Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 4, Dewi Alam



Pada akhirnya, Johan pun meninggalkan semua temannya di satu pendapa tua dekat gerbang sekolah tempat biasanya mereka kumpul hanya untuk sekedar nongkrong.


Johan menaiki ojol dengan masih menahan kantuknya. Namun dia masih kepikiran dengan perempuan yang begitu cantik dan manis sebelumnya. Dia menemukan seorang perempuan dalam mimpi yang benar benar bisa membuat jantung Johan itu berdetak cepat.


Sesampainya dirinya dirumah, nyatanya ia meraskan perasaan yang janggal. Saat dirinya membuka pintu rumah dengan menguap lebar, dirinya tidak mendapati kehadiran dari papah dan mamahnya itu. Padahal, setiap harinya, sang papah dan mamah selalu duduk berdua di ruang tengah.


“tumben banget dua orang itu bisa jinak” fikir Johan dalam hati.


Johan pun melepas sepatunya dan meletakkannya di rak sepatu yang rapih nan bersih. Ia meneguk segelas air putih dan mulai berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh kedua kakinya itu. Setelah itu, dirinya berjalan menuju ke kamarnya yang berada di lantai atas dengan bungkuk tubuh dan nguapan kantuk dari Johan yang terus menerus meneror Johan.


Namun, hal yang begitu mengejutkan terjadi. begitu dirinya membuka pintu kamar, Johan begitu terkejut akan kamarnya yang begitu rapih dan bersih. Jendela kamar Johan terbuka untuk pertama kalinya dalam sejarah membuat sirkulasi udara didalam kamar itu bekerja mengganti udara kotor menjadi udara segar nan bersih.


Namun bukan itu yang mengejutkan fikiran serta mental Johan, nyatanya ia tidak mendapati laptop dan komputer di ujung kamar Johan itu. Johan seketika berfikir kalau mungkin saja mamah dan papahnya yang telah membersihkan dan menjual komputer serta laptop pemberian sang ibu kandungnya itu.


“dasar lancang! benar benar lancang!” gumam Johan menundukkan kepalanya dengan penuh perasaan kecewa dalam hatinya.


Sesaat setelah Johan berteriak kencang, tiba tiba saja terdengar suara sang papah dan mamah yang baru saja masuk kedalam rumah. Johan yang begitu murka dengan mental yang sudah diselimuti amarah berlari kencang menuju ke arah papah dan mamah yang berada di ruang tengah.


Johan pun berdiri di tengah tangga dan memandang sang papah dengan tangis isak yang sudah menetes dari dagu. Dengan suara serak basah, Johan berkata “apa papah dan mamah yang menjual komputerku?”


“ehh, nak Johan, baru pulang?” sahut sang papah.


“apa papah dan mamah yang menjual komputerku?” tanya Johan sekali lagi.


“kenapa seragammu begitu basah? Apa kamu kehujanan saat pulang?” sahut sang mamah.


“APA KALIAN BERDUA YANG MENJUAL KOMPUTERKU!?” teriak Johan kepada mereka berdua.


“maaf, kita benar benar membutuhkannya” jawab sang papah.


“BENAR BENAR SAMPAH. KALIAN BERDUA MEMANG BENAR BENAR SAMPAH!” teriak Johan berjalan menghampiri sang papah.


“kita benar benar sudah terpaksa nak” sahut sang mamah.


“nenek nenek tua mending jangan ikut campur!” sahut Johan dengan tatapan sinis.


“maaf karena sudah menjualnya tanpa seizin kamu, tapi kami berdua benar benar membutuhkan uang” ucap sang papah.


“bahkan kalian berdua tidak membertahukan kepadaku alasan mengapa kalian berdua menjualnya” ujar Johan meneteskan air mata.


“sekali lagi, papah minta maaf nak” ucap sang papah memegang pundak kanan Johan.


“jangan pegang pegang, dasar najis!” teriak Johan didepan muka sang papah.


“nak Johan! Kau sudah keterlaluan! Kau tidak boleh berkata seperti itu kepada papahmu sendiri!” bentak sang mamah kepada Johan.


“sudah kubilang nenek nenek tua jangan ikut campur!” tegas Johan melirik tajam kedua mata sang ibunda.


“aku ini mamah kamu, jaga omongan kamu!” bentak sang mamah memegang pergelangan Johan dengan begitu kencang.


“KAU BUKAN MAMAHKU! AKU TIDAK MENERIMAMU MENJADI MAMAHKU DAN UNTUK SELAMANYA TIDAK AKAN PERNAH” teriak Johan melepaskan pegangan tangan sang mamah begitu kasar.


