapa. Bahkan umurku sama seperti kalian atau lebih muda. Kalian tidak pantaas untuk hormat kepadaku. Kalian adalah teman temanku dan sekaligus saudaraku di desa ini. Aku juga berasal dari desa ini dan aku adalah tetangga kalian walau rumahku jauh dari pemukiman. Kita semua bersaudara dan aku akan sangat menunggu kepulangan kalian malam hari dalam keadaan sehat tanpa luka. Jujur dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku berkata seperti ini karena aku tidak memiliki imbalan yang pantas untuk perjuangan kalian melawan para penebang hutan yang kapan saja bisa melakukan penebangan. Tapi aku mengatakan ini sebagai orang asing yang tidak dikenal untuk meminta tolong kepada kalian semua agar kita semua bisa menjaga hutan dengan begitu kompak. Bagaimanapun juga, aku sangat amat senang mendengar kalian mau menjadi relawan dalam penjagaan hutan setiap hari” tegas Johan.
“itu tidak penting. Imbalan tidak penting. Semuanya tidak penting. Dari lahir, kita menghirup oksigen dari pohon. Kita hidup berdampingan dengan pohon. Kita berteduh di pohon saat hujan. Kita memakan buah buahan dari pohon. Dan bahkan kita menggunakan kayu dari pohon untuk membuat rumah dan perlindungan. Kita tidak melakukan ini hanya karena untukmu, tapi untuk membalas budi terhadap hutan yang sudah melindungi, menjaga dan menemani kita saat kita masih kecil hingga sekarang ini. Kita tidak akan memaafkan siapapun yang berani mengganggu alam kita. Dan tujuanmu sama dengan kita semua. Jadi, mau bagaimanapun juga, kita adalah sahabat dengan tujuan yang sama. Jangan begitu difikirkan tentang imbalan. Karena hutan itu sendiri adalah imbalan yang paling berharga bagi kami semua” ucap salah seorang pemuda disana.
“benar benar kata kata yang bijak. Ini seperti kata kata pahlawan di dalam novel fiksi yang selalu aku baca kemarin malam” fikir Johan mengusap air matanya.
“kalau begitu, apa kalian sudah siap, saudaraku?” tanya Johan berteriak begitu lantang.
“siaaaappp‼” teriak mereka semua.
“aku sudah berpesan kepada kalian untuk menjaga pohon hornbeam yang ada di sebrang hutan. Apa kalian ingat itu?” tanya Johan.
“kita ingat” jawab mereka semua.
“kalau begitu, aku ingin kalian memprioritaskan pohon itu untukku. Sebagai saudara, aku ingin meminta pertolongan kalian semua. Tolong prioritaskan pohon itu untukku” ucap Johan dengan menundukkan kepalanya.
“hey Johan, apa yang kau lakukan!” ucap salah seorang pemuda disana segera berjalan ke arah Johan dan mengangkat badannya itu.
“padahal kau berkata kalau kita adalah saudara. Membantu saudara sendiri adalah hal yang begitu wajar bukan? Tenang saja, kita akan menjaganya untukmu” ucap pemuda tersebut.
“siapa namamu?” tanya Johan.
“namaku? Namaku Yoga. Salam kenal” ucap Yoga.
“makasih banyak, Yoga” ucap Johan menepuk kedua pundak Yoga.
“sama sama, saudaraku” jawab Yoga.
Namun, secara tiba tiba saja, terdapat suara semak semak yang saling bergerak dan bergesek dari dekat pohon mangga. Pendangan mereka seketika mengarah ke arah semak semak tersebut. Dengan begitu cekatan, mereka menyiapkan belati mereka semua di tangan kanan mereka karena mereka menganggap bahwa isi dari semak semak tersebut adalah hewan buas.
Beberapa saat kemudian, dengan membawa dua buah mangga di tangan kanan dan kirinya, Odessa keluar dari semak semak tersebut. Melihat itu, Johan dan semua pemuda disana benar benar begitu terkejut dengan adanya perempuan yang luar biasa cantik sedang membawa dua buah mangga di tangan kanan dan kirinya.