Ai, Love Me

Ai, Love Me
Eps 97, Hancurnya Hati



Melihat dirinya sedang salah mobil, Johan benar benar begitu menahan malu disana. Johan begitu terkejut dengan apa yang terjadi di dalam mobil tersebut. Semua orang melihatinya dan itu membuat mental Johan seketika nge-down.


“ma-maaf, aku salah mobil. Maafkan aku” teriak Johan spontan menutup pintu mobil tersebut.


Saat itu pula, Johan menyadari kalau saja mobil milik pak Abdi berada di belakang dari mobil tersebut. Pak abdi pun segera membunyikan klakson mobilnya untuk memanggil Johan yang ada di depan.


Spontan Johan pun berlari ke arah mobil tersebut dan membuka pintunya. Saat Johan membuka pintu mobil pak Abdi itu, ia mendapati jika Odessa dan pak Abdi benar benar begitu tertawa begitu lepas karena melihat kelakuan Johan yang begitu ceroboh.


“hahahahahahahahahaha,” tawa lepas pak Abdi.


“apa yang kau lakukan? Dasar bodoh, hahahahaha” tanya Odessa dengan tawa begitu lepas seraya memegangi perutnya yang sakit akibat tertawa begitu kencang.


“ak-aku cuma salah mobil doang. Malunya luar biasaa. Aku jadi menyesal kenapa aku harus terlahir di dunia dengan menanggung malu sebesar itu” ucap Johan dengan nada begitu lemas.


“dasar Johan bodoh, hahaha” jawab Odessa dengan masih tertawa.


“sud-sudahlah. Jangan beritahukan ini kepada siapapun. Kita berangkat sekarang” sahut Johan mengalihkan pembicaraan.


“ba-baik. Jangan sampai nanti kau salah orang lagi” jawab pak Abdi.


“sudahlah, lupakan saja itu” ucap Johan sedikit kesal.


Johan segera memasuki mobil itu dan kembali menutup pintu mobilnya. Pak abdi pun menginjak gasnya dan segera meninggalkan termpat tersebut. Seperti biasa, pak Abdi melewati jalanan tol agar sampai lebih cepat. Di tengah tengah perjalanan, Odessa begitu menangtuk dan pada akhirnya, Odessa pun tertidur di pangkuan Johan.


“ini tidak seperti apa yang Adam katakan. Adam berkata kalau roh alam tidak perlu tidur, tapi kenapa Odessa sekarang sedang tidur? Atau jangan jangan dia memang kelelahan?” fikir Johan bertanya tanya.


Jam menunjukkan pukul 10 malam. Angin meniup pepohonan begitu kencang dan dingin. Hanya terdengar suara mesin mobil dan permukaan jalan yang tidak rata. Hingga pada akhirnya, mereka pun sampai di depan gapura desa Engkobappe.


“kalian berdua masuklah sendiri, aku akan menunggu kalian di depan sini” ucap pak Abdi.


“baik” jawab Johan.


Johan pun segera membangunkan Odessa. Odessa pun bangun lalu beranjak berjalan keluar mobil. dalam keadaan suntuk, Odessa berjalan di tengah dinginnya malam. Melihat hal itu, Johan tidak tega melihat Odessa yang kedinginan.


“kalau tidak salah, aku sudah memberimu jaketku. Dimana sekarang?” tanya Johan.


“maaf, aku tidak sengaja melepasnya saat di dalam kamar mandi rumahmu. Dan aku meninggalkannya disana” jawab Odessa.


Spontas saat mendengar hal itu, Johan pun seketika melepaskan jaket miliknya dan kemudian ia berikan kepada Odessa. “pakai ini, agar kamu tidak sakit”


“terimakasih banyak” jawab Odessa segera memakai jaket miik Johan itu.


Johan pun segera menyahut telapak tangan Odessa. Johan merasakan dingin yang luar biasa di telapak tangan Odessa saat itu. Johan kemudian menyuruh Odessa untuk bergegas agar tidak terlalu lama diselimuti dinginnya angin malam.