Suasana begitu mencekam di ruangan itu. dimana terdapat orang tua dan sang anak yang saling marah satu sama lain. di satu sisi, Johan yang merasa tidak enak dan merasa bersalah karena telah membentak kedua orang tuanya, namun hatinya masih diliputi perasaan marah, kecewa dan sedih. disisi lain, kedua orang tua Johan yang merasa bersalah karena telah menjual komputer Johan, namun hatinya diliputi oleh amarah karena anaknya yang membentaknya.


Seketika Johan pun berjalan keluar rumah menuju pintu depan rumahnya. Saat dirinya hendak membuka pintu rumah, dirinya berhenti di belakang pintu tersebut. Ia pun mengambil satu vas bunga di meja samping dan kemudian melemparkan vas bunga tersebut kearah bingkai foto dimana di foto tersebut terdapat sang papah dan mamah yang baru saja menikah 3 bulan lalu. Johan melemparnya ke arah bingkai foto pernikahan papah dan mamah tirinya itu hingga pecah berkeping keping.


“entah mengapa aku sangat merindukan mamah kandungku hingga aku benar benar ingin menjemputnya” ujar Johan memegang gagang pintu.


Johan pun dengan segera melangkahkan kakinya keluar rumah sembari mengusap air matanya yang berlinang di pipi. Bagaimana tidak, salah satu barang peninggalan dari sang ibu kandung dijual dengan begitu mudahnya oleh sang papah dan mamah tiri dari Johan.


Cahaya mentari sudah perlahan mulai meredup seiring dengan awan hujan yang tebal mulai menutupi penerangan kota. Dimana saat itu, angin sangat kencang dengan guntur yang mulai bergemuruh. Ia berjalan menuju taman yang berada di samping danau, semua orang mulai beranjak pulang karena cuaca yang benar benar tidak mendukung.


Disaat semua orang sudah hendak berjalan pulang, Johan malah duduk di kursi taman sembari meminum teh hijau, Gerimis rintik pun mulai memberi pertanda bahwa akan terjadi badai di kota tersebut. Angin yang meniup seragam Johan yang sebelumnya memang sudah basah bersamaan dengan air hujan yang datang dari ufuk timur.


Hujan pun mulai membasahi tanah sekalipun itu Johan dengan teh hijaunya. Johan sama sekali tidak menghiraukan hujan itu dan tetap melamun memandangi danau dengan rintik air hujan yang membuat danau bercorak. Dedaunan yang bergerak bersamaan dengan rumput ilalang membuat gerakan yang sepadan sebab angin yang meniup kala itu.


“mamah, aku sama sekali ngga bisa mandiri tanpa adanya mamah” ujar Johan.


Seluruh tubuh Johan yang mulai memucat itupun benar benar sudah tidak mampu lagi menahan rasa dingin yang menyelimuti tubuhnya. Mata Johan yang mulai berkunang kunang, seluruh tubuhnya yang sudah mulai lemas, serta telinga yang mendengung membuat Johan merasa aneh dengan semua hal yang terjadi dengan tubuhnya.


“setidaknya, saat aku berada di bawah rintik hujan, tidak akan ada yang tau kalau aku sedang menangis” ujar Johan tersenyum ke arah lampu taman.


Hingga pada akhirnya, di detik detik akhir kesadarannya, tubuh Johan benar benar udah menggigil dengan tatapan mata yang kosong. Dirinya pun mulai tidak sadarkan diri dan terjatuh pingsan di taman tanpa ada yang tau bahwa ada seorang anak lelaki yang terjatuh lemas tak berdaya di taman seorang diri.


Kala itu, Johan masih sedikit sadar dan dapat sedikit melihat maupun mendengar. Namun ia sama sekali tidak dapat menggerakkan tubuhnya sendiri. hingga pada akhirnya, saat dirinya tergeletak di tanah, ia melihat kedua kaki yang melayang mulai menghamipirinya. Kedua kaki yang menggantung bergerak mendekatinya yang saat itu tengah tergeletak lemas tak berdaya di tempat tersebut.


“tolong aku” fikir Johan dalam hati perlahan menutup kedua matanya.


Dan pada akhirnya, Johan pun tidak sadarkan diri untuk waktu yang agak lama. Selama dirinya tidak sadarkan diri, dirinya bermimpi jikalau dirinya sudah terbangun dan siuman dari pingsannya. Dirinya bermimpi jika ia terbangun di padang rumput yang luas nan segar. Angin meniup halus tubuhnya seakan akan membelai lembut di setiap sela sela rambut dengan udara hangat.