“aku akan mengajak Odessa untuk pergi ke pohonnya dan akan menanyakan semuanya. Aku ingin menanyakan apakah Odessa benar benar roh pohon dan memastikan kebenarannya” fikir Johan dalam hati.


Tanpa pikir panjang, Johan segera menuntun Odessa untuk berjalan bersama di tengah tengah hutan yang begitu lebat nan gelap. Tanpa adanya penerangan satupun, mereka menerobos gelap dan sepi nya hutan pada malam itu.


“apa kita akan pergi ke pohon?” tanya Odessa.


“iya, sebentar lagi kita akan sampai” jawab Johan.


2 menit berlalu, mereka berdua akhirnya sampai di pohon Hornbeam milik Odessa. Angin semakin meniup tubuh merkea dengan keras nan dingin. Mereka menatap danau yang sama, menatap langit yang sama dan menatap satu pohon yang sama. Pada akhirnya, Johan mulai membuka suara dan menanyakan tentang kebenaran Odessa.


“em, anu. Odessa Ai. Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu. Aku takut kamu akan tersinggung, aku selalu takut jika aku menanyakan ini kepadamu. Pertanyaan ini selalu menghantuiku dan selalu membuatku berfikir keras” ucap Johan dengan tatapan begitu tajam kepada Odessa.


“apa yang ingin kamu tanyakan?” tanya Odessa.


“aku takut kamu akan tersinggung karena aku menanyakan hal seperti ini. Hal yang ingin kutanyakan adalah”


“apa kamu benar seorang ro-“ ucap Johan berhenti.


“hai, sayang. apa kamu udah pulang?” sahut seorang lelaki yang secara tiba tiba saja muncul dari balik batang pohon.


“iya sayang, aku pulang” jawab Odessa.


“benar benar menyenangkan. Aku tidak menyangka akan bisa pergi ke kota” jawab Odessa.


“si-siapa kamu?” tanya Johan dengan begitu terkejut kepada lelaki tersebut.


“aku? sebelumnya aku ingin berterimakasih kepadamu karena sudah menjaga perempuanku ini. Aku takut kalau anakku yang sedang dikandungnya merasa tidak nyaman” ucap lelaki tersebut kepada Johan.


“a-anak? Anak kalian berdua?” tanya Johan dengan begitu luar biasa terkejut.


“lihatlah tatapan matanya dan ekspresi mukanya. Apa kamu belum mengatakan kepadanya jika kamu sudah menikah dan memiliki anak di kandunganmu?” tanya lelaki tersebut kepada Odessa.


“jika aku memberitahukannya, dia tidak akan mengajakku pergi ke kota” jawab Odessa kepada lelaki tersebut.


“jadi, kamu sudah memiliki suami?” tanya Johan seraya menundukkan kepalanya.


“ma-maaf, aku sudah menyembunyikan ini” jawab Odessa sedikit tertawa.


“bagaimana dengan janji Hanabi kita?” tanya Johan.


“Hanabi? Apa itu? bahasa yang aneh. Aku tidak mengingat hal yang menurutku tidak penting. Kenapa aku harus memperdulikan hal bodoh seperti itu” jawab Odessa dengan nada yang begitu jutek.


“aku akan mengganti uangmu karena sudah membelikan semua yang dia mau. Katakan berapa harga pakaian dan harga semua makanan yang telah ia makan. Aku akan menggantinya” sahut lelaki tersebut kepada Johan.


“ti-tidak perlu. Aku begitu ikhlas memberikan semua itu kepadanya” jawab Johan seraya sedikit menundukkan kepalanya.


“waahh, ternyata kau itu lelaki yang baik dan juga bertanggungjawab juga. kau sudah menjaga Odessa sepenuh hati dan sudah memberikan segalanya kepada Odessa tanpa mengharapkan kembalian. Kau benar benar lelaki yang baik. Aku senang karena kau sudah mengajak istriku pergi jalan jalan. Tapi kau tidak melakukan apapun kepadanya kan?” tanya lelaki tersebut kepada Johan.


“tenang saja, aku tidak akan melakukan apapun kepadanya” jawab Johan dengan kondisi kepala yang masih menunduk.