Dirinya terbaring di rerumputan yang lembut serta lebat. Rerumputan di sekelilingnya berupa ilalang serta rumput liar yang seolah olah menari akibat hembusan angin hangat tersebut. Layaknya kasur yang hangat nan empuk, dirinya benar benar nyaman berada di tempat itu.


“syukurlah kau sudah bangun” ucap perempuan yang berbaring di samping Johan.


“ehh? Ka-kamu? Kamu kan yang tadi ke sambar petir?” tanya Johan begitu terkejut saat menatap perempuan tersebut.


“yapp kau benar, kita ngga sempat berkenalan tadi siang. dasar petir kurang ajar” ujar perempuan itu dengan sedikit tertawa.


“iya, aku ingat itu” ucap Johan membalas dengan sedikit tertawa.


“kita menatap satu langit yang sama, dengan bumi yang sama dan juga menghirup udara yang sama” ujar perempuan itu seraya menunjuk ke arah langit.


“iya, langitnya bener bener biru dan jernih” ucap Johan seraya menunjuk dengan jari telunjuk langit biru di hadapannya.


“tapi kenapa semua manusia berlomba lomba merusak alamku, paahal aku sudah memberikan semuanya kepada manusia” ucap perempuan itu mengepalkan tangannya.


“alam mu? Kau mengatakan kalau alam ini milikmu? kau benar benar mirip Dewi Alam” ujar Johan dengan tawa herannya.


“memang benar aku Dewi Alam” ucap perempuan tersebut.


“ohh, jadi kamu Dewi Alam” ucap Johan menganggukkan kepalanya dengan santai.


“HHAAAHH! JADI KAMU DEWI ALAMM!!” teriak Johan dengan super duper amat luar biasa terkejut bukan main.


“aku tidak mengira kalau kau benar benar tidak sepeka itu” ucap sang Dewi Alam menutup muluntnya seraya menahan tawa.


“ma-maafkan aku Dewi, aku benar benar tidak percaya kalau kau benar benar ada dan nyata” ucap Johan seketika terbangun dari tidurnya dan kemudian menundukkan kepalanya kepada sang Dewi Alam.


“tidak apa, jangan menundukkan kepalamu yang suci itu, anakku. Kau sudah menjaga alam dengan baik, maka dari itu aku mendatangi alam mimpimu” ucap sang Dewi Alam.


“saya merasa benar benar tersanjung atas kehadiran anda kedalam mimpi ini walaupun ini hanya berada didalam dunia mimpi” ucap Johan menundukkan kepalanya.


“jangan bersikap formal denganku, kembali berbaring lagi di sampingku dan pegang tangan kananku menggunakan tangan kirimu” ucap perempuan itu menjulurkan tangannya.


“a-ada apa?” tanya Johan bertanya tanya.


“sudahlah, berbaringlah di sampingku dan genggam tanganku” ujar sang Dewi Alam.


“baik” ucap Johan menganggukkan kepalanya.


“setelah di lihat lihat, Dewi Alam ini benar benar mirip Echidna dari Anime Re:Zero” fikir Johan seraya memandang jelas sekujur tubuh Dewi Alam


Johan pun berbaring di samping Dewi Alam dengan merebahkan serta merilekskan badan badannya. Setelah itu, tangan kananya ia julurkan kepada tangan kiri dari Dewi Alam. Johan pun mengenggam erat telapak tangan Dewi alam dengan tangan yang sedikit bergetar akibat malu atapun gengsi.


Sesaat setelah dirinya menggenggam tangan dari Dewi Alam, seketika sekujur tubuh dari Johan merinding tanpa sebab. Semua bulu kuduknya benar benar berdiri tanpa sebab dengan tubuh yang lebih sensitif dari biasanya. Johan merasakan kalau hembusan angin serta hangat udara semakin menyambut Johan di bentang padang rumput tersebut. Rasa nyaman semakin menjadi jadi hingga Johan merasakan luputnya semua kelelahan yang menumpuk didalam tubuhnya.


“ini enak banget gilak. Buset dah. Kalo semua manusia mampu dan bisa merasakan indah dan nyamannya alam sekeliling kita, aku yakin manusia pasti akan selalu bersahabat dengan alam” gumam Johan dalam hati.


“iya, enak dan nyaman kan? Aku juga berfikir seperti itu. mungkin manusia hanya belum merasakan kenikmatan yang sesungguhnya” jelas Dewi Alam itu.


“ehh?” tanya Johan.