“hmm, jadi seperti itu. Kalau begitu, ayo istriku, kita pulang” jawab lelaki tersebut seraya menggandeng tangan Odessa.


“baik, suamiku” jawab Odessa seraya menggandeng tangan lelaki tersebut.


Odessa dan lelaki itupun berjalan meninggalkan Johan di tempat itu juga. Johan hanya bisa terpaku mematung di sana. Hanya mendengar alau Odessa sudah memiliki suami, itu membuat hati Johan benar benar terpukul dan begitu sakit hati.


“a-apa yang terjadi?. aku kira Odessa adalah perempuan takdirku. Aku kira dia yang akan menemaniku. Aku kira dia adalah permepuan yang akan selalu ada di sisiku. Ternyata aku sudah salah. Ini bukan salah Odessa, melainkan salahku karena sudah pernah terlahir di dunia ini”


“baru saja aku mengalami hal hal yang indah dan menyenangkan, tapi kenapa aku merasakan rasa sakit hati ini lagi?”


“rasa sakit ini, rasa pedih ini, rasa kecewa ini, sudah pernah kurasakan ketika kehilangan keluargaku. Setelah merasakan kesedihan ini lagi, aku jadi teringat dengan nenek, kakek, mamah dan papah. Aku berfikir kalau Odessa adalah perempuan yang akan menggiringku untuk melupakan kesedihanku saat itu, tapi entah kenapa, karena Odessa aku malah semakin sakit hati dan semakin mengingat kepada keluargaku”


“itu bukan kesalahan Odessa, tapi kesalahanku. Aku mengajak istri orang untuk pergi ke kota dan bahkan kita saling bercinta disana. Dasar Johan bodoh” fikir Johan saat itu.


Johan segera mengangkat kepalanya dengan tegak dan melihat dihadapannya. Dirinya melihat Odessa dan lelaki itu sedang berjalan menjauhi tempat itu seraya saling bergandeng tangan. Hati Johan semakin teriris saat perasaannya dipermainkan oleh Odessa.


“aku harus segera pulang dan tidur dirumah. Aku sudah menduga kalau kehidupanku yang sebelumnya memang lebih baik. Sepertinya aku akan kembali hidup di dalam kamar yang gelap hanya untuk bermain game, menonton anime dan menonton drakor. Dengan begitu, aku tidak akan pernah memiliki rasa cinta kepada seseorang”


“entah kenapa, aku berfikir. Cinta adalah alasan mengapa ada rasa sakit” fikir Johan saat itu.


“kuatkan hatimu, Johan. Kamu sudah mengalami kepedihan ini berkali kali. Kuatkan hatimu! Kuatkan hatimu! Kuatkan hatimu!” fikir Johan seraya menahan air mata yang sudah mulia berkaca kaca.


Johan pun berjalan menjauhi tempat itu. Seperti biasa, Johan berjalan melewati hutan yang begitu gelap nan dingin serta sepi dan menakutkan. Johan terlalu terlelap dalam kesedihannya sampai dirinya tidak menyadari kalau tidak ada satu pemudapun yang berada di hutan untuk berjaga jaga.


Pada akhirnya, Johan berjalan melewati kantor desa. Johan tidak berniat untuk mampir ke dalam kantor desa itu dan memutuskan untuk langsung pulang menemui pak Abdi yang tengah menunggu di mobil depan gapura.


Namun saat dirinya sedang berjalan melewati kantor desa itu, seorang lelaki berteriak memanggil Johan dari teras kantor desa.


“heeyy, nak Johan! Apa itu kamu?” teriak ayah Aji dari teras kantor desa.


Mendengar ada seseorang yang memanggil namanya, Johan spontan menoleh ke arah kantor desa menggunakan kedua matanya yang sudah begitu berkaca kaca. Johan melihat kalau itu adalah ayah Aji yang sedang memanggilnya dari kejauhan. Johan pun segera berjalan menuju ke dalam kantor desa dan menemuinya.


“a-aku datang” ucap Johan seraya memasang senyum palsunya.


“aku ingin kau melihat ini” sahut ayah Aji memasang raut muka begitu panik dan gelisah.